Thursday, December 20, 2012

“Sindromenpora”: Quo Vadis Pemuda dan Olahraga?




Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”-Bung Karno


      Benarkah Desember adalah bulan kiamat bagi dunia? Sepertinya ya, setidaknya tanda-tanda itu terasa di bumi Indonesia, wa bil khusus dalam dunia kepemudaan dan keolahragaan. Bukan kiamat kubro hancurnya semesta seperti yang diramalkan, sebab MUI telah memfatwakan haram mempercayai ramalan. Tapi ‘kiamat sugro,’ kiamat kecil-sektoral, kumpulan dari beberapa tanda dan fenomena yang muncul berbarengan, sebut saja sindrom.
     Inilah sindrom kementrian pemuda dan olahraga. Katakanlah syndromenpora. Pusatnya adalah Andi Mallarangeng, menteri pemuda dan olahraga kabinet Indonesia bersatu II, ketika di awal Desember resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan korupsi proyek olahraga Hambalang. Andi melengkapi daftar panjang pemimpin-pejabat pemuda yang tersandung kasus ‘kejahatan kasta tinggi’ dan mesti berurusan dengan hukum.
     Tragis, ironis dan mengiris-iris ruang bathin anak bangsa ini. Di saat negara bergelut hidup-mati melepaskan diri dari belitan tentakel gurita korupsi, salah satu punggawa istana justru menohok dari dalam. Padahal sang raja masih saja konsisten mengklaim diri sebagai garda terdepan laskar pemberantasan korupsi. ‘Kiamat sughro’ sang menteri adalah kiamat kubro bagi masa depan anak-anak negeri. Bukankah pemuda dan olahraga menjadi pilar utama bagi tegak dan berdaulatnya sebuah negara?
     Sebagaimana pesan Sang Proklamator dalam kutipan pidato di atas, di bawah kepemimpinan dan organisasi yang tepat, potensi dan energi seorang pemuda begitu dahsyat luar biasa, berdaya imbas ribuan kali lipat dari orang tua. Lihatlah Andi Alifian Mallarengeng, salah satu simbol pemuda produksi dalam negeri yang telah mengguncang dunia nusantara. Setumpuk gelar kesarjanaan, segunung pengalaman, sederet karier, segudang penghargaan, Andi Mallarangeng melejit bak meteor memimpin organisasi tingkat negara di usia 46 tahun.

      Masuk lingkaran istana sebagai ‘abdi dalem’ presiden SBY menjabat Menpora, Andi Mallarangeng secara luar biasa mengguncang panggung politik Indonesia. Dan kini ia kembali membuat satu guncangan lagi, jauh lebih dahsyat dari guncangan pertama. Tersandung kasus korupsi anggaran negara, Future Leader of Asia versi Majalah Asia Week 1999 ini benar-benar mengguncang masa depan dunia kepemudaan dan olahraga bangsa. Lagi-lagi, korupsi menjadi sumber dari segala sumber petaka pencipta kiamat bagi komunitas manusia.
      Sedikit menoleh ke belakang, tanda-tanda kiamat itu sesungguhnya telah ada dalam dunia olahraga nasional. Bulutangkis dan sepak bola adalah dua bukti shahih tanda-tandanya. Olimpiade London 2012 Agustus silam menjadi saksi. Skandal kompetisi pelanggaran Code of Conduct,” mengakibatkan didiskualifikasinya pasangan ganda terbaik Greysia Polii-Meiliana Jauhari oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Buahnya, Indonesia di tangan PBSI gagal menjaga tradisi emas bulutangkis sepanjang 20 tahun keikutsertaan di ajang Olimpiade.
      Sepak bola tak kalah hancurnya ketimbang bulutangkis. Kisruh organisasi, dualisme kepengurusan PSSI mengancam nasib sepak bola tanah air jika beberapa bulan ke depan FIFA jadi menjatuhkan sanksi. Kisruh ini pula yang menjadikan ‘Tim Garuda’ terbenam di Kuala Lumpur, Malaysia, di babak penyisihan grup Piala AFF 2012 yang sekarang tengah berlangsung. Jangankan bicara di pentas Asia, apalagi dunia, jika di kawasan Asia Tenggara saja Indonesia hanya jadi tim penggembira
     Masih di sepak bola Piala AFF, ketika masih bernama di Piala Tiger di tahun 1998, Tim Garuda juga pernah terlibat skandal ‘sepakbola gajah’ melawan Thailand. Seperti pemain bulutangkis dihukum BWF, lalu buah karmanya PBSI gagal mempersembahkan prestasi tertinggi medali emas, kala itu pemain sepak bola Garuda pun dihukum FIFA, dan PSSI akhirnya gagal menjadi juara.
      Kehancuran sepakbola sudah terasa ketika dalam rilis FIFA bulan September 2012, Indonesia terpuruk di titik nadir kasta sepak bola tanah air di peringkat 168. Selalu ada kaitan antara skandal dan kehancuran. Strategi abai etika-nurani, selalu berkahir kehancuran. Tapi kita selalu gagal memetik mengambil pelajaran, mudah tergoda ambisi, lupa pada nilai-nilai mendasar dari tujuan kompetisi. (Simulator, SARA dan Olimpiade: 3 Skandal Kompetisi).
     Lalu bagaimana dengan pemuda Indonesia? Jawaban yang sama, tanda-tanda kiamat itu telah nyata. Hasil survei di sebagian besar media massa, Nama-nama calon pemimpin negara dari kalangan muda tenggelam di antara daftar 30 kandidat capres  potensial yang beredar. Dominasi nama-nama ‘generasi lansia’ (di atas 60 tahun) pemimpin partai politik terlihat nyata. Aburizal Bakrie (Golkar-66 tahun), Megawati Soekarnoputri (PDI-P-65 tahun), Wiranto (Hanura-65 tahun) Surya Paloh (Nasdem-61 tahun) dan Prabowo Subianto (Gerindra-61).
      Hanya 3 nama yang hari ini mendekati lansia. Hatta Rajasa (PAN-59 tahun, akan masuk kelompok atas dengan usia 61 di tahun 2014). Suryadharma Ali (PPP-56 tahun) masih ‘kalah suara’ dalam elektabilitas. Sedang Anas Urbaningrum (Demokrat-43 tahun) yang seharusnya adalah figur pemimpin muda potensial justru tengah blingsatan  karena namanya kerap disebut dalam nyanyian “si burung nazar”-Nazaruddin. Publik malah meyakini bahwa Anas bakal menyusul koleganya di Demokrat untuk berurusan dengan KPK.
       Lalu di mana para pemuda yang akan mengguncang dunia? Mampukah menyala spirit pemuda dalam industri politik lansia? Krisis regenerasi kepemimpinan tak berujung, bahkan ketika darah-keringat-air mata mahasiswa dan rakyat menjadi tumbal reformasi 1998, pembaharuan yang digelorakan lenyap ditelan zaman. Ironis. Tragis. Kontradiktif dengan Amerika Serikat yang menjadi barometer demokrasi negara maju, (sekadar perbandingan) usia rata-rata presidennya cenderung semakin muda. Dalam 44 kali pergantian, usia rata-rata presiden mereka saat dilantik adalah 44 tahun 11 bulan. Terakhir, Barrack Obama yang kini kembali menjabat untuk periode ke-2, bahkan terpilih untuk pertama kali pada 2009 di usia ke-47 tahun.


Sedang Indonesia, dalam 53 tahun sejak merdeka, usia presidennya justru cenderung semakin tua. Kedua presiden pertama mulai menjabat pada usia relatif muda. Bung Karno berusia 44 tahun pada 1945 dan Pak Harto berusia 46 tahun pada 1967. Habibie menjabat presiden di usia 62 tahun pada 1998, Gus Dur di usia 59 tahun pada 1999, Megawati di usia 54 tahun pada 2001, dan SBY menjabat presiden untuk periode pertama pada usia 55 tahun pada 2004.

       Alhasil, sindromenpora adalah puncak kehancuran dari gunung es problematika kepemimpinan dan organisasi bertata negara nusantara. Pemuda dan olahraga mbledhos ke lembah terendah dari lempengan strata-kasta dan harkat-martabat bangsa. Kiamat bukan lagi mendekat, tapi memang telah melekat, mengikat dan menjerat begitu kuat. Saripatinya, korupsi sistemik-endemik struktural dan kultural, membawa negara bangsa melangkah mundur teratur mengikuti hitungan deret ukur.

       Lalu, masihkah ada masa depan di bumi surga zamrud khatulistiwa? Gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem karto raharjo, negara berpotensi alam melimpah-ruah berkesejahteraan dan berkeadilan, akankah hanya utopia? Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, negeri penuh kebaikan dalam ampunan Tuhan, adakah tinggal cita-cita? Akhirul kalam, sindromenpora semoga menjadi kacabenggala, cermin peristiwa untuk refleksi bersama. Dalam kegamangan arah langkah dan tujuan, mungkin dengan bertanya akan sedikit membuka jendela jiwa-jiwa kita. Quo vadis Menpora, quo vadis, pemuda dan olahraga, quo vadis Indonesia?

Salam...
El Jeffry