Monday, November 26, 2012

Rhoma-Zaskia: “Duet Gotik” Republik Musik


1353915910801162590

ZASKIA GOTIK BERSAMA BUDI "DO RE MI" YANG BERGAYA ALA RHOMA IRAMA. (sumber photo: 
hot.detik.com/readfoto/2012/10/09)

     Bicara politik di negeri republik-demokratik tak pernah berhenti pada satu titik. Konon katanya, politik adalah warisan klasik paling unik yang pernah ada di dunia. Tak hanya sarat matan-matan logika akal sehat manusia, namun juga penuh aroma ghaib, klenik dan mistik. Pastinya, semakin rumit dan pelik, semakin penuh intrik dan konflik, politik akan semakin mengundang daya tarik. Politik menjadi skspresi polah tingkah manusia yang gemar pletak-pletik (meloncat-loncat), kompetisi ‘adu jangkrik’ saling kilik, meski bagi rakyat awam kebanyakan, tak lebih dari parade latah-kaprah ala bebek, pol-polane mung ngitik (ujung-ujungnya cuma membebek).

    Panggung politik terkini di negeri republik, masih saja menjadi magnet sentral pesta pertunjukan. Terma politik yang kini surut menciut kepada perhelatan ‘perebutan kekuasaan’ menjadikannya lebih sebagai ‘tontonan’ ketimbang ‘tuntunan’ keteladanan. Pengejawantahan politik teraktual sebagai pertarungan heroik palsu nan banal dan binal, dalam ranah sempit dan dangkal. Trayek kendaraan politik berbolak-balik dari terminal industri-bisnis-transaksional ke terminal entertainment-hiburan. Dari tema canda-tawa dalam dagelan, hingga drama romantika dan tragedi dalam opera atau kethoprak Jawa, aktor-aktor politik bermain massal di atas “Panggung Sandiwara-sinema politikana Indonesia.

     Bicara politik hampir tak ada beda dengan bicara musik. Ketika politik berkolaborasi dengan musik, kita akan melihatnya sebagai sebuah orkestra. Alunan suara vokal manusia dan iringan musik yang membahana berirama, panggung orkestra tata negara akan menjadi showbiz dengan pesona luar biasa bagi tiap lensa mata. Namun semua itu belum sempurna jika belum hadir goyangan di dalamnya. Sebab goyangan adalah ekpresi dari kesenangan, kenikmatan, sekaligus kegairahan berahi manusia. Di dalam goyangan tersimpan energi kesemangatan, dinamika pergerakan, sebagai salah satu penjaga kesehatan badan.

      Bicara goyangan di republik tak bisa lepas dari fenomena “Si Raja Dangdut” Rhoma Irama yang melegenda bersama Soneta. Raden Haji Oma Irama yang akrab dengan “Bang Haji,” lewat musik dangdut revolusioner ternyata tak cuma piawai dalam menggoyang “panggung orkestra”, namun juga amboi dan aduhai dalam menggoyang “panggung politik” tata negara Indonesia. Atraktif pletak-pletik dari antar partai politik, “Bang Haji” seakan fenomena seniman yang ahli mengkolaborasikan urusan seni-musik dengan urusan politik.

       Terbukti, pesona suara dan goyangan “Bang Haji” mampu mendongkrak suara PPP sejak aktif bergabung pada 1977. Bersuara lantang dengan spirit pemberontakan, menggelorakan perubahan, mensosialisasikan kebhinnekaan dan kebangsaan, mendakwahkan persatuan dan keadilan, “Si Raja Dangdut” pada zamannya menjadi ikon perjuangan rakyat kebanyakan. Tak pelak, hegemoni rezim orde baru memaksanya mati kutu. Rhoma dicekal dan dijegal selama 11 tahun. Rhoma pun melakukan aksi akrobatik loncatan politik dengan bergabung ke Golkar pada 1988. Loncatan brilian seorang maestro seniman, menjadi anggota DPR mewakili utusan golongan pada 1992 dan berdekat-dekat dengan kekuasaan membawa namanya semakin berkibar.

      Abaikan soal privacy hubungan asmara dengan beberapa “bidadari jelita” yang menghiasi mahligai rumah tangga “sang mega star.” Entah itu yang berkenaan dengan Veronica pada 1972, Ricca Rachim pada 1984, Gita Andini Saputri pada 1999, atau Angel Lelga pada 2005. Entah itu dilakukan secara terbuka lewat lembaga KUA atau nikah sirri semata. Entah itu pernah dikabarkan pula melibatkan artis dangdut Ayu Soraya. Abaikan saja, karena yang pasti “magnet cinta” seorang selebriti memang luar biasa. Hadir sebagai figur populer seorang seniman, politisi dan ulama, suka tak suka mengundang berjuat pesona kaum hawa. Rhoma Irama ibarat sang Rama yang mengundang pesona Shinta-Shinta.

       Musik telah membawa Rhoma benar-benar leluasa “berkelana” dari dunia asmara ke dunia agama, dari dunia musik ke dunia politik, dengan goyangan yang makin asyik dan menggelitik. Bosan berlama-lama dengan Golkar, kembali berita besar diciptakan oleh “Sang Mega Star.” Rhoma pun “rujuk” bergabung kembali dengan PPP pada 2009. Alhasil, “Si Raja Dangdut” sempat dijuluki “Si Raja Kutu Loncat.” Julukan yang tak berlebihan, ketika pada 2004, dengan figur “keulamaan” dan keislamannya Rhoma kahirnya justru getol berkampanye untuk PKS. Dan terakhir, Rhoma secara tak sengaja telah memantik api kontroversi dengan ceramah bernuansa SARA ketika mendukung Foke-Nara dalam Pilkada DKI 2012.

     Pesona Rhoma berikut suara dan goyangan khasnya bagaimanapun masih berdaya jual tinggi dalam “bisnis politisi” di negeri ini. Terbukti, di penghujung tahun 2012 ini, ketika aktor-aktor politik disibukkan persiapan menyambut perhelatan akbar 5 tahunan Pilpres 2014, nama Rhoma muncul kembali sebagai fenomena. Konon katanya, umat dan rakyat menghendaki “sang raja” untuk tampil di depan memimpin Indonesia, menjadi Presiden RI pada 2014. Sudah biasa, berhamburanlah pro-kontra. Keniscayaan dalam demokrasi, di mana setiap manusia Indonesia berhak bersuara dan menyatakan pendapatnya. Terlebih media massa telah terbuka sebagai sarana “perang opini” seluas-luasnya, bahkan hingga kadang lepas bablas tanpa kendali.

     Dari goyangan politik yang luar biasa inilah Rhoma layak kita juluki sebagai “Si Raja Gotik,” raja goyang politik yang secara apik menggabungkan unsur-unsur musik ke dalam senyawa politik republik. Dan bicara “Gotik” lalu kita teringat kepada fenomena goyangan musik penyanyi cantik yang baru-baru ini tenar lewat goyang semi erotik ala itik. Goyang Itik dara belia pelantun lagu “Satu Jam Saja” ini telah melambungkan namanya secara fenomenal sebagai Zaskia Gotik. Goyang itik yang cantik dan erotik ini pun tak pelak mempesona jutaan mata anak muda Indonesia. Penuh daya tarik, menggoda mata untuk melirik, goyang itik pun boleh dibilang berdaya jual tinggi bagi “bisnis politik” republik ini.

      Sekadar berkhayal di negeri yang warga negaranya dijamin untuk berkhayal, bolehlah kiranya kita mengkolaborasikan Gotik ala Zaskia dengan Gotik ala Rhoma Irama. Sama-sama berangkat dari energi Gotik, rasanya duet Rhoma-Zaskia akan penuh daya tarik sebagai pasangan unik dan eksentrik dua artis musik. Toh Gotik memang pas sebagai goyang politik maupun goyang itik. Lagipula, politik dan itik kan tak jauh berbeda dalam perilaku di republik musik. Duet capres-cawapres Rhoma-Zaskia mungkin bisa memecahkan kebuntuan dan mencairkan ketegangan politik di Pilpres 2014. Sebab, meskipun berisik, musik tetap dibutuhkan manusia untuk menghangatkan suasana.

     Duet Gotik Rhoma-Zaskia juga akan menjadi simbol kolaborasi apik kepemimpinan antara pria dan wanita, yang diharapkan akan tercipta keharmonisan negara-bangsa layaknya bangunan mahligai rumah tangga. Duet Gotik juga menjadi simbol kolaborasi dua generasi, antara generasi tua yang diwakili oleh Rhoma dengan usia 66 tahun dengan generasi muda yang diwakili Zaskia dengan usia 22 tahun. Dan yang pasti, DuetGotik akan menjadi tontonan asyik, menarik dan menggelitik di panggung politik republik musik.

Salam...
El Jeffry