Monday, February 27, 2017

11 Penguasa Diktator Yang Hidupnya Berakhir Tragis



"Siapa menanam, bakal memetik" Setiap manusia akan memperoleh balasan yang setimpal dengan perbuatannya, tak terkecuali bagi para diktator yang memimpin dengan kejam.

Seringkali, pemerintahan para diktator yang diidentikkan dengan tangan besi, membuat para penguasa ini berakhir buruk dan tragis.  Ada yang dikhianati, diusir paksa dari negaranya, bahkan hingga dibunuh.

Berikut ini kami rangkum 11 pemimpin diktator yang bernasib tragis di akhir hidupnya:

12. Alfredo Stroessner: Paraguay
(3 November 1912- 16 Agustus 2006)



Alfredo Stroessner menjadi diktator yang memimpin Paraguay nyaris selama 4 dekade sejak tahun 15 Agustus 1954-3 Februari 1989. Rezim Stroessner diwarnai oleh aksi penyiksaan, penculikan dan brutalitas polisi. Kekuasaan Stroessner berkahir oleh kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Andrés Rodriguez.

Pada 16 Agustus 2006 Stroessner meninggal dalam pengasingannya di Brasil pada usia 93 tahun karena radang paru-paru dan stroke. Majalah TIME pernah menulis rezim Stroessner merupakan rezim yang bertahan paling lama di antara para diktator lain di negara barat.

11. Fulgencio Batista: Kuba
(16 Januari 1901- 6 Agustus 1973)

Fulgencio Batista berkuasa selama lenih dari 2 dekade. Cecara de facto, ia menjabat sebagai Presiden Kuba periode 1933–1940, secara de jure periode 1940–1944 dan diktator bergelar presiden periode 1952–1959 lewat aksi kudeta.

Hampir semua sektor pemerintah dikontrol secara otoriter oleh Batista. Mulai dari ekonomi, kongres, pendidikan, hingga media. Selain itu, Batista juga memperkaya dirinya sendiri dengan uang negara.

Kepemimpinannya berakhir pada 1 Januari 1959 setelah insiden Revolusi Kuba yang dilancarkan Fidel Castro. Batista lalu kabur ke Republik Dominika, kemudian pindah ke Portugal dan Marbella, Spanyol. Ia meninggal pada 6 Agustus 1973 di Guadalamina, Spanyol.

10. Antonio Salazar: Portugal
(28 April 1889 -27 Juli 1970 
 
Salazar dikenal sebagai salah satu pemimpin diktator paling otoriter di Benua Eropa. Memimpin Portugal sejak 1932 hingga 1968, Salazar memegang teguh visi anakronistik, yakni bahwa Portugal masih memiliki kekuatan kekaisaran dan berhak menginvasi koloni-koloninya di selatan Afrika.

Rezim Salazar dijuluki ‘Estado Novo’ atau negara baru, yang membanggakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, namun masih sarat dengan penindasan. Pada tahun 1960-an, muncul pemberontakan besar-besaran terhadap rezim Salazar di Mozambik dan Angola.

Hidup Salazar berakhir tragis. Saat menderita pendarahan otak pada tahun 1968, ia dilengserkan dari kekuasaannya secara diam-diam. Dan tahun 1974, Revolusi Bunga menandai berakhirnya rezim Salazar.

9. Ferdinand Marcos: Filipina
(11 September 1917-28 September 1989)
 

Di kawasan Asia, Ferdinand Marcos adalah diktator yang dikenal kejam terhadap media dan lawan-lawan politiknya. Marcos menjadi Presiden Filipina sejak 30 Desember 1965-25 Februari 1986.

Selama dua dekade masa pemerintahannya, Marcos Selalu menggaungkan ancaman komunis revolusioner, dan menggunakannya membungkam media dan menangkap lawan-lawan politiknya.
Di masa kepemimpinan Marcos, kronisme dan korupsi meluas. Miliaran uang negara disedot ke rekening pribadi Marcos di Swiss.

Pada tahun 1986, Marcos kembali terpilih menjadi Presiden Filipina. Namun pemilu yang diduga dipenuhi kecurangan, intimidasi, dan kekerasan ini menjadi titik klimaks bagi dirinya. Ia dilengserkan dalam Revolusi EDSA pada tahun yang sama.

Bersama istrinya, Imelda, Marcos melarikan diri dari Filipina. Marcos meninggal di pengasingannya di Hawaii pada tahun 1989 akibat penyakit ginjal, jantung dan paru-paru.

8. Jean-Claude Duvalier: Haiti
(3 Juli 1951-l 4 Oktober 2014)
  
Jean-Claude Duvalier sering dipanggil ‘Baby Doc’. Dialah orang termuda yang menjadi presiden karena dia baru berusia 19 tahun saat menggantikan ayahnya yang tewas pada 1971.

Duvalier segera menjadi diktator dan berkuasa selama 15 tahun sejak 22 April 1971 hingga 7 Februari 1986 dan mengakibatkan kelaparan dan resesi ekonomi di Haiti. Tahun 1986, karena terdesak keadaan Duvalier melarikan diri ke Perancis.

Duvalier juga mengambil milyaran dolar dari dana yang digelapkannya. Di Prancis, ia hidup dengan mewah, memiliki sebuah vila di perbukitan Cannes, dua buah apartemen di Paris, sebuah chateau, ditambah dengan sebuah mobil Ferrari. Namun Duvalier kehilangan hampir 750 juta dolar karena perceraiannya dengan istrinya, Michelle Duvalier, dan meninggal pada 14 Oktober 2014 dalam kondisi hidup amat sederhana.

7. Slobodan Milosevic: Serbia
(20 Agustus 1941-11 Maret 2006)
  
Slobodan Milosevic, Presiden Serbia yang sagat otoriter akan selalu diingat sejarah karena kejahatan perang Serbia-Bosnia. 8 Mei 1989 – 23 Juli 1997.

Dalam perang 1992-1995 itu, Milosevic dan pasukan Serbia membantai ribuan penduduk Muslim Bosnia. Kemudian ia disidang dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukannya di Kosovo. Pada 11 Maret 2006, Milosevic meninggal di sel tahanannya di Den Haag, Belanda.

6. Nicolae Ceausescu: Rumania
(26 Januari 1918- 25 Desember 1989)

Kediktatoran Nicolae Ceausescu dalam memerintah Rumania berlangsung selama 24 tahun dari 9 Desember 1967-22 Desember 1989. Di era kepemimpinannya, Rumania menjadi satu-satunya negara di Eropa yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi.

Pada  25 Desember 1989, Ceausescu diadili secara kilat di pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berlapis, mulai dari memperkaya diri secara ilegal hingga genosida dan kemudian dieksekusi di hadapan regu tembak di Târgovi?te.  Video pengadilan menunjukkan, setelah vonis, Ceau?escu dan istrinya diikat lalu digiring ke luar gedung pengadilan untuk dieksekusi.

5. Mobutu Sese Seko: Zaire-Kongo
(14 Oktober 1930-7 September 1997)
Jenderal Mobutu Sese Seko menjadi Presiden di Kongo selama 32 tahun sejak kudeta pada tahun 1965 hingga 1967. Dia selalu tampil dengan kopiah bercorak macan tutulnya yang khas. Selama memerintah, Mobutu diduga melakukan banyak pelanggaran HAM. Korupsi merajalela di negara ini.

Kekuasaan Mobutu berakhir 16 Mei 1997 setelah  kelompok pemberontak Tutsi dan kelompok lain anti-Mobutu berkoalisi membentuk Kelompok Pembebasan Demokrasi Kongo-Zaire dan berhasil menguasai Kinshasha. Laurent Kabila akhirnya menjadi presiden baru. Mobutu kemudian lari ke Togo, kemudian ke Maroko dan pada 1997 tewas karena kanker prostat.

4. Idi Amin: Uganda
(1920-an-16 Agustus 2003)
 

Idi Amin memerintah Uganda selama 8 tahun dari 25 Januari 1971-13 April 1979. Amin yang merupakan perwira militer ini merebut kekuasaan dari Perdana Menteri Milton Obote.
Selama pemerintahannya, Idi Amin mengusir ribuan orang India berkewarganegaraan Inggris dari Uganda. Dia juga diduga melakukan banyak pembunuhan pada lawan-lawannya. Di masa Idi Amin pula ekonomi Uganda morat-marit.

Akhirnya pejuang Uganda yang dibantu tentara Tanzania berhasil menggulingkan Idi Amin. Dia kemudian lari ke Libya dan ditampung sahabatnya Mu'ammar Qaddafi. Amin akhirnya pindah ke Arab Saudi hingga meninggal di Jeddah tahun 2003.

3. Pol Pot: Kamboja
 (19 Mei 1928-15 April 1998)
Hanya 4 tahun Pol Pot dan Khmer Merah memerintah Kamboja. Tapi selama kurun waktu 1975 hingga 1979, kepemimpinan otoriternya yang kejam, tidak kurang dari 1,7 juta rakyat Kamboja dijadikan sebagai ladang pembantaian.

Kekuasaan Pol Pot mulai berakhir sejak invasi Vietnam ke Kamboja tahun 1978 yang membuat Pol Pot terdesak dari Phnom Penh. Dia melanjutkan pemerintahannya dari hutan, sebelum akhirnya persembunyiannya dibocorkan anak buahnya sendiri. Pol Pot tewas saat menjalani tahanan rumah pada 15 April 1998.

2. Benito Mussolini: Itali
(29 Juli 1883-28 April 1945)

  
Mussolini adalah seorang pemimpin Partai Fasis Nasional dari Italia. Ia adalah diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa mundur dari jabatan Perdana Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Setelah ditangkap, ia diisolasi. Dua tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mayatnya kemudian digantung terbalik di Piazzale Loreto, Milan.

1. Adolf Hitler: Jerman
(20 April 1889- 30 April 1945) 

Diktator Jerman sekaligus pemimpin partai Nazi bergelar Führer und Reichskanzler ini mengobarkan perang dunia kedua di seluruh Eropa. Mimpinya adalah  mendirikan Orde Baru hegemoni Jerman Nazi yang absolut di daratan Eropa.

Di masa kediktatoran Hitler berlangsung selama 11 tahun dari tahun 1934 sampai 1945, ia melakukan pembantaian sadis terhadap 6 juta kaum Yahudi dan 5 juta etnis "non-Arya". 

Tahun 1943, Jerman mengalami serangkaian kekalahan dalam pertempuran. Hitler akhirnya dikalahkan pasukan sekutu.  Tanggal 30 April 1945, Hitler ditemukan bunuh diri bersama istrinya di dalam sebuah bunker.

No comments:

Post a Comment