Sunday, December 23, 2012

Rieke: Srikandi Muda Duplikasi Jokowi?


       Akankah ada “efek Jokowi” di Pilkada Jabar kali ini? Atau lebih khusus, bisakah Rieke Dyah Pitaloka meng-copas kemenangan fenomenal Jokowi di Pilkada DKI? Bisa ya, bisa tidak. Sebab the politics is the art of possible. Politik adalah seni kemungkinan. Sebagai seorang artis yang berpengalaman dalam seni peran, bagi Rieke, Pilkada Jabar adalah reality show “panggung sandiwara dan sinema politik”. Tantangan terbesar bagi Rieke untuk mentransformasi energi sinematografi penuh artistik dan estetik, ke dalam dunia demokrasi di negeri republik.
      Rieke memang tak sendiri berangkat dari dunia keartisan ke gelaran Pilkada Jabar ini. Masih ada Dede Yusuf dan Deddy Mizwar, dua aktor yang lebih bersinar dan jauh lebih senior. Namun ada satu hal menarik dari seorang Rieke. Dari sepuluh cagub-cawagub yang berlaga, Rieke adalah satu-satunya srikandi di antara para ksatria. Dengan usia termuda, 38 tahun, tak salah kiranya jika perempuan asal Garut ini tak bisa dipandang sebelah mata.
      Berpasangan dengan aktivis antikorupsi Teten Masduki, srikandi muda ini adalah kuda hitam yang berpeluang membuat fenomena. Tak gampang bagi pasangan Rieke-Teten untuk memenangi laga, terutama melawan petahana. Ahmad Heryawan, disamping mendapat “keuntungan kekuasaan” sebagai gubernur, menggaet aktor gaek Deddy Mizwar membuat pasangan ini unggul dalam popularitas. Sedang mesin partai pengusung, Rieke hanya didukung PDI-P, sementara sang lawan diperkuat oleh koalisi 4 partai, PKS, PPP, PBB dan Hanura.


    Dede Yusuf, wakil gubernur petahana yang juga mendapat “keuntungan kekuasaan” berpasangan dengan Lex Laksamana, diperkuat koalisi 4 partai besar, Demokrat, Gerindra, PAN, dan PKB. Pasangan artis-politisi ini pun tak cuma unggul dalam popularitas, namun juga berstamina prima karena berlimpah energi. Lawan seimbang bagi Rieke-Teten mungkin hanya pasangan Yance-Tatang yang diusung Golkar dan Dikdik-Cecep dari kalangan independen.

      Kalah pengalaman, kesempatan dan popularitas, di atas kertas, srikandi muda ini bakal terlibas. Tapi srikandi masih bisa meretas mimpi, seperti ketika Jokowi ngimpi jadi Gubernur DKI. Sama-sama berjuang di bawah payung PDI-P, tentu Rieke punya “ruh” yang hampir senyawa dan sejiwa dengan Jokowi. Rieke bisa menduplikasi kunci kombinasi kemenangan Jokowi di Pilkada DKI.

     Sedikit komparasi, di antara 5 cagub Jawa Barat, Rieke saat ini mungkin sama dengan Jokowi saat-saat awal memasuki laga Pilkada DKI. Kurang populer dan tidak diperhitungkan. Bertarung melawan para kandidat yang diusung partai besar dan koalisi, Jokowi hanyalah kuda hitam. Bahkan sang petahana Fauzi Bowo yang diusung Demokrat beserta 6 partai koalisinya yakin dan diprediksi menang satu putaran.
      Untuk pertama kalinya, lembaga-lembaga survei dipermalukan keblangsak perhitungan. Di putaran 1, Jokowi yang hanya didukung PDI-P dan Gerindra justru menang secara fenomenal. Fauzi Bowo kedua, Hidayat Nur Wahid  ke-3, sementara calon independen Faisal Basri dan Hendarji Soepanji masing-masing di urutan ke-4 dan ke-6. Sementara Alex Nurdin yang diusung Golkar bersama 10 partai koalisinya secara mengejutkan tersungkur di urutan 5. Laga dilanjutkan di putaran 2 antara Jokowi dan Fauzi Bowo sebagai 2 besar di atas 30% suara.
       Pertarungan naik ke suhu tertinggi. Fenomena kemenangan Jokowi yang membantai prediksi dan kalkulasi menjadi pembelajaran baru di alam demokrasi. Perang opini hingga perang SARA tak terelakkan. Publik mulai meyakini, bahwa dalam pilkada kali ini, figur lebih mendominasi pilihan warga ibukota ketimbang mesin politik partai. Perang kampanye, Jokowi menjual personality, sementara Fauzi Bowo menggenjot strategy. (Jokowi Vs Foke: Personality Vs Strategi)
       Jokowi “diuntungkan” oleh serangan slogan experience, bukan experiment sang petahana. Publik mulai terbuka, ternyata penting trial and error dalam pendewasaan bertata negara. Coba-coba hal baru, bosan wajah-wajah lama, perubahan dan pembaharuan sudah waktunya. Mesin politik, di balik kerja ekstra kerasnya dalam mengusung jagoannya, dinilai tak efektif mendulang simpati warga. Krisis kepercayaan publik terhadap elit politik (legislatif-eksekutif) dengan maraknya kasus korupsi lintas partai. Alhasil, Jokowi memenangi laga final pilkada DKI.
      Jabar ya Jabar. DKI ya DKI. Memang belum tentu fenomena sama bakal terjadi. Rakyat Jawa Barat mungkin tak secerdas, sekritis dan serasional warga DKI, konon dikenal sebagai moderat, terbuka pada apa dan siapa saja, alias kultur “mangga.” Mau kuning, merah, biru, hitam, putih semuanya mangga. Mau artis, pejabat atau politisi, mangga sadhayana.
      Tapi demokrasi adalah demokrasi. Dan politik adalah politik. Dalam demokrasi dan politik penuh dinamika, biasanya ada kecenderungan tren masa. Dalam seni kemungkinan laga kekuasaan. Ada ragam kesenian dan ragam kemungkinan dalam ragam kesempatan. “Jokowi effect” adalah kemungkinan,  kecenderungan sekaligus kesempatan. Di sini, kemungkinan Rieke untuk menduduki kursi tertinggi provinsi Jawa Barat masih terbuka, jika ia bisa secara apik menduplikat kunci kemenangan Jokowi.
      Sebagai wilayah yang berlekatan dengan ibukota, tak mustahil “Jokowi effect” juga akan akan menggema di Jawa Barat. Akan ada gelora Jokowisme dan Perulangan dalam Siklus Sejarah Bangsa. Energi “pembaharuan” telah mengalir lewat media massa, akan beresonansi di langit nusantara, sebagai spirit “pemberontakan” pemuda pada tembok kebuntuan dan kebosanan wajah-wajah usang nan tua. Di wilayah ini, Rieke sedikit lebih punya keunggulan investasi layak apresiasi.
      Selain berlatar artis, Rieke dikenal sebagai penulis buku dan aktif di kegiatan sosial dengan mendirikan “Yayasan Pitaloka” yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan.  Di DPR, Rieke cukup konsisten memperjuangkan kaum buruh. Rieke gigih memperjuangkan RUU Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS), bersuara lantang agar moratorium PNS tidak diberlakukan, dan getol mendesak pemerintah untuk menghapuskan aturan tentang tenaga kerja “outsourcing” dan upah murah.
      Di tingkat internasional, Rieke belum lama ini menerima Penghargaan Internasional Young Global Leaders 2011 dari World Economic Forum, dinilai sebagai politisi muda dan anggota parlemen berpengaruh di Asia. Tentu bagi bagi para pendukung pejuang pro-kerakyatan, Rieke layak dianalogikan sebagai srikandi muda yang selalu gagah berani “berbicara” betapapun kerasnya laga para ksatria. Teten Maduki yang telah “dipinang” untuk mendampingi laga, makin menguatkan nyala api ruh perjuangan duet ini.
       Sebagai aktivis yang bergelut dengan persoalan HAM, perburuhan dan antikorupsi, Teten melengkapi Rieke sebagai simbol perjuangan kaum kecil, pembaharuan dan pembersihan. Akankah Rieke (bersama Teten) berhasil menduplikasi Jokowi untuk bisa memenangi gelaran demokrasi Pilkada Jabar 2013? Jika ada duplikasi pola dan irama pilkada DKI di Pilkada Jabar, kemungkinan itu sangat terbuka. Rieke Dyah Pitaloka, bisa mencetak sejarah sebagai srikandi muda yang menjungkalkan kedigdayaan para ksatria yang lebih tua.
       Atau justru tenggelam, “terbunuh” di antara keganasan politik dan perebutan kekuasaan? Bila itu yang terjadi, mungkin Jawa Barat akan mengalami kemunduran sejarah mengulang tragedi 7 abad silam, ketika Putri Linggabuana Citraresmi Dyah Pitaloka terbunuh di Bubat akibat jebakan diplomatik dan politik-kekuasaan Gajah Mada. Akhirnya, kembali semua tergantung dari suara 37 juta warga Jawa Barat yang dalam beberapa bulan mendatang akan menentukan nasib dan sejarahnya untuk lima tahun ke depan.
Salam Pembaharuan...
El Jeffry