Wednesday, January 9, 2013

Menyeleksi Pemimpin Murni: Berani?




      Masih adakah pemimpin murni di negeri ini? Masih adakah partai politik otentik di negeri ini? Pertanyaan yang layak dilontarkan berdasarkan catatan ICW. Sepanjang tahun 2012, setidaknya ada 24 kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Mereka berasal dari 7 partai politik besar yakni Golkar, Demokrat, PDI-P, Gerindra, PAN, PKB dan PKS.

      Jika dihitung rata-rata, praktis dalam sebulan kasus korupsi mampu menjerat 2 orang. Artinya, 2 pekan sekali ada seorang kepala daerah yang berurusan dengan kasus korupsi.  Luar biasa! Kejahatan luar biasa memang bekerja luar biasa! Luar biasa caranya, luar biasa beraninya, luar biasa pula dampak kerusakannya bagi tatanan masyarakat, bangsa dan negara

     Apa daya kita ketika korupsi sudah demikian menggurita? KPK pontang-panting. Satu belum selesai, muncul dua yang lain. Dua masih dikejar, ada lima yang masih beraksi. Lima dijerat, 50 memulai. Energi bangsa ini nyaris habis hanya untuk “petak-umpet” ibarat kejar-mengejar antara kucing dengan tikus. Tenaga kucing terbatas, sementara tikus-tikus beranak-pinak semakin mengganas. Panas. Panas. Panas.

      Lalu dengan cara apalagi kita memberangus tikus-tikus berdasi yang semakin jenius dalam beraksi, menggerogoti uang negara, uang rakyat, uang kita? Partai-partai politik yang ada, hanya jadi sarang tikus berdasi, berkostum perlente gubernur, walikota dan bupati. Kiamat semakin dekat, mungkin akan memuncak di tahun 2013 ini. Pemilukada akan menjadi pesta-pora koruptor, atas nama dana bantuan sosial dan hibah.

      Ditambah lagi, Pemilu 2014 semakin dekat, partai-partai politik, berikut elit-elitnya akan bekerja ekstra mengumpulkan modal agar di pemilu nanti tidak jadi pecundang, alias tetap berkuasa, bahkan bila perlu ekspansi seluas-luasnya. Jangan lupa, ke-7 partai politik yang “menyumbang” koruptor dipastikan bakal naik panggung lagi di Pemilu 2014. Jika tak ada perubahan, berdasarkan hasil verifikasi faktual KPU, pemilu mendatang hanya diikuti 10 kontestan, 7 yang tersebut di atas, plus PPP, Hanura dan Nasdem. Welhadalhah, cilaka...cilaka...cilaka...!

      Mestinya 24 bukanlah angka yang besar, tapi ingat, itu baru yang kelihatan. Di mana-mana, yang tersembunyi pasti jauh lebih banyak berlipat-lipat. Bisa jadi, dan sepertinya makin menjadi-jadi, mereka  yang kotor jauh lebih besar dari yang bersih. Pemimpin abal-abal jauh lebih banyak dari pemimpin otentik. Mungkin 10:1, 100:1 atau 1000:1. Lho, kok gitu? Ya memang gitu. Kalau nggak gitu ya nggak bakalan jadi gini. Korupsi dan koruptor nyaris menjadi tradisi abadi.

      Mati satu tumbuh seribu. Patah tumbuh hilang berganti. Salah lu sendiri mau hidup di negeri ini. Jadi rakyat memang kasihan, sudah jadi korban, masih pula disalahkan. Tapi nyatanya, bukankah kita sebagai rakyat berandil besar dalam menjaga kelangsungan regenerasi koruptor? Tak ada bantuan kalau tak ada penerima bantuan. Tak ada hibah kalau tak ada penerima hibah. Tak ada pembelian suara kalau tak ada penjual suara. Wani piro?

      Lihatlah pilgub, pilbuta (pemilihan bupati-walikota) dan pilkades. Mana ada yang steril dari politik uang? Calon pemimpin dan rakyat setali tiga uang. Transaksional, jual-beli, dagang sapi. Kedua pihak berkontribusi, berkolaborasi dan berkonspirasi atas nama demokrasi. Blaiii... beranikah kita dengan tegas berkata no pada korupsi? Beranikah kita menolak tawaran “kesepakatan setan” ketika ada pembelian suara?

     Beranikah kita berkata, “Tidak. Terima kasih, saya akan pilih yang sesuai dengan hati nurani saya, bukan demi selembar uang atau harta!” Jika “Terima uangnya, jangan pilih orangnya” itu masih bau-bau tipu, karena kita hanya akan menjadi pengkhianat bagi orang jahat. Kenapa tidak katakan “Jangan terima uangnya, jangan pilih pula orangnya”? Bukankah itu lebih baik dan lebih selamat? 

     Kita merindukan pemimpin otentik yang murni mengemban amanat kekuasaan rakyat dan menunaikannya hingga tuntas tak berampas. Tapi kita juga berperan menciptakan pemimpin seperti itu, pemimpin suci layaknya nabi-nabi, lewat “fair game” demokrasi beretika nurani, manifestasi vox populi vox dei. Kembali kepada siklus telur dan ayam. Omne vivum ex ovo. Telur keluar dari ayam. Pemimpin lahir dari rakyat.

      Daulat rakyat res-publica, rakyat sebagai pemilik sah republik ini. Rakyat berkuasa menentukan baik-buruknya nasib dan masa depan negara-bangsa, dimulai dengan mengamanatkan suara. Akhir baik, jika dan hanya jika berasal dari awal baik. Selembar suara yang kita berikan di bilik suara, akan merevolusi bangsa, jika dan hanya jika di awali dengan cara baik. Bukan karena di jual, bukan pula digadaikan. Semoga kesadaran membangunkan kita dari tidur panjang, untuk mengawali seleksi pemimpin murni, steril dari politik jual-beli.

Salam...
El Jeffry


No comments:

Post a Comment