Tuesday, January 8, 2013

Insiden Tucuxi Dahlan “Direncanakan”?


Tucuxi Ringsek Pasca Insiden
Sumber image: newsdetik.com

     Percayakah Anda bahwa setiap kejadian di dunia ini terjadi secara kebetulan, alias tidak direncanakan terlebih dahulu? Anda boleh percaya atau tidak percaya, bahwa ada skenario “misterius” di balik setiap peristiwa, gerak-diamnya manusia dan benda-benda yang ada di dunia dan alam semesta. Termasuk dalam insiden kecelakaan mobil listrik “ferrary” Tucuxi milik Menteri BUMN Dahlan Iskan Sabtu 5 Januari lalu.

     Mungkinkah ada faktor kesengajaan dari insiden Tucuxi ini, alias sesuatu yang telah direncanakan, baik oleh Dahlan Iskan sendiri, atau oleh kekuatan di luar kendali Dahlan dan kita semua, bahkan seluruh manusia di dunia? Mari kita sedikit menyusup dengan agak hati-hati, adanya kemungkinan dari perencanaan dalam insiden ini. Mungkin darinya kita akan mendapatkan secuil pelajaran berharga, meski tanpa bermaksud berprasangka tidak-tidak, menghakimi, apalagi menjadikan musibah sebagai komoditi politisasi.

     Pertama, bahwa insiden ini telah direncanakan, "ferrary" Tucuxi sedang dalam masa ujicoba coba 1.000 km. Namanya ujicoba, tentu mobil kebanggaan karya anak bangsa ini belum teruji sebelum dicoba, alias belum belum memenuhi kriteria standar keamanan bagi pemakainya. Artinya, kecelakaan akibat kesalahan teknis sudah bisa diduga sebelumnya. Kenapa penguji coba mesti Pak Menteri sendiri, bukan orang lain yang memang khusus ahlinya?

     Dahlan adalah pejabat negara yang keselamatannya penting dijaga dari ancaman yang tidak semestinya, apalagi kecelakaan di jalan raya. Tapi kenapa Dahlan seolah ngotot mengambil resiko tinggi, menantang maut, mengendara mobil “percobaan” seakan benar-benar siap menghadapi kemungkinan terburuk? Inilah alasan adanya kemungkinan perencanaan di dalamnya.

     Kedua, terkait dengan rencana Dahlan Iskan menjadi presiden RI 2014. Nama Dahlan santer diberitakan di media massa sebagai salah satu tokoh terpopuler Kandidat Capres 2014. Mengingat tiadanya “kendaraan” politik yang menjadi prasyarat berlaga di pilpres, sedangkan ia menegaskan tidak akan ngoyo “menjajakan diri” kepada parpol-parpol untuk meminangnya, maka Dahlan butuh kendaraan alternatif.

      Proyek mobil listrik Tucuxi (kemungkinan) direncanakan Dahlan sebagai kendaraan untuk mengukuhkan posisi tawar di market rakyat. Dahlan paling berkepentingan dengan proyek ini, maka ia berani mempertaruhkan apapun, termasuk nyawanya sendiri, demi “gol indah” proyek ini. Dengan hendak menunjukkan kepada 250 juta manusia Indonesia bahwa ia konsisten berkomitmen terhadap ge(b)rakan visioner-revolusioner, mempersembahkan karya terbaik anak bangsa.

     Dengan mengendarai sendiri, Dahlan hendak menunjukkan aksi “heroisme” dengan menabrakkan Tucuxi mirip aksi-aksi meloloskan diri dari maut ala Ethan Hunt dalam film Mission Impossible. Dalam hal ini, skenario dirancang rapi, agar insiden terjadi secara dramatis, tapi tetap happy ending dengan selamatnya jagoan dari maut. Dipilihlah jalur yang tepat dan lokasi yang tepat, ditabrakkanlah mobil ke tebing.

      Alasan ketiga, melengkapi alasan kedua, kesengajaan ditabrakkannya Tucuxi ke tebing hingga mobil ringsek. Menghindari korban yang lebih besar, kata Dahlan. Alasan yang bisa dibenarkan dan baik pula. Dahlan memang luar biasa dalam menempatkan arti pentingnya keselamatan sesama, hingga rela “mengorbankan dirinya. Itu adalah contoh altruisme seorang pemimpin sejati, implementasi salus populi suprema lex, keselamatan publik hukum tertinggi. Heroisme plus altruisme, lengkap sudah Dahlan memainkan lakon kepahlawanan dan kepemimpinan.

      Alasan keempat, insiden Tucuxi Dahlan telah direncana (tepatnya diduga) dengan adanya prosesi “ruwat murwakala” sebelumnya oleh “dalang setan” Manteb Sudarsono. Sebagai mastro tolak bala berkelas nasional, Pak Manteb mungkin bisa “membaca masa depan” akan adanya “gangguan setan” (dhedhemit, genderuwo atau buto utusan betoro kolo) yang bakal mengganggu kelancaran dan keselamatan ujicoba Dahlan. Prosesi ruwatan mobil mandi kembang 4 sumur dilakukan. Ketika akhirnya “gagal ruwat” dengan tetap terjadinya kecelakaan, Pak Manteb enteng berkilah, “Yang diruwat itu kan manusianya, bukan mobilnya, sebab benda mati tidak bisa diruwat” Ngeles atau memang benar, nyatanya Pak Menteri tetap selamat meski mobil ringsek. Pak Manteb pancen oye


      
 
Ruwat Murwakala Tucuxi oleh “Dalang Setan” Manteb Sudarsono
Sumber image: metrotvnews.com

       Namanya mitos, mikire ojo atos-atos (jangan dipikirnya terlalu keras-serius). Ruwatan itu memang berbau klenis dan mistis, tapi namanya gugon tuhon, boleh digugu dan dituhankan (dipercaya dan diyakini). Percayanya Dahlan pada mitos, klenis dan mistis juga sah-sah saja, tak melanggar hukum negara. Kalau ia percaya, kenapa orang lain repot? Toh itu urusan pribadi Dahlan dengan Tuhannya. Termasuk pula percayanya Dahlan pada mitos apes pada angka 13 di tahun 2013 ini. Bahwa untuk menghindari bala kesialan ekonomi bangsa, sebut saja tahun ini tahun 2012 B.

     Alasan kelima, insiden direncanakan sebagai tangkisan atas seketa dengan Danet Suryatama. Sebelumnya, Danet menuding Dahlan mencuri hak intelektual, membongkar mesin mobil “ferrary listrik” karyanya. Ada kemungkinan, Dahlan (dituding) “mengutak-utik” mesin mobil untuk keperluan skenario kecelakaan, rem blong dan sebagainya (tapi penumpang dirancang tetap selamat). Dengan ringseknya Tucuxi, publik akan menganggap mobil listrik karya Danet masih butuh riset lebih lanjut untuk penyempurnaan. Dahlan sendiri telah menghabiskan Rp. 3 miliar untuk membiayai riset selama ini, dan dengan kemampuan finansialnya, ia tentu akan sanggup membiayai sampai tuntas proyek mobil listrik ini.

     Dahlan adalah seorang pengusaha sukses yang fenomenal membawa Jawa Pos “lolos dari maut” pada 1982, secara spektakuler “menyulap” oplah dari 6.000 eksemplar menjadi 300.000 eksemplar dalam 5 tahun. Darinya terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia dengan 134 surat kabar, tabloid dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Dahlan juga sukses mendirikan gedung pencakar langit Graha Pena di Surabaya dan yang serupa di Jakarta, stasiun televisi (JTV-Surabaya, Batam TV dan Riau TV), komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya-Hongkong dengan panjang serat optik 4.300 km.

      Ketajaman insting kewartawanan dan naluri kepengusahaan membawa Dahlan sukses menjadi “raja media” Indonesia. Lalu negara merekrutnya dengan diangkat menjadi dirut PLN pada 2009, untuk kemudian menjadi Menteri BUMN pada 2011. Yakinkah Anda bahwa semua itu kebetulan? Kalau Anda bilang kebetulan, Anda akan ditertawakan oleh para pengusaha sukses. “Pantes saja ente miskin mulu, abis cuma mengandalkan faktor kebetulan, sih.” Kesuksesan adalah garis panjang dari ribuan titik perjuangan, taktik-teknik, strategi, pengelolaan, kengototan, kecerdikan, dan tentu saja, perencanaan matang!

     Ada begitu banyak pelajaran dari sejarah panjang Dahlan Iskan, dengan ge(b)rakan fenomenal dan spektakuler, kesemangatan pantang menyerah, keberanian mendobrak kebuntuan “zona nayaman,” lengkap dengan kontroversinya perihal sesuatu yang tak lumrah, nyeleneh dan nganeh-anehi. Termasuk ketika sukses memasuki lingkaran kekuasaan istana sebagai menteri di kabinet SBY, Dahlan sempat bersitegang dengan DPR lewat “ocehan panas” kepada wakil rakyat sebagai komunitas pemeras BUMN. Ahlan Wa Sahlan, Ya Dahlan Iskan di Negeri Kemunafikan.

Dahlan Iskan bersama mobil kebanggaannya.
Sumber image: merdeka.com


     Walhasil, di negeri munafik, kita hanya berharap agar Dahlan tidak terseret dalam pusaran beliung kekumuhan politik dan jerat kuat lingkaran setan kekuasaan. Kita merindukan pemimpin otentik yang murni memperjuangkan rakyat. Kita bosan dengan dengan polah pemimpin imitasi yang kerap mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk pemenuhan syahwat ambisi pribadi. Kita juga alergi dengan bakteri-bakteri demokrasi, pengacau tatanan serasi profesi pengusaha-politisi, elit-pemimpin yang menjadikan politik demokrasi sebagai kendaraan “berdaya setrum tinggi” untuk memperkuat kerajaan bisnis pribadi.

      Akhirulkalam, semoga kita bisa menangkap pesan hikmah dari insiden Tucuxi Dahlan. Bahwa memang tidak ada satupun butir zarrah peristiwa di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Yang pasti (bagi yang meyakini), ada skenario besar dari Yang Maha Berencana. Hanya atas izin dan kehendak-Nya gerak-diam manusia dan benda-benda. Hanya sebagiannya saja peristiwa yang merupakan buah asli dari rencana manusia. Selebihnya, Tuhan yang bekerja dan menentukan hasil akhirnya. Menjadi pengusaha sukses, raja media, menteri, industri mobil listrik dalam negeri, hingga presiden RI, atau apa saja rencana manusia dalam kehidupan ini.

     Intisarinya, untuk kemaslahatan publik mesti berawal dari rencana (niat) yang maslahat dan proses yang maslahat pula. Yang baik diterima jika dan hanya jika berasal dari yang baik dan berjalan dengan cara baik. Semoga insiden ini bukan ujicoba kesengajaan yang telah direncanakan, untuk tujuan bisnis dan kepentingan politis pribadi. Semoga pula sepak terjang Dahlan Iskan selama ini bukan bagian dari rangkaian “rencana baik” yang dilakukan dengan “cara buruk.” Karena bila itu yang terjadi, panas setahun akan terhapus hujan sehari, kebaikan bertahun akan terhapus oleh keburukan sehari, lewat satu insiden kecil mobil listrik “ferrary” Tucuxi.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment