Sunday, December 2, 2012

Sutan dan Aksi Akrobatik di Panggung Politik


135445289595275282
Sutan Bhatoegana sungkem. Insert: Gus Dur. (sumber gambar: http://news.liputan6.com)
     Apa bedanya panggung politik dengan panggung hiburan? Demi menghemat energi berdebat-debat,mari kita sepakat pada satu kata, tak ada, alias sama dan serupa. Di atas panggung politik maupun panggung sandiwara, akan selalu hadir berjuta-juta cerita. Suka-duka, sedih-gembira, derita-bahagia, rangkaian gerbong cerita yang dikemas dalam berita, pada akhirnya puya tujuan yang sama, arena hiburan bagi manusia.

      Percaturan politik, layaknya permainan catur, gerak loncat saling bentur, meski kadang membuat dahi berkerut, tetap saja, pada akhirnya bertujuan menghibur. Layaknya hiburan, letakkan saja pada koridor hiburan. Boleh saja kita bersitegang dalam perseteruan dan aneka pertempuran, pada akhirnya, tutup saja dengan tertawa.

     Panggung politik, sebagai salah satu ekspresi entertainment yang paling membuat orang nyandu tergila-gilademen oleh pesonanya. Gelaran politik di negeri republik, kadang berupa opera “panggung-sandiwara” dengan seniman aktor-aktris berakting gaya di atasnya, gelaran Pilkada Jabar misalnya. Kadang berupa drama musikal “orkestra” biduan-biduanita beriring musik dangdut terajana, Duet Gotik Rhoma-Zaskia 2014 contohnya. Bisa juga dagelan gila meski cuma sebatas wacana, duet Parto-Tukul di Pilpres 2014 buktinya.

   Ahaentertaining politik lebih menggelitik, jika panggungnya berupa gelaran aksi akrobatik. Gerak zig-zag para pemainnya, loncat-loncat layaknya kutu loncat, jungkir balik, kayang-salto, politik memang polah pletak-pletik (bergerak loncat sana loncat sini). Memang, kadang aksi akrobatik politik membuat kita tertawa ngikik jika aksinya wagusaru (rancu-jorok) menggelitik. Namun selagi kita lihat sebagai tontonan yang menghibur seru, yang penting bisa tertawa, habis perkara.

      Syahdan, suatu hari seorang pemain akrobat tengah beraksi di panggung politik. Namanya juga akrobat, tentu yang penting bisa pletak-pletik. Tak peduli apakah ia pionir dan mahir dalam mengolah gerakannya, tak peduli pula apakah ia terlatih atau tergagap-gagap karena tak biasa. Adalah dia Sutan Bathoegana. Politisi (yang katanya) senior dari Partai Demokrat yang tengah berkuasa.

     Nampaknya Sutan lupa pada “canda politik”nya yang kerap aneh-aneh, salah satunya tentang istilah orgasme politik. Sutan ada benarnya, bahwa hubungan politik ibarat hubungan suami isteri dalam rumah tangga bangsa. Pemimpin (wakil rakyat dan pejabat) suaminya, publik-rakyat sebagai isterinya. Rumah tangga harmonis hanya tercipta ketika terjalin hubungan yang baik di antara keduanya, termasuk, (maaf) dalam hubungan badan yang pada fitrahnya sakral suci mulia. Tujuannya sama, untuk kesenangan, kenikmatan, kepuasan dan kebahagiaan berdua.

    Namun, karena ”berahi politik” tak terbendung, mungkin tergesa-gesa hendak mengejar orgasme, Sutan pun “ejakulasi politik” dini, tersandung kasus berbuah kontroversi. Sutan terkilir, bukan salah gerakan akrobat kaki, tapi karena “blunder lidah” dalam sebuah diskusi di DPR. Sutan menuding pemerintahan Gus Dur jatuh akibat terlibat skandal Brunei-gate dan Bulog-gate. Akibatnya, publik pun “gusar” layaknya seorang isteri yang dicurangi suaminya.

     Sutan dicerca, dicaci-maki hingga disumpahi. Konon katanya, mengeluarkan sembarang statemen tentang orang yang bukan sembarangan, apalagi seorang kyai besar yang telah wafat, mantan presiden RI pula, Sutan bisa “kualat tujuh turunan.” Sontak Sutan dihantui “kecemasan bathin.” Bersama Ketum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Jhonny Alen Marbun, Sutan pun sowan ke kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur untuk meminta maaf.
  
    Terlanjur dikenal publik sebagai pemain ciamik akrobat politik, kedatangan ini pun memunculkan cerita baru. Konon katanya, sowan adalah bagian dari aksi akrobatik, terlebih karena Anas ikut mendampinginya. Misi politik Partai Demokrat, sekali gerakan, dua tiga aksi terlampaui. Sambil sungkeman gaya cium tangan kepada Ibu Shinta Nuriyah Wahid, Demokrat sekalian mencari lucky, keberuntungan politik dengan “masuk” ke keluarga Gus Dur. Paling tidak, unjuk diri bahwa sowan adalah bukti sikap ksatria Demokrat yang bermartabat dan rendah hati. Untuk urusan aksi akrobat, Demokrat memang hebat!

     Demokrat selama ini dinilai tidak memiliki hubungan yang dekat Gus Dur khususnya dan basis Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya. Langkah untuk meminta maaf itu secara tidak langsung juga akan merekatkan hubungan antara Partai Demokrat dengan NU. Aksi akrobatik ditunjukkan Anas dengan tak sekadar meminta maaf, tapi juga mendoakan agar putri Gus Dur Yenny Wahid sukses di tahun 2014. Demi kepentingan politik, para pemain mesti cerdas dan cantik bermain akrobatik.

      Di satu sisi, GP Ansor sebagai salah satu representasi umat Nahdliyin, menyatakan bahwa masalah Sutan Bhatoegana sudah selesaiNamun sebagian kalangan yang masih merasa memiliki Gus Dur menilai, bahwa permintaan maaf Sutan belum setimpalSowan dan sungkeman tak serta-merta mengobati “luka hati” umat-bangsa ini. Sutan masih dituntut untuk “tobat nasuha” turun dari “panggung politik” dan “wajib hukumnya” meminta maaf kepada rakyat Indonesia.

      Di sisi lain, pihak Demokrat dan istana juga tidak serta merta mau disudutkan begitu saja. Istana berdalih, bahwa pernyataan Sutan sendiri adalah reaksi alami politisi yang terbakar oleh statemen aktivis Gerakan Indonesia Bersih yang juga mantan jubir Gus Dur Adhie Masardi tentang Presiden SBY. Adhie Masardi  berkata bahwa SBY mendapat gelar dari Ratu Inggris karena barter dengan LNG Tangguh. Selain itu, BP Migas dibubarkan disebut juga oleh Adhie Masardi sebagai bukti kalau SBY melindungi koruptor. 

     Alhasil, keterkiliran aksi akrobatik lidah Sutan, di dunia politik bernuansa seni-hiburan, tak cuma sekadar
gerak acak kesalahan. Seperti pola geometrik fraktal Mendelbrot, Sutan secara tak sengaja telah memainkan gerak zig-zag beraturan, meski sekilas nampak tak beraturan. Sama saja dengan pola politik di republik yang sarat dengan peraturan namun gagal membuat para pemain politik untuk tunduk pada aturan.

     Pemilu 2014 kian mendekat. Dan hampir dipastikan, panggung politik negeri ini akan dipenuhi ragam aksi akrobatik para pemain politik. Untuk dua tujuan, kompetisi kepemimpinan dan perebutan kekuasaan. Aksi akrobatik menjadi keniscayaan. Ada banyak cerita yang dikemas menjadi jutaan berita. Ada banyak keterlibatan kepentingan, keinginan dan kebutuhan yang menyatu dengan hasrat-syahwat “berahi” jutaan manusia.

     Ada banyak aksi akrobatik unik, apik, cantik, ngulik dan menggelitik, mengundang jutaan pasang mata, berikut tanda tanya yang nyaris tak pernah ada kepastian jawabnya. Akhirnya, apapun yang terjadi dengan aksi akrobatik di panggung politik republik, ambil saja sebagai hikmah pendidikan politik anak bangsa. Semoga kita bisa belajar bijak berbicara dan bijak pula dalam menyikapi orang yang salah berbicara. Dan jangan lupa, tutup ceritanya dengan sepuas-puasnya tertawa.

Salam...
El Jeffry


Petaka 3 Menit Benamkan Garuda



13543827901903947234
Garuda Kalah 0-2 Saat Laga Kontra Harimau Malaya. (Sumber photo: http://lipsus.kompas.com)

      Tragis dan dramatis! Itulah dua kata yang pantas diucapkan melihat hasil laga antara Tim Garuda kala kontra Harimau Malaya. Kegarangan garuda seakan sirna, hanya oleh petaka 3 menit pada Sabtu malam tadi, dalam laga ke-3 penyisihan grup B Piala AFF 2012.  Dua gol Malaysia tak terbalas hingga peluit terakhir prakts melumpuhkan harapan dan mimpi Indonesia. 

      Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur seakan mengulang sejarah kelam “diinjak-injaknya” Garuda setengah abad silam, kala Indonesia memproklamirkan konfrontasi dengan Malaysia yang lebih dikenal sebagai gerakan “Ganyang Malaysia.” Alih-alih menuntaskan “pembalasan dendam” atas kejumawaan negeri jiran yang sepanjang sejarah kerap “melecehkan” Indonesia, yang didapat justru Malaysia berhasil “mengganyang” Tim Garuda dengan garang.

     Bermain dengan mental dan kepercayaan diri yang tinggi setelah dalam pertandingan terakhir mampu menggulung Singapura serta diuntungkan sebagai pemuncak klasemen grup, Indonesia hanya butuh hasil seri untuk memastikan diri lolos ke babak semifinal. Namun dewi fortuna tak berpihak, Garuda justru menjadi “bulan-bulanan” Harimau Malaya. 

     Praktis, sepanjang 90 menit pertandingan, tim asuhan Nil Maizar mampu menggebrak menit-menit awal babak pertama. Petaka bagi tim Garuda tiba hanya 3 menit, dengan terciptanya gol beruntun Malaysia pada menit ke-26 dan menit ke-29. Gol yang terjadi sebagai konsekuensi rapuhnya barisan pertahanan yang gagal dibenahi. Garuda kehilangan ketajamannya, bahkan setelah Andik Vermansyah, dimasukkan di menit ke-34 menggantikan Ellie Aiboy. 

     Tony Cussel yang juga dimasukkan di babak kedua tak banyak mengubah keadaan. Hilangnya konsentrasi, permainan tanpa pola dan cenderung monoton, tumpulnya alur serangan, kesalahan-kesalahan yang tak seharusnya terjadi. Suka tak suka, Tim Merah Putih “kalah kelas” dengan tim tuan rumah sekaligus juara bertahan asuhan Rajagopal ini.

     Sebenarnya harapan Indonesia masih ada ketika di saat yang sama, Laos sempat unggul 2-0 atas Singapura. Jika Laos berhasil memenangi laga, dengan berharap “adu nasib” dengan keunggulan produktivitas gol, Indonesia sebenarnya bisa lolos, sebab kedua tim ini akan memiliki nilai sama dengan 4 poin. Sayang, petaka kedua datang melengkapi, karena akhirnya Singapura justru berbalik unggul 4-3 atas Laos.

     Dengan hasil ini, maka Malaysia berhak maju ke babak semifinal sebagai runner-up mendampingi Singapura yang menjuarai grup dengan nilai sama 6 poin namun unggul dalam selisih gol. Sedang Indonesia harus segera berkemas untuk pulang lebih awal karena hanya berada di peringkat ke-3 dengan 4 poin, disusul Laos sebagai juru kunci dengan 1 poin.

    Tragis dan dramatis. Indonesia layak menangis. Kekalahan ini tak hanya menjadi kegagalan “pembalasan dendam sejarah” setengah abad silam saat Indonesia gagal memenangi duel konfrontasi dengan Malaysia. Juga kegagalan menebus kekalahan menyakitkan saat Garuda dibenamkan oleh Harimau Malaya di laga final Piala AFF 2010. 

      Kekalahan ini juga menambah kelam persepakbolaan nasional yang dalam beberapa puluh tahun fakir gengsi dan miskin prestasi, pailit prestise dan paceklik prestasi. Ditambah lagi, gonjang-ganjing kisruh dan perpecahan di tubuh PSSI yang sampai hari ini masih menjadi “hantu pemecah belah” persepakbolaan dalam negeri. Sarat intrik dan konflik, tarik-menarik antara kepentingan bisnis dan politik.

      Apa mau dikata? Memang demikianlah adanya. Bola itu bulat, tapi lapangan itu rata dan bertata-pola. Selalu ada jutaan kemungkinan dalam permainan sepakbola, kalah, seri dan menang adalah niscaya. Namun di sisi lain, strategi, organisasi, disiplin ilmu dan logika juga tak bisa diabaikan begitu saja. 

    Berita gembiranya, akan selalu ada hikmah di balik petaka yang menimpa. Kekalahan bukan alasan untuk berputus asa, bukan pula alasan untuk saling menyalahkan yang berujung pada makin runcingnya perpecahan. Petaka, bencana, musibah, adalah tanda-tanda nyata, bahwa ada sesuatu yang keliru dari manusia. Dan bagi sepakbola Indonesia, menjadi pesan maha penting untuk banyak berbenah, introspeksi dalam segala hal.

     Garuda di dada, lagu Indonesia Raya, bendera merah putih, simbol-simbol kebangsaan-kenegaraan yang selalu dihadirkan dalam setiap perhelatan sepakbola di arena dunia. Setelah 3 menit petaka, Garuda mesti ditata ulang, didigdayakan kembali agar kembali perkasa. Karena pada setiap helai bulunya, kepakan sayapnya, kibasan ekornya dan cengkeraman cakarnya, tersimpan arti dan cita-cita bangsa dan negara Indonesia.

Salam...
El Jeffry