Saturday, December 1, 2012

Jokowi-Basuki di Peta Korupsi Provinsi



      Ada yang unik dengan duet Jokowi-Basuki yang baru sekitar dua bulan memimpin DKI, sebagai gubernur dan wakil gubernur periode 2012-2017. Keunikan ini bila dikaitkan dengan peta korupsi di 33 provinsi di Indonesia. 

     Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mengungkap peringkat provinsi terkorup di Indonesia. Hasilnya tak berbeda dengan yang diungkap PPATK beberapa waktu lalu, dan tetap menempatkan DKI Jakarta tetap provinsi terkorup.

     Fitra mengungkap data berdasarkan publikasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) semester II tahun 2011. Untuk 33 provinsi ditemukan kerugian negara sebesar Rp 4,1 triliun dengan jumlah kasus sebanyak 9.703 kasus.

   Seperti kita ketahui, kehadiran Jokowi ke DKI Jakarta berangkat dari modal kepemimpinan sebagai walikota Solo, Jawa Tengah. Sedang Basuki derangkat dari modal kepemimpinan sebagai Bupati Belitung Timur, provinsi Bangka-Belitung.

      Uniknya, berdasarkan data Fitra, Jateng (wilayah di mana Jokowi memimpin Solo) menempati urutan ke-30 dari 33 provinsi terkorup di Indonesia, alias, peringkat ke-4 provinsi terbersih dari korupsi. Sedang Bangka-Belitung (wilayah di mana Basuki memimpin Belitung Timur) justru menempati urutan terakhir, alias, provinsi terbersih dari korupsi.

       Yang menjadi unik, Basuki datang ke Jakarta ibarat turun dari pucuk gunung menuju dasar jurang. Jokowi sedikit lebih rendah di belakangnya. Meskipun data korupsi kota-kabupaten sedikit berbeda dengan data korupsi provinsi, namun bisa dikatakan pula jika keduanya memiliki integritas dan konsistensi dalam dunia perkorupsian dalam negeri.

       Artinya, jika melihat dari gerakan lintas atlas Jokowi-Basuki di atas peta korupsi Indonesia, logikanya kita bisa berharap kepemimpinan keduanya akan mampu “sapu-sapu” pembersihan DKI. Tentu untuk merubah peta korupsi provinsi, menggugurkan “prestasi DKI dari sematan provinsi jawara korupsi.

     Akankah Jokowi-Basuki mampu menghapus “noda hitam” cap negatif DKI? Kalaupun tidak “bersih-bersih amat,” setidaknya tidak terlalu “kotor-kotor amat”? Tak mudah dijawab begitu saja.

    Seperti disampaikan oleh Koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra Uchok Sky Khadafi, meratanya korupsi di Indonesia merupakan indikasi dari gagal-lumpuhnya DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan pemerintahan di daerah. DPRD bukan melakukan pengawasan, tapi lebih bekerja sama dengan eksekutif untuk mencari materi dari program-program APBD untuk kebutuhan pribadi dan partai mereka.

       Di masa lalu sempat populer istilah “Waskat” yang artinya pengawasan melekat. Namun istilah ini akhirnya menghilang dari pasaran, tapi dalam prakteknya tetap laku sebagai barang dagangan. “Waskat” dimodifikasi ulang menjadi “Yang mengawasi dan yang di awasi sama-sama sepakat.” Atau, “Awas nggak awas yang penting bisa disikat.”

      Amboi negeriku, aduhai pemimpinku, indehoi DPRD-ku. Sepertinya Jokowi-Basuki mesti bekerja ekstra keras untuk bisa menghembuskan spirit anti korupsi yang dibawa dari Bangka-Belitung dan Jawa Tengah ke DKI Jakarta. DPRD DKI, bila didasarkan dari data korupsi, berarti memiliki peran besar dalam mendesain peta korupsi.

      Ditambah lagi, “dendam sejarah” kepartaian yang mungkin masih tersisa di dada pasca kekalahan jagoan-jagoan mereka pada pilkada silam. Naluri mendasar manusia, bahwa ketika Anda tak berlapang dada menerima kekalahan, Anda harus cari cara agar lawan tak nampak sebagai pemenang.

      Itulah syahwat politik-kekuasaan ala homo homini lupus yang memandang jabatan sebagai arena perebutan dengan saling menjatuhkan. Iwan Fals berdendang, “Maling teriak maling, sembunyi balik dinding, pengecut lari terkencing-kencing. Tikam dari belakang, lawan lengah diterjang, lalu sibuk mencari kambing hitam.”

      DPR, DPRD, adalah wakil rakyat yang terhormat. Namun karena perilaku yang jauh dari nilai-nilai kehormatan, kini wakil rakyat menjadi simbol “tong sampah masyarakat.” Amanat yang dipikul dan dipegang erat-erat, justru berlepasan tergantikan khianat.

       Akankah Jokowi-Basuki sanggup mengubah kasta hina DKI sebagai provinsi terkorup di negeri ini? Kita ikuti saja kelanjutan ceritanya hingga 5 tahun ke muka. Yang pasti dalam pusaran beliung kekumuhan politik DKI, Jokowi-Basuki mesti memiliki energi berdaya ekstra tinggi.

      Dalam satu kesempatan Jokowi enggan disamakan dengan “Superman” mengingat luar biasanya harapan dan espektasi masyarakat. Namun sebagai manusia normal kita juga wajar, jika di dalam ambang keputusasaan berharap akan datangnya keajaiban.

       Munculnya tokoh Superman juga sebuah pelajaran, bahwa Amerika yang begitu terlihat digdaya dalam urusan politik dan demokrasi, masih berharap kehadiran seorang “manusia setengah dewa” dari antariksa, bahkan jika pun bukan termasuk spesies manusia.

     Namun begitu, kita juga mesti menyadari, seperti kita, Jokowi (maupun Basuki) juga manusia. Hanya bedanya, mereka berdua telah teruji beberapa tingkat mampu menjaga amanat rakyat, khususnya dalam upaya melindungi diri dari jeratan gurita korupsi yang telah akut di negeri ini.

Berikut daftar peringkat provinsi terkorup beserta kerugian negara berdasarkan rilis Fitra:

1. DKI Jakarta Rp 721 miliar
2. Aceh Rp 669 miliar
3. Sumut Rp 515 miliar
4. Papua Rp 476 miliar
5. Kalbar Rp 289 miliar
6. Papua Barat Rp 169 miliar
7. SulSel Rp 157 miliar
8. Sulteng Rp 139 miliar
9. Riau Rp 125 miliar
10. Bengkulu Rp 123 miliar
11. Maluku Utara Rp 114 miliar
12. Kaltim Rp 80 miliar
13. Sumsel Rp 56 miliar
14. NTB Rp 52,825 miliar
15. Sulteng Rp 52, 823 miliar
16. Sulbar Rp 51 miliar
17. Gorontalo Rp 48 miliar
18. Maluku Rp 47 miliar
19. NTT Rp 44 miliar
20. Jabar Rp 32 miliar
21. Lampung Rp 28 miliar
22. Sumbar Rp 27 miliar
23. Kalsel Rp 22 miliar
24. Kalteng Rp 21 miliar
25. Banten Rp 20 miliar
26. Kepulauan Riau Rp 16,1 miliar
27. Sulut Rp 16 miliar
28. Jambi Rp 15 miliar
29. Jatim Rp 11 miliar
30. Jateng Rp 10 miliar
31. Bali Rp 6 miliar
32. DI Yogyakarta Rp 4 miliar
33. Bangka Belitung Rp 1,9 miliar 



Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://news.loveindonesia.com

Demi Sejarah Garuda, “Ganyang Malaysia”!


13543436001260913058
HARIMAU MALAYA SIAP BERHADAPAN DENGAN GARUDA. (sumber photo: http://www.hardika.com)

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia!
Ganjang... Malaysia!
Bulatkan tekad!
Semangat kita badja!
Peluru kita banjak!
Njawa kita banjak!
Bila perlu satoe-satoe!

      Demikian petikan dari pidato bersejarah Bung Karno pada 27 Juli 1963, sebagai reaksi kemurkaan seorang pemimpin negeri yang tak rela kehilangan harga diri karena lambang negara diinjak-injak oleh negeri tetangga, Malaysia. Sebuah gelora anak bangsa yang dengan mengumandangkan Konfrontasi dengan Malaysia . Dan kita mengenangnya sebagai gerakan “Ganyang Malaysia.”

      Cerita bermula, ketika gelombang demonstran anti Indonesia menyerbu gedung di Kuala Lumpur. Mereka merobek-robek foto Presiden Soekarno sambil membawa lambang negara Garuda Pancasila. Di hadapan PM Malaysia Tunku Abdul Rahman, para demonstran memaksanya untuk menginjak-injak “Sang Garuda.”

      Konfrontasi dengan Malaysia pecah tak terhindarkan, memakan 114 korban jiwa di pihak Malaysia dan 590 di pihak Indonesia. Sementara, tercatat 181 korban cidera di pihak Malaysia dan 222 di pihak Indonesia. Skor 1-0 untuk Malaysia, bukan hanya mereka mampu membekap Indonesia dengan lebih banyak korban jiwa dan cidera. Namun juga, Sabah dan Serawak yang menurut Persetujuan Manila seharusnya masuk wilayah NKRI, akhirnya jatuh ke tangan Malaysia.

     Rezim berganti, Pak Harto berdiri, konfrontasi resmi berhenti pada 11 Agustus 1966. Namun konfrontasi tak berhenti cukup sampai di sini. Malaysia paham betul bagaimana karakter santun Indonesia yang lebih suka “mengalah” demi perdamaian. Alhasil, dalam rentang waktu puluhan tahun bertetangga, Malaysia kerap memicu konflik yang merupakan sebuah penghinaan terhadap keperkasaan “Burung Garuda.”

     Bermanuver dalam klaim wilayah atas Ambalat dan Sipadan-Ligitan, Malaysia semakin menunjukkan kegarangan layaknya “Harimau Malaya” di rimba Asia Tenggara. Dari konflik perbatasan wilayah, merembet ke persoalan tenaga kerja, hingga konflik budaya. Akselerasi Malaysia di ranah budaya nusantara terlihat nyata dengan klaim atas lagu “Rasa Sayange” dan “Jali-Jali,” Reog Ponorogo, kain batik dan kain ulos, alat musik angklung, hingga Tari Pendet, Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan.

      Alhasil, Indonesia di mata Malaysia nampak bagai “bocah bongsor autis” yang seenaknya bisa dipermainkan begitu saja oleh “bocah kecil cerdas.” Tanpa ada “perlawanan” sepadan, keperkasaan “sang garuda” seakan telah sirna. Negeri jiran seolah jumawa dengan keberanian klaim-klaim atas hak-hak kenusantaraan Indonesia.

        Kini, 50 tahun setelah peristiwa konfrontasi “Ganyang Malaysia” berlalu, Garuda kembali dihadapkan pada perulangan sejarah. Kali ini, konfrontasi tergelar di atas lapangan sepakbola, dalam laga lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF 2012. “Garuda” akan diuji oleh “Harimau Malaya” dalam laga krusial penentu peluang ke semifinal. Laga ini, bagi kedua negara merupakan “laga final” layaknya pertarungan dua ikon perkasa penghuni rimba, harimau dan garuda.

        Kuala Lumpur kembali akan menjadi saksi sejarah, akankah Garuda terhina diinjak-injak sebagaimana terjadi di kota yang sama separuh abad silam. Juga saksi kalahnya Garuda oleh keganasan “Sang Harimau” 2 tahun silam dalam final Piala AFF 2010. Ataukah justru menunjukkan ketajaman cakar dan paruhnya dan membalas “kekalahan” sejarah, mencabik-cabik “Sang Harimau” sebagai simbol keberhasilan misi “Ganyang Malaysia”?

      Tak ada yang tahu pasti. Yang pasti, laga bersejarah bakal “berdarah-darah” akan melengkapi catatan panjang rekam “pertarungan” kedua negara. Dari total 64 pertemuan Sejak “konfrontasi” di lapangan hijau sejak 1957, Garuda masih lebih perkasa dengan 29 kali menang, 15 seri dan 20 kali kalah. Keunggulan sejarah ini mestinya jadi bekal mental dan kepercayaan diri “laskar merah putih” untuk bisa berkibar menjulang tinggi.

       Apalagi, di ajang gelaran piala ini, dari 7 kali pertemuan Indonesia juga masih unggul dengan 4 kali menang dan 3 kali kalah. Dan dalam 10 pertemuan terakhir di 10 tahun terakhir, Indonesia juga masih unggul dengan 4 kali menang, 3 kali seri dan 2 kali kalah. Modal sejarah, bagaimanapun penting artinya bagi mental dan kepercayaan diri para “ksatria Garuda nusantara” untuk bisa menaklukkan kejumawaan Malaysia.

     Memang ada catatan kelam sejarah dengan kekalahan dramatis di laga final Piala AFF 2010 silam, yang mengantarkan Malaysia merebut trofi juara, sekaligus mengubur impian Indonesia untuk mencetak sejarah kali juara untuk kali pertama. Juga kekalahan demi kekalahan dalam konflik wilayah, budaya dan tenaga kerja di hampir setiap konfrontasi dengan Malaysia. Namun semua itu justru mesti ditransformasi menjadi sumber energi dan motivasi Tim Garuda untuk membuktikan keperkasaannya.

      Dan yang lebih menguntungkan bagi Indonesia, Malaysia tengah berada dalam tekanan pasca kalah secara mengejutkan di pertandingan perdana dari Singapura. Meskipun tim asuhan Rajagopal ini akhirnya mampu menumbangkan Laos, dan menempati peringkat 3 klasemen dengan 3 poin, tim Harimau Malaya ini butuh kemenangan untuk tidak tergantung dari hasil pertandingan antara Singapura dan Laos di malam yang sama.

          Indonesia berada di atas angin dengan memuncaki klasemen sementara grup dengan 4 poin  dari hasil imbang 1-1 lawan Laos dan menang 1-0 atas tuan rumah Malaysia. Praktis, hasil seri sudah cukup mengantarkan tim asuhan Nil Maizar ini untuk lolos ke babak semifinal. Namun, demi harga diri dan kehormatan Garuda di mata Malaysia, Indonesia “wajib hukumnya” untuk memenangkan laga. Kemenangan akan menjadi sejarah luar biasa.

        Kemenangan, bukan hanya akan memuluskan jalan meretas mimpi menjadi juara Piala AFF pertama kali, namun juga sebagai “pembalasan dendam atas” pelecehan Malaysia atas Garuda, simbol kehormatan bangsa-negara Indonesia. Kemenangan juga akan berimbas positif bagi peredam kisruh sepakbola nasional yang sampai hari ini didera “cidera konflik” perpecahan organisasi PSSI.

       Maka, tak ada pilihan bagi laskar merah putih (rencananya akan ditayangkan RCTI Sabtu malam nanti pukul 20.45), saat berlaga melawan Malaysia, untuk berjuang “berdarah-darah” demi menuntaskan “dendam sejarah.” Kemarin, secara luar biasa Garuda sukses cabik singa. Dan hari iini, dengan iringan doa dan harapan jutaan rakyat Indonesia, demi tuah sejarah Garuda, hanya ada satu kata, cabik-cabik pula Harimau Malaya! “Ganyang Malaysia”!!!

Salam sepakbola Indonesia...
El Jeffry