Wednesday, January 16, 2013

Al-Baladil Amin, Ahsani Taqwim dan Asfala Safilin




      Semula manusia dicipta dengan sebaik-baik bentuk, sesempurna-sempurna rupa dan setinggi-tinggi citra, derajat makhluk paling mulia. Kemudian dihempaskan kembali kepada  titik terendah serendah-rendahnya, hina-dina. Seperti seekor rajawali yang terbang perkasa di langit tinggi lalu menukik tajam dan jatuh terkapar di atas tanah, aspal terbawah dari seluruh lapisan aspal di jalan, ‘asfala safilin’.

      Itulah aturan main yang telah Tuhan putuskan dalam kehidupan. Hukum tetap, hukum alam, rumus baku, ‘sunnatullah’, peraturan abadi, kaidah kebenaran hakiki, berlaku menyeluruh, global-universal-mondial tanpa bisa didustakan dan tak bisa disangkal. Siapa berani dan coba-coba mendustakan akan memetik karma balasan setimpal, hancur binasa, batal demi hukum, yang bathil akan musnah oleh hukum yang ‘haqq’.

      Tidak di Indonesia, Rusia, Irak, Kolombia, Somalia, atau Alaska. Tidak di Asia, Australia, Eropa, Afrika atau Amerika.Tidak pada kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Saba’, Fir’aun di masa lalu, kaum masa kini atau kaum-kaum di masa depan. Tidak satu jiwa manusia, satu keluarga dalam rumah tangga, satu kabilah dan suku bangsa, satu marga, satu umat, satu bangsa atau satu negara. Karma berlaku dalam ‘qadar’ ketetapan sampai kiamat tiba. Hukum tetap dari hakim di atas hakim, ‘ahkam-al-hakimin’, keputusan mahkamah azali.

     Al-balad-al-amin, negeri aman sentausa, zamrud khatulistiwa, ‘prototip taman surga’ di muka bumi, tanah ranah persada bumi nusantara, ‘rumah-ramah’ tempat ibu pertiwi melahirkan anak-anaknya dengan kelembutan kasih-sayang-cinta, gemah ripah loh jinawi, tata-titi-tentrem katata raharj.’ Bukan lautan, tapi kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa”.

    Bulan purnama bagi pungguk-pungguk bangsa di dunia, madu bagi semut-semut seluruh benua, imperialisme dan kolonialisme bangsa-bangsa Eropa, magnet raksasa bagi butir-butir besi umat manusia. Mercusuar peradaban dan kebudayaan tinggi. Kamus besar tutur kata-bahasa, norma dan budi pekerti luhur.  Tapi kini semua seakan tinggal legenda, cerita, dongeng sebelum tidur. Al-balad-al-amin, telah berubah menjadi asfala safilin, negeri aman sentausa menjadi rimba prahara-sengketa dan gubuk derita.

     Ketidakadilan penguasa, jerit keputus-asaan rakyat jelata, korupsi-kolusi-nepotisme, penindasan, kebrutalan, perzinahan, miras-narkoba, tawuran antar warga dan antar mahasiswa, pembodohan dan kebodohan, pemiskinan dan kemiskinan, kesesatan dan penyesatan, pengkhianatan nilai-nilai kemanusiaan, kesalahan berjama’ah, kemungkaran massal, dosa-dosa nasional. ‘Prototip taman surga’ menjadi ‘prototip lembah neraka’. Ahsani taqwim menjadi asfala safilin.

     Titik nadir bergulir. Sebaik-baik bentuk bangsa terjun bebas serendah-rendahnya. Objek pelecehan dunia, diremehkan negeri tetangga, tertatih-tatih di kawasan Asia, menghiba-hiba pada belas kasih pada Amerika dan Eropa. Nyaris-nyaris telanjang dari pakaian kemandirian dan jubah ‘prawira-ksatria’. Label kepecundangan bangsa mengancam bakal disematkan pada sejarah anak cucu, penerasi penerus di masa depan.

    Asfala safilin. Karma bagi pendustaan terhadap ad-din, agama, agem-ageman utama, pakaian utama. Karma dari blunder tradisi, hukum dan sistem berkeluarga dan bertata negara. Desa mawa cara, negara mawa tata. Seluruh unsur dan senyawa berkontribusi pada ‘galat’ tata negara, dari desa hingga ibu kota, dari satu jiwa hingga duaratus empat puluh juta jiwa.

     Asfala safilin. Karma bagi blingerologi, blingerisme dan blingerisasi, kekeliruan diagnosa, resep dan dosis pasien-pasien endemik masa lalu dan masa kini. Ghurur, tertipu oleh pesona buah tin, berebut kulit dan berlomba mengunyah dan menelannya mentah-mentah namun justru mengabaikan isi nutrisi dan gizi isi buahnya. Salah tata-tanam, tata-rawat, tata-olah dan tata-hidang buah zaitun, aroma harum minyak kebaikan itu menguap entah ke mana, yang menyebar bau busuk menusuk hidung dan memuat mual. ‘Spirit gunung sinai’ tak menyala, keberkahan itupun sirna, al-balad-al-amin hanya cita-cita, namun asfala safilin adalah azab-siksa yang segera dan nyata.

     Mimpi buruk hanya terjadi ketika manusia tertidur. Hanya satu cara untuk keluar darinya, bangun dan terjaga. Berdiri dan waspada. Nyebut, sadar, tahu diri, pembaharuan sikap ahti, introspeksi, muhasabah, lalu istighfar, mohon ampunan, ‘taubat massal-nasional’ dengan segera. Sesungguhnya neraca penentu harga karma itu hanya ada dua, ‘iman dan amal saleh’. Keyakinan akan Tuhan, Allah Yang Maha Bijaksana dan perbuatan kebajikan sebagai pembuktian nyata.

     Kombinasi-kolaborasi-koordinasi iman dan amal saleh adalah kewajiban ‘ain, keharusan bagi setiap jiwa, tiap individu, tiap pribadi. Iman membawa kepada optimisme, semangat berlomba dalam kebaikan, istabiqul khairat, mental positif dan jiwa ksatria-mujahidin untuk bekerja berjuang bangkit dari asfala safilin mengembalikan derajat ahsani taqwim bangsa.

      Jika seluruh manusia yang ada di negeri ini guyub-rukun, holopis kuntul baris memikul dan menebus bersama beban ‘dosa warisan dan dosa pribadi,’ berbaris rapi dalam shaf, merapatkan susunan dan meluruskan ‘kiblat’ pada satu  tujuan, rambate rata hayo. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, menghancurkan ideologi devide et impera, maka bangsa ini akan kembali berdiri tegak sebagai al-balad-al-amin, negeri aman lahir-batin, jiwa-raga, material-spiritual, cita-cita dan do’a bersama seluruh manusia Indonesia, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, negeri penuh kebaikan dan ampunan Tuhan.

Demi (buah) tin dan (buah) zaitu, demi bukit Sinai, demi negeri (Mekkah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) agama (hari pembalasan) setelah (keterangan-keterangan nyata) itu? Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil?” (QS At-Tiin : 1-8)

Salam...
El Jeffry 

2 comments:

  1. saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya IBU WINDA posisi sekarang di malaysia
      bekerja sebagai ibu rumah tangga gaji tidak seberapa
      setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
      sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
      sempat saya putus asah dan secara kebetulan
      saya buka FB ada seseorng berkomentar
      tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
      melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
      karna di malaysia ada pemasangan
      jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
      saya minta angka sama AKI NAWE
      angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
      terima kasih banyak AKI
      kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
      rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
      bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
      terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
      jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259 ATAU KLIK SITUS KAMI PESUGIHAN TAMPA TUMBAL
      tak ada salahnya anda coba
      karna prediksi AKI tidak perna meleset
      saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan

      Delete