Saturday, January 12, 2013

Cicak-Buaya dan “Ramalan” Iwan Fals 1992



 
Iwan Fals di antara 12 Elemen Ksatria Nusantara.
Sumber image insert: 4.bp.blogspot.com


     Tahukah kita kalau 20-an tahun silam Iwan Fals telah “meramalkan” drama sengketa KPK vs Polri berjudul “Cicak vs Buaya”? Drama tragedi khas negeri “baku bunuh” aparat dari dua lembaga penegakan hukum bahkan tergelar dua jilid. Jilid 1 pada 2009 dan jilid 2 pada 2012. Dan tidak mustahil akan berlanjut ke jilid 3, 4, 5 atau tak terhingga, meski kita berharap jikalau tragedi itu cukup sekali.

     Salah satu ramalan Iwan Fals 1992 yang nyambung, kalau tidak dikatakan akurat karena masih relevan dengan kondisi kekinian adalah lagu “Besar dan Kecil” dalam album “Belum Ada Judul” yang dirilis pada 1992. Inilah penggalan lirik lagunya:

Kau seperti buaya atau dinosaurus
Mentang mentang menakutkan makan sembarangan
Aku seperti cicak atau kadal buntung
Tubuhku kecil merengit sulit dapat untung

Pada siapa kumengadu?
Pada siapa kubertanya?

Mengapa besar selalu menang?
Bebas berbuat sewenang-wenang
Mengapa kecil selalu tersingkir?
Harus mengalah dan menyingkir

Apa bedanya besar dan kecil?
Semua itu hanya sebutan
Ya walau didalam kehidupan
Kenyataannya harus ada besar dan kecil

     Masih relevan bukan dengan sengketa KPK vs Polri dalam drama “Cicak vs Buaya”? Yang besar selalu menang, bebas berbuat sewenang-wenang. Yang kecil selalu tersingkir, harus mengalah dan menyingkir. Lalu pada siapa lagi kita bertanya dan mengadu, ketika KPK mesti bergerilya karena hanya dijadikan cicak permainan para buaya penguasa, meminjam tangan Polri untuk melegalkan kebuasannya? Legislatif-DPR, eksekutif-presiden dan yudikatif-kejaksaan-kepolisian nyaris setali tiga uang, tak jauh berbeda.

     Kiranya kita di sini tak bisa berbuat terlalu banyak kecuali menunggu takdir tiba dan berusaha sebisanya mengalihkan kepada takdir lain, seperti ramalan Iwan Fals (masih di album yang sama) dalam lagu lainnya, “Coretan di Dinding.” Ini adalah “ramalan” pemberontakan rakyat (di barisan cicak) pada kebuasan buaya (di barisan Polri dan penguasa). Dinding kota bukan lagi satu-satunya media, dinding Facebook kini lebih mak nyos sebagai tempat ekspresi “pemberontakan.”

     Ketika akses internet sudah sedemikian mudahnya, media jejaring sosial dunia maya adalah sarana efektif menyuarakan “pemberontakan” atas apa yang tersumbat di dunia nyata. Facebook dan jejaring sosial lainnya, termasuk Kompasiana, kini menjadi sarana efektif bagi “kaum cicak” untuk bersatu melawan “kaum buaya.” Inilah lirik lengkap dari lagu “Coretan di Dinding”:

Coretan di dinding
Membuat resah
Resah hati pencoret
Mungkin ingin tampil

Tapi lebih resah
Pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok di tiap tempat sampah

Ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh
Coretan dinding kota

Coretan dinding
Terpojok ditempat sampah
Kucing hitam dan penindas
Sama sama resah

     Sebenarnya (khususnya bagi penggemar Iwan Fals), masih terlalu banyak lagu lain yang berisi “ramalan” kejadian hari ini. Terlalu banyak untuk disebutkan dan telah “terlalu dini” terdengar karena disuarakan bertahun-tahun sebelum peristiwa terjadi. Entah memang Iwan punya “terawangan” yang tajam atau sekadar kebetulan, tapi percayalah, di dunia ini tak ada yang kebetulan. Suara hati seorang seniman besar biasanya akan selalu relevan di setiap zaman.

     Jarum sejarah kadang memang aneh. Kadang terlihat sebagai desain acak seakan tak terencana, bergerak zigzag tak terbaca arahnya. Konon, yang bisa membaca geraknya ke depan hanya orang-orang yang memiliki penglihatan tajam “terawangan,” peramal, dukun atau paranormal. Padahal pada praktiknya ramalan mereka tak selalu nyambung antara dengan kenyataan.

      Namun kadang sejarah juga terlihat sebagai desain tertata dan teratur, seakan-akan terencana, bergerak dengan pola tertentu dan baku. Sehingga sebagian dari kita bisa membaca arah gerak ke depannya, alias meramalkan cikal-bakal dan alur kejadiannya. Kalangan seniman banyak dikenal memiliki “terawangan” tentang hal-ikhwal masa depan, kadang bahkan lebih tajam, lebih akurat dan lebih nyambung ketimbang paranormal.

      Iwan Fals adalah satu di antara seniman (baca: penyanyi) yang memiliki “terawangan” masa depan negeri ini. Lewat lagu-lagu yang terkumpul selama 4 dekade dalam 30-an albumnya sejak 1979, Iwan Fals mengabarkan pada dunia tentang potret buram negeri ini. Protes sosial dan politik yang pedas, tajam dan menghantam, terutama dalam lagu “Bento” dan “Bongkar” bersama SWAMI pada 90-an. Tak heran jika Iwan Fals tak jarang berurusan dengan penguasa (orde baru) pada saat itu.

     Iwan Fals, dengan masyarakat OI (Orang Indonesia)-nya adalah bagian dari masyarakat warga sejati berkeadaban, di antara 12 elemen ksatra nusantara. Percaya tak percaya, suka tak suka, sadar tak sadar, kita selalu membutuhkan karya-karya meraka untuk menyalakan tungku api kesadaran sebagai ruh perubahan, perbaikan dan pembaharuan bangsa.

Salam pembaharuan...
El Jeffry

1 comment: