Wednesday, January 2, 2013

Imbas Politik “BMW Maut” Bagi Hatta Rajasa



     Siapa bilang masalah pribadi dan keluarga tidak boleh terbawa-bawa ke masalah politik dan negara? So, politisasi sudah hampir pasti bakal terjadi, terlebih bila ia seorang politisi, menteri, ketua partai, kandidat capres pula seperti Hatta Rajasa. Dalam sekitar sepekan, di hari-hari pergantian tahun 2012-2013, Kado Ganda Hatta Rajasa cukup menghentak kita. Kado pertama datang Senin, 24 Desember 2012 dengan kelahiran cucu pertama hasil pernikahan sang putri, Sitti Ruby Aliya Rajasa dengan putra presiden SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Kado kedua datang tepat di tahun baru, 1 Januari 2013 dengan insiden “BMW Maut” sang putra bungsu, Rasyid Amrullah Rajasa.

       Bila dilihat dari perihal privacy-public, kedua kado Hatta Rajasa mungkin murni urusan privacy dan keluarga. Tapi, sebagai public figure dan pemimpin yang berurusan dengan hajat hidup orang banyak, sudah menjadi konsekuensi logis jika sebagian besar privacynya telah “tergadai” oleh publik. Mantu dan besanan adalah urusan pribadi dan keluarga. Tapi ketika yang mantu itu seorang menteri sekaligus ketua partai dan besannya seorang presiden sekaligus ketua dewan pembina partai yang (kebetulan) berkoalisi dalam pemerintahan, pergeseran opini publik dari privacy ke politik adalah keniscayaan.

       Buktinya, pernikahan Ibas-Aliya setahun silam santer dikait-kaitkan dengan isu strategi “pernikahan politik” untuk kedua keluarga memperkuat kolaborasi kekuasaan. Benar atau tidaknya, yang Mahatahu hanya Tuhan. Manusia hanya melihat, membaca dan mengamati gerak laku para politisi, lalu sedikit membuat asumsi, opini dan teori, muncullah istilah politisasi. Politisasi seharusnya bukan basa-basi bagi seorang politisi. Kalau alergi politisasi, jadilah tukang becak, pedagang bakso atau petani, jangan jadi politisi.

      Lihatlah hebohnya kasus “nikah (sirri) kilat” Bupati Garut Aceng Fikri. Pernikahan dan perceraian adalah urusan privacy, yang seharusnya tak seorangpun berhak mencampuri, apalagi yang tidak punya kompetensi. Tapi nyatanya, sang bupati tidak bisa berlindung di balik benteng privacy untuk bisa selamat dari deraan politisasi. Privacy berbuntut panjang, dengan gelombang unjuk rasa warga dan upaya pemakzulan oleh pansus DPRD. Warga dan DPRD punya kompetensi untuk turut campur pada wilayah privacy sang bupati. Bukankah demikian alur cerita seharusnya?

       Insiden “BMW Maut” anak Hatta Rajasa adalah urusan privacy Hatta Rajasa. Tapi ketika ia menimpa seseorang yang melibatkan kompetensi politis jutaan jiwa manusia, sebagai menteri, ketua partai dan kandidat capres 2014, privacy sudah sewajarnya akan tergeser oleh ragam asumsi, opini dan teori dalam bentuk politisasi. Apalagi pemilu 2014 kian mendekat. Kompetisi politik yang ekstra tajam dan dari hari ke hari semakin memanas, memaksa para “pecandu politik-kekuasaan” untuk pintar-pintar memanfaatkan momentum, kadang tak peduli halal-haram, tak peduli pula untuk mengemas musibah sebagai senjata.

       Di dunia “politik lalat,” menari-nari bergembira di atas luka duka-cita orang lain adalah hal lumrah. Di dunia “politik serigala,” memangsa domba-domba dan saling memangsa serigala adalah absah. Tak hanya domba-domba rakyat kecil yang dijadikan korban kebuasan hasrat kekuasaan, lawan politik juga “wajib hukumnya” dihancurkan dengan segala cara untuk sebuah kemenangan. Musibah “BMW Maut” keluarga Hatta Rajasa, suka tak suka berpeluang membuka celah serangan politik dari berbagai penjuru.

       Tapi jangan terburu-buru bersyak-wasangka negatif dulu dengan politisasi. Sebab politisasi adalah pisau bermata ganda. Man behind the gun.  Sebagai alat dan senjata, ia bisa membawa keburukan dan kebaikan, tergantung niatan pemegangnya. Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa, termasuk bilapun ia berupa musibah. Musibah dan anugerah sejatinya sama dan sebangun, sebagai sesuatu yang menimpa manusia, hanya berbeda penyikapan semata. Musibah juga ibarat pisau bermata ganda. Ia bisa membawa kehancuran sekaligus kekuatan dan kebangkitan manusia yang ditimpanya.

       Bukan hanya publik dan lawan politik yang berhak mempolitisasi musibah ini, tapi Hatta Rajasa sendiri justru lebih berhak “memainkan” iramanya. Anda tak akan pernah tahu kadar kualitas dan kearif-bijaksanaan seorang pemimpin sebelum Anda melihat sendiri ia ditimpa ujian besar. Musibah yang menimpa Hatta Rajasa juga adalah ujian nyata untuk mengukur sampai di mana seorang yang “merasa layak” memimpin negara. Sanggup atau tidaknya Hatta Rajasa tepat, adil dan bijak mengatasi masalah keluarga, yang berkaitan dengan masalah korban orang lain, hukum dan keadilan dalam satu kasus kecelakaan lalulintas.

       Bagi Hatta Rajasa, musibah “BWM Maut” bisa berakibat fatal dan kehancuran karier politik bila ia salah dalam penyikapan dan penanganan. Politisasi hanya alat pelengkap untuk mempertegasnya bagi publik di media massa. Sebaliknya, bila Hatta Rajasa tepat, adil dan bijak dalam menyikapi dan menanganinya, musibah ini justru akan menguatkan eksistensinya sebagai politisi, menguatnya elektabilitas dan citra serta memperbesar peluang menjadi presiden RI 2014. Ketepatan, keadilan dan kebijakan Hatta Rajasa juga tak mustahl berimbas pada citra elit politisi, citra partai (PAN), citra pejabat-birokrat, termasuk citra pemerintahan yang semakin hari semakin krisis kepercayaan, buah karma dari kerusakan dan pembusukan elit-pemimpin-politisi.

      Dalam carut-marut multi dimensional problematika bangsa, khususnya dalam hukum dan keadilan, negeri ini merindukan sosok pemimpin yang otentik ber-ruh keadilan dan bersukma kerakyatan. Musibah “BMW maut” hanya salah satu ujian bagi Hatta Rajasa untuk membuktikan dirinya sebagai calon pemimpin sejati dengan menyerahkan urusan sepenuhnya kepada hukum di negeri ini, tanpa “adigang-adigung-adiguna” intervensi bertameng jabatan dan kekuasaan. Seperti ketika Muhammad saw berkata, “Jika Fatimah putri Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Pertanyaannya, sanggupkah Hatta Rajasa mencontoh keteladanan Nabinya? 

Salam...
El Jeffry



No comments:

Post a Comment