Monday, July 10, 2017

Ternyata, Hidayat Pelapor Kaesang Punya Gangguan Kepribadian

Muhammad Hidayat, pelapor Kaesang Pangarep


Nama Muhammad Hidayat, si pelapor Kaesang Pangarep, atas ujaran kebencian karena ucapan "ndeso" tiba-tiba menjadi sorotan publik. Adanya beberapa kejanggalan, khususnya dalam mengkoleksi urusan lapor-melaporkan orang ke polisi turut mengundang perhatian pakar psikologi untuk ikut berkomentar. 

Belum puas melaporkan Kaesang pada Minggu, 2 Juli 2017, Hidayat juga melaporkan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto ke Polres Bekasi pada Jumat, 7 Juli, terkait dengan film pemenang Police Movie Festival, Kau Adalah Aku Yang Lain.

Jadi, total laporan polisi yang dibuat orang ini di sepanjang 2017 yang semula tercatat sebanyak 60, kini bertambah menjadi 62 laporan. Rekor luar biasa, bukan? Jika dihitung sejak Januari 2017, rata-rata laporan polisi yang dibuat Hidayat adalah 10 laporan perbulan, atau dengan kata lain, tiap 3 hari dia melaporkan orang ke polisi.


Menurut psikolog Mira Anin, jika ditelaah dari sisi psikologi, jumlah laporan tersebut sudah melampaui batas. Terkecuali jika profesi seseorang memang mewajibkannya untuk mengamati dan melaporkan kasus seperti KPK. Jika lapor-melapor ke ranah hukum dilakukan lebih dari lima kali saja, itu sudah menjadi hal yang tidak wajar, apalagi hingga puluhan.

Sedangkan Hidayat sehari-hari bekerja sebagai pengurus toko di Masjid Baiturrahim. Kesehariannya, ia memang tidak begitu dikenal oleh tetangganya dan memiliki kepribadian tertutup.

Melaporkan atau mengadukan sesuatu mungkin hal yang sudah biasa dilakukan banyak orang, terutama jika memang konteksnya adalah profesi. 

Ada banyak kebutuhan mental yang tidak tersalurkan dari si pelaku yang diduga mengarah kepada gangguan kepribadian hingga mental seseorang.

Jika profesi seseorang memang mewajibkannya untuk mengamati dan melaporkan kasus seperti KPK misalnya, hal tersebut wajar. “Bila profesinya tidak jelas dan menjadi hobi, ada aspek-aspek psikologi yang perlu diperhatikan,” ujar Mira.

Secara psikologi, gangguan kepribadian harus diteliti lebih lanjut sebelum seseorang dianggap memiliki gangguan kejiwaan. Dalam hal ini, pihak kepolisian harus melakukan pengecekan realita secara komprehensif, dari sisi kejujuran maupun kesehatan jiwanya.

Namun Mira menilai, hal yang dilakukan Hidayat masih dalam tahap gangguan kepribadian. Hal ini disebabkan selama hidupnya, seseorang memiliki banyak kebutuhan mental yang tidak tersalurkan.

Pelapor Kaesang dinilai diduga memiliki banyak gangguan kepribadian. Yang paling utama adalah kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari banyak orang dari sesuatu yang dilakukannya.

Dalam hal ini pelaporan akan nilai-nilai seperti penistaan agama dan ujaran kebencian karena ia merasa lebih tahu akan subjek yang dilaporkan. Dengan melaporkan, ada kesan memiliki kredibilitas secara sepihak yang dirasakannya sendiri tanpa memikirkan akibatnya di kemudian hari.

Saat seseorang tidak memiliki kehidupan sosial yang baik, ia mengalami gangguan interaksi antar manusia. Keinginannya untuk bersosialisasi sulit tercapai sehingga timbul sikap butuh pengakuan, kedekatan dan penyaluran nilai-nilai.

Sayangnya aspirasi yang tidak tersalurkan secara positif ini berubah menjadi negatif dalam wujud hobi lapor-melapor. “Kemampuannya mempersepsikan realita tidak berfungsi sehingga ia memilih untuk menjalankannya dengan cara sendiri yang dianggap benar,” tambah Mira.

Keinginan untuk eksis tidak hanya dialami oleh remaja hingga orang muda saja. Semua umur memiliki keinginan untuk mengibarkan eksistensi dalam komunitas. Hal ini diduga dialami oleh Hidayat yang berusia 53 tahun.

Kehidupan sosial yang kurang baik hingga komunikasi buruk antar manusia merupakan beberapa penyebab orang yang usianya sudah matang begitu kuat untuk eksis dan menghalalkan segala cara agar perhatian tertuju padanya.


Dalam kasus Hidayat, ia mengaku merasa dilecehkan karena dipanggil Polresta Bekasi, Jawa Barat. Secara psikologi, seseorang dengan gangguan pribadi akan melakukan penyangkalan atas hal negatif yang ia lakukan sebelumnya.

Sikap defensif merupakan hal mendasar yang dimiliki manusia namun harus disesuaikan dengan fakta. Jika banyak inkonsistensi, maka sudah jelas kepribadian seseorang terganggu karena tidak menyadari sepenuhnya yang telah dilakukan kepada orang lain.

Dalam menjalani hidup, manusia harus bekerja untuk tetap produktif sehingga kesehatan mentalnya terjaga. Namun jika seseorang kontra-produktif, ia akan mencari hal-hal lain untuk menyalurkan aspirasi kejiwaannya.

Saat ini budaya berkomentar di dunia maya memang memprihatinkan, yang ditunjang sifat latah masyarakat yang ikut-ikutan menanggapi isu di sekitarnya. Lapor-melapor ke ranah hukum tanpa latar belakang yang kuat terjadi bila seseorang tidak melakukan pengecekan fakta secara mendalam.

Hasilnya, ia mengikuti dorongan untuk menyalurkan kebutuhannya secara tidak langsung. Semua isu ditanggapi karena memiliki banyak waktu luang dan tidak paham bagaimana menyalurkan aspirasi secara positif.

Nah, Bagaimana tuh pak polisi?

sumber: cnnindonesia.com

Laporkan Kaesang Ke Polisi, Hidayat Melempar Bola Api, Terhantam Muka Sendiri




    Ibarat bermain lempar bola api, lemparan Hidayat terbilang sukses untuk membuat dirinya tenar mendadak berkat aksinya melaporkan Kaesang Pangarep, putra presiden Jokowi, pada Minggu, 2 Juli lalu atas ujaran kebencian (hate speech) karena ucapan "ndeso" dalam video yang diunggah ke akun Youtube. 

     Publik sempat dibuat memanas dengan ragam kontroversi. Wajar saja, yang yang disasar adalah anak dari orang nomor satu di negeri ini, yang segala tindak tanduknya selalu disorot oleh publik dan tak henti dibidik oleh lawan-lawan politik. 

    Jika kesulitan untuk membidik musuh karena terlalu pintar berkelit, maka bidiklah orang-orang terdekatnya, khususnya keluarganya. Sejumlah politisi pun ngebet memita polisi untuk memproses laporan tersebut. 

    Tapi lemparan bola api Hidayat yag sepenuhnya mengenai sasaran, alias meleset. Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki memastikan, Presiden Jokowi tidak melakukan intervensi hukum terkait adanya laporan terhadap putra bungsunya Kaesang Pangarep. 

     “Itu wilayah kepolisian kalau memang tidak ada unsur pidananya berarti tidak diteruskan. Tapi saya kira tidak ada intervensi dari Presiden, Presiden sedang sibuk,” kata Teten.

     Sementara itu, Polri sendiri telah memberi sinyal pelaporan itu tidak akan diproses. Wakapolda Metro Jaya Brigjen Suntana menyebut penyetopan pelaporan itu sudah sesuai dengan mekanisme. 

     Wakapolri Komjen Syafruddin pun telah memberikan pernyataan bahwa pelaporan Hidayat itu tidak memenuhi unsur pidana sehingga tidak diproses. Polres Metro Bekasi Kota sendiri saat ini tengah melakukan gelar perkara kedua terkait dengan laporan tersebut. 

     Dan sial bagi Hidayat, bola api yang telah sukses dilemparkannya kini justru berbalik menghantam mukanya sendiri. Fakta terbaru dari orang ini pun terungkap. Ternyata laporan yang dibuat ini bukan pertama kalinya. 

    Tercatat orang ini sudah 60 kali membuat laporan ke polisi. Untuk apa? Awalnya sih katanya untuk membantu menegakkan hukum. Ternyata ini hanyalah topeng. 

    Itulah mengapa laporan tersebut banyak menyasar para pejabat, khususnya yang berada di Bekasi, karena diduga itu dilakukan untuk melakukan pemerasan. 

   Setelah melaporkan, Hidayat mendatangi pejabat tersebut. “Riwayatnya ini udah 60. Dia rata-rata melaporkan pejabat di Bekasi, nanti didatangi, bahwa ‘ini saya sudah laporan loh’,” kata Setyo Wasisto, Kadis Humas Mabes Polri. 

    Setyo menjelaskan bahwa Hidayat akan kembali menjalani proses hukum dalam kasus ujaran kebencian  terhadap Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan yang membuatnya jadi tersangka. 

     Dia sebenarnya pernah ditahan tapi ditangguhkan dengan alasan kemanusiaan. “Ditangguhkan karena kemanusiaan, dia sudah tua. Harusnya dia masih ditahan ini. Ini makanya mau diproses lanjut. Dia di luar malah bikin resah seperti itu,” imbuh Setyo.

     Lalu, bagaimanakah nasib Muhammad Hidayat selanjutnya? Kita tunggu saja...

*****

Deddy Corbuzier: Kaesang Itu Ndak Pantes Jadi Anak Presiden




     Karena video unggahannya di Youtube, Kaesang Pangarep, putera bungsu Presiden Jokowi menjadi bahan perbincangan yang masih hangat dalam beberapa hari terakhir.

     Kasus yang mencuat setelah Kaesang dilaporkan ke polisi oleh Muhammad Hidayat ini tak urung memancing pro kontra, opini dan reaksi publik.

     Presenter berkepala plontos Deddy Corbuzier tak ketinggalan turut bereaksi dengan berkomentar dalam video berjudul,"Kaesang, Itu Ndak Pantes Jadi Anak Presiden”. 

    Dalam video yang diunggah di laman YouTube-nya, Deddy mengatakan, Kaesang tidak pantas menjadi anak presiden. Menurut Deddy, dirinya yang pantas menjadi anak presiden. Deddy berandai-andai jika menjadi anak presiden, tentu dia akan meminta saham dan proyek.

     “Saya akan minta saham dari orangtua saya di perusahaan saya. Saya akan minta proyek pembangunan jalan misalnya, saya akan minta proyek pembangunan sekolah,” katanya. “Dan kalau saya yang jadi anak presiden saya akan korupsi. Bayangkan akan sekaya apa saya nanti?” ujarnya lagi.

   Statement Deddy ini mengungkit kembali video yang diunggah oleh Kaesang yang mengungkit soal bapak minta proyek. Dan tidak lupa Deddy juga menjelaskan kata ‘Ndeso’ yang menjadi permasalahan dan dijadikan alasan Muhammad Hidayat melaporkan Kaesang ke polisi.

  Banyak orang, setuju bahwa mempermasalahkan apalagi melaporkan orang karena kata ‘Ndeso’ adalah sesuatu yang konyol, atau mengada-ada seperti diungkapkan oleh pihak kepolisian saat memutuskan untuk menghentikan kasus ini. 

    Kalau kata ini dianggap ujaran kebencian, bagaimana pula dengan kata-kata lain yang jauh lebih kasar dan keras seperti yang dikoar-koarkan kelompok sumbu pendek, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Lalu bagaimana pendapat Deddy mengenai kata ini?



    “Ndeso itu artinya kampungan bukan orang kampung,” kata Deddy. “Kampungan itu berbeda dengan orang kampung. Orang kampung adalah orang yang tinggal di kampung, sedangkan kampungan adalah sifat. Orang kota bisa kampungan, tapi orang kampung belum tentu kampungan.”

    Jadi sudah jelas ya, dan dapat disimpulkan, Ndeso bukan ujaran kebencian. Ada yang mengatakan ini candaan atau apa pun selain ujaran kebencian. Tuh buktinya Mas Tukul saja sudah tak terhitung lagi mengucapkan kata pamungkas ini di acara Talk Show-nya.

   Deddy kemudian menegaskan lagi bahwa Kaesang tak pantas menjadi anak presiden karena terlalu ‘lurus’.
“Kamu kok jadi anak presiden baik-baik gitu. Kamu kok jadi anak presiden lurus-lurus jualan martabak. Ya anak presiden yang lurus banyak, nggak cuma kamu. Tapi kalau saya nggak akan gitu,” ujar Deddy.

   Deddy menyindir Kaesang tapi dalam bentuk sarkas yang sebenarnya menyentil orang lain seperti dalam video Kaesang. Penjelasannya mengenai ndeso yang merupakan sifat kampungan sangat bagus dan mengena, sekaligus membuat beberapa orang kejang-kejang. 

     Video Deddy ini, seakan menyadarkan kita bahwa banyak sekali kelompok sakit hati yang mau melakukan apa pun, termasuk yang konyol sekali pun untuk menjegal siapa pun yang tidak disukainya. Bagaimana tidak, sang pelapor ternyata diketahui seorang tersangka ujaran kebencian juga. Tidak hanya sampai di situ, pelapor juga telah 60 kali membuat laporan ke polisi, diduga untuk melakukan pemerasan. Memang ini sekilas tidak terkait dengan politik.

    Bagaimana kalau ada yang memanfaatkan ini untuk kepentingan politis? Ini jauh lebih berabe. Sudah kita lihat beberapa waktu lalu, di mana kepentingan politik membuat negara ini kacau. Demi ambisi dan kehausan di dunia politik, sebagian kelompok melakukan apa pun, memanfaatkan apa pun serta menggunakan sesuatu yang tidak semestinya demi memuaskan dahaganya.

   Salut buat Kaesang. Bagi yang melaporkan dan bagi yang mempermasalahkan kata ‘Ndeso’ yang diucapkannya.
*****