Thursday, November 29, 2012

Spirit Gol Andik bagi Perjuangan KPK


13541821421616151313
ANDIK DAN ABRAHAM. (sumber photo: http://indonesiarayanews.com dan www.abrahamsamad.com)


     Gol indah nan spektakuler Andik Vermansyah mengguncang media massa pertengahan pekan ini. Sebuah gol bersejarah, fenomenal dan monumental di laga krusial Piala AFF 2012 kala kontra Singapura. Sebuah gol semata wayang pengantar Indonesia kepada kemenangan. Sebuah gol yang menjawab segala keraguan publik “penggila” olah raga si kulit bundar. Sebuah gol penumbuh kesadaran akan pentingnya harapan, di puncak keputusasaan kita akan kebangkitan sepakbola nasional.

     Apa arti sebuah gol? Sebuah gol bukan hanya soal menendang bola dengan sekuat tenaga ke gawang lawan untuk menggetarkan jala. Sebuah gol bukan hanya teriakan gembira dan ritual selebrasi sebagai ledakan orgasme emosi. Sebuah gol bukan hanya ekspresi kedigdayaan akan keberhasilan menaklukkan lawan. Sebuah gol tak berarti apa-apa sebelum ia lahir di tempat dalam situasi yang tepat.

      Dalam sepakbola, di mana kebersamaan menjadi dasar kokohnya bangunan kekuatan, di mana perhelatan berbagai kejuaraan digelar untuk menjadi yang terbaik, sebuah gol akan menjadi cerita yang melahirkan jutaan berita di media massa. Dari media inilah manusia di hampir seluruh dunia mendapatkan pelajaran maha berharga, sebab gol dalam sepakbola adalah pucuk dari rangkaian pohon peristiwa, ujung dari jalan panjang perjuangan manusia. 

     Gol “AV10” di menit ke-87 di atas lapangan hijau Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia di hari Rabu bukanlah gol biasa. Dan kemenangan tim asuhan Nil Maizar ini ibarat oase di tengah sahara. Gol kerinduan publik sepakbola Indonesia pada prestasi Garuda di pentas dunia, yang dalam tahun-tahun terakhir ini terjerembab di titik nadir. Fakir prestasi, miskin gengsi, paceklik trofi, kekalahan dan kegagalan berkepanjangan tanpa tanda-tanda kebangkitan, apalagi kemajuan.

     Wajar, publik pun terombang-ambing dalam dualitas perasaan dan keyakinan. Benci tapi rindu. Cinta sekaligus dendam. Suka dan tak suka bercampur-baur dalam dada. Maka sebagian dari kita hilang kendali dalam menyikapi arti sportivitas olah raga dalam sepakbola. Berpecah-belah, gontok-gontokan dan saling jegal. Sepakbola nasional menjadi sentral polemik, intrik dan konflik, kadang berbaur pula dengan aroma pertarungan bisnis dan politik.

      Gol Andik dan kemenangan timnas, meski untuk sementara, menjawab keraguan publik yang sempat memandang rendah perjuangan Garuda meretas mimpi untuk menunjukkan prestasi lolos ke semifinal, atau bahkan bila perlu mencetak sejarah pertama merasakan nikmatnya berkasta juara Asia Tenggara. Gol Andik membuka mata kita, yang selama ini lebih memberhalakan kertas baca kalkulasi matematika. Bahwa dalam sepakbola segala kemungkinan selalu terbuka. Selalu ada kejutan dan hal-hal tak terduga terjadi di atas lapangan rumput sepakbola.

      Gol tunggal Garuda sekadar gol biasa, bahkan ketika ia berada dalam dunia olah raga. Gol adalah simbol dari persatuan seluruh personel yang terlibat di dalamnya. Pemain, pelatih, pendukung, semua saling mengisi dan bersinergi. Pengetahuan, teknologi, taktik-teknik-strategi, fisik-mental-moral, spiritualitas dan sportivitas, kekuatan, kecepatan dan keahlian, loyalitas-kesetiaan dan dedikasi-pengabdian, tekad, semangat dan harapan. Semua berkolaborasi dalam satu kesatuan badan kesebelasan. 

     Sebuah gol adalah muara dari ribuan kilometer alur dan arus perjuangan, tujuan akhir dari sebuah niat, itikad, keinginan dan hasrat. Di atas mekanisme hukum tetap yang telah disepakati, kaidah-kaidah peraturan yang mesti dijunjung tinggi. Sebuah gol, entah pada akhirnya membuahkan kemenangan atau tidak, tetaplah sebuah bukti shahih yang maha berharga bagi setiap manusia. Di manapun ia, kapanpun, bagaimanapun, berapapun, kecuali bunuh diri, gol akan selalu indah bagi penciptanya, penonton, pendukung atau pemrakarsa sang sutradara yang kadang harus terpaksa berdiri di luar arena. 

      Sepakbola juga bukan sekadar olah raga, sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk kesehatan raganya. Sepakbola adalah ruh, spirit, hukum, simbol, bahkan agama. Spiritualitas dan sportivitas adalah senyawa utama dari olah raga. Ibarat unsur hidrogen dan oksigen yang bersenyawa membentuk air, kebutuhan dasar manusia di seluruh dunia. Spiritualitas dan sportivitas bergerak lintas batas. Tak hanya di arena olah raga, namun juga politik, hukum, sosial-budaya. Sebab tanpanya komunitas manusia tak berbeda dengan sekumpulan penghuni rimba.

       Gol tunggal indah Andik Vermansyah semoga menjadi pelajaran sejarah. Di tanah air ini, tempat berhuni lebih dari 240 juta yang sebagian besarnya akrab dengan sepakbola, kita tengah terkurung dalam jeruji besi gurita korupsi yang membelit akstra kuat di seluruh lini. Ranah hukum, politik, dan sosial-budaya nusantara telah mencapai titik nadir dalam sejarah peradaban nusantara. Sayangnya, kita hanya bisa berharap dari satu-satunya lembaga KPK untuk lolos dari lubang jarum korupsi. Dan sayangnya lagi, sudah sekitar satu dasa warsa KPK hadir di tengah kita, belitan gurita korupsi tak kunjung mengendur, justru semakin perkasa.

      Hingga penghujung tahun 2012 hari ini, bahkan pimpinan KPK terbaru Abraham Samad yang kita gadang-gadang bakal mencetak sejarah baru pemberantasan korupsi di Indonesia, masih belum saja menunjukkan hasil yang melegakan dada. Pemberantasan korupsi seakan hanya merangkak beringsut, kalau tidak dikatakan jalan di tempat. Padahal, ketika hendak memanggul amanat berat memimpin KPK, sang ketua telah mengikrarkan tekad jihad, mewakafkan diri demi bangsa dan negara. 

      Abraham juga berucap janji untuk menuntaskan kasus-kasus besar korupsi dalam setahun masa jabatannya, jika tidak, maka pulang kampung ke Makassar adalah lebih baik baginya daripada makan gaji buta. Namun sayangnya, sampai hari ini, di mana waktu yang dijanjikan tinggal hitungan hari, tak satupun kasus besar terbukti dituntaskan. Kasus Hambalang, Wisma Atlet, BLBI, dan yang tengah mencuat di akhir-akhir ini, kasus Century semuanya masih gelap dan penuh misteri. KPK tak berdaya menjerat para sutradara, hanya berkutat pada aktor-aktor figuran dan pembantu semata. 

     Memang banyak hal yang menjadi penyebab kegagalan KPK dalam menuntaskan “misi suci”-nya. Sebagaimana kegagalan PSSI sebagai lembaga tertinggi sepakbola nasional, KPK juga terhimpit dalam arena polemik, intrik dan konflik yang melibatkan bisnis, hukum dan politik. Maka nasib KPK setali tiga uang dengan nasib sepakbola Indonesia, fakir prestasi, miskin gengsi, paceklik trofi. Publik resah gelisah harap-harap cemas, benci tapi rindu, cinta sekaligus dendam, campur aduk antara rasa geram dan delora dukungan. 

     Dalam kebuntuan, pesimisme dan ujung keputusaasaan kita, Abraham bersama KPK semestinya bisa mengambil simbol energi spirit gol Andik bersama Garuda. Kita memang rindu kemenangan KPK atas para koruptor musuh bebuyutan negara. Namun, melihat realita, kita juga tak menuntut terlalu tinggi agar KPK menjadi juara dengan tuntasnya korupsi secara sempurna. Kita hanya butuh satu bukti, sebuah gol, bahkan tak perlu indah, dengan terkuaknya satu kasus besar. 

      Lupakan masa lalu, tataplah masa depan. Abraham mesti cerdas dalam mentransfer energi spiritualitas dan sportivitas sepakbola ke dalam lembaga KPK. Sebuah gol akan menjawab keraguan kita akan ketumpulan KPK, entah karena upaya rekayasa pelemahan dan pengebirian yang sulit dibuktikan. Sebuah gol juga akan menghindarkan kita dari keputusasaan oleh kegagalan demi kegagalan KPK yang selalu saja secara diplomatis bisa dijawab oleh Abraham. 

     Sebuah gol yang lahir di tempat dan situasi yang tepat, akan membuka harapan baru bagi barisan pendukung anti korupsi untuk lebih bersatu menghimpun kekuatan. Gol indah KPK oleh Abraham, seperti gol Garuda oleh Andik, di masa injury time, H-17 babak setahun kepemimpinan sang ketua. Gol tunggal yang akan menjadi gol bersejarah, fenomenal dan monumental bagi kebangkitan moral dan mental bangsa ini dalam laga panjang pemberantasan korupsi.

Viva sepakbola Indonesia, viva KPK...

Salam...
El Jeffry

Gus Dur, Gusmao dan Guus Hiddink





Nama ketiga tokoh dunia ini, kebetulan berawalan sama, sama-sama Gus. 
Tokoh pertama adalah Gus Dur.

Gus Dur adalah tokoh besar Islam kaum Nahdliyin yang perjuangannya telah melintas batas wilayah negara, agama dan dunia. 

Gus Dur adalah kombinasi dari seorang budayawan, pembela HAM, pembela kaum minoritas,  pemikir Islam, ulama, sekaligus politikus-negarawan.
Gus Dur kini telah tiada. Namun, sebagai tokoh sakral Indonesia, sehingga terusik saja sedikit kehormatannya, akan memancing polemik dan pro kontra yang imbasnya dalam dunia politik sungguh luar biasa.

Tokoh kedua, adalah Xanana Gusmao.

Gusmao adalah dua wajah dunia. Bagi pemerintah Indonesia, ia adalah pemberontak yang mengancam keutuhan wilayah NKRI. Namun, bagi Timor Leste, ia adalah seorang pahlawan bangsa, yang dengan perjuangan gerilyanya membawa mereka ke alam merdeka.

Gusmao adalah Presiden Timor Leste pertama, lalu juga seorang Perdana Menteri ke-4 dan ke-5 yang masih dijabatnya hingga sekarang. Namun sebelumnya, Gusmao adalah seorang gerilyawan pejuang kemerdekaan, dan sebelumnya lagi juga seorang pemain sepakbola dan wartawan.

Lalu tokoh ketiga adalah Guus Hiddink.

Guus Hiddink adalah tokoh sepakbola asal Belanda, yang kiprahnya telah melintas dunia antar benua. Ia telah membuktikan profesionalisme dalam industri sepakbola, dengan menukangi klub-klub sepakbola Eropa. 

Guus Hiddink adalah pahlawan bagi sepakbola Asia, ketika sukses mengantarkan Korea Selatan menjadi juara ke-4 di Piala Dunia 2002. 

Guus Hiddink juga berjasa kepada Australia dengan meloloskannya ke pentas Piala Dunia 2006. 

Guus Hiddink juga sukses mendongkrak prestasi sepakbola Rusia dengan membawa tim itu melaju ke babak semifinal Piala Eropa 2008.

Gus Dur, Gusmao dan Gus Hiddink adalah orang-orang besar di bidangnya. Indonesia, Timor Leste dan Belanda menjadi saksi kebesaran mereka. Maka mereka adalah tiga dari tokoh dunia yang akan selalu di kenang sepanjang masa, oleh siapa saja yang terinspirasi dari pengabdian dan kesetiaan pada perjuangan yang untuk mengubah dunia.

Salam... 
El Jeffry