Friday, January 11, 2013

Inikah Tuah 5 “Jurus Bela Diri” Angie?



      Hukum negara, sebagai salah satu pecahan dari hukum semesta, tak bisa terlepas dari hukum klasik ”pertarungan kebenaran” antar manusia. Demi keadilan, semua yang bersengketa berhak melakukan segala upaya. Jaksa berhak menuntut, terdakwa berhak membela diri. Tak terkecuali politisi selebriti Angelina Patricia Pingkan Sondakh, alias Angie. Hari ini, Kamis, 10 Januari 2013, Angie  menghadapi vonis dalam “pertarungan kebenaran” melawan tuntutan jaksa di Pengadilan Tipikor, terkait kasus suap Kemendiknas dan Kemenpora.

      Angie terbukti melakukan tindak pidana korupsi, palu diketukkan, vonis pun dijatuhkan. Angie diganjar hukuman 4,5 tahun penjara plus denda Rp. 250 juta subsider 6 bulan penjara. Vonis ini (jauh) lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK, yakni hukuman 12 tahun penjara, denda Rp. 500 juta subsider 6 bulan kurungan dan membayar uang pengganti Rp. 32 miliar subsider 2 tahun penjara. Adakah vonis ini kemenangan Angie, tuah “jurus-jurus bela diri” dalam “pertarungan kebenaran” selama ini? Atau lebih luas, adakah vonis ini suatu pertanda “kemenangan koruptor” atas hukum di negeri ini?

      Mari sejenak merunut ke belakang, karena vonis hari ini adalah rangkaian dari pertarungan panjang hukum, Angie dan seluruh anak negeri dalam satu lingkaran setan korupsi. Konsekuensi asas praduga tak bersalah, seseorang dianggap tidak bersalah sebelum ada kekuatan hukum tetap yang menyatakan dia bersalah. Meja pengadilan kini menjadi “meja pertarungan” untuk memutuskan siapa benar siapa salah. Dalam pertarungan, tak ada yang rela jadi pecundang. Benar-salah urusan belakang, termasuk bagi Angie.

      “Jurus-jurus bela diri” Angie (tentu bersama kuasa hukumnya), sejatinya telah mulai dimainkan begitu genderang “pertarungan kebenaran” ditabuh pada sidang perdana hari Kamis, 6 September 2012 silam. “Jurus bela diri” pertama Angie mainkan dengan menghadirkan nuansa simbolik spiritual keislaman dalam persidangan. Angie selalu tak lupa membawa tasbih, termasuk saat membacakan nota keberatan (eksepsi) di sidang lanjutan pada Kamis, 13 September 2012.

      Apa arti sebuah tasbih? Tentu sangat berarti di negeri mayoritas muslim. Tasbih adalah simbol kesucian, simbol pengingat Tuhan. Simbol-simbol keislaman, pada saat yang tepat akan menjadi alat efektif menyelamatkan diri dari ancaman bahaya. Tragedi kerusuhan Mei 1998 bernuansa SARA misalnya, simbol keislaman seperti sajadah dan lafazh Qur’an terbukti menyelamatkan sebagian etnis Tionghoa dari amuk massa. Entah kini Angie telah taubat nasuha lalu dekat dengan Tuhannya atau apa, hanya dia dan Dia yang tahu.

       “Jurus bela diri” kedua Angie selanjutnya dimainkan oleh kuasa hukumnya, Teuku Nasrullah, di saat dan tempat yang sama. Masih mengusung tema spiritual keislaman, Nasrullah bertaushiah tentang sengketa khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pemuda Yahudi. Baju perang sang khalifah hilang, persidangan digelar, pemuda Yahudi tersangka, Ali sebagai saksi korban. Ali, meskipun seorang khalifah, namun tidak mempunyai bukti sah dan kuat bahwa baju itu miliknya, maka pemuda Yahudi pun dibebaskan.

      Kebenaran materil (baju milik Ali) harus dibuktikan oleh kebenaran formil (bukti dan keterangan saksi). Ketika keduanya tak sejalan, maka tegaknya kebenaran formil harus diutamakan. Sepertinya ini “jurus bela diri” yang bertuah dan mumpuni, mengingat korupsi adalah kejahatan “kasta tinggi” yang penuh misteri. Mencari bukti dan saksi dalam kasus korupsi, sama saja mencari jarum di antara tumpukan jerami. Sampai-sampai kita tergoda untuk menyangka kontribusi makhluk halus dalam menyembunyikan kasus korupsi. Masa iya sih jin terlibat korupsi?

      “Jurus bela diri” ketiga Angie mainkan sebulan kemudian dalam sidang lanjutan, kembali pada hari Kamis, 11 Oktober 2012, lewat fragmen emosional misteri air mata. Drama seka air mata ini tiga kali disuguhkan saat hakim memberikan kesempatan bertanya kepada saksi Mindo Rosalina Manulang. Padahal, drama air mata tersangka atau terdakwa, khususnya kasus korupsi bukan hal pertama terjadi, apalagi jika yang terjerat adalah seorang wanita. 
Drama Air Mata Hartati Murdaya contohnya.

      Di awal September 2012, Tersangka kasus suap Bupati Buol ini juga menggelar drama sama dalam pemeriksaan perdana. Entah efektif atau tidak, tapi jurus bela diri air mata masih lumayan “seksi” bagi kaum batari durga dalam memancing emosi untuk mendulang simpati. Bukankah ada yang berkata kalau wanita identik dengan air mata? Jujur atau pura-pura, alami atau rekayasa, spontanitas atau terencana, air mata tetaplah air mata, ada seribu misteri di baliknya.
      
 “Jurus bela diri” keempat Angie mainkan sebagai lanjutan dari jurus ketiga, emosional sebagai senjata bernama cinta. Dalam sidang pembelaan (pleidoi) di pengadilan Tipikor pekan silam, lagi-lagi hari Kamis, 3 januari 2013, Angie  membawa kedua anak tirinya, Zahwa (11) dan Aliya (10).  tak peduli bahwa kehadiran anak-anak dalam persidangan tidak sehat bagi kondisi psikologis mereka. Yang Angie tahu, tidak ada larangan anak untuk ikut dalam persidangan.

       Angie mengirim massage, bahwa kekuatan cinta akan mengalahkan segalanya. Apalagi, selain kedua anak itu, masih ada satu lagi anak kandungnya, Keanu Massaid yang baru 4 tahun. Sebagai seorang single parent, kehadiran Angie mutlak dibutuhkan anak-anaknya. Bagaimana nasib mereka dan siapa yang merawat dan membimbingnya jika kelak ibunya mendekam di penjara? Sementara cinta-kasih ibu tak pernah tergantikan oleh siapapun manusia di dunia. Kehadiran anak adalah “jurus bela diri” bertuah untuk menggugah simpati.

       “Jurus bela diri” kelima pun Angie mainkan, masih di saat dan tempat yang sama, ketika membacakan pleidoi di ruang persidangan. Angie membeberkan citra positif  diri dan hidupnya, sejumlah prestasi yang diraihnya sejak kecil hingga menjadi anggota DPR. Angie menjelaskan, bahwa masuk ia ke dunia politik pada 2003 dengan tujuan mulia, pengabdian memperjuangkan agenda kebijakan bagi masyarakat banyak. Angie menilai dirinya cukup berhasil dalam memperjuangkan sejumlah agenda bagi kepentingan masyarakat banyak. Angie ingin mengingatkan, bahwa “Anda harus fair dan rasional dalam menilai seseorang, jangan hanya melihat sisi buruk dan kejahatannya, tapi lihat pula catatan prestasi dan sisi kebaikannya.”

       Jika melihat vonis yang jauh dari tuntutan jaksa, sepertinya “jurus-jurus bela diri” Angie bertuah juga. Angie sukses memainkan tiga serangkai spiritual-emosional-rasional tepat di hari Kamis, dengan 5 “jurus bela diri” bertuah dalam tasbih, taushiah, air mata, anak-anak dan prestasi masa lalu. Angie memenangkan “pertarungan kebenaran” di meja pengadilan, meskipun dengan melihat dari kaca matanya sendiri, itu belumlah kemenangan. Maka ia masih pikir-pikir dulu atas putusan sidang.

      Angie merasa masih kalah, sebab ia yakin tak merasa bersalah. Kemenangan baginya adalah kebebasan dan berkumpul kembali dengan anak-anak, barangkali. Sementara bagi kita, mayoritas publik-rakyat negeri ini melihat dengan kaca mata berbeda, vonis atas Angie adalah kekalahan hukum atas koruptor. Atau kekalahan mayoritas atas segelintir. Atau kekalahan kebenaran materiil atas kebenaran formil. Kemenangan bagi kita adalah vonis seberat-beratnya atau seadil-adilnya? demi efek jera. Seumur hidup, bila perlu hukuman mati, atau paling tidak sesuai tuntutan jaksa.

      Kini, tak penting lagi siapa menang-siapa kalah, karena hukum bukan sekadar perkara menang-kalah, sebab masing-masing pihak akan berupaya dengan segala cara untuk menang. Hukum adalah “pertarungan kebenaran” di mana mekanisme pertahanan diri dengan aksi bela diri akan terlibat abadi. Dikarenakan akalnya, manusia telah “didaulat” Tuhan sebagai makhluk paling sempurna. Akal sehat atau tidak sehat, manusia punya naluri membela diri agar selamat dari “serangan lawan,” termasuk dari jeratan kasus korupsi seperti Angie.

      Kita hanya merindukan tegaknya keadilan di negeri ini, khususnya dalam “pertarungan abadi” melawan “setan korupsi.” Dan “pertarungan kebenaran” di meja pengadilan akan terus ada hingga kiamat tiba. Kita hanya bisa mengikuti kelanjutan ceritanya, sambil sebisanya berdoa. Fiat justitia roat caelum. Tegakkan hukum walau langit runtuh. Semoga kita tak akan pernah putus asa untuk memperjuangkannya, meski pada realitanya, sampai detik ini langit dunia masih tegak, sementara tiang-tiang pancang bangunan hukum di negeri ini justru kita runtuhkan sendiri, kita sadari, atau tanpa kita sadari.

Salam...
El Jeffry

No comments:

Post a Comment