Friday, January 4, 2013

Dilematika Rhoma: Nada Politik Berirama Dosa



     Melihat kekukuhan nyapres-nya siraja, adakah Rhoma berambisi jadi presiden? Jawaban yang sudah terduga. Adakah orang berambisi mengaku, terlebih bila ia seorang politisi ahli diplomasi? Apalagi pula ia seorang da’i? Mosok da’i berambisi, da’i itu mesti ikhlas lillahi ta’ala dalam segala perkara, hanya Allah, Tuhan tujuan satu-satunya. Soal keseriusan, Rhoma mengaku. Menjadi presiden itu murni dorongan umat, ulama dan politikus Senayan. Umat mana, ulama dan politikus mana, tak penting kita menjawabnya. Sebab ada beratus juta umat, berjuta ulama dan beribu politikus di negeri ini.

       Rhoma pantang mundur, sebab bila mundur berarti desersi. Ngotot? Tentu saja. Untuk perjuangan berlandas keyakinan, ngotot itu diwajibkan. Bicara tentang kengototan, Rhoma lantas bicara tentang dosa. Sebab katanya eh katanya, karena nyapres itu atas dorongan umat dan ulama, berarti amanat dari Allah, maka Rhoma merasa berdosa jika menolaknya. Dan bicara tentang dosa, maka kalimat akan melebar ke mana-mana.

      Susahnya menangkap kata-kata dari orang berprofesi rangkap tiga. Apakah ia tengah berbicara sebagai da’i (ulama), penyanyi atau politisi? Jika ia sebagai da’i, “wajib hukumnya” kita percaya, meski realitanya banyak ulama (syu’-jahat) di negeri ini yang itonisnya justru lebih jago berbuat dosa, korupsi Depag contohnya(ta). Jika ia bicara sebagai penyanyi, masih tanda tanya. Sebab lagu dan syair hanyalah kreasi seni belaka, “tidak wajib hukumnya” berkesesuaian dengan perilaku penciptanya, apalagi bila telah dikomersilkan.

      Jika Rhoma bicara sebagai politisi, seberapa besarkah pengaruh kosakata dosa pada perilaku pemain politik terkini di negeri ini. Bicara dosa, bicara agama. Bicara agama, bicara Tuhan, setan, malaikat dan surga-neraka. Lalu apa dalih kita jika pada praktiknya nilai-nilai luhur-suci agama gagal mentransformasi ke dunia politik-tatanegara? Paradoks usang. Kesalehan ritual-seremonial terkurung dalam penjara tekstual, kesalehan sosial-komunal membumbung tinggi ke angkasa. Jauh panggang dari api.

     Jangankan politisi, agamawan saja keteteran membendung invasi balatentara setan. Sumpah telah menjadi sampah. Kitab suci dikorupsi. Agama tinggal wacana, dogma dan terma, ruhnya kering di realita. Dosa, berikut siksa neraka sebagai ancamannya tak sanggup membuat efek jera manusia. Ketika Rhoma bicara tentang (rasa) berdosa, kita tersudut di kerucut dilematika agama dalam negara. Pemimpin mana yang mesti dipilih oleh seorang muslim, muslim zalim atau kafir adil? Di titik mana dosa bertempat agar ada keseimbangan neraca? Mungkin kita (sesekali) harus mengaku kegagalan dalam dunia, gagal negara, gagal agama dan gagal manusia.

     Irama dosa bagi nada lagu politik Rhoma adalah dilematika terbesar bangsa dalam pencarian bentuk terbaik negara. Irama dosa ini pula yang membawa Rhoma nyaris membakar keindahan kebhinnekaan dan demokrasi pada pilkada DKI silam. Mari sejenak membaca dilema di balik air mata Rhoma, ketika siraja menitikkan air mata di hadapan Panwaslu atas jeratan kasus ceramah SARA. Darinya kita akan bisa merasakan, betapa kita terjebak dalam kebingungan untuk mempertemukan 3 dimensi profesi dalam satu titik ideal.

     Air mata Rhoma, air mata dilema. Ada kesedihan, keharuan, kebingunagan dan ragam tanda tanya. Intinya, pergulatan profesi antara dai, penyanyi atau politisi. Nada politik dalam irama dosa telah coba Rhoma mainkan untuk “mengancam” pendukung Jokowi-Ahok. “...konsekuensin muslim memilih pemimpin non-muslim, ia menjadi musuh Allah.” Memilih Ahok (yang Kristen) menjadi musuh Allah, musuh Islam yang notabene pendosa, dan layak diperangi pula.

     Irama dosa menjadi bias ketika di saat yang sama Rhoma memfitnah orang tua Jokowi sebagai Kristen, meskipun pada akhirnya (dengan terpaksa) meminta maaf, itupun terkesan basa-basi. Bukankah dosa fitnah lebih besar dari pembunuhan? Di mana pula irama dosa dimainkan ketika dari hembusan isu SARA sedikit banyak menimbulkan keresahan dan ketersinggungan jutaan manusia? Ketika akhirnya “ancaman dosa” tak mempan, Jokowi-Ahok tetap menang juga. Mesti berkata Rhoma apa pada dunia?

     Lebih jauh lagi, kita berkelana dalam dunia syair dan lirik lagu. Di mana irama dosa ketika kata tidak selaras dengan perbuatan? Ada 685 lagu dan 10 film. Semua berisi kata-kata dan perilaku, meski hanya bohong-bohongan dalam lakon-akting. Adakah Rhoma akan “melarikan diri” kepada alibi bahwa yang ini hanyalah kreasi seni yang “tidak wajib” berkesesuaian dengan perilaku sehari-hari? Sementara, di sisi lain, untuk kepentingan elektabilitas di panggung politik, Rhoma mengklaim telah 40 tahun membina bangsa dan berdakwah lewat lagu?

     Di mana pula irama dosa dimainkan ketika di awal-awal karier masa muda, Rhoma mengumbar syair-syair cinta remaja, asyik-masyuknya berpacaran, begadang, berjoged dan bersenang-senang melupakan utang segudang, menggoda dan merayu perempuan di jalanan tanpa kesopanan bak laki kampungan?  Di mana irama dosa ketika beradegan mesra di film dengan wanita-wanita bukan muhrim? It’s okey, jika itu masa lalu. Tiada manusia tak bersalah dan tak berdosa. Cukup satu kali kehilangan tongkat, jangan dua kali. Masalahnya, sudahkah Rhoma tetap memegang tongkat dan konsisten bertaubat?

     Bicara nyanyian, dosa, taubat nasuha, mungkin Rhoma perlu belajar dari Hari Moekti, rocker “Ada Kamu” yang kini total undur diri dari profesi seni untuk berkonsentrasi dakwah sebagai muballigh. Meskipun tidak gebyah uyah mengharamkan lagu, tergantung dari efek mudlarat dari lirik dan aksi panggung, Hari Moekti kabarnya telah “mengharamkan” rezeki dari profesi menyanyi.  Bagi Rhoma, bila ia konsisten dengan irama dosa, termasuk dalam nada politik, akan lebih elegan bila selektif “mengharamkan” lagu tempo doeloe yang berbau maksiat tapi terlanjur memasyarakat.

     Rhoma juga bisa “memfatwakan” kepada umat bahwa film-film tertentu terselip unsur maksiat, menyensor ulang seluruh filmnya, dan stop memakan rezeki dari hak cipta. Bila itu dilakukannya, mungkin Rhoma tak akan sempat bernyanyi lagi, mencipta lagu baru, apalagi bermimpi menjadi presiden RI karena disibukkan dengan “pencucian dosa” selama 40 berkelana di gemerlap panggung hiburan menjual suara. Sebagai seorang selebriti, dosa satu kata akan berimbas pada jutaan manusia.

     Tak hanya pahala yang memberi “royalti” pada seseorang dengan satu kata kebaikan dan manfaat, tak putus hingga hari kiamat. Keburukan dan mudlarat dalam satuan dosa juga ada “royalti” sama. Dan sebagai ulama, Rhoma tentu lebih mengetahuinya. Terbukti ketika berpolemik dengan Inul Daratista, Bang Haji tegas mengharamkan “si goyang ngebor” menyanyikan lagu-lagunya. Dalilnya, “efek dosa” goyangan porno Inul berakibat pada kasus pemerkosaan.

     Belum lagi kontroversi nikah siri dan poligami. Adakah dari kedua area ini Bang Haji benar-benar telah lolos dari kemungkinan dosa karena begitu beratnya meletakkan neraca keadilan bagi wanita-wanita, anak-anak dan keluarga? Tapi kita tak akan memainkan dawai asmara di sana, karena bisa saja itu wilayah privacy yang “tidak wajib” publik campuri. Aah, bicara dosa nggak bakal ada habisnya. Sama saja bicara Rhoma dengan segala tingkah-polahnya dalam dunia film, tarik suara, dakwah agama dan kegaduhan politik sebagai kandidat capres dalam orkestra tatanegara.

       Dilematika Rhoma, dilematika kita, dilematika umat-bangsa, agama, negara dan manusia. Pahala dan dosa adalah satuan nada dan irama dalam orkestra besar dunia mayapada. Hanya saja, dalam kekumuhan dan pembusukan politik yang semakin parah secara sistemik-sistematik dan terstruktur-terkultur, kadang kita bermimpi untuk sejenak saja merasakan nikmatnya “rumah surga” nusantara-zamrud khatulistiwa.

     Kehadiran Rhoma dengan nada politik berirama dosa adalah sedikit ujian kita mengali kedewasaan berpolitik-bernegara. Tahun 2014, akan tergenapi satu oktaf regenerasi pemimpin negeri, do-re-mi-fa-sol-la-si, 7 notasi presiden menjelang 7 dekade kemerdekaan. Satu dari 250 juta manusia Indonesia bakal naik tahta menjadi raja, dirijen pertama dari jama’ah paduan suara rakyat dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Pulau Rote. Akankah nada politik dalam irama dosa Rhoma akan mengantarkannya menjadi presiden Republik Indonesia?

Salam...
El Jeffry



1 comment: