Tuesday, December 4, 2012

Pancasilais Versus Agamis




    Suatu ketika, dua warga negara Indonesia bertemu. Seorang mengaku sebagai pancasilais, dan lainnya mengaku sebagai agamis. Lalu keduanya berbicara tentang problem-problem dan masa depan umat-bangsa-negara. Tiba-tiba keduanya bersilang kata, bersitegang dengan cara pandang yang bertolak belakang.

    Si pancasilais bicara dengan bahasa pancasila dengan setumpuk teori akademis, lengkap dengan argumen valid dan logis. Tapi terhadap cara pandang agama, ia alergi dan pesimis."Agama itu kuno, tak lebih dari dogma-dogma dan terma-terma urusan manusia dengan Tuhannya. Agama tak akan bisa menjawab problem-problem negara yang selalu berkembang penuh dinamika." Padahal dia sendiri orang beragama.

    Sementara Si agamis bicara dengan bahasa agama dengan segunung ilmu lengkap dengan dalil-dalil shahih. Tapi terhadap cara pandang Pancasila, ia alergi dan pesimis. "Pancasila yang selama ini dijadikan NKRI sebagai dasar negara, nyatanya telah terbukti tak bisa menjawab problem-problem negara, membawa rakyat adil sejahtera, hampir di 70 tahun Indonesia merdeka." Padahal, ia selama hidup bebas dalam beragama dan memang dijamin oleh negara yang berdasarkan Pancasila.

    Seorang anak gembala datang. Ia hanya awam dan buta mengenai Pancasila kecuali 5 perkara; ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. ia juga awam dan buta mengenai agama kecuali hanya beberapa, bahwa Tuhan yang diyakininya menghendaki manusia untuk memanusiakan manusia, bersatu dan bersaudara, bersuara dengan hikmah-bijaksana, dan berbuat adil kepada sesama.

    "Tak penting bagiku apakah itu bernama pancasila atau agama. Aku mengikuti keduanya, mana yang terbukti nyata bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi orang lemah seperti saya, itulah yang layak saya bela. Tapi jika hanya berdebat kusir dalam wacana dan retorika, tiada manfaatnya dua-duanya hanya sia-sia.

    Pancasila atau agama bukan sekadar teks semata. Tapi seorang pancasilais atau agamis adalah orang yang telah merdeka dari penjara keduanya. Pengamalan nilai-nilai dasar dalam keseharian nyata, itu baru seorang pancasilais dan agamis sejati. Seharusnya, pancasilais sudah pasti agamis, sebab kelima silanya merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai agama. Dan agamis sudah pasti pancasilais, sebab beragama merupakan pengamalan dari sila pertama Pancasila.“

Bukan begitu bukan, kawan?

Salam...
El Jeffry