Friday, January 27, 2017

MENEMBUS WAKTU 300 TAHUN DALAM SEHARI: Kisah Ashabul Kahfi Menurut Sains




Gua Ashabul Kahfi. Lokasi: Amman, Yordania
    Sebagai makhluk yang serba memiliki keterbatasan, ada suatu saat di mana manusia tak berdaya menghadapi situasi yang membuatnya menyerah. Inilah momen di mana hanya keajaiban yang diharapkan muncul sebagai solusi.

     Dalam terminologi Islam, merujuk pada kitab suci Al Quran, fenomena ini dikenal sebagai mukjizat (keajaiban). Ia turun sebagai bentuk pertolongan Allah SWT kepada hamba-hamba pilihanNya, yang beriman dan memiliki kedekatan denganNya, ketika berada dalam situasi kritis.

     Mukjizat atau keajaiban sendiri, dalam beberapa hal bersifat relatif, berkaitan dengan kemampuan daya nalar dan akal sehat (logika) yang berpijak pada ilmu-pengetahuan yang dinamis, berubah dan berkembang dari zaman ke zaman mengikuti gerak peradaban manusia.

     Suatu hal yang dianggap sebagai mukjizat di suatu masa, bisa menjadi hal yang lumrah dan logis di masa yang lain ketika logika dan pengetahuan manusia sudah mampu menjangkaunya.

     Ketika peradaban, sains dan teknologi mencapai puncaknya di era modern, manusia semakin sanggup menyingkap tabir berbagai kegelapan misteri di masa lalu.

     Dengan sains, satu persatu tersibak berbagai peristiwa yang semula dianggap tidak logis menjadi logis, sebagai fakta baru yang bisa diterima secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara akademis.

     Salah satu misteri di masa lalu yang dianggap tak logis sehingga berbaur antara dongeng, legenda dan fakta sejarah adalah kisah Ashabul Kahfi. Dalam perspektif Islam, kisah ini secara khusus diuraikan dalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 9-26.

Gua Ashabul Kahfi bagian dalam
     Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT yang oleh sebagian ahli sejarah, diperkirakan hidup di tengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim bernama Diqyanus, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as.

     Kisah dimulai ketika raja marah karena mengetahui ada sekelompok pemuda yang tidak mau menyembah berhala. Mereka adalah ahli tauhid yang hanya beriman kepada Allah SWT dan mau menyembah hanya kepadaNya semata.

     Kemudian sang raja memanggil dan memerintahkan mereka untuk menyembah berhala. Namun sekelompok pemuda itu menolak perintah raja tersebut dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh.

     Mereka pun berdoa kepada Allah memohon pertolongan agar diselamatkan akidah mereka dari kezaliman sang raja. Lalu Allah menjawab doa mereka dengan menuntun mereka untuk lari dan bersembunyi di dalam sebuah gua.

     Di sinilah keajaiban (mukjizat) terjadi. Ketika salah satu dari mereka keluar setelah sehari lamanya bersembunyi untuk membeli makanan di kota, mereka mendapati zaman telah berubah total dengan raja baru yang beriman dan memegang akidah tauhid.

     Tanpa disadari oleh mereka ternyata waktu telah berlalu selama ratusan tahun. Padahal mereka merasa tinggal di gua persembunyian itu hanya sehari saja. Sementara bagi dunia luar gua, mereka menjadi legenda hidup sebagai manusia gua selama ratusan tahun.

     Dalam kajian ilmiah, sekelompok pemuda penghuni gua yang lebih dikenal sebagai Ashabul Kahfi ini diyakini telah melakukan perjalanan menembus waktu, menempuh masa 300 tahun hanya dalam tempo sehari (309 tahun menurut kalender Hijriyah).

     Sains modern mengungkapkan, bahwa perjalanan menembus waktu, secara teoretis adalah memungkinkan. Berdasarkan teori relativitas Einstein, jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi maka ia akan mengalami dilatasi (perlambatan) waktu dan kontraksi panjang.

     Jika pergerakan terjadi dengan mendekati kecepatan cahaya, maka  panjang benda yang diamati oleh kerangka acuan yang berbeda akan mendekati nol. Fenomena inilah yang dialami oleh Ashabul Kahfi.

     Mereka bergerak (digerakkan) bolak-balik ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan cahaya. Mereka mengalami kontraksi panjang ketika bergerak dengan arah  berlawanan, lalu “berhenti sesaat” sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnya akan kembali seperti semula.

     Karena gerakan bolak-balik mereka berkecepatan cahaya, maka mereka tidak dapat diikuti oleh penglihatan normal, lebih terlihat sebagai sosok manusia yang sedang berdiam (terbaring diam), tiba-tiba mengecil, menghilang, muncul lagi membesar lagi seperti semula. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang yang melihat pemandangan ini.

 وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظٗا وَهُمۡ رُقُودٞۚ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ وَكَلۡبُهُم بَٰسِطٞ ذِرَاعَيۡهِ بِٱلۡوَصِيدِۚ لَوِ ٱطَّلَعۡتَ عَلَيۡهِمۡ لَوَلَّيۡتَ مِنۡهُمۡ فِرَارٗا وَلَمُلِئۡتَ مِنۡهُمۡ رُعۡبٗا ١٨

"Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur. Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka."  (QS AlKahfi:18)

     Mengenai pendengaran mereka, menurut fisika modern, bunyi ditimbulkan dari suatu benda yang bergetar atau bergerak dan getaran benda itu merambat melalui udara. Jika dalam kekuatan besar dapat menggetarkan udara maupun benda-benda fisik disekitarnya atau pada obyek yang sedang mengalami gaya putar dahsyat.

     Selanjutnya udara tersebut menggetarkan selaput telinga, gendang telinga yang frekuensi getarannya sama dengan getaran frekuensi getaran benda, menjadikan bunyi bisa terdengar.

Pesawat Supersonic. Efek suaranya meledak-ledak dahsyat

     Namun apabila suatu benda bergerak diatas kecepatan suara, maka akan terjadi patahan gelombang suara (supersonic fracture) yang menimbulkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, bahkan dapat mengakibatkan pecahnya kaca dan bangunan sekitarnya. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic yang membuat efek suara meledak-ledak dahsyat.

     Mengenai dilatasi waktu, dijelaskan bahwa sebuah benda hidup yang mengalami atau memasuki gaya perputaran dengan kecepatan cahaya, akan mengakibatkan terhenti segala aktifitas biologisnya, termasuk pendengarannya.

فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا ١١


"Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu"  (QS Al Kahfi: 11)

     Ia juga mengalami gaya nol grafitasi yang akan “me-nonaktifkan”aliran darah, syaraf dan metabolisme tubuh, sehingga menjadi bersifat beku (freeze) atau awet (constan), namun tetap hidup. Keadaan itulah yang membuat Ashabul Kahfi bertahan tetap hidup selama ratusam tahun.

      Lalu ketika masa gaya putarnya terhenti membuat kesadaran mereka kembali, namun mereka tak menyadari bahwa “diam”nya mereka ternyata telah berlangsung begitu lama. Dengan kehendak Allah SWT, mereka telah menembus waktu 300 tahun dalam tempo sehari.

Salam...

No comments:

Post a Comment