Tuesday, January 1, 2013

Kado Ganda Hatta Rajasa: Pintar tidak “Bejo”?




       Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keberuntungan dan kemalangan adalah dua sisi ganda misterius yang bekerja secara tak terduga. Kebaikan bisa tiba-tiba  hadir tanpa diminta, keburukan dan musibah bisa tiba-tiba hadir pula tanpa bisa ditolak. Bahkan tak jarang, keduanya hadir bersamaan atau beriringan dalam jarak waktu hanya sekitar sepekan. Keduanya juga independen dari keberpihakan kasta manusia, tidak tebang pilih atau pandang bulu. Tak peduli pengamen atau presiden, rakyat melarat atau pejabat konglomerat, tukang parkir atau politisi.

      Tak terkecuali Menko Perekonomian yang juga sekaligus politisi PAN Hatta Rajasa. Hanya dalam tempo sepekan, di hari-hari pancaroba pergantian tahun 2012-2013, Hatta Rajasa memperoleh kado ganda dengan isi yang saling bertolak belakang. Ibarat hitam-putih, positif-negatif, keberuntungan-kemalangan, keduanya datang beriringan tanpa diminta dan direncanakan. Dari mana lagi datangnya kalau bukan dari keluarga, yakni kedua anaknya, Sitti Ruby Aliya Radjasa dan Rasyid Amrullah Radjasa.

      Kado pertama datang pada Senin, 24 Desember 2012 dengan kelahiran cucu pertama hasil pernikahan putrinya dengan putra Presiden SBY Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Airlangga Satriadhi Yodhoyono, demikian nama sang cucu, bukan hanya sebagai penerus trah Yudhoyono, tapi juga sekaligus trah Radjasa. Sebagai manusia biasa, cucu adalah anugerah tiada tara yang disambut dengan syukur alhamdulillah dan sukacita luar biasa. Sebagai salah satu tokoh pemimpin, Hatta Radjasa mengharapkan sang cucu agar kelak menjadi penerus, pemimpin keluarga dan pemimpin bangsa.  

      Malang tak dapat ditolak, belum habis masa suka cita, kado kedua datang dalam bentuk musibah. Tepat di hari pertama tahun 2013, Selasa, pukul 05.45 putra bungsu Hatta, Rasyid Amrullah Radjasa terlibat dalam kecelakaan “BMW Maut”. Seperti diwartakan pengemudi BMW B 272 HR menabrak bagian belakang mobil Daihatsu Luxio F 1622 CY bermuatan 10 penumpang yang dikemudikan Frans Joner Sirait di Tol Jagorawi arah Bogor. Dari hasil pemeriksaan awal terhadap para saksi dan penelitian di lokasi kejadian, kecelakaan terjadi akibat Rasyid Amrullah Radjasa mengantuk saat mengemudi. Dua korban tewas, tiga luka-luka.

       Kini, Rasyid Amirulloh Rajasa mesti bersiap menghadapi tuntutan dari pihak keluarga korban. Anak polah bapa kepradhah. Baik buruk tingkah anak, sang bapak tentunya akan terbawa-bawa. Terlebih jika musibah menimpa sang anak yang masih belia di usia 22. Sebagaimana anugerah anak adalah anugerah orang tua, musibah anak juga adalah musibah orang tua. Kado ganda Hatta Radjasa di hari-hari pancaroba pergantian tahun, sukacita kado cucu dari Aliya dan duka cita kado BMW maut dari Rasyid.

      Akankah insiden “BMW Maut” sang anak di jalanan akan berpengaruh pada sang bapak di panggung politik-kekuasaan? Bisa ya, bisa tidak. Sebagai salah satu dari kandidat capres yang diperhitungkan bakal meramaikan laga perebutan kursi RI1 2014, Hatta Rajasa tentu tengah dalam sorotan kamera jutaan mata. Gerak-gerik, pernak-pernik, hingga aksi akrobatik di dalam dan di luar dunia politik pastinya menarik perhatian publik. Sebuah kesalahan bisa berakibat fatal bagi masa depan politik Hatta.

       Sebagai pejabat publik, politisi dan besan presiden, insiden “BMW Maut” tentunya juga akan mendapatkan porsi perhatian lebih dari media. Bila ditemukan unsur kejahatan di dalamnya, meskipun tidak terlibat secara langsung, suka tak suka Hatta Radjasa akan terbawa-bawa. Karena anak adalah sebagian dari tanggung jawab manusia, setidaknya sebagai pemimpin keluarga. Keberhasilan dan tanggung jawab keluarga adalah modal pertama seorang pemimpin untuk berhasil dan bertanggung jawab memimpin keluarga besar negara.

       Akhirnya, semoga kado ganda Hatta Radjasa memberi sedikit pelajaran berharga bagi kita. Bahwa begitu banyak rencana, tapi ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Keberuntungan dan kemalangan adalah satu paket yang selalu berpasangan, ia bisa datang dalam jarak berjauhan, berdekatan, atau kadang bersamaan. Bila keberuntungan belum waktunya datang, maka tak ada yang bisa meraihnya. Dan bila kemalangan (musibah) telah tiba, maka tak ada yang bisa menghindarinya.

      Meminjam slogan iklan obat anti masuk angin, “Orang bejo (beruntung) lebih baik dari orang pintar,” kita berharap lebih baik memilih menjadi orang beruntung dari orang pintar. Sebab, banyak orang pintar di negeri ini, tapi tidak membawa bejo (keberuntungan-kesejahteraan), justru membawa apes (kemalangan-musibah) rakyat banyak. Bejo imitasi, nepotisme (plus korupsi dan kolusi) hanya menguntungkan segelintir kelompok dan keluarga.

       Di sisi lain, banyak orang tidak terlalu pintar tapi mampu melimpahkan bejo (keberuntungan-kesejahteraan) bagi orang banyak, hanya dengan kepintaran yang hanya beberapa kadar. Kado ganda Hatta Radjasa mungkin menjadi contoh kecil kasus orang pintar yang sedang tidak bejo. Adakah ini suatu firasat peruntungan seorang Hatta Radjasa dalam beberapa tahun ke depan, sebagai kepala keluarga, Ketua PAN, menteri dan kandidat presiden RI?

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment