Wednesday, December 26, 2012

Idealisme Tempe, Setan Senayan dan Lingkar Kekuasaan




      Ada fenomena menarik manusia dalam melakoni peran di dunia mayapada. Namanya juga mayapada, di balik realita nyata, pada dasarnya kehidupan adalah maya, semu, alias bayang-bayang belaka. Ibarat wayang, manusia hanya berpindah tempat dari kotak penyimpanan sang dalang, jejer sebentar di depan layar peran, lalu masuk kotak kembali setelah episode peran usai.

     Di layar peran kehidupan, Sang Maha Dalang pun memainkan peran manusia dalam tiga tahap lakon. Dari kotak, naik panggung, lalu kembali ke kotak lagi setelah peran selesai. Salah satu dari layar pertunjukan wayang-wayang manusia telah disiapkan. Sebagai prototip citra Tuhan Mahakuasa atas alam semesta, manusia dianugerahi peran termulia di antara makhluk dunia, yakni ego berkuasa.

     Yang menjadi aneh (meski sebenarnya tak aneh), di samping anugerah ego berkuasa, manusia juga diciptakan dengan tabiat pelupa. Seperti lupanya seorang dewasa, pada masa ketika masih berupa janin di dalam kegelapan rahim, atau lupanya lansia pikun pada masa hidupnya. Manusia ketika telah memasuki wilayah kekuasaan, juga cenderung lupa pada idealisme saat masih meringkuk di dalam kotak penyimpanan sebelum dimainkan.

     Di alam aktual negeri ini, terlalu banyak warta sejarah tentang lupanya manusia ketika dianugerahi peran kekuasaan. Lingkaran kekuasaan akan selalu menjadi episentrum pesona manusia sepanjang sejarah peradaban. Di alam demokrasi, legislatif dan eksekutif (dua dari tiga pilar negara) merupakan sentral magnetik berahi manusia, warisan klasik makhluk berpolitik yang cenderung suka berkuasa.

      Senayan dan istana sebagai simbolnya. Wakil rakyat, dewan terhormat, representasi keterwakilan-amanat rakyat dan pemerintah, para pemimpin pemegang mandat kekuasaan titipan rakyat. Terkumpul di sana para pejabat dan birokrat, pemegang pemerintahan dan birokrasi kekuasaan. Hanya saja, seiring dengan memudarnya nilai-nilai filosofi adiluhung notonagoro, Senayan dan istana kini menjadi pusaran jahiliyyah keterwakilan dan kekuasaan, atas nama demokrasi, politik dan republik.

     Sudah menjadi hukum alam lakon yang pasti, tapi kita selalu tergelitik untuk melontarkan pertanyaan abadi mengapa sindroma lupa tak bisa sirna dari lepas dari manusia ketika berkuasa. Padahal, para ‘kurcaca’-penguasa yang bertabiat buto-raksasa, pada awalnya juga berasal dari ‘kurcaci’ di tempat kotak penyimpanan sebelum bermain di layar kekuasaan. Omne vivum ex ovo. Telur lahir dari ayam. Pemimpin lahir dari rakyat.

     Akan makin menggelitik lagi, ketika berada dalam kotak penyimpanan (di luar lingkar kekuasaan), sebagian besar dari mereka justru telah direbus dalam ‘kawah candradimuka’ pengetahuan. Hanya untuk satu tujuan, ketika telah matang, untuk tampil melakoni peran sebagai pemimpin dan pimpinan. Di negara yang mayoritas penghuninya meyakini agama, padahal ada dua ‘kawah candradimuka’ nusantara. Lembaga pendidikan agama dan lembaga pendidikan nasional. Produk akhirnya, agar embrio-embrio manusia unggul khas Indonesia, yakni santri dan mahasiswa kelak lahir ulama dan sarjana pencerah umat-bangsa-negara.

      Paradoksal antara tujuan dan hasil. Kedua kawah gagal melahirkan manusia unggul berkeadaban. Ulama dan sarjana setali tiga uang. Idelaisme pengusung nilai-nilai norma-etika ketuhanan dan logika kemanusiaan hanya tangguh ketika berada di dalam ‘kotak penyimpanan-kawah candradimuka’ pendidikan dan pengajaran. Turun ke dunia nyata, berubah segalanya. Kecerdasan spiritual dan intelektual gagal mentransformasi, terlebih ketika ‘produk alim-pintar’ itu memasuk lingkar kekuasaan.

      Kemerosotan nilai-nilai adiluhung wakil rakyat dan pemerintah-penguasa, amanat di pundak dicampakkan, khianat menjadi tradisi dan pembenaran. Semakin berilmu dan pintar, semakin berlipat daya rusaknya bagi mayoritas awam dan bodoh. Ruh kepemimpinan ambyar, Senayan seakan menjadi rumah angker tempat setan gentayangan. Istana seakan menjadi gua persembunyian laskar batara kala.  Tsunami kejahatan kerah putih dan kejahatan luar biasa, menyebar luas ke seluruh relief nusantara dengan episentrum DPR dan istana. Di mana ruh otentik mereka yang terajar dan terdidik sebelumnya?

      Ada sesuatu yang keliru dengan bangsa ini dengan gagalnya transformasi idealisme pendidikan dan pengajaran. Di wilayah negara dan agama, dua-duanya sama saja, gagal total melahirkan manusia pemimpin unggul berkeadaban. Padahal, lembaga pendidikan keduanya tumbuh menyubur, kecerdasan dan kepintaran meningkat tajam, tapi ulama dan sarjana otentik tak tercipta. Produk yang ada hanya produk abal-abal, imitasi bercasing menyerupai asli, bagaimana sanggup membawa umat-bangsa ini ke arah perbaikan, apalagi penyempurnaan?

       Melihat fenomena yang terjadi, di dunia politik maupun sosial budaya, dengan paradoks yang selalu terhidang di depan mata, kita lantas bertanya. Adakah ini yang namanya idealisme tempe? Di negeri tempe yang sebagian manusianya mengkonsumsi tempe sebagai makanan favorit kaya nutrisi dan unsur gizi, idealisme tempe menjadi pertanyaan tak terjawab. Ternyata kepintaran (otak) belum menjadi garansi selarasnya kecerdasan (hati). Seperti pepatah Jawa, esok dhele sore tempe, mencla-mencla, kita terbentuk menjadi bangsa pelupa, atau lebih ekstrem, munafik.

       Tak ada konsistensi di negeri munafik. Hari ini mengkritik habis kejahatan korupsi, esok hari giliran menjadi pelaku korupsi. Hari ini mencaci nikah sirri, esok hari melakukan hal sama, bahkan lebih banyak lagi menambah isteri. Hari ini menghujat kejahatan, esok hari melakukan kejahatan, bahkan lebih edan. Semuanya hanya berbeda ada tidaknya kesempatan, kapan waktunya masuk ke Senayan atau lingkar kekuasaan. Idealisme tempe, setan Senayan dan lingkar kekuasaan adalah trilogi lingkaran setan yang sampai kiamat pun tak akan terpecahkan, kecuali dengan membangun kesadaran.

       Untuk melakukan kejahatan, seseorang tidak perlu ‘berniat’ dan bercita-cita terlebih dahulu. Semua hanya soal waktu dan kesempatan, momentum akan menjadi pembenaran. Orang berkata, kalau ingin melihat sebuah bangsa, lihatlah pemimpinnya. Pemimpin tertinggi republik ini, presiden SBY yang terhormat telah mencontohkan pembenaran logika idealisme tempe, ketika mewajibkan negara untuk menyelamatkan pejabat koruptor hanya dengan alasan ‘tidak berniat’ dan ‘tidak paham.’ Semoga kali ini kita telah sedikit lebih paham.

Salam...
El Jeffry

Gelagat Kiamat 2013: Korupsi Meningkat!




       Jangan bergembira dulu setelah ramalan kiamat versi suku Maya 21 Desember telah terlewat. Di Indonesia, negeri tumpah darah-keringat-air mata kita, masih mesti menghadapi gelagat pertumpahan keringat-air mata dan penghisapan darah rakyat oleh kaum penjajah model baru, antek nekolim dan budak-kuli inlander. Lingkaran setan korupsi yang sukses bermutasi dalam dalam regenerasi, menjadi inti sari-pati. Kejahatan “kasta tinggi” dalam kemasan “kerah putih” masih belum juga terkendali.
       Kolusi menjadi kode kunci simbiosis mutualis. Elit-publik, pemimpin-rakyat, pejabat-jelata, birokrat-proletar. Transliterasi adagium klasik omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo. Telur dari ayam, atau ayam dari telur? Pemimpin produk rakyat, atau rakyat produk pemimpin? Siklus misterius tak kunjung putus. Keduanya benar, keduanya salah, dualisme logika gila dan gila logika, fitnah iblisi-dajjali zaman edan, kesalah-kaprahan jadi kebenaran.
      Bagi Indonesia, kiamat sudah dekat. Tanda-tanda dan gelagat kiamat diungkap oleh Indonesia Corruption Watch (ICW). “Ramalan”-nya, kiamat  akan terjadi dengan “aktivitas dan produktivitas” korupsi bakal meningkat di tahun 2013.  Alasannya, di tahun itu akan banyak gelaran pesta demokrasi-budaya ekstravaganza pemilukada dan penjelangan pemilu nasional 2014. Politik uang, politik transaksional-dagang sapi, jual-beli suara menjadi komoditi utama.
      Sementara leader politik, para pemimpin otentik semakin tergilas secara sitemik-sistematik, “broker dan dealer politik” bakal menyubur bak jamur menyambut musim hujan. Gelaran pilkada dan jelangan pemilu akan jadi momentum politisi-politikus, terutama pemegang kekeuasaan untuk mengumpulkan “investasi” politik. Tujuannya hanya ada dua, mempertahankan dan ekspansi wilayah kekuasaan. Sudah tabiat manusia politik primata homo homini lupus. Berahi korupsi dan orgasme politik, demi pemenuhan nafsu hasrat-syahwat dan obsesi kenikmatan kapitalistik-hedonistik.
       Penggelapan anggaran untuk pribadi dan kelompok partai sudah menjadi tradisi berantai. Metode politisi-politikus korup hanya ada dua, penggelembungan proyek dan pemberian hibah (bantuan). Penggelembungan proyek bisa dilakukan sendiri atau kongkalikong dengan pihak ketiga, para broker-pengusaha untuk meminta komisi. Sedang pemberian hibah (bantuan sosial) dilakukan untuk pengayaan diri dan peningkatan popularitas. Alhasil, “sinergi-chemstry” KKN dilakukan secara sadar dan berjamaah, antara politisi-politikus, pengusaha dan rakyat dalam satu kata “money politics.” 
       Apa daya kita? Demokrasi biaya tinggi belum menemukan pengganti “demokrasi rendah kalori” yang hemat-bersahaja. Bayangkan saja, dalam satu perioden 5 tahunan, rakyat disuguhi hidangan pesta-fiesta luar biasa besar biayanya. Maksimal, sekali pileg, dua putaran pilpres, dua putaran pilgub, sekali pilbuta (pemilihan bupat-walikota) dan sekali pilkades. Praktis, dalam 5 tahun negara berpesta minimal 5 kali (setahun sekali) dan maksimal 7 kali (8,5 bulan sekali). Luar biasa gila euforia dan kebebasan (atau kebablasan?) bersuara.
      Apa hendak dikata? Korupsi sedemikian parahnya membudaya. Telah 8 abad gurita korupsi dalam sejarah negeri, terlalu sulit bangsa ini berlepas diri. Ribuan cara dalam ribuan etika norma ayat-ayat agama dan pasal-pasal perundangan negara, tak sanggup sebagai terapi “pensucian jiwa” bangsa. Dengan hanya mengandalkan KPK, mustahil bangsa ini menaklukkan “gurita korupsi,” bahkan sekadar memperlemah mengamputasinya. Korupsi tak tercekal, tak tercegah dan tertangkal. Sebagai salah satu bentuk mutakhir kesepakatan setan, korupsi adalah virus endemik terganas yang membunuh logika-akal sehat hampir 250 juta manusia Indonesia.
       Sesuai filosofi telur dan ayam, korupsi hanya bisa diminimalisir dengan melibatkan seluruh elemen bangsa. Elit-publik, pemimpin-rakyat, atas-bawah, mesti satu kata. Tak hanya mengandalkan KPK dan pemimpin dalam 12 elemen ksatria nusantara, setiap anak bangsa yang masih berkesadaran keksatriaan mesti guyub-rukun holopis kuntul baris bekerja sama. Karena korupsi (dan kolusi) adalah pengkhianatan hukum simbosis mutualis. Saling menguntungkan kedua pihak, tapi tak memberi keuntungan martabat manusia berkualitas.
       Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, semua terlibat sekaligus terimbas dan terlibas dalam dan oleh “dosa sosial” keganasan korupsi. Lima pasal dari 7 dosa versi Mahatma Gandhi menjadi karmanya. politics without principle (politik tanpa prinsip), commerce without morality (bisnis tanpa etika), wealth without work  (pengayaan tanpa kerja), pleasure without conscience (kesenangan tanpa nurani) dan worship without sacrifice (agama tanpa pengorbanan).
       Politisi-politikus, pengusaha, tokoh agama, rakyat jelata, semua bermain dalam satu drama kejahatan luar biasa, hanya berbeda kasta, strata dan skalanya saja. Kesempatan dan momentum hanya pelengkap dan pembenar kejadiannya. Adakah kejahatan lebih tinggi dari korupsi? Melihat dampak luasnya kerusakan bagi peradaban manusia, bukankah layak jika korupsi yang menggurita adalah barometer dari kiamatnya sebuah bangsa?
       ICW telah mengabarkan pesan akan tanda-tanda kiamat itu bakal ada pada 2013. Sebagai watcher (pemerhati) “reality show” tragedi negeri, kita butuh refleksi dan introspeksi. Mungkin selama ini kita hanya jadi NATO (no action talk only) alias omdo (omong doang), lebih asyik menghujat-menyumpah-mencaci dengan kepala mendongak melihat koruptor kelas kakap menggelontor di ruangan ber-AC di kantor-kantor. Dan kita lupa mununduk ke bawah dan bercermin, bahwa kita juga adalah koruptor-koruptor kelas teri similikithi yang sewaktu-waktu bisa bermutasi.
      Tak ada penjual tanpa ada pembeli. Transaksi tercipta karena kesepakatan dua pihak manusia. Pemilu dan pilkada (termasuk pilkades) adalah bukti nyata. Kekuasaan dan uang menjadi berhala, bagi pemimpin maupun jelata. Mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti, regenarasi korupsi akan selalu terjadi. Dan jika tak ada revolusi jiwa-bathin jama’ah bangsa, kiamat 2013 adalah niscaya. Tak ada pilihan untuk menghindarinya, kecuali “potong satu generasi.” Pertanyaannya, punya tekadkah kita untuk memulai? Cukup dengan 3 SKS, dari diri (S)endiri, dari hal-hal (K)ecil dan dari (S)aat ini! Buktikan kita (masih) bernyali!
Salam...
El Jeffry