Wednesday, December 21, 2016

Kursi pun Bersujud




     Semula ia hanya sebilah papan tak berarti apa-apa dan tak berdaya. Namun ketika dua tangan seorang tukang meraihnya, memotong-motong dengan ukuran tertentu, menyerutnya, merangkai bagian demi bagian, mengukir dan menghias tampilannya, tiba- tiba ia berubah menjadi sesuatu yang baru, sebuah kursi indah tercipta.

     Ia tak pernah meminta dan mengharap untuk diciptakan, tapi juga ia tak kuasa menolak ketika sang tukang berkehendak untuk satu tujuan, “Aku ingin menciptakan sebuah tempat duduk yang indah dan sempurna...” Semua terjadi begitu saja. Gerak-gerik tangan sang maestro dengan pengetahuan pertukangan tak bisa dicegah oleh si kursi. Ia mengukir, menghias, penuh ketekunan dan kesabaran, ia tiupkan nuansa seni dan cinta dalam setiap goresannya, selesai.

     Sang tukang berdecak, kagum terhadap kreasinya. “Duhai indahnya engkau kursiku, kini engkau berhutang jasa padaku,semula engkau tak ada, dulu hanya sebilah papan tak berguna, kini engkau berubah menjadi barang berharga. Ya, berharga, tapi aku berhak atas dirimu, tunduklah pada perintahku, jadilah kursi yang baik sebagaimana tujuanku menciptakan engkau, sujudlah padaku... “

     Kursi itu tak bisa apa-apa kecuali patuh pada perintah sang tukang. Tak ada tawar menawar, sebab keputusan telah dibuat, dan itu adalah otoritas sang tukang. Tak ada pilihan kecuali patuh pada perintah. Kursipun bersujud. Sujud dengan bahasa yang dipahami oleh sang tukang dan si kursi. 

     Bukan sujud seperti gerakan manusia menyentuhkan kepala sejajar kaki di atas tanah. Sujud dengan cara si kursi. Kepatuhan. Penghormatan. Ketaatan pada kemauan dan kehendak sang tukang yang telah menciptakan. Patuh menjalankan fungsi sebagai tempat duduk.

     Selamanya, selamanya kursi tak pernah melawan. Ia tak berjalan kecuali diperjalankan. Ia tak bergerak kecuali digerakkan. Dan ia bahkan tak berdaya saat putaran waktu merenggut keindahan dan fungsinya, lapuk dimakan usia, rapuh tak berguna, ia tetap menurut saja diremukkan dan dilemparkan ke dalam tungku sebagai kayu bakar. Kursi tetap patuh. Sujud, taat dan tunduk pada kehendak tukang, sebab ia tak punya pilihan.

     Penciptaan manusia sama halnya dengan penciptaan kursi. Hanya bedanya manusia punya pilihan. Boleh sujud, boleh ingkar. Boleh patuh, boleh melanggar. Boleh taat, boleh khianat. Boleh menurut, boleh membantah.

    Tuhan pencipta manusia telah menitipkan kehendak dalam setiap jiwa. Kehendak bebas. Itu ada di dalam hati. Pilihan- pilihan dengan aturan yang telah ditetapkan. Masing-masing ada konsekuensi yang tak bisa diubah. Ada sebab, ada akibat. Hukum tetap. Takdir. Manusia bebas memilih, apakah ia akan menjadi sebagai kursi yang terpajang indah di beranda rumah, atau dilemparkan ke dalam tungku sebagai bahan bakar. Surga atau neraka, hanya ditentukan oleh dua pilihan, sujud, atau ingkar....***

El Jeffry


2 comments:

  1. menarik, maknanya ternyata luas sekali menjangkau pengertian yg dalam

    ReplyDelete
  2. saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    ReplyDelete