Monday, January 7, 2013

Kecelakaan Tucuxi Dahlan: Ujian atau Gangguan Setan?


 
Ruwat Murwakala Tucuxi oleh “Dalang Setan” Manteb Sudarsono

Sumber image: metrotvnews.com

      Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pekan awal tahun baru 2013 adalah pekan musibah, setidaknya bagi dua orang menteri, terkait dengan kecelakaan di jalan. Masih menghangat pemberitaannya di media, Menko Perekonomian Hatta Rajasa tepat di hari pertama tahun baru mendapat Kado Ganda kedua dengan musibah “BMW maut” anaknya, Rasyid Amrullah.

      Kali ini, giliran Menteri BUMN Dahlan Iskan mengalami sendiri musibah yang sama. Sabtu, 5 Januari 2013 Mobil Tucuxi yang dikendarainya menabrak tebing di Tawangmangu dalam perjalanan dari kota Solo. Masih beruntung, mobil listrik yang berpenumpang dua orang bersama Ricky Elson tak berujung maut. Keduanya selamat dan sehat, hanya mobilnya saja yang hancur dan tidak bisa dipakai lagi.

      Mobil listrik “ferrari” Tucuxi milik Dahlan Iskan ini sendiri masih dalam masa awal uji coba 1.000 km yang dimulai dengan menempuh rute Solo-Surabaya yang berjarak sekitar 250 km. Nahas bagi Dahlan, uji coba baru dimulai, mobil ringsek terlalu dini. Kecelakaan di jalan, apalagi dalam uji coba, sebenarnya adalah hal biasa. Ia menjadi luar biasa, karena yang mengalami bukan orang biasa, menteri, yang juga salah satu tokoh (politisi) populer terkini.

      Nama Dahlan sendiri banyak disebut bakal turut meramaikan pasar bursa capres yang berpeluang besar di pilpres 2012. Ditempatkan sebagai salah satu kandidat kuat di antara 30 Nama Kandidat Capres oleh berbagai lembaga survei, kecelakaan ini juga bisa saja berpeluang menggoyang nama Dahlan Iskan. Sebagaimana yang terjadi pada Hata Rajasa, politisasi atas peristiwa yang menimpa politisi adalah wajar dalam dunia politik di negeri ini. Tak terkecuali Dahlan Iskan.

     Berita insiden Tucuxi Dahlan menjadi menarik manakala ada sedikit keanehan yang berkaitan dengan kejadian sebelum kecelakaan. Seperti diberitakan, sebelumnya sempat mencuat sengketa antara Dahlan dengan pencipta pencipta mobil listrik ini, Danet Suryatama. Danet menuduing Dahlan telah mencuri hak intelektual karena membongkar mesin “ferrary listrik” buatannya. Danet bahkan mengancam akan melaporkan pencurian hak cipta atau teknologi ini ke pemerintah AS.

     Sementara, menampik tudingan ini, Dahlan menyatakan telah membiayai semua riset yang dilakukan Danet sampai Rp. 3 miliar. Seakan berjaga-jaga terhadap kemungkinan “gangguan setan” yang bakal menimbulkan masalah akibat perselisihan ini, Dahlan pun antisipasi “nganeh-anehi” dengan menggelar prosesi “ruwat murwakala.” Tak tanggung-tanggung, prosesi dilakukan oleh “dalang setan” Ki Manteb Sudarsono. Mobil dimandikan dengan air kembang dari 4 sumber air.

     Bagi masyarakat tradisional Jawa, “ruwatan” adalah tradisi lama yang dipercaya wajib dilakukan oleh orang yang memiliki hajat agar selamat, nir ing sambikala (terhindar dari malapetaka). Tapi tradisi menjadi hal aneh dan nyeleneh, ketika di lihat dari logika rasional dan kacamata agama (Islam). Tanpa bermaksud memasuki wilayah perdebatan kepercayaan dan agama, prosesi ruwatan adalah salah satu dari praktik gugon tuhon (percaya tidak percaya) yang kental dengan aroma mistis animisme-dinamisme.

     Karena, selain sebagai sekadar simbolisasi, ruwatan adalah upaya tolak bala gangguan setan yang dimotori oleh batara kala (i-raksasa penebar malapetaka di dunia mayapada). Yang menjadi pertanyaan, pada praktiknya ruwatan belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk terhindar dari malapetaka. Bagi kalangan muslim, ruwatan dengan segala bentuk tradisinya nggak sinkron dengan keyakinan tauhid la haula wa laa quwwata illa billah. Bahwa tiada daya dan upaya selain atas kehendak Allah semata.

     Dunia dan segala isinya adalah arena ujian bagi manusia. Anugerah dan musibah terletak di neraca yang sama, hanya berbeda dalam hal penyikapan, citarasa dan persepsi manusia. Dan dalam musibah terkandung 3 makna, ia bisa sebagai ujian, teguran atau hukuman. Wilayah yang butuh pembahasan mendalam, karena ia terkait dengan kondisi kejiwaan, keyakinan dan perilaku manusia yang menghadapinya.

     Termasuk dalam dua kecelakaan terakhir yang menimpa dua menteri. Ia bisa sebagai ujian untuk meningkatkan keyakinan (berikut integritasnya dan komitmen atas kebenaran dan keadilan dalam kepemimpinan). Ia bisa sebagai teguran atas sebuah kesalahan kecil (kepada sesama) atau dosa kecil (kepada Tuhan) yang tidak disadari dengan harapan eling (tersadar dan ingat). Ia bisa juga sebagai hukuman atas kesalahan besar (kepada banyak manusia-publik) dan dosa besar (kepada Tuhan).

     Untuk mengurainya, tak bisa dibaca dalam hitung-hitungan eksakta, namun dengan kacamata bening dan kejernihan hati, terutama dengan refleksi dan introspeksi diri yang bersangkutan. Sayangnya, kita (pemirsa-penonton) cenderung serta-merta gebyah-uyah aksi-reaksi menghakimi dan memvonis musibah seseorang tanpa telaah dalam-dalam dan kadang tanpa investigasi sama sekali. Kita memandang kejadian demi kejadian dari sudut pandang terlalu sempit dan kacamata terlalu tipis (dangkal), , dan latah-kaprah mengikuti “selera pasar” media massa emosional dan temporal-insidental.

     Sedikit pelajaran dari kecelakaan (anak Hatta Rajasa dan Dahlan Iskan), tak ada musibah yang diharapkan, namun ketika ia telah datang, tak ada daya manusia untuk menghindarinya. Ruwatan, meski dilakukan oleh maestro “dalang setan” ternyata belum menjadi garansi selamatnya manusia dari “gangguan setan” kecelakaan. Dalam kasus insiden Tucuxi Dahlan, “gangguan setan” itu juga tak bisa sepenuhnya terlepaskan. Yang namanya setan, tentu saja sudah tugasnya mengganggu manusia, tak peduli ia orang baik atau jahat, menebar permusuhan, pertikaian, perpecahan dan kehancuran.

    “Gangguan setan” dalam arti luas terkait dengan makna syayathin (penyimpangan). Ia bisa berupa kesalahan (teknis-nonteknis), kekeliruan, kecerobohan, hingga kecurangan, kenakalan, dan segala bentuk kejahatan. Yang pasti, setan sendiri adalah ujian dan cobaan abadi agar manusia selalu kembali dan berlindung kepada Tuhannya, terhindar dari gangguannya. Apalagi mobil listrik Tucuxi ini masih dalam masa uji coba, tentu akan selalu berhadapan dengan ujian dan cobaan untuk meyakinkan bahwa ia adalah program kebaikan yang manfaat bagi rakyat banyak. Baik hulunya, baik pula muaranya. Baik cara dan prosesnya, baik pula hasil akhirnya. Wallahu a’lam.

Salam...
El Jeffry



sumber image: metrotvnews.com 

Blusukan SBY: Pencitraan, Sensasi atau Sadar Diri?



     Hari ini kita dibuat terkaget-kaget dengan aksi nyeleneh sang presiden. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba SBY berkenan keluar dari “istana kaca” turun ke lapangan. Jum’at pagi, SBY beserta rombongan melakukan kunjungan dadakan, alias inspeksi mendadak (sidak) ke Tangerang. Tak tanggung-tanggung, “sang raja” berdialog langsung dengan rakyat jelata, membuka telinga pada suara warga dan keluhan nelayan.

     Aneh? Mungkin, karena di hampir 9 tahun SBY singgah di istana, kita terbiasa menyaksikan aktivitas sang presiden memerintah negara dengan gaya raja-raja langitan. Protokoler, kental pencitraan, SBY seakan raja terpenjara di ruang kaca istana, steril dari virus dan mikroba, mengambang di udara, alias tidak menginjak tanah. SBY layaknya dewa yang enggan untuk turun ke bumi. Padahal, sebagai negeri maritim-agraris, nelayan dan petani adalah komunitas terbesar penghuni bumi pertiwi. Air laut dan lumpur becek adalah teman akrab sehari-hari.

     Tembok tradisi klasik ningrat-birokrat-“raja langit” lupa turun ke bumi baru terdobrak, ketika fenomena blusukan Jokowi mencuat ke publik. Awalnya, model kepemimpinan nyeleneh Jokowi inipun terlihat sebagai anomali. Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua berubah tidak? Tentu saja tidak. “Kebiasaan buruk” telusap-telusup menyambangi ceruk-ceruk kumuh rakyat pinggiran (yang biasanya terbuang dan tersingkirkan) telah membentuk figur Jokowi menjadi pemimpin kecil sukses di Solo.

     Maka ketika naik kasta memimpin kota besar megapolitan DKI Jakarta, Jokowi pun masih melakukan hal sama. Blusukan, bersentuhan kulit tanpa sarung tangan dengan warga jelata di tempat-tempat kumuh dan gang-gang sempit, hingga masuk gorong-gorong, bukan hal aneh bagi Jokowi. Bahkan ketika DPRD dan mantan gubernur DKI Sutiyoso sempat mengkritik “cara aneh” kepemimpinannya, Jokowi tak menggubrisnya. Baginya blusukan adalah cara terbaik memimpin.

     Dengan “berblusuk-blusuk-ria,” kita bisa memetakan permasalahan kompleks sebuah kota, menangkap secara “live” aspirasi, keluhan hingga jeritan rakyat, tanpa sensor, tanpa rekayasa dan tanpa mengandalkan laporan palsu “hulubalang dan punggawa.” Sudah lazim di negeri ini, “kaki-tangan” raja bekerja an sich demi jabatan dan “zona nyaman” sehingga lahirlah generasi ABS (Asal Bapak Senang), “yess man” dan “oke bos.” Rendah mutu kinerja dan miskin etos kerja. Kemaslahatan publik urusan ke-27, kepentingan pribadi dan politik nomor satu.

     Seiring waktu berlalu, masih dalam rentang uji 100 hari menjadi gubernur DKI, kini ikon blusukan lekat dengan Jokowi. Sebagai trend, model dan prototip terkini kepemimpinan berdaya jual tinggi di market area rakyat. Lalu apakah dengan ini, Jokowi berhak menjadikan blusukan sebagai hak paten? Tentu saja tidak. Karena semua manusia pada dasarnya adalah pemimpin, dan semua pemimpin berhak dan sebenarnya wajib pula mencontoh teladan baik dari pemimpin siapapun, dari kasta dan bangsa manapun.

     Sebagaimana presiden SBY yang memblusukkan kakinya di dunia nelayan di Tangerang, sebenarnya itu bukan hal baru bagi presiden di negeri ini. Inspeksi mendadak (sidak) sendiri adalah warisan lama orde baru. Khusus dalam urusan blusuk-memblusuk, sepertinya Pak Harto yang paling piawai mengemasnya, pintar mengkombinasikan kosakata turun ke lapangan dengan penguatan citra kerakyatan,  menjalin keakraban dengan wong cilik khususnya petani dengan turun langsung ke sawah, memotong padi, hingga mencicipi pedasnya caberawit langsung dari pohonnya.

     Di era Pak Harto, pertanian mendapat perhatian yang cukup besar dengan berbagai program program seperi intensifikasi massal (inmas), bimbingan massal (bimas), membangun lahan-lahan percontohan, membentuk kelompok petani yang biasa disebut Klompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) di setiap desa.
Alhasil, pada tahun 1984 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan produksi sebesar 25,8 ton dan Indonesia sempat mendapatkan penghargaan dari FAO pada tahun 1985.  (Mental Tempe, Krisis Kedelai dan Ringkik Keledai)

     Sama-sama jenderal, “Imaging General” SBY berbeda dengan “Smiling General” Pak Harto. Maklum saja, Pak Harto, di balik sisi kepiawaian politiknya, dalam darahnya mengalir haemoglobin petani. Sehingga di samping pilihan visi pembangunan Indonesia modern lewat industri, sektor pertanian tetap mendapat porsi yang tak kurang. Pak Harto juga sempat mencicipi perjuangan “berdarah-darah” mengusir penjajah Belanda (meski akhirnya membuat “berdarah-darah” pula anak bangsa untuk tampil berkuasa).

     Sedang SBY adalah jenderal yang lahir dari “zona nyaman” keluarga berkecukupan, hidup di zaman kemerdekaan, dewasa dalam kumparan “citra dan cinta,” cemerlang mendaki 24 anak tangga emas karier militer dan politik-kekuasaan selama 39 tahun. Wajar jika kepemimpinan SBY identik dengan “roh gentayangan” yang selalu mengambang (di udara) dan enggan menancap pasti (di atas tanah). Keraguan, ketidakjelasan, abu-abu.

     Sayangnya, waktu berputar terlalu cepat. Di 1/7 akhir masa kepemimpinan, “citra dan cinta” yang dibangun sang presiden terancam pudar. Apalagi yang bisa diharapkan? Dengan menggeliatnya KPK, Demokrat terancam check matt alias kiamat. Gonjang-ganjing internal partai tak kunjung terurai. Elektabilitas terpuruk, kader-kader ambruk. Nazar kabur, Angie menyongsong bui, Hartati undur diri, Andi pergi, Anas -Ruhut berkelahi.  Menghadapi deraan beliung tragedi, pemimpin mana yang tidak mati suri?

     Untung ada Jokowi. Tampil impresif memimpin DKI, lengkap dengan segala pernak-pernik dan kontroversi blusukannya, Jokowi menjadi lakon utama media massa sebagai tokoh terpopuler 2012 versi Google Indonesia. Tak ada salahnya kebo nusu gudel, presiden berguru pada gubernur. Katakanlah mengadopsi gaya blusukan Jokowi, dengan harapan di waktu setengah tahun akhir kepemimpinan, SBY bisa berbuat yang terbaik. Entah terbaik untuk siapa, diri dan keluarga, partai, atau untuk bangsa dan negara. Entah demi pencitraan, cari sensasi, mengekspresikan inspirasi, atau mulai sadar diri pada cara efektif memperbaiki negeri.

     Blusukan, terjun ke lapangan, menginjak tanah, menyentuh bumi, entah namanya “sidak” (inspeksi mendadak), “turba” (turun ke bawah), atau “turgu” (turun gunung), apalah arti kosakata? Memang, ketika seorang pemimpin telah kehilangan “citra dan cinta” di hati rakyatnya, terlalu sulit untuk membuat orang untuk percaya. Tak perlu salahkan rakyat yang melihat “turba”nya SBY ini dengan tuding miring dan tatap curiga. Kenapa “turba” ini tak sedari dulu kala, sebelum rakyat terlanjur bosan dengan “citra dan cinta” berselubung kepalsuan dan dusta?

     Satu hal yang penting bagi kita, blusukan dengan segala bentuknya adalah sarana pemimpin untuk menangkap secara tepat kondisi dan kebutuhan rakyat jelata “di atas tanah”, berikut keluh-kesah dan jeritan yang selama ini tak terdengar raja “istana kaca.” Blusukan adalah cermin dari kesadaran pemimpin akan sense of crysis, pencarian solusi praktis atas multidimensional problematika bangsa. Perkara ia dijadikan sebagai langkah politis demi “citra dan cinta,” atau sekadar sensasi instan-insidental untuk lari dari kepanikan “kiamat” rezim-kekuasaan, biar Tuhan yang menilai dan membayar lunas upahnya, tak lebih, dan tak kurang.

Salam...
El Jeffry

sumber image: www.detik.com