Monday, January 14, 2013

Kenapa Tuhan Ciptakan Koruptor?






     Siapa bilang Tuhan ciptakan koruptor? Tuhan hanya menciptakan manusia dengan dua tabiat di dalam dirinya, bersih dan kotor. Manusia dipersilahkan memilih di antara keduanya. Lalu kenapa Tuhan Yang Maha Bersih tidak menciptakan yang bersih saja agar manusia tak ada pilihan untuk berbuat kotor?

     Itu sama saja dengan bertanya kenapa Tuan tidak menciptakan malaikat saja dan jangan menciptakan setan. Sama pula dengan kenapa Tuhan tidak menciptakan surga saja dan jangan menciptakan neraka. Stop! Terlalu jauh bertanya akan membuat kita jadi gila! Kita cukupkan dengan pertanyaan tentang neraka.

     Kenapa Tuhan menciptakan neraka? Kalau tidak ada neraka, lalu di mana setan akan ditempatkan kelak? Kalau tidak ada setan, lalu siapa yang menggoda manusia? Kalau tidak ada yang menggoda, lalu bagaimana Tuhan akan tahu mana manusia yang baik dan yang jahat? Mana manusia yang mau keorupsi dengan manusia yang enggan korupsi?

     Korupsi, koruptor, setan dan neraka memang harus ada, maka Tuhan menciptakannya. Keseimbangan alam, baik-buruk, positif-negatif, plus-minus, putih-hitam, cahaya-kegelapan, surga-neraka. Kalau tidak ada korupsi, maka tidak ada pejuang anti-korupsi. Kalau manusia tidak korupsi, maka tidak ada manusia yang berdosa, karena pada dasarnya setiap dosa adalah perilaku korup, perampasan hak dari tempat semestinya, penyimpangan kebenaran dalam satu kata, pencurian.

    Korupsi waktu, korupsi jabatan, korupsi amanat, korupsi kata-kata, korupsi warta-berita, korupsi harta, korupsi tahta-kekuasaan, korupsi tugas dan wewenang, dll, dsb, dst. Korupsi dengan segala bentuk dan bahasanya, pola dan mekanismenya, kadar dan kastanya, tetap saja namanya ko-rup-si. Pelakunya adalah koruptor.

    Korupsi adalah perbuatan setan, yang tertulis dalam satuan dosa. Setan dan dosa berhak dan wajib untuk menghuni neraka. Permasalahannya, neraka yang mana, sehingga manusia berani menantang Tuhan dengan sadar melakukan korupsi? Sepertinya, tak ada manusia berakal, apalagi terdidik dan terpelajar tidak paham ketika melakukan korupsi bahwa yang diperbuatnya termasuk kategori korupsi.

     Sama halnya dengan ketika bersekutu dengan setan dalam kejahatan, termasuk korupsi, bahwa ia tengah meretas jalan menuju neraka. Manusia memang suka meremehkan ancaman dan kemurkaan Tuhan, terlalu positive thinking kepada Tuhan Yang Maha Maha Pengampun.  Yang penting kan entar tobat, mosok sih Tuhan Maha Pengampun, Maha Penyayang akan tega-teganya menjebloskan hamba-Nya yang tobat ke dalam neraka?

     Lha itu mungkin yang bikin koruptor tetap masih merasa aman dengan perilaku jahat korupsinya. Dikiranya Tuhan itu terlalu bodoh untuk diakal-akalin dengan dalih tobat setelah berbuat jahat. Lupakah ia bahwa disamping Maha Pengampun, Tuhan juga Maha Berhitung dan Maha Menyiksa? Tak ada sebutir atom pun perbuatan manusia yang lolos dari perhitungannya. Dan tak ada siksa sepedih siksanya.

     Tak perlu jauh-jauh membayangkan siksa neraka akhirat, karena tak mudah bagi manusia untuk benar-benar percaya adanya neraka dan akhirat. Para koruptor, sadar tak sadar sejatinya telah mendapat sebagian dari siksa Tuhan yang dibayar cash di dunia. Rasa tidak tenang di hati, siksaan bathin, kegelisahan berkepanjangan akibat merampas hak orang, korupsi dengan segala bentuk dan kadarnya.

     Kalau masih ada rasa tidak tenang bagi koruptor, itu masih beruntung, karena ada harapan bahwa ia akan jera, bertobat dan menebus kejahatannya selagi masih diberi kesempatan hidup di dunia. Yang celaka, jika rasa tidak tenang dalam hati itu sudah hilang. Melakukan kejahatan, tapi merasa telah melakukan kebaikan. Mencuri uang negara dan uang rakyat, tapi merasa berjuang untuk kemaslahatan negara dan rakyat banyak.

     Hati yang telah terkunci mati, tak akan dapat merasakan apa-apa, hidup gemerlap mewah layaknya manusia, tapi sejatinya tak lebih mulia dari hewan melata. Tak ada harapan baginya, kecuali siksa betulan di akhirat kelak, dari Yang Maha Berhitung dan Maha Menyiksa, setelah mati betulan, di neraka jahanam. Pertanyaannya, masih adakah koruptor yang percaya pada neraka berikut siksanya?

Salam...
El Jeffry