Friday, January 11, 2013

Salaman Ala Siluman

     Siluman adalah makhluk jadi-jadian, hantu gentayangan, beraksi diam-diam di kegelapan malam sebab siluman takut pada cahaya terang dan alergi pada keterbukaan, anti kejujuran. Siluman adalah mitos keresahan, horor dan teror bagi ketenangan dan musuh besar bagi kedamaian kehidupan manusia. 

      Dua orang bertemu diam-diam layaknya siluman, sembunyi-sembunyi, masing-masing punya tujuan dan kepentingan, basa basi sekadarnya, tawar-menawar sebisanya, sepakat, selembar amplop, ulurkan tangan, berjabatan, bersalaman. Damai, masalah usai, urusan selesai. Siluman pun bersalaman.

      Salaman ala siluman, kini telah menjadi tradisi, menjalar berurat akar dalam berbagai aspek kehidupan, di hampir seluruh lini. Di jalan-jalan, aparat dan pelanggar lalu lintas, sudah menjadi pemandangan biasa, salah kaprah bener ora lumrah, hal yang salah menjadi budaya, salaman ala siluman menjadi jalan pintas instan ‘mendamaikan’ urusan. 

      Di berbagai instansi dan birokrasi, siluman gencar beroperasi mengulurkan tangan saling berjabatan di bawah meja, di balik ruang kerja. Di pest-pesta demokrasi, pemilihan suara dari legislatif sampai eksekutif.  Di papan percaturan politik, di arena bisnis dan olahraga, lembaga pendidikan bahkan sampai lembaga sosial keagamaan, siluman bertebaran dalam ragam cara dan ragam acara.

     Siapa mengulur dan siapa menyambut, yang jelas ‘jabat tangan’ terjadi dari  bertemunya dua kepentingan, kerja sama. Tak peduli hukum, adab, etika dan norma, asal suka sama suka, transaksi terjadi. Sungguh mengerikan, horor dan teror siluman sudah menyebar siang dan malam, tak pandang bulu, tanpa basa- basi karena masing- masing pihak sudah saling mengerti.

     Salaman ala siluman. Mencari keselamatan dan ‘damai’ dengan melanggar kejujuran adalah pengkhianatan terhadap nilai- nilai suci makna salaman. Salam-Islam-selamat adalah kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, inti sari dari ajaran suci yang diturunkan Tuhan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan, kesesatan dan kebinasaan. Salam yang disimbolkan dengan berjabat tangan adalah adab dan tradisi warisan Nabi yang harus dipegang teguh dan dijaga kesucian maknanya dari penyimpangan.

      Tidaklah bertemu dua orang yang bersalaman dengan keikhlasan melainkan berguguran dosa-dosa dan terhapusnya kesalahan dari keduanya. Keselamatan, kedamaian, kesejahteraan sebagai anugerah Tuhan. 

     Namun ketika dua orang melakukan hal yang sama dengan tujuan jahat, saling  suap, perjanjian sesat, perselingkuhan, persekongkolan-komplotan-sindikat maksiat, kedurhakaan dan kemungkaran, maka dua tangan yang berjabatan itu sejatinya menggenggam bara api neraka. Suap, ‘kesepakatan setan’, apapun bentuk dan motifnya adalah pengkhianatan terhadap ajaran “Islam-salam-selamat”. Alih-alih ‘berdamai’ agar selamat sampai pada tujuan sesaat, yang didapat justru terjun bebas dalam kebinasaan dan kehinaan, laknat dunia akhirat, kerugian nyata serugi- ruginya.

     Salaman ala siluman selalu membawa kerugian, pemicu rasa saling curiga antar anggota keluarga, pemutus tali silaturahmi, perusak kepercayaan dan kehormatan dalam kebersamaan. Namun 'para siluman' tidak menyadari, tergoda oleh 'nikmatnya' jalan pintas, enggan bersabar mengikuti proses yang sehat, salaman ala siluman memang pukat setan yang paling akurat dalam menjerat. 

     Tangan-tangan yang bersalaman ala siluman akan menjadi saksi yang menyeret manusia ke ruang siksa penyesalan berkepanjangan. Tak perlu menunggu tuntutan di akhirat, bahkan di dunia tangan- tangan itu telah terhina, panas tersiksa, kehilangan harkat dan martabat, tercabut kemuliaan dan keberkahan darinya. 

     Tangan-tangan hitam legam penuh noda tak akan mampu bekerja dan berkarya dalam kebaikan, tak berdaya mengemban amanat apapun, kapanpun dan di manapun,  sebab siluman setan telah mengendalikan setiap gerak perilakunya, perilaku khianat. Tak ada kedamaian dan ketenangan bagi mereka yang terbiasa ‘berdamai’ bersalaman ala siluman. Keresahan, kegelisahan, kegundahan. Hanya semua itu tertutupi sementara oleh gemerlap materi yang mematikan rasa dalam hati, sehingga seolah tenang-tenang saja menikmati hasil ‘kerja damai’ nya.

      Suatu tragedi dan ironi ketika bangsa yang beragama justru menjadi ‘surga’ bagi para siluman, terjadi pembiaran mereka menyebarkan ‘salam’ tanpa ada upaya pencegahan dan pemberantasan, sementara tangan-tangan yang sama tanpa merasa berdosa terbiasa menadah ke langit melantunkan bait-bait do’a memohon keberkahan, keselamatan dan kedamaian. Bagaimana Tuhan akan menjawabnya ?
 
     Jangan biarkan siluman-siluman terus gentayangan menteror kedamaian setiap jiwa. Luruskan makna salaman berjabat tangan kepada kesucian. Kembalikan "Islam-salam-selamat" kepada fitrah ajaran, sejatinya kedamaian.
Sebarkan salam. Sebarkan salam. Sebarkan salam...


“ Bertolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu bertolong-menolong dan perbuatan dosa dan permusuhan…” 


Salam...
El Jeffry

Vonis Angie, Korupsi dan Filosofi “Hukum Kentut”




“Kejahatan terorganisir akan mengalahkan kebenaran tak terorganisir”
-Ali ibn Abi Thalib.

      Benarkah vonis hakim atas Angie adalah pertanda kemenangan koruptor atas supremasi hukum? Atau kemenangan segelintir orang atas mayoritas? Atau kemenangan kebenaran legal formal-tekstual atas atas kebenaran normatif-material-substansial? Atau saripatinya, kemenangan kejahatan atas kebenaran? Angie divonis 4,5 tahun penjara plus denda Rp. 250 juta. Jauh lebih ringan tuntutan jaksa 12 tahun penjara plus denda Rp. 500 juta, plus uang pengganti Rp. 32 miliar. Dua pertiga tuntutan penjara lepas, Rp. 32 miliar uang negara bablas.

     Di ranah legal-formal, putusan hukum (mungkin) sudah adil, meski batasan keadilan tak pernah berujung bagi dua pihak yang bersengketa, dalam hal ini, koruptor versus negara yang diwakili jaksa. Namun di ranah material-substansial, putusan ini (mungkin) masih jauh dari adil, terutama bagi rakyat yang berkepentingan dalam “perang besar” menghancurkan korupsi. Kini kita justru terjebak dalam penjara lingkaran setan “hukum dunia” dengan pasal-pasal dan ayat-ayat tekstual sebagai jerujinya.

     Miliaran uang negara, yang notabene uang rakyat hilang hanya karena kekalahan jaksa melawan “jurus bela diri” Angie dalam “pertarungan kebenaran” hukum di meja pengadilan. Penjara gagal menjadi penjera. Penjahat dan “penasehat”nya berhasil memainkan jurus bela diri. Kedua pihak sama-sama benar. Vonis jatuh berpija landasan hukum sah, undang-undang. Lalu jika begitu, siapa yang salah?

     Mencari siapa salah dalam praktik penegakan hukum terkait kasus korupsi di negeri ini, sama sulitnya dengan mencari jawaban dari big puzzle korupsi, ibarat mencari sebatang jarum di balik tumpukan jerami. Korupsi, dengan daya hancurnya yang luar biasa bagi tatanan kehidupan bisa dirasakan. Tapi untuk mengurai dan membuktikan di meja pengadilan, mendadak semuanya samar-samar menghilang bak siluman.

     Vonis bagi Angie, benar dari kaca mata Angie dan kuasa hukumnya Teuku Nasrullah. Kalau tidak benar mustahil mereka menang. Vonis ini adalah tuah “jurus bela diri” kedua Angie di meja “pertarungan kebenaran” dalam eksepsi di sidang 13 September 2012, taushiah versi Nasrullah lewat kisah khalifah Ali ibn Abi Thalib. “Kebenaran materil harus dibuktikan oleh kebenaran formil. Ketika keduanya tak sejalan, maka tegaknya kebenaran formil harus diutamakan.”

     Dalam praktik hukum di dunia, kebenaran legal-formal adalah dasar pijakan. Asas praduga tak bersalah, jangan harap menjebloskan pencuri ayam ke penjara atau menagih denda tanpa bukti dan saksi kuat, sah dan meyakinkan. Kendatipun kita haqqul yaqin wallahi warosulihi, pencurinya adalah tetangga sebelah. Seorang penjahat keji akan bisa melanggang tanpa bukti di meja pengadilan akan kejahatan dan kekejiannya. Ketika pencuri ayam dan penjahat melenggang, siapa yang salah, pelaku atau korban? Ketika keadilan mati, siapa salah, tradisi, sistem atau hukum?

     Boleh jadi, kisah tragis kekalahan sengketa di peradilan itulah yang menginspirasi khalifah Ali dengan kalimat, “Kejahatan terorganisir akan mengalahkan kebenaran tak terorganisir.” Atau, “Kejahatan orang berilmu (pengetahuan) akan mengalahkan kebenaran (atau kebaikan) orang awam-bodoh.” Di negeri ini banyak orang berilmu tinggi (formal-agama), namun ironisnya, justru paling jago dalam kejahatan korupsi. Sarjana dan ulama, produk lembaga pendidikan universitas dan pondok pesantren yang seharusnya menjadi motor peradaban, justru menjadi horor kebiadaban.

     Habiskah harapan kita pada supremasi hukum yang menjamin tegaknya keadilan di negeri ini? Tentu tidak, karena kita yakin masih ada (hati) nurani dalam dada di antara 250 juta manusia Indonesia. Lalu apa relevansinya dalam hukum, sementara di kalangan ahli hukum (termasuk advokat-pengacara) meyakini tak ada tempat bagi nurani di arena “pertarungan kebenaran” meja pengadilan-hukum negara? Naluri dasar manusia sebagai makhluk pencari laba. Menguntungkan, digunakan, tak menguntungkan, dibuang.

     Nasrullah adalah cermin kita, bagaimana nurani dan agama di satu sisi tak “diakui” sebagai ruh penegakan hukum, tapi di sisi lain diperalat untuk memenangi perkara hukum. Apa relevansi taushiah, tasbih dan mushaf Al Qur’an di persidangan? Apa relevansi air mata dan anak-anak pula? Semua jadi relevan ketika berurusan dengan hati nurani, agama dan emosi. Lalu pak hakim (dan kita) “terpancing” (atau tersadar?). Hati nurani terketuk, emosi tersentuh, prihatin hingga simpati, Angie tak layak dihukum berat, bila perlu dibebaskan demi kemanusiaan!

     Kini, nilai-nilai etika-nurani, ruh utama hukum agama “gagal libat” dalam legalistik-formalistik hukum negara. Mengurai vonis Angie dan korupsi, tak akan ketemu titik simpul pasti. Dilematis, mendua, ambiguitas dan bias. Sama saja mengurai insiden (maaf) kentut tak bersuara di ruangan tertutup dalam kerumunan manusia. Bau busuk menyengat, tapi zatnya tak terlihat. Dengan aromanya yang khas, kita haqqul yaqin bahwa kentut tengah menyebar di udara. Kita juga haqqul yaqin, bahwa pelakunya pasti salah satu di antara 100 orang. Tapi bagaimana menangkap yang 1% tanpa keliru menuduh yang 99%?

     Tak ada bukti dan saksi, mustahil menemukan pelakunya. Tak ada pasal hukum, ancaman pidana atau denda dalam hukum negara. Mustahil negara melarang warganya kentut. Tak ada ancaman dosa dalam hukum agama. Mustahil agama melarang umatnya kentut.  Dan sepanjang sejarah peradaban manusia, nyaris mustahil ada orang mengakui “kejahatan” kentut, karena efek buruknya bagi citra. Padahal dari sebuah “insiden” kentut, bisa berfek saling tuduh hingga gaduh, ricuh, dan bisa jadi berbuntut saling bunuh.

      Hukum tidak menjamah ranah “perkentutan.” Ia berada di ranah NEN: norma-etika-nurani. Manusia beretika tak akan berani kentut di sembarang tempat. Manusia bernorma akan mencari cara untuk menjaga citra. Dan kalau “insiden” terlanjur terjadi, dengan altruisme-pengorbanannya, manusia bernurani akan berani mengakui “kejahatan” organ tubuhnya, meski beresiko buruk terhadap citra diri dan masa depannya, demi menghindari fitnah yang berakibat permusuhan, perpecahan dan pertikaian.

      Filosofi “hukum kentut” semoga memahamkan kita akan “pertarungan kebenaran” di meja pengadilan, wabil khusus kasus korupsi dengan sample vonis Angie. Tanpa norma-etika-nurani, hukum dunia mustahil sampai ke fitrah tujuannya, keadilan. Adakah muslim yang meragukan Al Qur’an sebagai kitab hukum paripurna, rujukan solusi atas perkara akhirat dan dunia? Namun, (semua) kitab hukum di dunia hanya akan tinggal blank text belaka, tanpa (ke)sadar(an) hukum penggunanya. Penjara, sanksi, denda, ganti rugi hanyalah karma adil atas kejahatan dalam satuan salah dan dosa.

      Untuk memahami khazanah dosa, mungkin kita perlu meminjam kacamata Mahatma Gandhi dengan 7 dosa sosial manusia. Worship without sacrifice (agama tanpa pengorbanan), education without character (pendidikan tanpa watak), science without humanity (pengetahuan tanpa kemanusiaan), wealth without work (kaya tanpa karya), commerce without morality (niaga tanpa etika), politics without principle (politik tanpa prinsip), pleasure without conscience (kesenangan tanpa nurani). Mungkin darinya kita akan mendapat jawaban dari Vonis Angie dan misteri korupsi di negeri ini. Wallahu a’lam.

Salam...
El Jeffry

Inikah Tuah 5 “Jurus Bela Diri” Angie?



      Hukum negara, sebagai salah satu pecahan dari hukum semesta, tak bisa terlepas dari hukum klasik ”pertarungan kebenaran” antar manusia. Demi keadilan, semua yang bersengketa berhak melakukan segala upaya. Jaksa berhak menuntut, terdakwa berhak membela diri. Tak terkecuali politisi selebriti Angelina Patricia Pingkan Sondakh, alias Angie. Hari ini, Kamis, 10 Januari 2013, Angie  menghadapi vonis dalam “pertarungan kebenaran” melawan tuntutan jaksa di Pengadilan Tipikor, terkait kasus suap Kemendiknas dan Kemenpora.

      Angie terbukti melakukan tindak pidana korupsi, palu diketukkan, vonis pun dijatuhkan. Angie diganjar hukuman 4,5 tahun penjara plus denda Rp. 250 juta subsider 6 bulan penjara. Vonis ini (jauh) lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK, yakni hukuman 12 tahun penjara, denda Rp. 500 juta subsider 6 bulan kurungan dan membayar uang pengganti Rp. 32 miliar subsider 2 tahun penjara. Adakah vonis ini kemenangan Angie, tuah “jurus-jurus bela diri” dalam “pertarungan kebenaran” selama ini? Atau lebih luas, adakah vonis ini suatu pertanda “kemenangan koruptor” atas hukum di negeri ini?

      Mari sejenak merunut ke belakang, karena vonis hari ini adalah rangkaian dari pertarungan panjang hukum, Angie dan seluruh anak negeri dalam satu lingkaran setan korupsi. Konsekuensi asas praduga tak bersalah, seseorang dianggap tidak bersalah sebelum ada kekuatan hukum tetap yang menyatakan dia bersalah. Meja pengadilan kini menjadi “meja pertarungan” untuk memutuskan siapa benar siapa salah. Dalam pertarungan, tak ada yang rela jadi pecundang. Benar-salah urusan belakang, termasuk bagi Angie.

      “Jurus-jurus bela diri” Angie (tentu bersama kuasa hukumnya), sejatinya telah mulai dimainkan begitu genderang “pertarungan kebenaran” ditabuh pada sidang perdana hari Kamis, 6 September 2012 silam. “Jurus bela diri” pertama Angie mainkan dengan menghadirkan nuansa simbolik spiritual keislaman dalam persidangan. Angie selalu tak lupa membawa tasbih, termasuk saat membacakan nota keberatan (eksepsi) di sidang lanjutan pada Kamis, 13 September 2012.

      Apa arti sebuah tasbih? Tentu sangat berarti di negeri mayoritas muslim. Tasbih adalah simbol kesucian, simbol pengingat Tuhan. Simbol-simbol keislaman, pada saat yang tepat akan menjadi alat efektif menyelamatkan diri dari ancaman bahaya. Tragedi kerusuhan Mei 1998 bernuansa SARA misalnya, simbol keislaman seperti sajadah dan lafazh Qur’an terbukti menyelamatkan sebagian etnis Tionghoa dari amuk massa. Entah kini Angie telah taubat nasuha lalu dekat dengan Tuhannya atau apa, hanya dia dan Dia yang tahu.

       “Jurus bela diri” kedua Angie selanjutnya dimainkan oleh kuasa hukumnya, Teuku Nasrullah, di saat dan tempat yang sama. Masih mengusung tema spiritual keislaman, Nasrullah bertaushiah tentang sengketa khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pemuda Yahudi. Baju perang sang khalifah hilang, persidangan digelar, pemuda Yahudi tersangka, Ali sebagai saksi korban. Ali, meskipun seorang khalifah, namun tidak mempunyai bukti sah dan kuat bahwa baju itu miliknya, maka pemuda Yahudi pun dibebaskan.

      Kebenaran materil (baju milik Ali) harus dibuktikan oleh kebenaran formil (bukti dan keterangan saksi). Ketika keduanya tak sejalan, maka tegaknya kebenaran formil harus diutamakan. Sepertinya ini “jurus bela diri” yang bertuah dan mumpuni, mengingat korupsi adalah kejahatan “kasta tinggi” yang penuh misteri. Mencari bukti dan saksi dalam kasus korupsi, sama saja mencari jarum di antara tumpukan jerami. Sampai-sampai kita tergoda untuk menyangka kontribusi makhluk halus dalam menyembunyikan kasus korupsi. Masa iya sih jin terlibat korupsi?

      “Jurus bela diri” ketiga Angie mainkan sebulan kemudian dalam sidang lanjutan, kembali pada hari Kamis, 11 Oktober 2012, lewat fragmen emosional misteri air mata. Drama seka air mata ini tiga kali disuguhkan saat hakim memberikan kesempatan bertanya kepada saksi Mindo Rosalina Manulang. Padahal, drama air mata tersangka atau terdakwa, khususnya kasus korupsi bukan hal pertama terjadi, apalagi jika yang terjerat adalah seorang wanita. 
Drama Air Mata Hartati Murdaya contohnya.

      Di awal September 2012, Tersangka kasus suap Bupati Buol ini juga menggelar drama sama dalam pemeriksaan perdana. Entah efektif atau tidak, tapi jurus bela diri air mata masih lumayan “seksi” bagi kaum batari durga dalam memancing emosi untuk mendulang simpati. Bukankah ada yang berkata kalau wanita identik dengan air mata? Jujur atau pura-pura, alami atau rekayasa, spontanitas atau terencana, air mata tetaplah air mata, ada seribu misteri di baliknya.
      
 “Jurus bela diri” keempat Angie mainkan sebagai lanjutan dari jurus ketiga, emosional sebagai senjata bernama cinta. Dalam sidang pembelaan (pleidoi) di pengadilan Tipikor pekan silam, lagi-lagi hari Kamis, 3 januari 2013, Angie  membawa kedua anak tirinya, Zahwa (11) dan Aliya (10).  tak peduli bahwa kehadiran anak-anak dalam persidangan tidak sehat bagi kondisi psikologis mereka. Yang Angie tahu, tidak ada larangan anak untuk ikut dalam persidangan.

       Angie mengirim massage, bahwa kekuatan cinta akan mengalahkan segalanya. Apalagi, selain kedua anak itu, masih ada satu lagi anak kandungnya, Keanu Massaid yang baru 4 tahun. Sebagai seorang single parent, kehadiran Angie mutlak dibutuhkan anak-anaknya. Bagaimana nasib mereka dan siapa yang merawat dan membimbingnya jika kelak ibunya mendekam di penjara? Sementara cinta-kasih ibu tak pernah tergantikan oleh siapapun manusia di dunia. Kehadiran anak adalah “jurus bela diri” bertuah untuk menggugah simpati.

       “Jurus bela diri” kelima pun Angie mainkan, masih di saat dan tempat yang sama, ketika membacakan pleidoi di ruang persidangan. Angie membeberkan citra positif  diri dan hidupnya, sejumlah prestasi yang diraihnya sejak kecil hingga menjadi anggota DPR. Angie menjelaskan, bahwa masuk ia ke dunia politik pada 2003 dengan tujuan mulia, pengabdian memperjuangkan agenda kebijakan bagi masyarakat banyak. Angie menilai dirinya cukup berhasil dalam memperjuangkan sejumlah agenda bagi kepentingan masyarakat banyak. Angie ingin mengingatkan, bahwa “Anda harus fair dan rasional dalam menilai seseorang, jangan hanya melihat sisi buruk dan kejahatannya, tapi lihat pula catatan prestasi dan sisi kebaikannya.”

       Jika melihat vonis yang jauh dari tuntutan jaksa, sepertinya “jurus-jurus bela diri” Angie bertuah juga. Angie sukses memainkan tiga serangkai spiritual-emosional-rasional tepat di hari Kamis, dengan 5 “jurus bela diri” bertuah dalam tasbih, taushiah, air mata, anak-anak dan prestasi masa lalu. Angie memenangkan “pertarungan kebenaran” di meja pengadilan, meskipun dengan melihat dari kaca matanya sendiri, itu belumlah kemenangan. Maka ia masih pikir-pikir dulu atas putusan sidang.

      Angie merasa masih kalah, sebab ia yakin tak merasa bersalah. Kemenangan baginya adalah kebebasan dan berkumpul kembali dengan anak-anak, barangkali. Sementara bagi kita, mayoritas publik-rakyat negeri ini melihat dengan kaca mata berbeda, vonis atas Angie adalah kekalahan hukum atas koruptor. Atau kekalahan mayoritas atas segelintir. Atau kekalahan kebenaran materiil atas kebenaran formil. Kemenangan bagi kita adalah vonis seberat-beratnya atau seadil-adilnya? demi efek jera. Seumur hidup, bila perlu hukuman mati, atau paling tidak sesuai tuntutan jaksa.

      Kini, tak penting lagi siapa menang-siapa kalah, karena hukum bukan sekadar perkara menang-kalah, sebab masing-masing pihak akan berupaya dengan segala cara untuk menang. Hukum adalah “pertarungan kebenaran” di mana mekanisme pertahanan diri dengan aksi bela diri akan terlibat abadi. Dikarenakan akalnya, manusia telah “didaulat” Tuhan sebagai makhluk paling sempurna. Akal sehat atau tidak sehat, manusia punya naluri membela diri agar selamat dari “serangan lawan,” termasuk dari jeratan kasus korupsi seperti Angie.

      Kita hanya merindukan tegaknya keadilan di negeri ini, khususnya dalam “pertarungan abadi” melawan “setan korupsi.” Dan “pertarungan kebenaran” di meja pengadilan akan terus ada hingga kiamat tiba. Kita hanya bisa mengikuti kelanjutan ceritanya, sambil sebisanya berdoa. Fiat justitia roat caelum. Tegakkan hukum walau langit runtuh. Semoga kita tak akan pernah putus asa untuk memperjuangkannya, meski pada realitanya, sampai detik ini langit dunia masih tegak, sementara tiang-tiang pancang bangunan hukum di negeri ini justru kita runtuhkan sendiri, kita sadari, atau tanpa kita sadari.

Salam...
El Jeffry