Wednesday, January 16, 2013

Lidah Daming dan Potret Jenaka Hukum



 “Lidah orang bijak ada di belakang otaknya. Sedang otak orang pandir ada di belakang lidahnya.”

    Potret jenaka hukum terkini di negeri kita. Salah seorang yang berprofesi sebagai orang bijak, ternyata tak selamanya bijak dalam berkata-kata. Adalah Muhammad Daming Sunusi, calon hakim agung yang “apes” dengan insiden blunder lidah saat uji kepatutan dan kelayakan di depan komisi III DPR RI pada Senin, 14 Januari 2013. Alkisah, hakim Daming melakukan “kesalahan fatal” ketika menjawab pertanyaan anggota komisi hukum tentang hukuman mati bagi pemerkosa.

     Alih-alih menyatakan ketidaksetujuan jika pemerkosa dihukum mati, Daming mengemukakan “alasan logis” yang membuat miris. Dalam kasus pemerkosaan, “yang memperkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati.” Haha. Jawaban cerdas untuk mencairkan ketegangan, katanya. Daming lupa siapa dirinya, apa profesinya, dan tujuannya datang ke Senayan.

     Daming (pasti) lupa bahwa ia adalah seorang hakim yang menjadi “delegasi Tuhan” Al-Hakim untuk menjadi pengadil bagi perkara-perkara manusia di dunia. Daming (juga pasti) lupa bahwa hakim bukanlah sekadar kosa kata “hukum-hikmah-mahkamah,” yang ditranselirasikan dalam bahasa Indonesia sebagai kearifan-kebijaksanaan. Arif-bijaksana adalah “kasta” tertinggi derajat manusia, bahkan masih lebih tinggi dari orang berilmu (alim-cendekia-intelektual).

     Ketika seseorang berani mengambil profesi sebagai hakim, ia mestinya siap dengan resiko terbesar yang pernah diamanatkan ke pundak manusia. Hakim nyaris saja mewakili “hak prerogatif” Tuhan. Dengan keputusannya, seorang hakim bisa menentukan “hidup dan mati” manusia. Karena itu seorang hakim juga mesti bersiap dituntut untuk sempurna, karena ia bukan manusia biasa, tak boleh keliru, apalagi kekeliruan disengaja.

     Hakim adalah profesi paling menjanjikan yang bisa  mengangkat derajat hakiki kemuliaan manusia, sekaligus paling mengerikan yang bisa membenamkan derajat ke tempat serendah-rendahnya. Kaki seorang hakim menginjak di garis perbatasan surga dan neraka, dan ayunan langkahnya tergantung dari keputusan dari ketukan palu di meja pengadilan.

     Pernyataan miris “mengiris-iris” seorang Daming membuat kita bertanya-tanya, sedemikian parahkah “kerusakan otak (akal sehat)” seorang hakim sehingga gagal kontrol atas lidahnya? Padahal, sebagai hakim, Daming telah menggeluti profesi hampir 40 tahun sejak 1984 dan kini menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Palembang. Lalu kita terseret ke dalam pusaran pertanyaan berikutnya, inikah potret hakim di negeri kita? Dan lebih luas lagi, inikah potret hukum di negeri kita yang jenaka, “main-main” dan cuma canda belaka?

     Kita lantas mahfum dengan keadaan miris ini, sebab berita buruk tentang “hakim-hakim nakal” yang mengkhianati hukum dan keadilan bukan hal jarang didengar. Ada hakim yang “bisa dibeli,” hakim korup, hakim narkoba, dan berita buruk lain yang kontraproduktif dan kontarindikatif dengan profesi hakim sebagai “wakil Tuhan” penegak keadilan antar manusia.

     Daming boleh berkilah bahwa itu adalah canda pelepas ketegangan atas pertanyaan-pertanyaan berat saat uji kepatutan dan kelayakan. Untuk satu hal, “blunder lidah” Daming  membuka wajah asli sang hakim sendiri bahwa ia masih jauh dari patut dan layak menjadi hakim agung. Apa jadinya Mahkamah Agung jika diisi oleh hakim-hakim yang jauh dari sifat-sifat dan perilaku agung-adiluhung, termasuk dalam lidahnya?

     Kita tidak menafikan kalau masih ada hakim-hakim berintegritas yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agung “hakim-hukum-mahkamah.” Tapi Daming sepertinya menjadi selembar potret kecil dari album tebal sebagian besar hakim di negeri ini. Jika kita coba menyelinap ke balik kaca mata pikir dan logika Daming, akan ada korelasi erat dengan fenomena “gagal hukum” negara kita dalam memerangi korupsi.

     Korupsi, dengan “logika canda” Daming sebagai “pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati,” akan menjadi fakta, ketika ia bersimbiosis mutualis dalam bentuk suap dan segala pecahan kosakatanya. Filosofi suap didasari oleh persekutuan jahat kedua pihak, penyuap dan yang disuap. Dalam suap, “yang menyuap dan yang disuap sama-sama menikmati.” Padahal, pemerkosaan dan suap adalah dua hal berbeda. Namun sayangnya, Daming sepertinya telah terindoktrinasi “logika dasar” suap (dan korupsi), bahwa “ penjual kejahatan dan pembeli kejahatan sama-sama menikmati harta hasil kejahatannya.

     Lalu di mana “otak” (akal sehat-hati nurani) seorang hakim yang “berkaca mata” seperti hakim Daming ini? Kita tak menuduh bahwa Daming “membenarkan” suap sebagaimana ia ‘membenarkan” pemerkosaan, karena itu hanya canda, lagipula ia telah meminta maaf atas kesalahan lidahnya. Tapi ”logika gila” inilah yang (sangat mungkin) menjadi sumber bencana bagi hukum dan keadilan di negeri ini.

     Kita lalu mahfum kembali jika ternyata kita secara tak sadar telah nguri-uri (memelihara) korupsi agar tetap abadi di negeri ini. Hukum gagal memberi efek jera. Koruptor makin cerdas dalam kalkulasi, tertangkap atau tidak, masih tetap mendapat laba. Kalaupun sedikit sial, penjara tak cukup menjadi penjera. Sayangnya, wacana hukuman mati bagi koruptor mentah-kaprah, seperti halnya ketidaksetujuan lewat kaca mata Daming, inisiator kejahatan dan pengikut kejahatan (yang sebagiannya korban) dianggap sama-sama untung, nikmat.

     Wong nggak ada yang dirugikan, kok kita repot-repot menegakkan keadilan? Sepertinya hakim Daming lupa pada “kehakiman”nya dengan menggebyah-uyah insiden hubungan badan, tak bisa membedakan antara pemerkosaan dengan perzinaan (prostitusi). Bisa jadi, hakim-hakim (nakal) yan lain punya “kaca mata baca” yang sama dengan Daming,  bahwa korupsi (suap dengan segala pecahan kosa katanya) punya analogi yang sama dengan perzinahan.

    Kejahatan ya memang kejahatan, tapi “penyuap dan yang disuap sama-sama nikmat,” jadi ya wajar dan boleh-boleh saja dihukum ringan, kalau perlu dibebaskan. Hukuman mati itu bertentangan dengan nilai keadilan itu sendiri. Contoh kecil, perihal vonis Angie. Vonis ringan hakim terhadap koruptor ini dengan dalih “tidak merugikan uang negara” adalah kosa kata lain dari “hukum sama-sama nikmat.”

     Dalam kasus Angie, hakim berdalih, bahwa yang dirugikan adalah perusahaan swasta, jadi Angie tidak bersalah terhadap negara. Hakim (mungkin) lupa, bahwa ada keterkaitan erat antara swasta dengan negara, meskipun kadang tidak secara langsung, dari pajak salah satunya misalnya. Bila pajak dikemplang, (karena uang miliaran untuk menyuap sudah pasti lolos dari pajak), bagaimana bisa dikatakan negara tidak dirugikan? Bagaimana kalau jumlahnya triliunan?

     Hukum memang sangat jenaka di negeri ini. Dan hakim memberi kontribusi tinggi atas kejenakaannya, dengan satu contoh “blunder lidah” Daming. Fiat justitia roat caelum. Tegakkan hukum walau langit runtuh. Bagaimana akan tegak bila para hakim sebagai tiang-tiang pancang penegak keadilan gagal profesi? Sadar tak sadar, sebenarnya kita sendiri yang telah merobohkan hukum. Sementara, langit di angkasa masih tegak perkasa, sampai Tuhan Al-Hakim merobohkannya saat kiamat tiba. Sudahkah kita merasakan sebagian dari tanda-tandanya?

Salam...
El Jeffry

  

3 comments:

  1. menggila benar. Hakim saja seperti ini, seolah segala keprihatinan dinegeri ini hanya sebuah permainan

    ReplyDelete
  2. saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya IBU WINDA posisi sekarang di malaysia
      bekerja sebagai ibu rumah tangga gaji tidak seberapa
      setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
      sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
      sempat saya putus asah dan secara kebetulan
      saya buka FB ada seseorng berkomentar
      tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
      melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
      karna di malaysia ada pemasangan
      jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
      saya minta angka sama AKI NAWE
      angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
      terima kasih banyak AKI
      kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
      rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
      bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
      terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
      jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS KAMI PESUGIHAN TAMPA TUMBAL
      tak ada salahnya anda coba
      karna prediksi AKI tidak perna meleset
      saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan

      Delete