Friday, December 23, 2016

Skenario Di Balik Pertemuan Nabi Musa a.s. dan Khidr a.s.




     Nabi Musa a.s. adalah salah satu dari empat nabi yang mengemban risalah dengan menerima kitab suci dari Tuhannya di samping Daud a.s., Isa a.s. dan Muhammad s.a.w. Beliau juga salah satu dari lima nabi yang diberi julukan "ulul-azmi" di samping Nuh, Ibrahim, Isa dan Muhammad s.a.w.  Sebuah gelar khusus bagi golongan nabi pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa dalam menyebarkan ajaran tauhid.

     Nabi Musa a.s. dengan jubah kenabian besarnya diakui oleh Islam, Yahudi maupun Nasrani. Dari berbagai literatur beliau dikenal memiliki karakter luar biasa sebagai sosok pemimpin yang lemah lembut tapi tegas, sabar tapi tegas, dengan keberanian yang tak diragukan dalam menegakkan kebenaran dan membela kaum tertindas.

     Karakteristik pribadi yang luar biasa ini bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba begitu saja, melainkan melalui proses panjang berliku, semenjak kelahiran hingga dewasa dan memperoleh tugas kenabian. Dari perspektif agama, itu adalah bagian dari "skenario" Allah s.w.t., Tuhan Sang Pemilik Skenario Sempurna. Secara fitrahnya, seorang nabi adalah manusia biasa yang memiliki tabiat sebagaimana umumnya manusia. Namun karena beliau adalah salah satu "hamba-hamba yang terpilih," maka tentu berbeda dalam beberapa hal dibandingkan "hamba-hamba kebanyakan." Namun secara sunnatullah, semua itu melalui proses panjang dan berkesinambungan, di mana Allah membimbing, menggembleng dan menempa hidup beliau sehingga terbentuk menjadi nabi besar.
 
      Sebagai manusia, Musa pun memiliki emosi dan amarah yang ada saatnya tak terkendali.  Diriwayatkan, ketika Musa muda masih tinggal di Mesir, beliau pernah memukul orang Mesir yang bertindak semena-mena terhadap seorang Bani Israel hingga meninggal. Musa memang merasa bersalah karena telah menuruti hawa nafsu atas hal ini karena ia sebenarnya tidak memiliki niat membunuh orang Mesir ini. Ia menguburkan orang Mesir itu lalu berlari sambil memohon pengampunan serta memohon perlindungan kepada Allah terhadap persoalan ini.

     Setelah memperoleh tugas kenabian dan mendapat perintah dari Tuhannya untuk membimbing Raja Fir'aun yang notabene ayah angkatnya setelah pelariannya , agar kembali ke jalan yang benar dan takut kepada Tuhannya, sebagai manusia biasa pula beliau merasa takut dan khawatir sehingga memohon agar saudaranya Harun a.s. diperkenankan mengiringinya. Lalu Allah pun menjawab permintaan Musa agar tak perlu khawatir karena selain pergi dengan membawa mukjizat, Dia akan menyertai mereka berdua dan bahwasanya Dia mendengar doa hamba-hambaNya.

     Pengajaran, bimbingan dan gemblengan Allah pada Musa a.s. tak pernah berhenti. Salah satu kisah yang fenomenal adalah pertemuan antara Musa a.s. dengan seorang hamba memiliki ilmu-pengetahuan dari sisi Tuhannya. Kisah pertemuan ini diabadikan secara khusus dalam Q.S. Al-Kahfi: 60-82. Banyak kalangan menafsirkan hamba itu sebagai Nabi Khidr a.s., meskipun nama dan gelar nabi bagi Khidr tak tersirat secara langsung di dalam teks ayat tersebut.

     Terlepas dari gelar dan nama hamba tersebut, ada satu pelajaran maha penting dalam proses pembentukan karakter dan sebagai "skenario" Allah dalam menyempurnakan bimbingan dan menegur hamba-hambanya yang telah melakukan kesalahan, terlebih bagi seorang Musa sebagai Nabi besar dan hamba terpilih. Dalam kisah ini, konon Musa dianggap telah melakukan kesombongan intelektual ketika beliau berkata,  "Ana a`lam al-qaum." Akulah orang paling pandai di negeri ini. Sepintas lalu, pernyataan ini dapat dianggap wajar karena dikemukakan oleh seorang Nabi yang ditugaskan Allah s.w.t. untuk membebaskan rakyat Mesir dari perbudakan Raja Firaun. Namun, Allah s.w.t. memandang pernyataan Musa itu berlebihan.

     Karena itu, Nabi Musa ditegur oleh Allah dan diberi pembelajaran khusus dengan dipertemukan untuk "berguru" menimba ilmu dari seorang hamba yang memiliki tingkat pengetahuan dan kearifan yang jauh lebih tinggi. Seperti diceritakan secara panjang lebar dalam Q.S. Al-Kahfi, Nabi Musa seakan-akan "dipelonco" oleh "Sang Guru" karena ia tak memiliki wawasan keilmuan seluas beliau, baik secara filosofis maupun epistemologis. Musa juga tidak "lulus ujian" untuk kesabaran dari rasa penasaran untuk bertanya kepada "Sang Guru."

     Padahal, semenjak pertama kali bertemu, "Sang Guru" itu telah berkata, "Apakah Taurat yang ada di tanganmu, wahyu yang diturunkan kepadamu belum cukup bagimu? Wahai Musa, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku!" Dengan optimis Musa menjawab,  "Insya Allah, kamu akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun."

     Syahdan, selama perjalanan mereka berdua, terjadi tiga momen yang menggelitik Musa untuk "melanggar kesepakatan" dengan bertanya ketika "Sang Guru" melakukan tindakan-tindakan aneh yang tidak bisa diterima oleh logika keilmuan Musa. Yakni ketika "Sang Guru" melubangi perahu yang ditumpangi mereka berdua, membunuh seorang bocah yang tengah bermain di taman dan mendirikan dinding rumah yang hampir roboh, sementara para penduduk desa tak ada yang berkenan menjamu mereka berdua.

     Alhasil, "Sang Guru" pun menyatakan perpisahan karena "Si Murid" telah melanggar kesepakatan. Sebelum perpisahan "Sang Guru" menjelaskan takwil perbuatannya si tiga momen di atas. "Aku dapat memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang aku lakukan sehingga membuat ketidaksabaranmu itu. Bahtera itu kepunyaan orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak bahtera itu karena di hadapannya ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Apabila perahu itu dilubangi, ia tidak akan berlayar sehingga akan terhindar dari kezaliman raja yang akan merampas bahteranya.

     Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman dan kami khawatir anak itu akan mendorong orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran. Jika Allah SWT menghendaki, akan lahir seorang anak sebagai penggantinya yang lebih baik kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya kepada orang tua.

     Dan adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh. Allah SWT menghendaki ketika anak-anaknya dewasa, mereka akan mendapatkan simpanan di bawah dinding tersebut sebagai rahmat dari Allah SWT." Sekali lagi ditegaskan, "Aku melakukannya bukan atas kemauanku sendiri. Dan saya harap kamu memahami tujuan dari setiap kejadian yang kau pertanyakan itu."

     Dalam satu waktu, Musa telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, bahwa intelektualitas tidaklah layak sebagai alasan untuk merasa bangga dan sombong. Di atas langit ada langit. Jika seorang hamba telah dikaruniai ilmu dari sisi Tuhannya, tindakannya kerap tak terjangkau logika orang biasa dan dinilai secara kasat mata bahkan bagi orang sekelas nabi pun seperti beliau. 

     Itulah skenario Allah SWT dalam proses pembentukan karakter, penyempurnaan sifat, bimbingan dan teguran yang tidak saja dikaruniakan bagi hamba-hamba pilihannya, Nabi Musa a.s. dan nabi-nabi yang lain, wali-waliNya yang mulia, tapi juga bagi siapa saja hamba-hambaNya yang berkenan memintanya dan menempuh jalannya dengan kesungguhan. 

     "Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana." "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (menempuh jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."(Q.S. Al-Ankabut : 69)

Salam...

No comments:

Post a Comment