Wednesday, January 9, 2013

Dahlan dan Pelanggaran Berdalih Pengetahuan



Mobil Listrik "Farrafry" Tucuxi yang ringsek pasca insiden. 
Sumber image:kompas.com


     Lupakan wacana conspiracy theory dalam rangkaian kejanggalan dan keanehan pra-insiden Tuxuci yang memunculkan prasangka-tanya Insiden Tucuxi Dahlan “Direncanakan.” Tidak semua dari kita sanggup memilah antara sikap kritis-analitis dengan prasangka negatif-provokatif. Karena para “Dahlanisti” tak akan suka mendengar-bacanya. Tak akan mudah membuka mata ketika kita sudah membabi buta “memberhalakan” manusia, terlebih ketika yang nampak oleh penglihatan telanjang adalah sepak-terjang nyata dan sumbangsih riil bagi bangsa, seperti seorang Dahlan Iskan.

     Orang bijak berkata, jangan pernah curiga sepenuhnya kepada seseorang, tapi sisakan sedikit rasa percaya. Dan jangan pernah percaya sepenuhnya kepada seseorang, tapi sisakan sedikit rasa curiga. Tak terkecuali seorang Dahan Iskan, kita percaya akan ghirah dan semangat perjuangan berlandas pengabdian untuk kemaslahatan umat-publik. Sebagai seorang pewarta berita, pengusaha “raja media” sukses dan pejabat negara berintegritas, kita memberi apresiasi tertinggi.

     Tapi insiden Tucuxi tetaplah insiden, suatu accident, kecelakaan yang meskipun terlihat sekilas accidental, tapi tidak mutlak independen sebagai kebetulan, alias tidak terlepas total dari rencana atau tindakan menyengaja. Kita percaya bahwa ngototnya Dahlan untuk goal-nya proyek mobil listrik ini adalah dalam kerangka niat baik mendongkrak kasta bangsa dalam industri mobil mewah dunia. Dan pemanfaatan teknologi tenaga tenaga listrik adalah langkah visioner-revolusioner antisipatif atas ancaman “keringnya” sumber energi BBM dari perut bumi (pertiwi).

     Tapi rasa percaya mesti ditempatkan dalam proporsi tepat dengan kadar tertentu, sisakan sedikit waspada. Atau secara ekstrem, secuil curiga, ketika ada sesuatu yang tampak menyimpang dari tata aturan yang ada. Di Negeri Kemunafikan, beda tipis antara waspada dan prasangka, setipis pula beda antara kejujuran dan kedunguan. Ketika hedonisme menyudutkan kemurnian eksistensi manusia beretika, hasil akhir “wajib hukumnya” jadi prioritas pertama, pelanggaran tata-aturan proses mencapai tujuan sudah niscaya.

     Menabrakkan mobil ke tebing. Di satu sisi adalah accident (musibah-kebetulan), karena (hampir pasti) Dahlan tidak mengharapkan, apalagi merencanakannya. Hanya orang gila saja yang berencana mencelakakan dirinya, meskipun pada praktiknya banyak tindakan gila dilakukan oleh orang-orang waras. Bom mobil, bom bunuh diri (bom syahid) dan harakiri adalah sebagian diantara “tindakan gila” yang dilakukan dengan kesengajaan dan kesadaran penuh untuk satu tujuan tertentu, yang tentu diyakini pelakunya sebagai tindakan baik dan benar.

Dahlan Iskan bersama "Farrafry" Tucuxi kebanggaannya.
Sumber image:merdeka.com
 
   Tanpa bermaksud menyamakan dengan “bom bunuh diri,” namun ketika rem blong lalu menabrakkan mobil ke tebing, ada tindak menyengaja Dahlan (secara insidental-spontan) dengan niat menghindari korban yang lebih besar. Kita melihatnya sebagai altruisme-heroisme, ciri khas tindak luhur pemimpin sejati, demi keselamatan orang lain rela mengorbankan diri. Justru jika tindakan ini bukan berdasarkan niat dan kesengajaan, maka itu bukan termasuk pengorbanan-kepahlawanan, tak lebih dari kebetulan belaka.

     Nuansa berbeda ketika dengan selamatnya dari “insiden maut” Tucuxi, Dahlan nyatakan sendiri sebagai “bonus” hidup kedua pemberian Tuhan. Artinya, tidak ada perencanaan, dugaan atau kesengajaan bagi Dahlan untuk tetap hidup, karena hanya ada dua kemungkianan dalam insiden, hidup atau mati, dan Tuhan Yang Maha Berencana menyelamatkan hidupnya. Di sinilah konsistensi pernyataan seorang Dahlan tengah “diujicoba,” oleh Tuhan, lewat secuil peristiwa di dunia, di bawah hukum alam yang telah Dia tetapkan.

     Bila melihat rekam perjalanan yang kental godokan nilai-nilai agama, kita percaya akan kualitas spiritualitas seorang Dahlan Iskan. Tentunya ia menyadari, bahwa tak ada kebetulan di dunia ini. Semua berjalan di bawah rancangan tetap, hukum tetap berikut buah karma dari proses panjang melewati garis takdir ketetapan Tuhan. Dahlan percaya bahwa jika Tuhan menghendaki untuk menjadi Presiden RI, maka tak ada seorangpun manusia (dan jin) sanggup menjegalnya. Dahlan tinggal menjalani takdir, akan menjadi presiden, atau tidak pernah sama sekali.  

     Maka ia tegaskan tak pernah ngoyo menjual diri ke parpol-parpol untuk mencari dukungan politik. Ia juga tak perlu berpayah-payah mencitrakan diri dengan pelibatan media untuk mem-blow up sepak terjangnya di panggung politik-kekuasaan. Becik ketitik, olo ketoro. Baik buruk akan terbuka pada saatnya. Sopo nandur bakal ngundhuh, siapa menanam akan menuai buah. Kita percaya filosofi baik-buruk telah dipahami benar oleh Dahlan. Bahwa segala ucap-tindak-laku manusia adalah desain karma yang akan berbalas setimpal sebagai upahnya.

     Tunduk-patuh-taat pada tata-aturan, akan berbuah kemenangan dan keberhasilan. Nikmat-surga. Melawan-melanggar-durhaka, akan berbuah kekalahan dan kegagalan. Siksa-neraka. Dalam insiden Tucuxi, kita mendapati sederet pelanggaran pada Dahlan dalam ujicoba tanpa “stuntman” hingga berbuah insiden. Dahlan melanggar UU LLAJ terkait kelalaian yang menyebabkan kecelakaan serta melanggar aturan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dengan plat bodong DI 19.

     Diruntut lebih jauh, meski masih dalam sengketa yang belum diketahui pasti duduk perkaranya dan siapa benar-siapa salahnya, bisa jadi, insiden ini adalah efek domino dari pelanggaran etika kerja sama Dahlan Iskan dengan Danet Suryatama. Seperti diberitakan, Danet menuduh Dahlan melanggar hak cipta (teknologi) mobil listrik buatannya dengan membongkar, mengutak-utik (termasuk memodifikasi rem) dan menjiplak teknologinya.

      Dahlan menampik tuduhan pencurian ini, dan menolak tudingan modifikasi rem hingga blong yang berakibat kecelakaan. Menurutnya, ia hanya meraparasi dan kecelakaan terjadi karena mesin mobil Tucuxi tidak memakai gear box. Di sisi lain, dengan insiden ini, Dahlan menyadari kelemahan teknologi Tucuxi. Insiden telah “menyetrum” kesadaran Dahlan untuk siap “rujuk” dengan Danet, apalagi Danet kini tengah menyiapkan mobil tandingan Tucuxi. Insiden ini juga “menyetrum” ego Dahlan, dengan pengakuan sadar melanggar aturan dan siap menerima konsekuensinya, tapi ia menolak tuduhan sebagai sebuah kejahatan. 

Dahlan Iskan bersama "Farrafry" Tucuxi kebanggaannya.
Sumber image:merdeka.com

     Untuk semua itu, kita lega dan berbangga, masih ada jiwa ksatria dalam diri Dahlan. Tapi dengan dalih pelanggaran demi ilmu pengetahuan, kita kehilangan arah pemahaman jati diri Dahlan Iskan. Untuk pembenaran sebuah pelanggaran, Dahlan menegaskan bahwa ia sudah mengabdikan tubuhnya untuk ilmu pengetahuan. Maka ia setir sendiri mobil itu, sebab kalau ia menyuruh orang lain, berarti ia menyuruh orang lain mati. Tidakkah itu berarti seolah Dahlan tahu, berencana atau setidaknya menduga, bahwa insiden ini bakal terjadi?  

     Coba kita lihat “skenario B”, andai insiden tidak terjadi, dan ujicoba 1.ooo km lancar tanpa halangan suatu apa. Akankah Dahlan masih membuka diri untuk “rujuk” dengan Danet, karena tanpanya “ferrary” listrik itu tetap mulus juga? Tidakkah “dalang setan” Manteb Sudarsono akan berkata ruwat murwakala adalah garansi selamat dari malapetaka, dan bahwa mobil pun bisa diruwat, tak hanya manusia? Tidakkah Dahlan akan mengatakan, bahwa pelanggaran sah-sah saja, demi kebaikan dan ilmu pengetahuan, asal berhati-hati dan tidak berbuah kecelakaan?

     Tapi “skenario B” tidak pernah terjadi, karena “akting A” akan berjalan sesuai pakem “skenario A.” Hukum berikut tata-aturan dan buah karma A berlaku tetap untuk peristiwa A, mustahil tertukar ke peristiwa B. Memang tidak ada garansi bahwa jika Dahlan tunduk-patuh-taat pada tata aturan A akan serta merta memperoleh hasil sempurna, tepat 100% sesuai rencana. Karena di balik rencana manusia ada kekuatan besar rencana lain, Tuhan Yang Maha Berencana dengan skenario sempurna. Tidak tergantung dari prosesi ruwat tolak bala ala “dalang setan,” tidak dari sesajen, tidak pula conspiracy dan makar manusia.

     Hanya saja, hasil baik “wajib hukumnya” berasal dari niat baik plus proses baik pula. Kesuksesan sejati bukan diukur dari secepat mana dan sebesar apa hasil dicapai dan diperoleh, tapi dari seberapa besar kadar kebaikan niat dan kadar ketunduk-patuh-taatan tata-aturan prosesnya. Tak ada dalih ilmu pengetahuan atau pengalaman untuk pembenaran sebuah pelanggaran. Karena pelanggaran sendiri adalah hulu dari sungai ketidaktahuan dan ketidaksadaran, yang akan bermuara pada satu kejadian buruk, cepat atau lambat, terencana atau insidental, dalam bentuk musibah atau insiden. Bisakah ketidaktahuan dan ketidaksadaran berbuah pengetahuan dan kesadaran?

Salam...
El Jeffry




1 comment:

  1. eToro is the #1 forex trading platform for new and advanced traders.

    ReplyDelete