Monday, February 27, 2017

11 Penguasa Diktator Yang Hidupnya Berakhir Tragis



"Siapa menanam, bakal memetik" Setiap manusia akan memperoleh balasan yang setimpal dengan perbuatannya, tak terkecuali bagi para diktator yang memimpin dengan kejam.

Seringkali, pemerintahan para diktator yang diidentikkan dengan tangan besi, membuat para penguasa ini berakhir buruk dan tragis.  Ada yang dikhianati, diusir paksa dari negaranya, bahkan hingga dibunuh.

Berikut ini kami rangkum 11 pemimpin diktator yang bernasib tragis di akhir hidupnya:

12. Alfredo Stroessner: Paraguay
(3 November 1912- 16 Agustus 2006)



Alfredo Stroessner menjadi diktator yang memimpin Paraguay nyaris selama 4 dekade sejak tahun 15 Agustus 1954-3 Februari 1989. Rezim Stroessner diwarnai oleh aksi penyiksaan, penculikan dan brutalitas polisi. Kekuasaan Stroessner berkahir oleh kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Andrés Rodriguez.

Pada 16 Agustus 2006 Stroessner meninggal dalam pengasingannya di Brasil pada usia 93 tahun karena radang paru-paru dan stroke. Majalah TIME pernah menulis rezim Stroessner merupakan rezim yang bertahan paling lama di antara para diktator lain di negara barat.

11. Fulgencio Batista: Kuba
(16 Januari 1901- 6 Agustus 1973)

Fulgencio Batista berkuasa selama lenih dari 2 dekade. Cecara de facto, ia menjabat sebagai Presiden Kuba periode 1933–1940, secara de jure periode 1940–1944 dan diktator bergelar presiden periode 1952–1959 lewat aksi kudeta.

Hampir semua sektor pemerintah dikontrol secara otoriter oleh Batista. Mulai dari ekonomi, kongres, pendidikan, hingga media. Selain itu, Batista juga memperkaya dirinya sendiri dengan uang negara.

Kepemimpinannya berakhir pada 1 Januari 1959 setelah insiden Revolusi Kuba yang dilancarkan Fidel Castro. Batista lalu kabur ke Republik Dominika, kemudian pindah ke Portugal dan Marbella, Spanyol. Ia meninggal pada 6 Agustus 1973 di Guadalamina, Spanyol.

10. Antonio Salazar: Portugal
(28 April 1889 -27 Juli 1970 
 
Salazar dikenal sebagai salah satu pemimpin diktator paling otoriter di Benua Eropa. Memimpin Portugal sejak 1932 hingga 1968, Salazar memegang teguh visi anakronistik, yakni bahwa Portugal masih memiliki kekuatan kekaisaran dan berhak menginvasi koloni-koloninya di selatan Afrika.

Rezim Salazar dijuluki ‘Estado Novo’ atau negara baru, yang membanggakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, namun masih sarat dengan penindasan. Pada tahun 1960-an, muncul pemberontakan besar-besaran terhadap rezim Salazar di Mozambik dan Angola.

Hidup Salazar berakhir tragis. Saat menderita pendarahan otak pada tahun 1968, ia dilengserkan dari kekuasaannya secara diam-diam. Dan tahun 1974, Revolusi Bunga menandai berakhirnya rezim Salazar.

9. Ferdinand Marcos: Filipina
(11 September 1917-28 September 1989)
 

Di kawasan Asia, Ferdinand Marcos adalah diktator yang dikenal kejam terhadap media dan lawan-lawan politiknya. Marcos menjadi Presiden Filipina sejak 30 Desember 1965-25 Februari 1986.

Selama dua dekade masa pemerintahannya, Marcos Selalu menggaungkan ancaman komunis revolusioner, dan menggunakannya membungkam media dan menangkap lawan-lawan politiknya.
Di masa kepemimpinan Marcos, kronisme dan korupsi meluas. Miliaran uang negara disedot ke rekening pribadi Marcos di Swiss.

Pada tahun 1986, Marcos kembali terpilih menjadi Presiden Filipina. Namun pemilu yang diduga dipenuhi kecurangan, intimidasi, dan kekerasan ini menjadi titik klimaks bagi dirinya. Ia dilengserkan dalam Revolusi EDSA pada tahun yang sama.

Bersama istrinya, Imelda, Marcos melarikan diri dari Filipina. Marcos meninggal di pengasingannya di Hawaii pada tahun 1989 akibat penyakit ginjal, jantung dan paru-paru.

8. Jean-Claude Duvalier: Haiti
(3 Juli 1951-l 4 Oktober 2014)
  
Jean-Claude Duvalier sering dipanggil ‘Baby Doc’. Dialah orang termuda yang menjadi presiden karena dia baru berusia 19 tahun saat menggantikan ayahnya yang tewas pada 1971.

Duvalier segera menjadi diktator dan berkuasa selama 15 tahun sejak 22 April 1971 hingga 7 Februari 1986 dan mengakibatkan kelaparan dan resesi ekonomi di Haiti. Tahun 1986, karena terdesak keadaan Duvalier melarikan diri ke Perancis.

Duvalier juga mengambil milyaran dolar dari dana yang digelapkannya. Di Prancis, ia hidup dengan mewah, memiliki sebuah vila di perbukitan Cannes, dua buah apartemen di Paris, sebuah chateau, ditambah dengan sebuah mobil Ferrari. Namun Duvalier kehilangan hampir 750 juta dolar karena perceraiannya dengan istrinya, Michelle Duvalier, dan meninggal pada 14 Oktober 2014 dalam kondisi hidup amat sederhana.

7. Slobodan Milosevic: Serbia
(20 Agustus 1941-11 Maret 2006)
  
Slobodan Milosevic, Presiden Serbia yang sagat otoriter akan selalu diingat sejarah karena kejahatan perang Serbia-Bosnia. 8 Mei 1989 – 23 Juli 1997.

Dalam perang 1992-1995 itu, Milosevic dan pasukan Serbia membantai ribuan penduduk Muslim Bosnia. Kemudian ia disidang dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukannya di Kosovo. Pada 11 Maret 2006, Milosevic meninggal di sel tahanannya di Den Haag, Belanda.

6. Nicolae Ceausescu: Rumania
(26 Januari 1918- 25 Desember 1989)

Kediktatoran Nicolae Ceausescu dalam memerintah Rumania berlangsung selama 24 tahun dari 9 Desember 1967-22 Desember 1989. Di era kepemimpinannya, Rumania menjadi satu-satunya negara di Eropa yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi.

Pada  25 Desember 1989, Ceausescu diadili secara kilat di pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berlapis, mulai dari memperkaya diri secara ilegal hingga genosida dan kemudian dieksekusi di hadapan regu tembak di Târgovi?te.  Video pengadilan menunjukkan, setelah vonis, Ceau?escu dan istrinya diikat lalu digiring ke luar gedung pengadilan untuk dieksekusi.

5. Mobutu Sese Seko: Zaire-Kongo
(14 Oktober 1930-7 September 1997)
Jenderal Mobutu Sese Seko menjadi Presiden di Kongo selama 32 tahun sejak kudeta pada tahun 1965 hingga 1967. Dia selalu tampil dengan kopiah bercorak macan tutulnya yang khas. Selama memerintah, Mobutu diduga melakukan banyak pelanggaran HAM. Korupsi merajalela di negara ini.

Kekuasaan Mobutu berakhir 16 Mei 1997 setelah  kelompok pemberontak Tutsi dan kelompok lain anti-Mobutu berkoalisi membentuk Kelompok Pembebasan Demokrasi Kongo-Zaire dan berhasil menguasai Kinshasha. Laurent Kabila akhirnya menjadi presiden baru. Mobutu kemudian lari ke Togo, kemudian ke Maroko dan pada 1997 tewas karena kanker prostat.

4. Idi Amin: Uganda
(1920-an-16 Agustus 2003)
 

Idi Amin memerintah Uganda selama 8 tahun dari 25 Januari 1971-13 April 1979. Amin yang merupakan perwira militer ini merebut kekuasaan dari Perdana Menteri Milton Obote.
Selama pemerintahannya, Idi Amin mengusir ribuan orang India berkewarganegaraan Inggris dari Uganda. Dia juga diduga melakukan banyak pembunuhan pada lawan-lawannya. Di masa Idi Amin pula ekonomi Uganda morat-marit.

Akhirnya pejuang Uganda yang dibantu tentara Tanzania berhasil menggulingkan Idi Amin. Dia kemudian lari ke Libya dan ditampung sahabatnya Mu'ammar Qaddafi. Amin akhirnya pindah ke Arab Saudi hingga meninggal di Jeddah tahun 2003.

3. Pol Pot: Kamboja
 (19 Mei 1928-15 April 1998)
Hanya 4 tahun Pol Pot dan Khmer Merah memerintah Kamboja. Tapi selama kurun waktu 1975 hingga 1979, kepemimpinan otoriternya yang kejam, tidak kurang dari 1,7 juta rakyat Kamboja dijadikan sebagai ladang pembantaian.

Kekuasaan Pol Pot mulai berakhir sejak invasi Vietnam ke Kamboja tahun 1978 yang membuat Pol Pot terdesak dari Phnom Penh. Dia melanjutkan pemerintahannya dari hutan, sebelum akhirnya persembunyiannya dibocorkan anak buahnya sendiri. Pol Pot tewas saat menjalani tahanan rumah pada 15 April 1998.

2. Benito Mussolini: Itali
(29 Juli 1883-28 April 1945)

  
Mussolini adalah seorang pemimpin Partai Fasis Nasional dari Italia. Ia adalah diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa mundur dari jabatan Perdana Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Setelah ditangkap, ia diisolasi. Dua tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mayatnya kemudian digantung terbalik di Piazzale Loreto, Milan.

1. Adolf Hitler: Jerman
(20 April 1889- 30 April 1945) 

Diktator Jerman sekaligus pemimpin partai Nazi bergelar Führer und Reichskanzler ini mengobarkan perang dunia kedua di seluruh Eropa. Mimpinya adalah  mendirikan Orde Baru hegemoni Jerman Nazi yang absolut di daratan Eropa.

Di masa kediktatoran Hitler berlangsung selama 11 tahun dari tahun 1934 sampai 1945, ia melakukan pembantaian sadis terhadap 6 juta kaum Yahudi dan 5 juta etnis "non-Arya". 

Tahun 1943, Jerman mengalami serangkaian kekalahan dalam pertempuran. Hitler akhirnya dikalahkan pasukan sekutu.  Tanggal 30 April 1945, Hitler ditemukan bunuh diri bersama istrinya di dalam sebuah bunker.

Friday, February 24, 2017

Drama Politik 5 Babak SBY Versus JOKOWI


Image: https://m.tempo.co/read/news/2014/11/29/078625189/

     Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi. Sebenarnya itu sah-sah saja, selama yang diperjuangkan adalah kepentingan publik, rakyat, bangsa dan negara di atas segala-galanya.

     Namun apa jadinya jika keliru dalam "memainkan" kepentingan itu, hanya untuk tujuan parsial, partai, golongan, keluarga, kelompok apalagi individu? Dan apa jadinya pula bila dua aktor utama, dua pemimpin tertinggi di negeri ini yang memerankannya, lalu menyuguhkan "drama politik" sebagai konsumsi publik?

     Adalah dua orang presiden, yakni presiden RI ke-6 yang telah "lengser keprabon" Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan presiden RI ke-7 yang tengah menjabat, Joko Widodo (Jokowi). Akhir-akhir ini keduanya tengah berpolemik dalam konflik dan sontak menjadi sorotan media dan publik.

     Publik pun dibuat bingung dan gamang, ada apa di balik "drama konflik" itu? Sebelum menyimpulkan, ada baiknya kita ikuti kronologi drama 5 babak "konflik" SBY versus Jokowi sebagai sebuah rangkaian yang tak terpisahkan.

Babak 1: Tour De Java Versus Hambalang

16 Maret 2016:

     Dalam kegiatan blusukan 13 hari keliling Pulau Jawa 8-21 Maret 2016, berulangkali SBY mengeluarkan pernyataan kritik yang ditujukan langsung kepada Jokowi.

     "Saya mengerti, bahwa kita butuh membangun infrastruktur. Dermaga, jalan, saya juga setuju. Tapi kalau pengeluaran sebanyak-banyaknya (dapat duit) dari mana? Ya dari pajak sebanyak-banyaknya. Padahal, ekonomi sedang lesu."

     "Kalau ekonomi sedang lesu, dikurangi saja pengeluarannya. Bisa kita tunda tahun depannya lagi. Enggak ada keharusan harus selesai tahun ini. Indonesia ada selamanya. Sehingga, jika ekonomi lesu, tidak lagi bertambah kesulitannya. Itu politik ekonomi."

     Agaknya kuping sang presiden ke-7 memerah. Karena tidak kali ini saja SBY mengeluarkan kritikan yang ditujukan pada dirinya. Sebelumnya, SBY berulangkali mengeluarkan pernyataan yang dinilai “berbau” provokatif mengenai kinerjanya di pemerintahan.

      Salah satunya adalah soal keributan kabinet yang dianggap sebagai representasi ketidakmampuan Jokowi mengelola negara. "Bagaimana mungkin bisa mengelola hal-hal yang lebih besar jika mengendalikan anak buahnya di kabinet saja tidak mampu!"

     Kritikan lain yang tak kalah pedasnya adalah tudingan politisasi kisruh Golkar dan PPP. SBY memamerkan keberhasilannya dalam membina partai politik sehingga di masanya tidak ada perpecahan partai politik. Dengan lugas SBY menuding kisruh kedua partai itu terjadi karena adanya campur tangan Kemenkumham. SBY pun menyodorkan fakta di mana tidak ada menteri di zamannya yang "take side" di kubu mana pun manakala ada parpol yang kisruh.

     Sebenarnya tak ada yang salah dengan kritik, selama ia konstruktif. Namun agaknya bagi Jokowi, kritik yang ini cukup kelewat batas dan lumayan panas.

18 Maret 2016:

      Presiden Jokowi blusukan ke proyek wisma atlet Hambalang, bersama Johan Budi, Menpora  Imam Nahrawi, serta Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Jokowi seakan menunjukkan, bahwa Mega proyek prestisius yang kini terlantar akibat terbelit korupsi itu, dibangun di masa Presiden SBY.

     Proyek itu telah memakan korban para elite Partai Demokrat. Pada 2013, KPK telah menetapkan Menpora waktu itu Andi Mallarangeng dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebagai tersangka.

     Setelah meninjau Hambalang, Presiden Jokowi curhat melalui akun Twitternya @Jokowi. ”Sedih melihat aset Negara di proyek Hambalang mangkrak. Penuh alang-alang. Harus diselamatkan." 

"Kuncinya di situ dan arahnya akan ke sana. Apapun ini menghabiskan anggaran triliunan," ujar Jokowi di kesempatan berikutnya.

Babak 2: Hilangnya Dokumen Temuan Hasil Investigasi TPF Kasus Munir

21 Oktober 2016:

      Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan, "Kejaksaan Agung bisa dan boleh memeriksa orang-orang pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pemeriksaan itu terkait dengan keberadaan data Tim Pencari Fakta kasus pembunuhan Munir Said Thalib."

      Juru bicara Kepresidenan Johan Budi mengatakan, Presiden Joko Widodo mengetahui ihwal putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) tentang sengketa kasus Munir Sa'id Thalib. Johan mengatakan, Jokowi telah memerintahkan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menelusuri keberadaan dokumen hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir.

SBY pun bereaksi.

25 Oktober 2016:

     SBY menggelar jumpa pers di Cikeas, Bogor: "TPF Munir ini ada yang bergeser, ada yang bernuansa politik. dan saya bukan orang baru di dunia begitu (politik). Hal itu biasa."

     "Jika SBY dianggap terlibat konspirasi pembunuhan Munir, come on... semua punya akal sehat, rakyat punya akal sehat."

     "Kasus Munir sudah terang benderang. Berkas TPF Munir juga sudah diserahkan ke Mensesneg untuk ditindak lanjuti.Sekarang bola kasus Munir ada di tangan Pak Jokowi." 

     "Kalau dianggap belum rampung, silakan aparat hukum yang sekarang menindak lanjuti."

Babak 3: Isu SBY Terlibat di Balik Rencana Aksi Demo 4 November 

     Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) berencana berdemonstrasi di Jakarta menuntut penegak hukum untuk menuntaskan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur nonaktif DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

     Sebelum demo terjadi, muncul desas-desus adanya laporan intelijen yang mengarah keterlibatan SBY di balik rencana aksi tersebut.

4 November 2016: Aksi berlangsung. Insiden terjadi. Aksi yang semula berlangsung damai berakhir ricuh. Sejumlah orang terluka.

5 November 2016 dini hari: Presiden Jokowi kemudian menggelar jumpa pers di Istana Merdeka. 

      "Kita menyesalkan kejadian ba'da Isya yang seharusnya sudah bubar tetapi menjadi rusuh. Dan ini kita lihat telah ditunggangi aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi."
Dua hari sebelum aksi berlangsung, 2 November 2016:

    SBY menggelar jumpa pers di Cikeas menampik desas-desus laporan intelijen yang menuding keterlibatannya di balik rencana Demo 4 November,  "Intelijen harus akurat. Intelijen jangan ngawur. Saya kira bukan intelijen seperti itu yang harus hadir di negeri kita."  

"Bila ada pertemuan politik yang dilakukan orang yang berada di luar kekuasaan, jangan langsung dicurigai."

7 November 2016:

Ani Yudhoyono turun suara mengeluarkan statemen bantahan atas keterlibatan suaminya. 

      "Sepuluh tahun Pak SBY memimpin negara, tidak ada DNA keluarga kami berbuat yang tidak-tidak. Jadi kalau ada tuduhan kepada Pak SBY yang menggerakkan dan mendanai aksi damai 4 November lalu, itu bukan hanya fitnah yang keji, tetapi juga penghinaan yang luar biasa kepada Pak SBY."

Babak 4: Isu penyadapan Telepon SBY-Ma'ruf Amin 

      Isu itu berawal pada 31 Januari 2017, saat di dalam sidang, pengacara terdakwa kasus dugaan penistaan agama, Ahok, bertanya kepada saksi ahli Ketum MUI Kiai Ma'rif Amin soal telepon dari SBY saat PBNU menerima kedatangan Agus Yudhoyono.
1 Februari 2017:

SBY menggelar jumpa pers di DPP PD, Jakarta:
     “Kalau memang pembicaraan saya kapanpun, kalau yang disebut kemarin pembicaraan saya dengan Pak Ma'ruf Amin itu disadap, ada rekamannya, ada transkripnya, maka saya berharap pihak kepolisian, pihak kejaksaan dan pihak pengadilan utntuk menegakkan hukum sesuai Undang-Undang ITE."

      “Kalau misalnya yang menyadap bukan Pak Ahok, mudah-mudahan tidak, maka menurut saya sama, hukum mesti ditegakkan. Saya bermohon Pak Jokowi presiden kita berkenan memberikan penjelasan, dari mana transkrip atau sadapan itu. Siapa yang menyadap, supaya jelas, yang kita cari kebenaran.”

Di hari yang sama, secara terpisah istana bereaksi. 

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengeluarkan pernyataan:
  ”Yang jelas bahwa tidak pernah ada permintaan atau instruksi penyadapan kepada beliau (SBY), karena ini bagian dari penghormatan presiden-presiden yang ada.

2 Februari 2017:
       Dalam pembukaan acara Forum Rektor Indonesia di Jakarta, Jokowi menyatakan menolak menanggapi permintaan mengusut dugaan penyadapan komunikasi yang diajukan SBY. Menurut Jokowi, permintaan SBY salah alamat. 

     "Kok, barangnya (isu rekaman penyadapan) dikirim ke saya. Itu isu pengadilan." 

Babak 5: Serangan Antasari Azhar

14 Februari 2017:
     Di kantor sementara Bareskrim di KKP, Jakarta Pusat, Mantan Ketua KPK Antasari Azhar berbicara mengenai kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang membuatnya menjadi terpidana. Menurutnya, "SBY merupakan aktor di balik layar dalam rekayasa kasus itu. SBY yang memerintahkan pihak tertentu agar mengkriminalisasi saya."

      Masih di hari yang sama, SBY bereaksi dengan menggelar jumpa pers di rumahnya, Kuningan. Sebagaimana pernah dicuitkan dalam akun twitter sebelumnya, SBY menegaskan dalam pidatonya:
     "Saya harus mengatakan bahwa nampaknya grasi Presiden Jokowi ada muatan politiknya. Sepertinya, sepertinya ada misi untuk menyerang dan merusak nama saya, juga keluarga saya."

       "Serangan ini diluncurkan dan dilancarkan satu hari sebelum pemungutan suara sebelum pencoblosan pilkada DKI Jakarta."

Dan yang paling menohok Jokowi adalah satu kalimat ini:
      "Saya punya keyakinan saudara saudara, apa yang dilakukan Antasari tidak mungkin tanpa blessing dan restu dari kekuasaan. Para penguasa hati-hatilah, dalam menggunakan kekuasaan, jangan bermain api, terbakar nanti."

Maka Istana pun bereaksi atas pernyataan SBY.
     Melalui Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi, di Istana Kepresidenan, tudingan SBY dibantah.

     "Pemberian grasi itu sudah melalui proses dan prosedur yang sesuai dengan aturan perundang-undangan."

     "Keputusan presiden untuk memberi grasi kepada Antasari itu berdasarkan saran atau masukan dari Mahkamah Agung. Jadi, tidak ada kaitannya sama sekali pemberian grasi itu dengan apa yang Pak Antasari lakukan secara pribadi."
    
     Lantas, akankah polemik drama kedua pemimpin itu segera berakhir dan tidak berlarut-larut? Ataukah justru akan semakin panas sehingga membakar panggung politik negeri ini?

     Memang, tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Tapi kita berharap, mestinya kepentingan publik, rakyat, bangsa dan negara tetaplah wajib diletakkan di atas segala kepentingan yang ada.

Salam...
El Jeffry


Thursday, February 9, 2017

Inilah 8 Penipuan Sains Paling Populer Di Dunia

     Di dunia ini, selalu saja ada orang yang menyalahgunakan kemampuan dan profesi entah dengan tujuan apa, tak terkecuali para ilmuwan. Ironis memang, seorang ilmuwan  seharusnya menjunjung tinggi metode ilmiah dalam mencari kebenaran.

Mereka semestinya menjadi penyuluh "obor" penerangan bagi peradaban, tapi ada segelintir dari mereka yang justru memadamkan dengan kebohongan dan penipuan. Berikut kami sajikan 8 Penipuan Sains Paling Populer Di Dunia.

1. Layangan Listrik Benjamin Franklin (1752)

    Pada 19 Oktober 1752, Pennsylvania Gazette mempublikasikan gambaran singkat dari eksperimen yang dilakukan Benjamin Franklin. Menurut berita tersebut, Franklin telah menerbangkan sebuah layang-layang dalam badai petir, menyebabkan listrik merambat melalui benang dan memuati sebuah kunci yang terikat di bawahnya.
Eksperimen ini untuk menunjukkan bahwa petir adalah sebuah bentuk dari listrik. Layang-layang listrik Franklin menjadi eksperimen paling terkenal di abad ke-18, menjadikan Franklin tersohor di Eropa dan AS.
Namun, beberapa ahli sejarah meyakini berita ini sebagai suatu kebohongan. Pasalnya, mereka kekurangan informasi rinci mengenai eksperimen tersebut.
Tidak diketahui secara pasti kapan eksperimen itu dilakukan. Franklin juga tak pernah menulis laporan resmi mengenai hal ini. Satu-satunya saksi mata anak laki-lakinya, namun tak pernah mengungkapkan kejadian penting tersebut. Apalagi eksperimen semacam ini sangatlah berbahaya, bahkan bisa berakibat fatal, Franklin sendiri mengetahui hal itu.

2. Turk, Robot Pecatur (1770)
Turk: Robot Pecatur

      Turk mekanis atau robot pecatur adalah mesin permainan catur yang dirancang dan ditemukan pada 1770 oleh Wolfgang von Kempelen seorang insinyur Hongaria. Mesin ini sepertinya mampu bermain catur melawan manusia.

    Selama hampir 84 tahun Turk mengelilingi Eropa dan Amerika Serikat untuk menunjukkan kemampuannya mengalahkan lawan-lawannya, tak kurang dari negarawan sekelas Napoleon Bonaparte dan Benjamin Frankin bertekuk lutut mengakui kehebatan pecatur robot ini.

    Kebohongan mulai terungkap pada 1820-an ketika Edgar Allan Poe berhasil membuktikan bahwa ada seorang master catur bertubuh kecil telah disembunyikan sebagai operator di dalam mesin catur tersebut.

3. Pohon Upas (1783)

     Sebuah berita dipublikasikan dalam London Magazine pd 1783 oleh seorang ahli bedah Belanda bernama Foersch. Ia menyebutkan keberadaan sebuah pohon di Pulau Jawa yg sangat beracun dan dapat membunuh apapun dalam radius 15 mil. Pada mulanya hanya sebuah legenda.

     Pada 1791 Erasmus Darwin menulisnya dalam catatan sebuah puisi, ”Ada sebuah pohon beracun di Pulau Jawa, lewat perantaraan udara telah memusnahkan desa tersebut. Dalam daerah 12 atau 14 mil permukaan tanah jadi gersang dan berbatu, di sana sini dipenuhi tengkorak manusia dan binatang.”

      Pohon upas memang ada di Indonesia. Walaupun tak berpotensi mematikan seperti disebutkan dalam legenda, getah pohon ini memang mengandung racun, oleh penduduk setempat digunakan sebagai senjata pada ujung anak panah.

4. Putri Duyung dari Fiji (1842) 


     Juli 1842, seorang berkebangsaan Inggris, Dr. J. Griffin, anggota British Lyceum of Natural History, tiba di Kota New York & membawa seekor ikan duyung yang diduga terdampar di Kepulauan Fiji, Pasifik Selatan.

    Dalam sebuah pertunjukan di American Museum, ikan duyung Fiji pun dipertontonkan, sosoknya jauh dari gambaran seorang wanita cantik, melainkan bangkai kering seekor kera berbadan ikan. Dari penelitian museum tersebut, ternyata ikan duyung Fiji hanya tipuan belaka. Itu sesungguhnya bangkai kera yang dibuat mummi dengan teknik taksidermi (ilmu mengeringkan bangkai binatang).

     Dengan cara dijahit kedua spesies itu disatukan membentuk putri duyung, dengan kera berikut kepalanya di bagian atas dan tubuh ikan sampai ekor di bagian bawah. Putri duyung Fiji dibuat sekitar tahun 1810 oleh nelayan Jepang untuk keperluan upacara keagamaan, sekaligus seni tradisional nelayan Jepang.

5. Raksasa dari Cardiff (1869)


     Pada Oktober 1869, mayat membatu setinggi 10 kaki berhasil digali dari sebuah lahan pertanian di Cardiff, New York. Raksasa Cardiff ini kemudian jadi berita besar, dikatakan sebagai penemuan geologis terbesar saat itu dan banyak dikunjungi warga Amerika Serikat, mereka rela membayar 25 sen untuk menyaksikan manusia raksasa tersebut.
     Namun pada awal tahun 1870, terungkap bahwa penemuan itu hanyalah tipuan. Raksasa Cardiff tak lebih dari sebuah patung hasil kreasi George Hull, terbuat dari bongkahan gipsum yang dibentuk menyerupai manusia setinggi 10 kaki dan dikubur di sebuah ladang di Cardiff, kemudian direkayasa agar ”ditemukan” oleh seorang pekerja.

6. Manusia Piltdown (1912)

      Pada tahun 1912 ketika Charles Dawson, seorang arkeolog amatir asal Inggris menemukan tulang kepala, gigi dan rahang di sebuah lubang penggalian di Piltdown, Sussex, Inggris. Tengkorak Manusia Piltdown ini tampak seperti setengah manusia dan setengah kera.

     Dawson mengklaim telah menemukan rantai yang hilang (missing link) antara manusia dan kera, dia menamai temuannya Eoanthropus dawsoni. 40 tahun kemudian para ilmuwan, lewat pengujian modern, dapat membuktikan bahwa tengkorak temuan Dawson umurnya hanya beberapa ratus tahun, dan tulang rahangnya dari orang utan, sementara giginya dari gajah dan kuda nil.


7. Archaeoraptor (1999)

     Archaeoraptor liaoningensis pertama kali dipublikasikan dlm majalah National Geographic 1999. Melalui sebuah artikel yang ditulis Christopher Sloan, fosil ini dinyatakan sebagai mata rantai yang hilang antara burung dan dinosaurus theropod, dan benar-benar bisa terbang.

   Sebelum National Geographic mempublikasikan, telah banyak yang meragukan keotentikan fosil ini. Tak pelak menjadi skandal ketika sebuah studi sains membuktikan fosil dari Cina ini ternyata palsu, karena dibentuk dari bagian-bagian fosil dengan spesies yang berbeda.

     Zonghe Zhou, seorang paleontolog Cina, menemukan kepala dan badan bagian atas milik spesimen fosil burung primitif Yanornis, bagian ekor milik Microraptor, sedangkan tungkai dan telapak kakinya milik hewan yang belum diketahui.

8. Hilangnya Gen Pirang (2002)

     Isu hilangnya gen rambut pirang secara periodik sebenarnya telah muncul sejak 1865. Lalu versi terbaru muncul lagi pada 2002, ketika BBC dan media lain melaporkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para pakar menyatakan, orang yang berambut pirang akan punah pada tahun 2202.
 
     Klaim ini berdasarkan pada interpretasi sifat resesif dalam ilmu genetika. Namun WHO membantah lewat laporannya di The New York Times, lembaga ini tak memiliki pengetahuan tentang studi ini, kemudian WHO secara resmi mengkonfirmasi berita ini sebagai kebohongan.