Tuesday, January 8, 2013

Libido Ergo Sum dan Politik Dasamuka 2014



      Pada abad ke-17, ketika eksistensi berada dalam pikiran, Rene Descartes mengucap, “Corgito ergo sum.” Aku berpikir, maka aku ada. Abad ke-18, para penyair-penyair romantik memberi peran bahwa “ada” bukan hanya dalam pikir, tapi juga dalam hati. Di awal abad ke-21, terekam dalam sajak Peter Meinke, nafsu menggeser pikir dan hati untuk menjadi pertanda “ada” manusia. Ia berteriak, “Libido ergo sum.” Aku bernafsu, maka aku ada.

     Di Indonesia, adiksi buruk manusia terhadap dunia menggumpal dalam 3 garis tebing piramida harta-tahta-wanita. Kita menyederhanakannya dalam kekayaan, kekuasaan dan seks. Nafsu-syahwat-hasrat menginduksi “eksistensi” manusia terkini. Lalu terkumpul dalam satu simpul di puncak tertinggi, politik. Rasionalisme tergerus, spiritualisme terbenam, insting “binatang ternak” bergerak radikal memilin peradaban.

      Kini standar maksimal eksistensi manusia terletak pada sebesar apa nafsu mewujud nyata dengan terpenuhinya kekayaan materialisme, kekuasaan politis dan “sayap-sayap selir” atas nama cinta. Di tahun 2013, menjelang “hajatan nasional” pemilu 2014 (berikut pilpresnya), menyambut dekade ke-7 kemerdekaan, ombak besar adiksi politik menyeret bangsa ini ke pantai kecemasan masa depan negara-bangsa.

     Pecandu-pecandu ketergantunagn harta-tahta-wanita, berkendaraan bisnis-politik seolah menemukan momentum terbaik mulai tahun ini. ICW dipertegas KPK memprediksi bangsa ini bakal memasuki tanda-tanda kiamat 2013 dengan korupsi yang akan meningkat. Alasannya, di tahun ini banyak gelaran pemilukada dan persiapan menyambut Pemilu 2014. Lidah api sang nafsu akan semakin berkobar menyala-nyala, membakar semua yang ada.

     Manusia saling kejar, mengejar puncak tujuan, untuk membuktikan bahwa aku memang “ada.” Ketika libido sudah tak tertahan, hormon mendidih meletup-letup, hanya ada satu keinginan manusia, pelepasan energi laten. Berahi korupsi berujung orgasme politik. Untuk satu kenikmatan puncak, manusia rela melakukan apa saja, halalkan segala cara. Pemuasan nafsu wanita-cinta-seks bertemu pemuasan nafsu tahta-kuasa-politik. Nafsu harta bercampur dengan nafsu tahta melahirkan kombinasi pengusaha-politisi.

     Ketika diktum libido ergo sum telah memberhala, “politik dasamuka” akan terbentuk seketika dengan sendirinya. Apa yang tak bisa dilakukan manusia ketika berlimpah harta, berkuasa dan luber pesona cinta? Tinggal mengemas citra, kornea mata rakyat akan terlena, hilang rasionalitas dan spiritualitas. Pemimpin dan yang dipimpin nyaris sama, setali tiga uang dalam selera. Tinggal soal waktu dan kesempatan untuk bergiliran. Siapa bisa mewujudkan nafsu, maka ia akan diakui eksistensinya.

     Hasil verifikasi faktual KPU yang hanya meloloskan 10 partai untuk bisa berlaga di Pemilu 2014 memperkuat pertanda adiksi politik penguasa-berkuasa. “Politik dasamuka” tergambar secara simbolis, 10 muka partai kurcaca-raksasa. Tak ada tempat bagi partai “kurcaci.” Wajah-wajah lama akan kembali mendominasi gerak-diam tata kelola negara-kota. Tak peduli tokoh bermasalah dengan hukum-moral-etika, ruang telah disiapkan untuk mereka kembali bertahta.

     Seperti kata Lord Acton, “Power tends to corrupt,” kekuasaan itu cenderung korup. Sudah hukum alam, setiap manusia dan benda-benda cenderung mempertahankan posisi, keadaan dan “ada”nya. Bahkan ketika “ada”nya itu lahir dari embrio libido, regenerasi politik libido ergo sum tak terelakkan. 10 muka partai kurcaca-raksasa sebagai simbol dari dasamuka, suka tak suka adalah cermin wajah kita, meski ada sedikit pembiasan darinya. Sebab sebenarnya masih banyak para pejuang yang tergabung dalam 12 Elemen Ksatria Nusantara, yang berkomitmen dan berintegritas memperjuangkan bangsa hingga “berdarah-darah” demi tegaknya daulat rakyat-res-publica.

     Sayangnya, kita gagal menghimpunnya untuk saling bertali-temali salam satu shaf solid. Tembok baja struktural-kultural kurcaca terlalu tebal untuk ditembus. Apa daya kita? Lihat saja, akankah kita sanggup melewati musuh besar sesama bangsa dengan semakin perkasanya para pemimpin berinsting dasamuka, manusia-manusia bertabiat buto yang asing dari nilai-nilai nurani-norma-etika. Entah sebagai kemajuan atau justru mundur ke belakang, kita tak pernah tahu pasti, sebab kita selalu dihadapkan pada dilematika sejarah tiada habisnya.

     Jika benar nantinya Pemilu 2014 hanya diikuti 10 kontestan, kita seakan memutar jarum sejarah ke tahun 1971, pemilu pertama era orde baru. Entah demi efisiensi, stabilitas atau efektivitas, 5 gelaran pemilu selanjutnya kontestasi pemilu dirampingkan menjadi cukup 3 saja hingga tahun 1997. Bergulirnya reformasi 1998 membuka ruang demokrasi seluasnya, kontestan pemilu membengkak 1.600% menjadi 48 pada pemilu 1999. Kita bereuforia dengan kebebasan bersuara pasca tersumbat 32 tahun. Kita bermimpi melambung tinggi setelah bangun dari mimpi buruk tirani kurcaca orde baru.

     Seiring perjalanan waktu, oleh “seleksi alam,” kontestasi pemilu terpangkas separoh menjadi 24 parpol pada pemilu 2004, lalu membengkak lagi menjadi 38 parpol pada pemilu 2009. Pengalaman buruk kontestasi gendut dan ramping telah kita alami. Sejarah mencatat keduanya sama-sama buruk. Keterwakilan rakyat tetap mimpi di siang bolong. Dari hari ke hari, pengkhianatan suara rakyat oleh dewan legislatif di Senayan meningkat. Hingga di penghujung 2012, DPR mengalami titik nadir keterpurukan kepercayaan. Ternyata, kuantitas parpol di ajang pemilu tidak berbanding lurus dengan kualitas keterwakilan rakyat di saat yang sama.

      Bahkan, pemilukada dan pilpres langsung tidak serta-merta pula mengangkat harkat rakyat. Ketimpangan “kasta” elit-alit (rakyat kecil) justru semakin menganga. Korupsi menggurita, nyaris mencapai titik jenuh di tahun ini, sebagaimana di prediksi oleh KPK. Mungkinkah dengan dicukupkan hanya 10 parpol saja, itu akan lebih baik, lebih efektif dan efisien? Kemungkinan. Realitanya, mutu dan jumlah adalah dua hal berbeda. Sedikit tapi bermutu, banyak tapi tidak bermutu, atau sudah sedikit tidak bermutu pula? Yang terakhir ini membuka pintu kecemasan kiamat negara atas nama demokrasi! Namun sepertinya kita mesti bersiap-siap menghadapinya.

     Ya, itu dia. Wajah-wajah lama bakal kembali mengelola negeri ini, wajah-wajah yang kita kenal sebagai wajah buto dasamuka, berkostum partai partai banal abal-abal yang mayoritasnya khianati ampera dan aras daulat rakyat-res-publica. Wajah-wajah yang mencampur-acak cinta-politik-harta ala Rahwana raja Alengka. Wajah-wajah yang tampil bukan karena memperjuangkan rakyat sampai “berdarah-darah,” tapi nafsu semata untuk selalu tampil dalam lakon sejarah. Dalam 10 partai, nafsu angkara “politik dasamuka” mungkin akan menggila, karena tak kuasa membendung syahwat-hasrat nafsu untuk tetap “ada.” Libido ergo sum. Aku bernafsu, maka aku ada.

Salam...
El Jeffry 

Insiden Tucuxi Dahlan “Direncanakan”?


Tucuxi Ringsek Pasca Insiden
Sumber image: newsdetik.com

     Percayakah Anda bahwa setiap kejadian di dunia ini terjadi secara kebetulan, alias tidak direncanakan terlebih dahulu? Anda boleh percaya atau tidak percaya, bahwa ada skenario “misterius” di balik setiap peristiwa, gerak-diamnya manusia dan benda-benda yang ada di dunia dan alam semesta. Termasuk dalam insiden kecelakaan mobil listrik “ferrary” Tucuxi milik Menteri BUMN Dahlan Iskan Sabtu 5 Januari lalu.

     Mungkinkah ada faktor kesengajaan dari insiden Tucuxi ini, alias sesuatu yang telah direncanakan, baik oleh Dahlan Iskan sendiri, atau oleh kekuatan di luar kendali Dahlan dan kita semua, bahkan seluruh manusia di dunia? Mari kita sedikit menyusup dengan agak hati-hati, adanya kemungkinan dari perencanaan dalam insiden ini. Mungkin darinya kita akan mendapatkan secuil pelajaran berharga, meski tanpa bermaksud berprasangka tidak-tidak, menghakimi, apalagi menjadikan musibah sebagai komoditi politisasi.

     Pertama, bahwa insiden ini telah direncanakan, "ferrary" Tucuxi sedang dalam masa ujicoba coba 1.000 km. Namanya ujicoba, tentu mobil kebanggaan karya anak bangsa ini belum teruji sebelum dicoba, alias belum belum memenuhi kriteria standar keamanan bagi pemakainya. Artinya, kecelakaan akibat kesalahan teknis sudah bisa diduga sebelumnya. Kenapa penguji coba mesti Pak Menteri sendiri, bukan orang lain yang memang khusus ahlinya?

     Dahlan adalah pejabat negara yang keselamatannya penting dijaga dari ancaman yang tidak semestinya, apalagi kecelakaan di jalan raya. Tapi kenapa Dahlan seolah ngotot mengambil resiko tinggi, menantang maut, mengendara mobil “percobaan” seakan benar-benar siap menghadapi kemungkinan terburuk? Inilah alasan adanya kemungkinan perencanaan di dalamnya.

     Kedua, terkait dengan rencana Dahlan Iskan menjadi presiden RI 2014. Nama Dahlan santer diberitakan di media massa sebagai salah satu tokoh terpopuler Kandidat Capres 2014. Mengingat tiadanya “kendaraan” politik yang menjadi prasyarat berlaga di pilpres, sedangkan ia menegaskan tidak akan ngoyo “menjajakan diri” kepada parpol-parpol untuk meminangnya, maka Dahlan butuh kendaraan alternatif.

      Proyek mobil listrik Tucuxi (kemungkinan) direncanakan Dahlan sebagai kendaraan untuk mengukuhkan posisi tawar di market rakyat. Dahlan paling berkepentingan dengan proyek ini, maka ia berani mempertaruhkan apapun, termasuk nyawanya sendiri, demi “gol indah” proyek ini. Dengan hendak menunjukkan kepada 250 juta manusia Indonesia bahwa ia konsisten berkomitmen terhadap ge(b)rakan visioner-revolusioner, mempersembahkan karya terbaik anak bangsa.

     Dengan mengendarai sendiri, Dahlan hendak menunjukkan aksi “heroisme” dengan menabrakkan Tucuxi mirip aksi-aksi meloloskan diri dari maut ala Ethan Hunt dalam film Mission Impossible. Dalam hal ini, skenario dirancang rapi, agar insiden terjadi secara dramatis, tapi tetap happy ending dengan selamatnya jagoan dari maut. Dipilihlah jalur yang tepat dan lokasi yang tepat, ditabrakkanlah mobil ke tebing.

      Alasan ketiga, melengkapi alasan kedua, kesengajaan ditabrakkannya Tucuxi ke tebing hingga mobil ringsek. Menghindari korban yang lebih besar, kata Dahlan. Alasan yang bisa dibenarkan dan baik pula. Dahlan memang luar biasa dalam menempatkan arti pentingnya keselamatan sesama, hingga rela “mengorbankan dirinya. Itu adalah contoh altruisme seorang pemimpin sejati, implementasi salus populi suprema lex, keselamatan publik hukum tertinggi. Heroisme plus altruisme, lengkap sudah Dahlan memainkan lakon kepahlawanan dan kepemimpinan.

      Alasan keempat, insiden Tucuxi Dahlan telah direncana (tepatnya diduga) dengan adanya prosesi “ruwat murwakala” sebelumnya oleh “dalang setan” Manteb Sudarsono. Sebagai mastro tolak bala berkelas nasional, Pak Manteb mungkin bisa “membaca masa depan” akan adanya “gangguan setan” (dhedhemit, genderuwo atau buto utusan betoro kolo) yang bakal mengganggu kelancaran dan keselamatan ujicoba Dahlan. Prosesi ruwatan mobil mandi kembang 4 sumur dilakukan. Ketika akhirnya “gagal ruwat” dengan tetap terjadinya kecelakaan, Pak Manteb enteng berkilah, “Yang diruwat itu kan manusianya, bukan mobilnya, sebab benda mati tidak bisa diruwat” Ngeles atau memang benar, nyatanya Pak Menteri tetap selamat meski mobil ringsek. Pak Manteb pancen oye


      
 
Ruwat Murwakala Tucuxi oleh “Dalang Setan” Manteb Sudarsono
Sumber image: metrotvnews.com

       Namanya mitos, mikire ojo atos-atos (jangan dipikirnya terlalu keras-serius). Ruwatan itu memang berbau klenis dan mistis, tapi namanya gugon tuhon, boleh digugu dan dituhankan (dipercaya dan diyakini). Percayanya Dahlan pada mitos, klenis dan mistis juga sah-sah saja, tak melanggar hukum negara. Kalau ia percaya, kenapa orang lain repot? Toh itu urusan pribadi Dahlan dengan Tuhannya. Termasuk pula percayanya Dahlan pada mitos apes pada angka 13 di tahun 2013 ini. Bahwa untuk menghindari bala kesialan ekonomi bangsa, sebut saja tahun ini tahun 2012 B.

     Alasan kelima, insiden direncanakan sebagai tangkisan atas seketa dengan Danet Suryatama. Sebelumnya, Danet menuding Dahlan mencuri hak intelektual, membongkar mesin mobil “ferrary listrik” karyanya. Ada kemungkinan, Dahlan (dituding) “mengutak-utik” mesin mobil untuk keperluan skenario kecelakaan, rem blong dan sebagainya (tapi penumpang dirancang tetap selamat). Dengan ringseknya Tucuxi, publik akan menganggap mobil listrik karya Danet masih butuh riset lebih lanjut untuk penyempurnaan. Dahlan sendiri telah menghabiskan Rp. 3 miliar untuk membiayai riset selama ini, dan dengan kemampuan finansialnya, ia tentu akan sanggup membiayai sampai tuntas proyek mobil listrik ini.

     Dahlan adalah seorang pengusaha sukses yang fenomenal membawa Jawa Pos “lolos dari maut” pada 1982, secara spektakuler “menyulap” oplah dari 6.000 eksemplar menjadi 300.000 eksemplar dalam 5 tahun. Darinya terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia dengan 134 surat kabar, tabloid dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Dahlan juga sukses mendirikan gedung pencakar langit Graha Pena di Surabaya dan yang serupa di Jakarta, stasiun televisi (JTV-Surabaya, Batam TV dan Riau TV), komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya-Hongkong dengan panjang serat optik 4.300 km.

      Ketajaman insting kewartawanan dan naluri kepengusahaan membawa Dahlan sukses menjadi “raja media” Indonesia. Lalu negara merekrutnya dengan diangkat menjadi dirut PLN pada 2009, untuk kemudian menjadi Menteri BUMN pada 2011. Yakinkah Anda bahwa semua itu kebetulan? Kalau Anda bilang kebetulan, Anda akan ditertawakan oleh para pengusaha sukses. “Pantes saja ente miskin mulu, abis cuma mengandalkan faktor kebetulan, sih.” Kesuksesan adalah garis panjang dari ribuan titik perjuangan, taktik-teknik, strategi, pengelolaan, kengototan, kecerdikan, dan tentu saja, perencanaan matang!

     Ada begitu banyak pelajaran dari sejarah panjang Dahlan Iskan, dengan ge(b)rakan fenomenal dan spektakuler, kesemangatan pantang menyerah, keberanian mendobrak kebuntuan “zona nayaman,” lengkap dengan kontroversinya perihal sesuatu yang tak lumrah, nyeleneh dan nganeh-anehi. Termasuk ketika sukses memasuki lingkaran kekuasaan istana sebagai menteri di kabinet SBY, Dahlan sempat bersitegang dengan DPR lewat “ocehan panas” kepada wakil rakyat sebagai komunitas pemeras BUMN. Ahlan Wa Sahlan, Ya Dahlan Iskan di Negeri Kemunafikan.

Dahlan Iskan bersama mobil kebanggaannya.
Sumber image: merdeka.com


     Walhasil, di negeri munafik, kita hanya berharap agar Dahlan tidak terseret dalam pusaran beliung kekumuhan politik dan jerat kuat lingkaran setan kekuasaan. Kita merindukan pemimpin otentik yang murni memperjuangkan rakyat. Kita bosan dengan dengan polah pemimpin imitasi yang kerap mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk pemenuhan syahwat ambisi pribadi. Kita juga alergi dengan bakteri-bakteri demokrasi, pengacau tatanan serasi profesi pengusaha-politisi, elit-pemimpin yang menjadikan politik demokrasi sebagai kendaraan “berdaya setrum tinggi” untuk memperkuat kerajaan bisnis pribadi.

      Akhirulkalam, semoga kita bisa menangkap pesan hikmah dari insiden Tucuxi Dahlan. Bahwa memang tidak ada satupun butir zarrah peristiwa di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Yang pasti (bagi yang meyakini), ada skenario besar dari Yang Maha Berencana. Hanya atas izin dan kehendak-Nya gerak-diam manusia dan benda-benda. Hanya sebagiannya saja peristiwa yang merupakan buah asli dari rencana manusia. Selebihnya, Tuhan yang bekerja dan menentukan hasil akhirnya. Menjadi pengusaha sukses, raja media, menteri, industri mobil listrik dalam negeri, hingga presiden RI, atau apa saja rencana manusia dalam kehidupan ini.

     Intisarinya, untuk kemaslahatan publik mesti berawal dari rencana (niat) yang maslahat dan proses yang maslahat pula. Yang baik diterima jika dan hanya jika berasal dari yang baik dan berjalan dengan cara baik. Semoga insiden ini bukan ujicoba kesengajaan yang telah direncanakan, untuk tujuan bisnis dan kepentingan politis pribadi. Semoga pula sepak terjang Dahlan Iskan selama ini bukan bagian dari rangkaian “rencana baik” yang dilakukan dengan “cara buruk.” Karena bila itu yang terjadi, panas setahun akan terhapus hujan sehari, kebaikan bertahun akan terhapus oleh keburukan sehari, lewat satu insiden kecil mobil listrik “ferrary” Tucuxi.

Salam...
El Jeffry