Monday, March 20, 2017

Terkuak, Misteri "Jantung Berdegup" Lukisan Bung Karno

    Ada yang ganjil pada lukisan potret Presiden Sukarno yang terpasang di galeri di dalam Kompleks Makam Bung Karno.

    Berbingkai kayu kelir emas, lukisan berukuran sekitar 1,5 x 1,75 meter tersebut ditopang penyangga besi sekitar setengah meter dari dinding. Lukisan dipasang dekat pintu masuk Galeri sehingga tampak mencolok bagi pengunjung yang masuk.


    Tak ada yang aneh saat melihat lukisan ini dari depan. Keganjilan baru terungkap ketika pengunjung melihat lukisan dari samping. Kanvas di dada kiri Bung Karno bergerak maju-mundur, menciptakan ilusi degup jantung. Menariknya, ritme degup jantung ini sekitar 60-70 detak per menit, mirip manusia normal.

    Sebagian kalangan menganggapnya sebagai bukti kesaktian Bung Karno, meskipun sebenarnya ada penjelasan ilmiah untuk menjelaskan fenomena ini. Staf Galeri Bung Karno, Friska Fauzi menjelaskan, kondisi fisik lukisanlah yang mendukung terjadinya degupan.

    Pelukis menumpahkan kecerdasannya ke bidang kanvas dengan mengatur komposisi. Dada kiri Bung Karno diletakkan tepat di tengah lukisan sehingga menjadi fokus utama mata yang memandangnya. Dimensi panjang dan lebar bidang lukis juga dibuat persegi panjang sehingga memiliki daerah lentur di bagian tengah tersebut. Dorongan kecil oleh angin membuat bagian tengah lukisan bergerak konstan.

    Itulah kenapa lukisan tidak dipasang di dinding. Keberadaan benda keras di belakang kanvas menutup akses aliran udara sehingga tak bisa menciptakan efek degup. Demikian pula di bagian depan, tak diberi lapisan kaca supaya permukaan lukisan bisa bersentuhan dengan udara.



********


Wednesday, March 1, 2017

11 Teror Bom Terdahsyat Sepanjang Sejarah Indonesia


Terorisme dalam sejarah Indonesia lebih didominasi oleh misi pendirian negara Islam (khilafah Islamiyah). Pada awalnya aksi ini dilakukan oleh kelompok Jema'ah Islamiyah yang berafiliasi dengan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Serangan teror dengan peledakan bom mulai secara masif mengguncang Indonesia sejak tahun 2000, dengan sasaran "negara Barat." Namun, belakangan misi telah bergeser kepada pendirian Negara Islam Irak dan Syiria, ISIS.

Tidak lagi pada simbol-simbol asing (Barat) sebagai target, namun kini lebih kepada aparat terutama kepolisian, dan bahkan masyarakat umum pun tak jarang ikut dijadikan korban.
 
Berikut ini 11 serangan bom terdahsyat sepanjang sejarah Indonesia, dengan korban tewas terbanyak:


1. Bom Bursa Efek Jakarta-2000.
Serangan teroris mulai mengguncang Indonesia pada 14 September 2000, ketika serentetan bom mobil meledak di ruang bawah tanah, lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta.

Korban tewas         : 5 orang.
Korban luka-luka   : 90 orang.

2. Bom Malam Natal-2000. 

 

Pada malam Natal 24 Desember 2000, terjadi serentetan serangan teror bom di sejumlah gereja di Indonesia di beberapa kota, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Pangandaran, Bandung, Mojokerto, Mataram. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiyah. 


Korban tewas    :16 orang
Korban luka-luka: 96 orang.

3. Bom Gereja St Anna dan HKBP-2001


Serangan terorisme kembali terjadi, sekitar pukul 07.05, ketika pastor tengah berkhotbah, bom meledak di dalam ruangan Gereja Santa Anna di Jl. Laut Arafuru Blok A7/7, Duren Sawit. Pada saat hampir bersamaan, pukul 06.55, bom juga meledak di lapangan parkir Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jatiwaringin.

Korban tewas: 5 orang.

4. Bom Bali I-2002. 

 

Ini adalah serangan terorisme terparah dan terdahsyat dalam sejarah Indonesia. Terjadi tiga peristiwa pengeboman yang pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali dan satu ledakan di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat.


Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka, kebanyakan korban WN Australia.

Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50-150 kg.

Para pelaku: Dr. Azahari (tewas dalam penyergapan di Kota Batu-9 November 2005),  Dulmatin (tewas-9 Maret 2010),  Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi (terpidana mati, eksekusi 9 November 2008). Umar Patek (tertangkap di Pakistan,  21 Juni 2012 dipidana 20 tahun penjara), Abdul Gani dan  Ali Imron (didakwa seumur hidup).

Abu Bakar Ba'asyir diduga terlibat dalam pengeboman ini dan pada 16 Juni 2011, divonis 15 tahun oleh PN Jakarta Selatan atas keterlibatan dalam pendanaan latihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

5. Bom JW Marriott-2003.

Serangan teror ini dilakukan dengan bom mobil bunuh diri yang diledakkan di hotel JW Mariott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada pukul 12:45 dan 12:55 WIB pada 5 Agustus 2003.

Dilaporkan 12 orang tewas dan 152 orang luka-luka.

6. Bom Kuningan-2004. 

 
Serangan teror oleh kelompok Jama'ah Islamiyah ini dilakukan dengan sebuah bom mobil diledakkan di depan Kedutaan Besar Australia pada pukul 10.30 WIB di kawasan Kuningan, Jakarta pada 9 September 2004.


Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia dan Gedung BNI. Ini merupakan aksi terorisme besar ketiga yang ditujukan terhadap Australia yang terjadi di Indonesia setelah Bom Bali 2002 dan Bom JW Marriott 2003.

Dilaporkan 9 orang tewas dan 150 luka-luka.

7. Bom Tentena-2005. 
 
 
Pukul 08:15  pada 28 Mei 2005 terjadi ledakan bom di Pasar Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. 15 orang telahditetapkan sebagai tersangka dalam kasus bom tersebut.
Tercatat 20 orang tewas, 50 orang luka-luka.

8----Bom Bali II-2005. 



Bali kembali diguncang ledakan bom. Pada 1 Oktober 2005, serangan teror kembali muncul dengan serangkaian pengeboman. Terjadi tiga ledakan, satu di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan dua ledakan di Nyoman Café, Jimbaran.

Sedikitnya 23 orang tewas dan 196 orang luka-luka.






 


9. Bom Pasar Palu-2005. 

 

Pada 31 Desember 2005 ledakan bom terjadi di Pasar Babi di kawasan Maesa, Kelurahan Lolu Utara, Palu, Sulawesi Tengah. Ledakan memporak-porandakan kios yang ada di pasar daging tersebut.

Dilaporkan, 8 orang tewas dan 54 orang luka-luka.

10. Bom Mega Kuningan-2009.
 

Serangan teroris berulang lagi. Kali ini, bom bunuh diri terjadi di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan pada 17 Juli 2009.

Kedua pelaku tewas di tempat, Dani Dwi Permana asal Bogor dan Nana Ikhwan Maulana asal Pandeglang. Diduga 11 orang terlibat dalam aksi tersebut, termasuk Noordin M. Top sebagai otak pelaku utama dan Ibrohim sebagai orang dalam di Hotel Ritz-Carlton yang menyelundupkan bom.

Dikabarkan, 9 orang korban dan 50 orang luka-luka, baik WNI maupun warga asing.

11. Bom Thamrin-2016.

Ini adalah serangan terorisme terbaru yang mengguncang Indonesia setelah beberapa tahun sempat mereda. Pada 14 Januari 2016, Jakarta dikejutkan dengan serentetan, sedikitnya enam ledakan, dan penembakan di daerah sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Ledakan terjadi di dua tempat, yakni daerah tempat parkir Menara Cakrawala, gedung sebelah utara Sarinah, dan sebuah pos polisi di depan gedung tersebut. Pelaku, 7 orang adalah Kelompok Bahrun Naim yang berafiliasi dengan organisasi Negara Islam Irak dan Syiria (ISIS) yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror ini.

Dilaporkan, 8 orang (4 pelaku dan 4 warga sipil) tewas dan 24 lainnya luka-luka. 


Salam...
El Jeffry

11 Pemimpin Negara Yang Hidupnya Berakhir Tragis



Menjadi pemimpin tertinggi dan penguasa dalam lingkup negara, merupakan pencapaian luar biasa bagi setiap manusia. Namun, karena panggung politik penuh dengan drama konflik dan kepentingan jutaan mausia, maka resiko politiknya juga tiada bandingnya, dan kadang harus dibayar mahal dengan nyawa.

Berikut ini kami rangkum berdasarkan kurun waktu kejadian, 11 pemimpin negara, Presiden/Perdana Menteri yang hidupnya berakhir tragis dengan terbunuh, baik ketika masih dalam masa jabatan maupun di masa setelahnya. 


 1. Abraham Lincoln
(12 Februari 1809-14 April 1865)
 
Abraham Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-16, menjabat sejak 4 Maret 1861. Dia memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika, mempertahankan persatuan bangsa dan menghapuskan perbudakan. 

Abraham Lincoln terbunuh pada 14 April 1865, saat sedang menyaksikan pertunjukan teater, ditembak oleh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth, yang disusupkan oleh kelompok pro-perbudakan. Lincoln tercatat sebagai Presiden pertama AS hidupnya berakhir tragis menjadi korban pembunuhan.

2. Maximilian I: Presiden Meksiko
(6 Juli 1832-19 Juni 1867)

Maximilian I adalah anggota keluarga kerajaan Austria, Habsburg-Lorraine. Dengan dukungan Napoleon III dari Perancis dan monarkis Meksiko, ia dinyatakan sebagai Presiden Meksiko pada 10 April 1864. Ia memerintah selama lebih dari tiga tahun.
 
Menyusul terjadinya Civil War di AS, para pendukungnya yang kebanyakan dari Pasukan perancis ditarik mundur. Napoleon III tidak ingin mengambil risiko karena veteran tentara Amerika menang, sementara ia juga menghadapi kebangkitan kembali Prusia di Eropa.

Banyak pemerintahan asing menolak mengakui pemerintahannya, terutama Amerika Serikat. Hal ini meyakinkan keberhasilan pasukan Republikan yang dipimpin oleh Benito Juárez, dan hidup Maximilian pun berakhir tragis. Ia dieksekusi setelah ditangkap oleh Republikan di Querétaro tahun 1867.

3. John F. Kennedy: Presiden Amerika Serikat 

(29 Mei 1917-22 November 1963)

John F. Kennedy adalah presiden kedua Amerika Serikat yang hidupnya berakhir tragis, menjadi korban pembunuhan setelah Abraham Lincoln. Saat sedang melakukan lawatan ke negara bagian Texas pada 22 November 1963, John F. Kennedy ditembak oleh seseorang.

 Ia tertembak di atas mobil kepresidenan. Saat itu, pihak berwenang menetapkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku pembunuhan Kennedy. Namun, hingga kini, kontroversi mengenai pembunuhan Kennedy ini belum selesai.

 
4. Salvador Allende: Presiden Chile
(26 Juni 1908-11 September 1973)

Salvado Allende adalah Presiden ke-29 Chile, berkuasa dari tahun 1970 hingga 1973. Yang menarik, Allende adalah presiden berhaluan marxis pertama di Amerika Latin yang berhasil merebut kekuasaan melalui jalan parlemen.

Pada 11 September 1973, pasukan sayap kanan yang dikomandoi Chile Augusto Pinochet melancarkan kudeta militer.Istana Moneda dikepung oleh tank dan dibombardir oleh pesawat tempur. Salvador Allende memilih tidak menyerah dan bersiap bertempur hingga akhir. Saat itu, ia turut menenteng senjata AK-47.

Kematian Allende penuh kontroversi. Namun banyak rakyat Chile menyakini bahwa Allende dibunuh oleh militer pendukung Pinochet.

5. Juan Jose Torres: Presiden Bolivia
(5 Maret 1920-2 Juni 1976)

Juan José Torres adalah Presiden ke-61 Bolivia. Ia memerintah tidak sampai setahun, yakni dari Oktober 1970 hingga Agustus 1971. Ia adalah seorang petinggi militer berpikiran progressif.

Pada 1976, militer Argentina di bawah Jorge Videla melancarkan kudeta. Begitu berkuasa, Videla terlibat dalam Operasi Condor untuk membasmi gerakan kiri di Amerika Latin. Dengan Operasi Condor ini pula, hidup Torres berakhir tragis. Ia ditembak mati oleh pasukan pembunuh suruhan Jorge Videla.



Meskipun pemerintahannya berdurasi pendek, memori Torres 'masih dihormati oleh strata masyarakat yang paling miskin Bolivia. Jenazahnya akhirnya dipulangkan ke Bolivia pada tahun 1983, di mana ia menerima pemakaman kenegaraan secara besar-besaran.

6. Anwar Sadat: Presiden Mesir
(25 Desember 1918-6 Oktober 1981)

Mohammad Anwar Al Sadat adalah Presiden ke-3 Mesir. Ia memerintah Mesir dari tahun 1970 hingga 1981. Karir Anwar Sadat dimulainya dengan menjadi anggota militer Mesir di Kairo pada 1938 dan bergabung dalam Gerakan Perwira yang bertekad untuk membebaskan Mesir dari kolonialisme Inggris.

Setelah menjabat sebagai Wakil Presiden sejak 1964, Sadat  menggantikan presiden Nasser yang wafat pada 1970.  Kekuasaannya bertahan hingga 11 tahun. Bersama Presiden Suriah Hafez al Assad, Sadat memimpin perang Yom Kippurmelawan Israel untuk mengambil alih Gurun Sinai yang direbut oleh Israel dalam Perang Enam Hari.

Namun pertempuran ini berakhir dan Sadat menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Dunia Arab mengecam dan menganggapnya berkhianat. Hidup Sadat berakhir dengan tragis pada 6 Oktober 1981. Dalam acara parade militer memperingati perang Yom Kipur Sadat diberodong oleh sekelompok militer.

7. Indira Gandhi: PM India
(19 November 1917-31 Oktober 1984)


Indira Priyadarshini Gandhi adalah putri Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Ia menjadi wanita pertama yang menjabat Perdana Menteri di India. Menjabat sejak  24 Januari 1966-24 Maret 1977, kemudian berlanjut pada 14 Januari 1980-31 Oktober 1984.

Indira Gandhi merupakan seorang wanita yang penuh gejolak dan sangat kontroversial sebagai pimpinan partai politik dan politik negaranya. Dalam masa jabatannya, India pun mengalami peperangan dengan rivalnya, Pakistan.

Peperangan India dan Pakistan menyebabkan instabilitas dan krisis finansial di India. Pada 31 Oktober 1984, hidup Indira berakhir tragis setelah dibunuh oleh pengawal pribadinya sendiri.

8.Rajiv Ratna Gandhi: PM India
(20 Agustus 1944-21 Mei 1991)

Rajiv Gandhi adalah anak tertua dari Perdana Menteri Indira Gadhi dan Feroze Gandhi. Rajiv menjabat sebagai Perdana Menteri India yang keenam, menggantikan ibunya yang terbunuh sejak 31 Oktober 1984 hingga 2 Desember 1989 melalui pemilihan (a general election defeat). 
 

Ia menjabat Perdana Menteri India ketika berusia 40 tahun, sehingga ia tampil sebagai yang termuda saat menduduki jabatan perdana menteri.

Senasib dengan ibunya yang hidupnya berakhir tragis dengan pembunuhan, Rajiv Gandhi mengalami hal serupa. Pada 21 Mei 1991, ia terbunuh di usia 46 tahun, oleh separatis Tamil dari Sri Lanka, Thenmuli Rajaratnam yang saat itu mengalungkan rangkaian bunga berisi bom ke lehernya.

9. Saddam Hussein: Presiden Irak
(28 April 1937 - 30 Desember 2006)

Saddam Hussein menjabat sebagai presiden ke-5 Irak, 1979-2003. Selama waktu itu, ia berjuang dalam dua perang berdarah dan gagal untuk menyatukan Khuzestan dan kemudian Kuwait menjadi satu dengan Irak. Dalam perang kedua, ia juga menyerang Israel dengan rudal Scud.
Perang ketiganya menjadi akhir dari tahtanya, saat ia sekali lagi dihadapkan sebuah koalisi internasional. Tidak seperti pada tahun 1991, koalisi kedua tidak hanya menjadikan kekalahan militer, tapi juga kejatuhannya.

Dalam perang melawan invasi AS tahun 2003, dia kehilangan kedua putranya dan sendirian sampai ditangkap di sebuah bunker kecil yang sangat memprihatinkan. Dalam pengadilan dia diputuskan bersalah atas pembantaian terhadap warganya dan hidupnya berakhir tragis di tiang gantungan.

10. Benazir Bhutto: Perdana Menteri Pakistan
(21 Juni 1953-27 Desember 2007)

Benazir Bhutto adalah wanita pertama yang memimpin sebuah negara Muslim pasca-kolonialisme. Bhutto terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada 1988, namun 20 bulan kemudian ia digulingkan oleh kudeta militer atas dukungan presiden Ghulam Ishaq Khan, yang secara kontroversial menggunakan Amendemen ke-8 untuk membubarkan parlemen dan memaksa diselenggarakannya pemilu.


Bhutto terpilih kembali pada 1993 namun tiga tahun kemudian diberhentikan di tengah-tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden yang berkuasa waktu itu, Farooq Leghari, yang juga menggunakan kekuasaan pertimbangan khusus yang diberikan oleh Amendemen ke-8.

Pada 2007, dia berniat untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilu 2008. Sayang, hidupnya berakhir tragis. Pada 27 Desember 2007, saat sedang melakukan kampanye di Rawalpindi, daerah dekat Ibu Kota Islamabad, sebuah serangan bom disertai rentetan tembakan mengakhiri perjalanan hidup Benazir Bhutto.

11.Mu'ammar Qaddafi: Presiden Libya
(7 Juni 1942-20 Oktober 2011)

Mu'ammar Qaddafi berkuasa di Libya selama 42 tahun sejak 1969,setelah menggulingkan kekuasaan monarki pimpinan Raja Idris. Pemimpin yang selalu menentang Barat ini juga sering kali dituding melancarkan aksi teror dengan mendanai serta mempersenjatai beberapa kelompok pemberontak di wilayah Afrika.


Selain itu, ada pula beberapa insiden pengeboman yang diduga melibatkan Qaddafi. Dirinya juga dianggap melakukan tekanan terhadap para oposisinya sendiri. Pada Februari 2011, ketika Mesir telah menggulingkan rezim militer Husni Mubarak, muncul gelombang demonstrasi di Libya yang menentang Qaddafi.
 
 Gelombang demonstrasi menjelma menjadi perang saudara. Para penentang Qaddafi dibantu oleh NATO dan Barat. Oposisi Libya akhirnya berhasil mengalahkan penguasa Libya tersebut dan hidup Qaddafi pu berakhir tragis dengan dibunuh secara sadis.
 
Salam...
El Jeffry