Tuesday, January 1, 2013

Tawuran Berdarah Maluku: Ketika Malaikat Bertanya




      Bentrokan, tawuran atau perang antarwarga masih saja terjadi di negeri ini. Padahal sebagai bangsa yang terdiri dari beragam suku, agama dan bahasa ini perbedaan sejatinya menjadi sebuah kekayaan yang mengokohkan persatuan sebagai warga sebangsa dan setanah air. Sayang seribu sayang, semakin dewasa usia bangsa merdeka, tapi kedewasaan tak kunjung tumbuh jua. 

       Akses media massa yang semakin mudah karena terbantu teknologi komunikasi, tak kunjung membuat bangsa ini cerdas dan mengedepankan logika. Kita menjadi komunitas yang semakin kehilangan tenggang rasa, mudah terbakar provokasi dan meledak tanpa peduli dampak buruk yang pasti terjadi. 

       Tawuran berdarah antarwarga desa di Maluku akhir tahun 2012 menjadi pelengkap catatan kelam tragedi kekerasan di negeri ini. Lima korban tewas, 9 luka-luka dalam bentrokan antara warga desa Hualoy, Maluku Tengah dengan warga Desa Kamarian dan Desa Sepa, Seram barat pada Sabtu, 29 Desember 2012. Hanya berselang 4 hari, spirit cinta-welas-asih Kristus yang diagung-agungkan dan dirayakan di Hari Natal seakan menguap ke udara, membumbung tinggi ke angkasa. 

       Spirit persatuan yang diprasastikan di sila ke-3 Pancasila tertinggal di lapangan upacara. Benteng agama dan negara masih gagal menjaga harkat-martabat manusia. Bila akal sehat dan akal budi telah pergi, apalagi yang bisa menyelamatkan manusia sebagai makhluk berlogika?

       Tawuran berdarah di Maluku menjadi mata rantai lanjutan dari rantai panjang tawuran berdarah bangsa sepanjang sejarah. Ada 1001 alasan bagi manusia untuk saling tikam, saling bunuh dan saling menghancurkan. Sentimen suku-agama-ras-antargolongan (SARA) telah merenggut akal sehat manusia. Esensi Tuhan dan manusia dicampakkan, ketuhanan dan kemanusiaan diperalat untuk tindak kekerasan anti-ketuhanan dan anti-kemanusiaan. 

      Betapapun 1001 cara dan upaya ditempuh dengan nama rekonsiliasi, ishlah, ikrar damai, hingga ancaman pidana, gagal mencegah manusia dari pecahnya perang saudara. Tak hanya Indonesia, konflik perang saudara di Timur Tengah hingga detik ini masih membara. Selalu ada 1001 alasan, kekuasaan, ideologi, agama dan 998 alasan lain yang digunakan manusia sebagai neraca pembenar kekerasan dan pertumpahan darah antar sesama.

       Tak hanya hari ini, bulan ini, tahun ini atau abad ini. Kekerasan dan penghancuran antar manusia dalam tawuran berdarah memang selalu pecah di sepanjang peradaban manusia, dari zaman prasejarah hingga zaman sejarah. Lantas kita bertanya, adakah semua ini memang takdir Ilahi yang berlaku abadi bagi penghuni bumi? Nyatanya, perang saudara yang berakibat hilangnya secara paksa nyawa manusia terjadi sejak era pertama manusia bumi, konon sejak 8.000 tahun silam ketika dua bersaudara anak Adam bersengketa. 

       Ataukah memang ‘dari sono-Nya,’ bahwa Tuhan sengaja mendesain spesies manusia sebagai makhluk yang gemar berperang, merusak, membunuh dan mengancurkan sesama? Sepertinya memang benar. Sebelum babak akting manusia di panggung dunia dimulai, ketika Tuhan memutuskan untuk menjadikan manusia sebagai pemimpin bumi, konon malaikat bertanya, “Adakah Engkau hendak menjadikan pemimpin di bumi (orang) yang gemar berbuat kerusakan dan pertumpahan darah?” Lalu Tuhan menjawab, “Sungguh, Aku lebih tahu apa-apa yang tak kalian ketahui.”

       Dari pertanyaan malaikat kita bisa menangkap sinyalemen tabiat mendasar manusia yang gemar merusak dan membunuh sesama. Lalu ketika Tuhan Yang Mahabenar dan Mahatahu tetap keukeuh pada keputusannya, kita dipaksa untuk tersudut di ruang kebingungan menangkap maksud-Nya. Jika Tuhan telah tahu dua tabiat buruk manusia itu, kenapa Dia tidak ciptakan manusia dengan tabiat gemar “perbaikan dan perdamaian,” padahal jika Dia berkehendak, tak seorangpun makhluk di alam semesta menghalangi-Nya? 

       Di sisi lain, Tuhan sendiri melarang manusia untuk berbuat kerusakan dan pembunuhan. Adakah Tuhan bermaksud “pamer kekuasaan dan pengetahuan” agar manusia mengakui kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya, dengan membuat teka-teki maha rumit atau permainan maha misterius dengan manusia sebagai lakon utamanya? Cukuplah kita berhenti sampai di sini, tidak melontarkan pertanyaan terlalu jauh untuk menghindari perdebatan yang mustahil berujung pada kesimpulan benar di satu titik temu. 

      Kita, sebagai manusia yang serba lemah tak akan sanggup membuka segala misteri di alam semesta ini. Mata kepala tak akan sanggup melihat mikroba tanpa alat bantu mikroskop. Tapi kita tahu dan yakin mikroba itu ada dan yakin pula ada alasan keberadaan mikroba, di bumi dan tubuh manusia. Maka kita tahu bahwa tawuran berdarah (peperangan, pertarungan, pembunuhan-sendiri-sendiri atau berjama’ah) dan pengrusakan alam-lingkungan adalah hukum abadi. Ia akan selalu ada hingga kiamat tiba. 

      Sebagaimana ada alasan diciptakannya mikroba (termasuk virus, kuman dan bakteri penyebab penyakit) yang menjadi musuh abadi manusia, pasti ada alasan pula dari tabiat merusak dan tawuran berdarah pada diri manusia. Perbaikan dan perdamaian adalah tugas abadi manusia yang Tuhan delegasikan ajaran dan petunjuk-Nya lewat rasul-rasul, nabi-nabi dan orang-orang suci. Kerusakan dan tawuran berdarah adalah musuh bersama, Tuhan mengkategorikannya sebagai salah dan dosa. 

       Tak ada manusia yang luput dari salah dan dosa. Tapi wajib berjuang sebisanya untuk menghapus, atau setidaknya meminimalisir kadarnya. Tawuran berdarah Maluku dan tawuran berdarah lain-lainnya, tak akan bisa dihapus dari sejarah dan peradaban manusia, karena ia bagian dari skenario Tuhan dalam permainan akbar di dunia sebagai ujian manusia. Kita hanya bisa meminimalisir hingga ke kadar terendah agar tercegah dari kiamat bangsa, kerusakan dan kehancuran akibat blunder perang saudara. Dan mungkin semua itu hanya bisa kita dapati ketika kita telah mampu meyakini dan memahami alasan Tuhan menciptakan mikroba.

Salam...
El Jeffry

sumber image: www.bisnis.comarticles  


2 comments:

  1. kan emang luarbiasa ni negri......
    :)

    ReplyDelete
  2. Semua pilihan ada ditangan manusia masing2 dengan resikonya masing2 pula. Tuhan hanyalah menghidangkan pilihan-pilihan tsb untuk pendewasaan manusia yg selalu dinamis

    ReplyDelete