Saturday, December 8, 2012

Abraham-Andi: Duel Bersejarah Duo Makassar





Abraham Samad dan Andi Mallarangeng. Sumber Photo: www.abrahamsamad.com dan http://ideguenews.blogspot.com  




Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” (Bung Karno)

      Pesan politik telah disampaikan. Nubuah telah dikabarkan. Kalimat bertuah tak akan lapuk dimakan waktu, tak akan remuk digilas roda sejarah. Pesan penting dari seorang bapak bangsa bagi anak-anak bangsa. Rangkuman hukum alam, hasil dari perjuangan panjang, petualangan politik, pergulatan spiritual dan penggalian akar filosofi di tiap lapis bumi pertiwi.

      Indonesia, awal abad 21. Perjuangan maha sulit bangsa ini dalam mengamputasi gurita korupsi. Bukan bangsa Eropa atau Amerika yang menjadi musuhnya, namun sesama anak bangsa. Wajah negeri terbelah dua. Barisan anti korupsi di satu sisi, dan barisan pro korupsi di sisi lain. Tak jelas lawan maupun kawan. Wabah endemik korupsi telah mengurung lebih dari 240 juta anak negeri dalam jeruji lingkaran setan.

      Setan korupsi telah menempatkan kedua manusia bersaudara ke dalam bermusuhan. Setan korupsi juga lihai membisikkan keindahan pada tindak kejahatan ke dada manusia, sehingga pelaku, di bawah alam sadar senantiasa merasa dalam kebaikan, kebenaran dan dalam perjuangan. Apalagi, ketika darah perjuangan itu mengalir di badan, warisan dari orang tua. Tak peduli saudara sebangsa, sedaerah, sekampung halaman, bahkan saudara kandung.

      Hari ini, panggung republik dibuat tersentak dengan gelaran pertarungan akbar, ‘duel bersejarah duo Makassar’ antara Abraham Samad dan Andi Mallarangeng. Abraham ketua KPK. Andi Menpora, yang juga politisi Demokrat. Pertarungan Abraham dan Andi adalah pertarungan sarat sejarah. Bagi Abraham, Andi adalah sejarah pertama seorang menteri aktif yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Pertarungan ini juga pertarungan bersejarah dua pemuda sekampung halaman, Makassar. Sejarah keduanya juga hampir dikatakan tak jauh berbeda. Perjalanan masa kecil sarat perjuangan dan kental dengan nilai-nilai warisan sejarah kemerdekaan.

      Abraham Samad dilahirkan pada 27 November 1966. Kini usianya menginjak 46 tahun. Andi Mallarangeng 3 tahun lebih tua, dilahirkan pada 14 Maret 1963. Kini usianya menginjak 49 tahun. Sejarah masa kecil duo Makassar ini juga sama. Sama-sama ditinggal oleh ayahanda ketika mereka berumur 9 tahun ‘duo bocah Makassar’ Abraham-Andi tumbuh dalam pengasuhan ibunda.

       Darah perjuangan Abraham diwarisi dari sang ayah, Andi Samad, seorang tokoh pejuang kemerdekaan '45. Sedang Andi, mewarisi darah birokrat dan perjuangan dari ayah dan kakeknya. Darah birokrat diwarisi Andi dari sang ayah, Andi Mallarangeng Sr., yang di usia muda, 32 tahun menjadi wali kota wali Parepare pada 1968. Sedang kakeknya, Andi Patoppoi (1910-1977) yang turut mengasuh Andi junior adalah Mantan Bupati Grobogan, Jawa Tengah dan juga Bupati Bone, Sulawesi Selatan.

      Kakeknya ini adalah salah seorang tokoh pemuda Sulawesi Selatan yang berhasil membujuk raja-raja di Sulawesi Selatan untuk mendukung dan menyerahkan kedaulatannya kepada NKRI. Dari ayah dan kakeknya, Andi belajar tentang semangat keindonesiaan yang mengatasi semangat kedaerahan, dari mereka pula ia belajar tentang nilai-nilai kedaerahan yang memperkaya nilai-nilai keindonesiaan. Dan dari ibunya belajar tentang hidup sebagai suatu perjuangan. 

      Tak ada yang bisa mengatur takdir, kecuali Tuhan yang Maha Berkuasa. ‘Duo bocah Makassar’ Abraham dan Andi menjalani garis hidup masing-masing, dengan lakon yang berbeda. Abraham tumbuh menjadi bocah kritis berjiwa ‘pemberontak’ sejak remaja di bangku SMP. Sikap kritisnya ini kemudian tercermin dari sifatnya yang sangat tidak nyaman terhadap proses ketidakadilan. 

      Inilah saat-saat di mana Abraham mulai membentuk wataknya yang tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan. Di bangku SMA, jiwanya yang kritis dan memberontak ini sering meledak dalam dirinya, membuat Abraham seringkali terlibat perkelahian antara sesama siswa (tawuran), hanya karena keinginan membela kawan-kawannya. 

      Abraham akhirnya mengambil jalan hidup di jalur hukum. Berbekal Sarjana, Magister, dan Doktoral di bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar. Dengan spirit pejuangan menegakkan keadilan menggelora, Abraham ‘turun gunung’ ke dunia nyata sebagai konsultan hukum, aktivis anti korupsi, menggagas dan memimpin  Anti-Corruption Committe (ACC) Sulsel. Perjalanan karier Abraham berpuncak dengan menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2010-2015. 

      Sementara itu, Andi mengambil jalan berbeda, jalur politik. Merengkuh gelar bergengsi Doctor of Philisophy di bidang ilmu politik dan Master of Science di bidang sosiologi Northern Illinois University(NIU) Dekalb, Illinois, AS pada 1997, Drs Sosiologi Fisipol Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada 1986, hingga menjadi Dosen di Universitas Hasanuddin, Makassar (1988-1999) dan di Institut Ilmu Pemerintahan (1999-2002). 

      Dengan kecerdasan intelektual dan tampilan flamboyan, tumbuhlah Andi menjadi figur populer. Berawal dari menjadi kolumnis, komentator dan pengamat politik di media massa, Andi meretas karier ke ‘dunia nyata’ perpolitikan nusantara. Pada 1998-1999 Andi menjadi Anggota Tim Tujuh yang dipimpin oleh Prof. DR. Ryaas Rasyid, untuk merumuskan paket UU Politik dan UU Pemerintahan Daerah, lalu menjadi anggota KPU, wakil pemerintah, penyelenggara Pemilu 1999. 

      Pusaran politik menyedot Andi semakin dalam dengan menjadi Staf Ahli Menteri Negara Otonomi Daerah 1999-2000, menjadi pendiri dan pengurus Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (2002-2004), Chair of Policy Committee pada Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan 2000-2002. Hingga pada 2004, Andi menembus pusat lingkaran politik istana dengan menjadi Juru Bicara Kepresidenan SBY. Puncaknya, pada 2009, Andi Alfian Mallarangeng masuk Kabinet Indonesia Bersatu II sebagai Menpora. 

      Bermain air basah, bermain api hangus. Selalu ada konsekuensi dari setiap pekerjaan. Figur Andi sang politisi selebriti mencapai anti klimaks di titik ini. Tak dinyana, saudara sekampung dari ‘duo bocah Makassar’ lainnya menebar petaka. Siapa lagi kalau bukan Abraham Samad. Lewat surat permohonan pencegahan KPK pada Ditjen Imigrasi Kemenkumham pada 3 Desember 2012, Abraham telah menetapkan Menpora Andi Mallarangeng sebagai tersangka  kasus proyek pusat olah raga Hambalang Bogor, Jawa Barat. 

       Andi, Demokrat dan seisi istana mungkin tak percaya, bagaimana mungkin Abraham dan KPK ‘sok berani’ menyentuhnya. Sedangkan ia sudah begitu jumawa karena merasa terlindung di balik tembok baja istana negara? Bagaimana cicak berlagak heroik dengan ‘nekad’ mengusik para buaya? Mungkinkah cicak sedang  berutopia? Bagaimana mungkin Abraham yang fakir gelar sarjana luar negeri dan miskin penghargaan bergengsi punya nyali? Bandingkan saja dengan penghargaan yang diterima Andi. Man of the Year Majalah MATRA 2002, Future Leader of Asia, Majalah Asia Week 1999, Bintang Jasa Utama RI 1999 dan Percy Buchman Prize 1995. 

       Apa yang membuat Abraham edan dalam mengambil keputusan? Andi mungkin lupa, bahwa ‘darah pejuang’ Makassar warisan keluarga mereka berdua sebenarnya hampir-hampir sama. Kritis dan idealis dan kadang berani duel ‘berdarah-darah’ demi sebuah keyakinan layaknya ksatria. Tapi bagi Andi, kesamaan itu hanya ada pada masa lalu, ketika ia berdiri di luar pusaran politik dan lingkaran kekuasaan istana, ketika menjadi pengamat dan analis di media massa. 

       Roda waktu menggilas jati diri manusia. Tak terkecuali Andi. “Bengkulu Bengkulu, Semarang Semarang.” Dulu dulu, sekarang sekarang. Jika Abraham masih konsisten pada spirit perjuangan dengan karakter pemberontakan akan ketidakadilan, berapi-api dan meledak-ledak. Dan Andi juga tetap tampil cool, kalem dan flamboyan, hanya saja sekarang spirit perjuangan itu sepertinya telah padam. Namun Abraham datang mengusik mengajak ‘duel’ dengan sangkaan buruk lewat alat hukum, KPK. 

      Koruptor adalah penjahat kasta tertinggi di muka bumi. Dan itu akan berakibat buruk sekali bagi reputasi dan investasi sejarah indah yang telah bertahun-tahun ditanam Andi. Maka ‘darah pejuang’ mesti dididihkan. Demi citra sang presiden, Andi mundur secepatnya dari jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga. Dan demi citra  partai, Andi mundur secepatnya dari jabatan Sekretaris Dewan Pembina dan Majelis Tinggi Partai Demokrat. Menghadapi KPK, untuk tidak menjadi pecundang dalam ‘duel bersejarah’ duo Makassar di ‘ring’ hukum, Andi mesti berkonsentrasi tinggi untuk menghimpun energi.

     Jakarta, di awal Desember 2012. “Nubuah” Bung Karno kembali menggelar bukti. Puncak pertarungan dua wajah anak bangsa dalam satu tubuh bangsa. Sebagai pertarungan bersejarah, semoga ‘duel akbar’ duo Makassar Abraham versus Andi menjadi kacabenggala bangsa ini. Cermin kehidupan, alat introspeksi dan refleksi. Bahwa akan selalu ada dua sisi dalam satu keping koin logika. Pertarungan hitam-putih, kegelapan-cahaya, kebaikan-kejahatan, keadilan-kezaliman.

       Simbol-simbol digelar. Hukum versus politik. Rechstaat versus maachstaat. Rakyat versus birokrat. Piramida pertarungan mengerucut pada dua lembaga negara. Judikatif versus legislatif. KPK versus pemerintah, dengan menteri sebagai simbolnya. Dua lakon dua nama, Abraham Samad versus Andi Alfian Mallarangeng. Siapa kalah siapa menang tak lagi penting. Yang penting adalah bagaimana bangsa ini cerdas menangkap hikmah di balik setiap peristiwa, sebagai keluarga besar negara-bangsa. Seperti satu pesan penting lagi dari Bung Karno, Jasmerah! “Jangan sekali kali meninggalkan sejarah!”

Salam...

El Jeffry

Referensi: