Thursday, December 22, 2016

Langit Mencatat: Sebuah Renungan Menyambut Akhirat




Langit dunia mungkin tak pernah bicara,
namun awan- awan putih hitam kelabu silih berganti,
pelangi dan burung- burung terbang tak ubahnya kalimat- kalimat panjang,
rapi berbaris memenuhi halaman tak bertepi,
berlembar- lembar tak terhitung jumlahnya,
kitab alam azali,
tertulis semua dalam lembaran yang terjaga, lauh mahfuzh. 

Tujuh lapis pelangi, tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, 
tujuh keajaiban dunia, tujuh rongga utama tubuh manusia, 
tujuh puluh ribu malaikat. Tujuh keajaiban.
Misteri alam semesta tak pernah tersingkap akal manusia. Hitungan- hitungan pasti berlangsung, 
langitpun terus menghitung, mencatat, 
menuliskan apa saja peristiwa penghuni bumi, 
langit mencatat sambil bertanya, ada apa dengan manusia ?
Sepotong surga yang jatuh ke bumi, 
tanah nusantara, zamrud khatulistiwa,
ibu pertiwi nan suci dan murni, kini tengah bermuram durja. 

Ada apa dengan anak- anak negeri, putra- putri bangsa ? 
Neraca keseimbangan menghilang,
mizan keadilan oleng kiri kanan,
amanat dari atas langit terkoyak, compang- camping, 
kefakiran di luar perhitungan, 
pasti ada yang tak terhitung di sini. 

Maka langitpun mencatat, 
sedang manusia telah mengabaikan catatan dan hitungan, enggan bermuhasabah, larut dalam kemelut hidup, 
dunia memang melalaikan.
Hijau di mata namun kuning layu terasa, kesejukan semu, cermin kehidupan tak terpasang dengan benar, 
maka biaslah pandangan. 

Apa yang telah dibaca ? 
Huruf- huruf dalam mushaf, 
lantunan suara merdu dari sudut surau, 
nyanyian berirama dari gereja,
gumam lirih di celah- celah pura dan wihara, 
mantera- mantera berbaur asap dupa, 
rintihan pilu di kuil- kuil, candi-candi dan tempat- tempat lain yang dianggap suci. 

Apa yang dibaca ? Adakah memang telah dibaca ? 
Kata- kata indah bagai syair, tertegun mata menunduk khusyu’, para penyeru bersuara tak henti- henti, 
penyiram ruhani lalu lalang sana- sini,
mengucurkan air kesejukan dan kehidupan. 
Sejuklah, hiduplah, namun seakan tetap saja tak terdengar.

Tujuh langit, tujuh bumi, tujuh puluh ribu malaikat penjaga, biarlah jadi angka- angka misteri, tak mesti dipertanyakan alasan dan mekanisme kerjanya.
Tuhan memang suka berbicara tentang angka- angka, 
pasti di sana ada hikmah,mustahil Tuhan tak punya alasan.
Pasti segalanya ada perhitungan,
itulah cara Dia mengajari manusia agar gemar berhitung, menimbang, mengukur dan menakar.
Menghitung diri, muhasabah. 

Tujuh keajaiban alam silih berganti dituliskan, 
tujuh rongga dalam tubuh manusia bisa menjadi simbol terdekat, bahwa telah dititipkan tujuh isyarat,
menyingkap misterinya mungkin akan mengantarkan jiwa hina, menembus tujuh langit, datang kepada Sang Kausa Prima, sebab dari segala sebab alam semesta, 
Tuhan di atas ‘arasy tingi mulia.

Tujuh rongga, telinga, mulut, hidung, farji dan dubur, 
amanat besar yang terlanjur dipikul, tangga jalan menghitung diri.
Pendengaran, penciuman, pengecapan, pelaminan, pembuangan kotoran, bisa membawa kepada kehinaan serendah- rendahnya, atau kemuliaan setingi- tingginya,
tergantung bisakah jiwa merawat, menjaga dan tepat mengarahkannya,
atau merusak tujuan keberadaannya, mengabaikan, lalai dan keliru mengarahkannya. 

Lidah dan kemaluan, dua rongga utama yang menyelamatkan manusia menuju surga, sekaligus pula membinasakan dalam siksa neraka, 
tergantung kesungguhan menghitungnya, 
meletakkan selurus- lurusnya di atas neraca keadilan,
pemenuhan hak keduanya untuk diperlakukan dengan lebih baik dan lebih dekat kepada cara yang lebih benar.
Tujuh rongga adalah tujuh keajaiban dunia, bukan di mana- mana, tapi di sini, di tubuh ini.

Derajat sejati, martabat hakiki manusia diukur tak hanya seputar kepala saja, namun sempat tidaknya khazanah pengetahuan mampir ke dalam dada 
walau beberapa saat,
lalu biarkan mengendap di dalam hati walau beberapa saat,
sekedar memberi waktu diri untuk menimbang, menghitung, muhasabah, menghidupkan ruhnya di dalam jiwa. 
Air mata bumi pertiwi cukuplah menjadi pertanda,
perlunya kepekaan hati dan rasa. 

Teguran gunung, hujan dan laut, angin dan hutan,
pertanda kemarahan alam,
semoga jadi ilham.
Sudah waktunya bagi setiap jiwa melakukan perhitungan 
sebelum catatan langit dibacakan,
ketika barisan malaikat siap menggelar sidang akbar,
di hari itu semua manusia gulung tikar,
bangkrut, kecuali mereka yang telah terbiasa menghitung diri,
muhasabah dalam hidupnya semasa di dunia,
di bumi ini, di tanah ranah ibu pertiwi.
***

Salam…
El Jeffry


Ternyata Angkasa Raya Tak Nyata



     Matahari yang kita lihat sehari-hari bukanlah matahari yang sebenarnya, melainkan hanya gambar siaran tunda. Berdasarkan perhitungan rumus jaraknya dengan bumi (149.000.000 km) dibagi kecepatan cahaya (3x10^8 m/detik ), diketahui bahwa perjalanan cahaya matahari memakan waktu 496,7 detik, atau sekitar 8,3 menit untuk sampai ke bumi untuk bola mata manusia menangkap gambar cahayanya.

     Demikian pula halnya dengan bintang yang kita lihat, dengan jarak yang bervariasi tiap bintang membutuhkan waktu yang berbeda untuk menyampaikan gambar cahaya sampai ke mata kita. Ada yang membutuhkan waktu setahun, seratus tahun, seribu tahun hingga milyaran tahun. Sehingga sangat memungkinkan, sebagian dari gugusan bintang yang saat ini kita lihat, sebenarnya telah punah milyaran tahun lalu. Hanya saja gambarnya yang dikirim lewat cahaya baru tertangkap bola mata manusia di bumi saat ini.

     Milyaran bintang yang nampak begitu indah kerlap-kerlip di angkasa raya pada malam hari ternyata bukan gambar nyata hari ini, melainkan hanya gambar masa lalu, alias bukan siaran langsung, tapi siaran tunda. Jangan heran, bandingkan dengan pendengaran kita. Bukankah kita sering mengatakan ketika baru mendengar sebuah kabar atau berita, “Oh, saya baru mendengarnya.“ Hal yang sama berlaku untuk mata (penglihatan) maupun telinga (pendengaran) jika kita berkata, “Oh, saya baru melihatnya.”

     Hari ini kita mendengar berita peristiwa yang terjadi sepekan lalu, bukan berarti peristiwa itu terjadi saat ini, tapi peristiwa masa lalu, hanya saja kita baru mendengarnya hari ini. Siaran tunda. Kita yang baru mendengar Plato lahir di Athena abad ke-4 SM, itu 25 abad silam, siaran tunda. Isa Al-Masih hidup di abad ke-1 M, itu 21 abad lewat, siaran tunda. Muhammad saw lahir pada tahun 571 M, itu kejadian 1441 tahun lalu, siaran tunda. Kita bahkan mungkin ada yang baru mendengar bahwa alam semesta diciptakan milyaran tahun lalu. Siaran tunda.

     Columbus menemukan Amerika 1492, kerajaan Kediri berdiri 1045–1221, VOC terbentuk 1601, Revolusi Perancis 1789, Thomas Edison lahir 1847, Revolusi Rusia 1917, Indonesia merdeka 1945, Reformasi 1998, Spanyol mengalahkan Kroasia 1-0 pada di Piala Eropa dalam siaran langsung 19 Juni 2012 dini hari tadi, bila kita baru mendengarnya saat membaca tulisan ini, semua itu sudah menjadi siaran tunda.

    Sejarah adalah siaran tunda. Masa lalu kita adalah siaran tunda. ‘Siaran langsung’ hanya ada saat ini, detik ini, tepat pada saat kita merasa dan sadar, bahwa kita bernafas, hidup. Inilah hidup kita yang sebenarnya, hanya beberapa detik, beberapa helaan nafas. Inilah ‘siaran langsung,’ hidup dan dunia kita sebenarnya yang sedang berlangsung, live, bukan delay. Pendek sekali bukan? Semoga kita bisa hidup di dunia dalam siaran langsung, bukan siaran tunda.

Salam..
El Jeffry