Monday, October 29, 2012

Dahlan Iskan, “Ahlan Wa Sahlan” di Negeri Kemunafikan




     Meskipun agak terlambat, kami, rakyat Indonesia yang masih merindukan kejujur-polosan kepemimpinan apa adanya, mengucapkan kepada Anda, “ Ahlan wa sahlan,” selamat datang di negeri kemunafikan. Sebagai keluarga besar bangsa-negara, kami rindu figur pemimpin yang berlaku sebagai ahlun, layaknya keluarga. Kami juga rindu pada sahlun, kemudahan dalam segala urusan.

     Dahlan Iskan, salah satu anak negeri yang telah sekian lama berkelana dalam dunia pewartaan berita, menyusup ke setiap relung-relung peristiwa, menggali ke dalam kejadian bumi pertiwi, menangkap kabar dalam jutaan permasalahan bangsa, lalu merangkumnya dalam kitab kejadian Indonesia. Tentu lebih memahami cara membaca raut wajah Indonesia, sehingga kini dipercaya sebagai menteri BUMN di kabinet SBY.

      Ahlan wa sahlan yang Dahlan Iskan, selamat datang di kenyataan. Belum lama Dahlan melemparkan bola panas, pernyataan yang membuat kuping anggota dewan memanas. Konon kabarnya, anggota DPR adalah komunitas para pemeras. BUMN, Badan Usaha Milik Negara, yang nota bene adalah pilar utama ekonomi hak milik rakyat, menjadi pelengkap penderita dari keganasan insting hedonis-kapital wakil rakyat.

    DPR memeras BUMN. Pantas saja, negara ini kering kerontang bak kain kasa dijemur kepanasan, habis diperas lalu dikeringkan. Pantas saja, BUMN menjadi sapi perah yang kurus kering tinggal tulang, setelah susunya dieksploitasi oleh negara, lalu hasil dijadikan bancakan bersama, para anggota dewan yang (konon) terhormat, wakil rakyat. Pantas saja, ya pantas saja, yaa pantas saja.

     Karena bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, (yang) dikuasai oleh negara dan (seharusnya) digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, kini jauh dari arah memakmurkan rakyat. Melainkan menggemburkan pundi-pundi pejabat, termasuk wakil rakyat. Energi bumi pertiwi dikhianati, rakyat dikhianati, negara dikhianati, apatah arti amanat bagi negeri ini?

    Tapi kejujur-polosan seorang Dahlan tak urung membuat DPR berang. Tuduhan Dahlan menyinggung perasaan DPR, itu yang diucapkan Kang Juki (Marzuki Ali-Ketua DPR). Kami baru tahu, ternyata DPR juga punya perasaan. Aneh tapi nyata, pemerasan ternyata bertalian erat dengan perasaan. Tapi ketersinggungan menjadi semakin aneh, karena yang tersinggung bukan rakyat (BUMN) sebagai korban pemerasan, tapi justru wakil rakyat (DPR) yang menjadi pelaku pemerasan.

   Kang Juki lupa, bahwa perasaan kami jauh lebih tersinggung, bahkan dipuncak ketersinggungan, kalau tidak dikatakan kemarahan, atau lebih sopan bila kami katakan kemuakan berkepanjangan. Bahwa wakil rakyat yang telah kami titipi amanat, justru dibalas dengan khianat. Berapa banyak anggota dewan yang (konon) terhormat justru berperilaku selayaknya manusia tanpa harkat-martabat. Kong kalikong, pat gulipat, di balik surat-surat menyikat hak-hak rakyat. Berapa banyak anggota DPR yang terlibat mafia anggaran, main proyek, objek sana-sini, suap menyuap, hingga terseret kejahatan luar biasa, korupsi. 

     Sebagiannya masih dalam tahap pendugaan, pengejaran, penyidikan. Sebagian lainnya sudah menjadi tersangka, terdakwa dan terpidana mendekam di balik jeruji penjara.
Tapi Kang Juki, yang kami anggap sebagai representasi wakil rakyat, telah tersinggung. Kami jadi bingung, atau memang Kang Juki yang linglung? Kok dia masih berani-beraninya bertanya, “Pernah tidak saya minta-minta?” Lebih hebatnya lagi, Kang Juki menantang, “Kalau ada, saya ganti sejuta kali, atau mending bunuh diri! (jika terbukti)” Luar biasa. Jadi ingat tantangan Anas (Ketum PD) untuk digantung di Monas jika terbukti terlibat kasus korupsi Hambalang. Blaiii...!

    Oalaaah,,, memang ternyata inilah potret kelam negeri penuh kemunafikan. Apa hendak dikata? Retorika menjadi senjata utama untuk para pemimpin negeri ini bekerja, tak peduli hingga mulut berbisa tak ada rakyat yang percaya. Mungkin ini yang namanya “Sindroma B3” stadium lima. Budeg-Buta-Bindeng. Malfungsi telinga, disfungsi mata, dan infeksi organ bicara sehingga gagal bertata bahasa dengan sempurna.

      Sepertinya Kang Juki dan anggotanya sedang tertidur pulas di gedung Senayan. Mungkin karena kelelahan pelesiran seharian, kelewat penat habis berdagelan debat di rapat-rapat. Atau memang bisa dan tahunya cuma begitu, wakil rakyat itu ya datang, duduk, tidur. Bukankah ada anekdot rakyat, bahwa tidur juga adalah sebagian dari pekerjaan? Sayangnya, gaji tidur tak lebih baik dari gaji buta, sama-sama sebagai profesi pekerja, tapi suatu pengingkaran akan harkat manusia, bahwa “Rezeki terbaikmu adalah yang kauperoleh dari cucuran keringatmu!”

     Etos kerja minimalis, mental pesimis-apatis, moral kembang-kempis, namun overdosis syahwat keserakahan-kemewahan-kesenangan materialistik. Akhirnya ambil jalan pintas, cari puas asal terabas, mumpung posisi di atas, apapun dilibas hingga tuntas tanpa tersisa ampas. Bablas. Tak terkecuali DPR, anggota dewan yang (konon) terhormat. Meraih kekuasaan sebagai “penumpang gelap” kendaraan partai politik “abal-abal” dan ogah “berdarah-darah” memperjuangkan aspirasi rakyat.

    Suap sana suap sini untuk beli suara waktu pemilu, dengan uang curian pula. Obral sumpah-janji dalam kampanye-orasi, tebar fitnah sana-sini, sikut kanan-kiri, untuk satu tiket terhormat, wakil rakyat. Kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa. Bila sejak dari bawah melangkah dengan cara tak bermartabat, tentu setelah berhasil duduk di atas juga mustahil bisa bermartabat. Parodi wakil rakyat, parade buto cakil pengkhianat.

     Kita tak memungkiri, di antara lumpur hitam masih ada mutiara terpendam. Pun dengan wakil rakyat, diantara mereka yang telah berkhianat, tentu masih ada para anggota dewan yang benar-benar terhormat, menunaikan amanat, berpegang erat-erat pada perjanjian suci dengan rakyat. Namun sayangnya, jumlah anggota dewan yang masih ma’shum (terjaga fitrahnya) dengan yang sudah tercemar perilaku mesum (ternoda-dosa), tidak proporsional untuk dikatakan sebagai dewan yang sehat sebagai representasi dari suara rakyat.

     Seribu satu, dalam seribu, mungkin hanya ada satu. Lalu jika yang satu baik ini terdeteksi, ramai-ramai dikeroyok, disingkirkan, karena hanya akan menjadi “duri dalam daging” bagi syahwat pengkhianatan wakil rakyat. Sudah menjadi nasib kami, rakyat Indonesia terkini, mau apa lagi? Konsekuensi dari hukum wolak-walik zaman edan.

     Yang amanat terhadap rakyat dianggap sebagai pengkhianat. Dan yang berkhianat terhadap rakyat, dianggat sebagai amanat. Resiko hidup di negara gila, sebab akal sehat telah terkelupas dari kepala. Tak ada akal sehat di kepala wakil rakyat di Senayan. Tak beda dengan orang tidur, pulas sepulas-pulasnya hingga hilang kesadaran dan kedap suara. Karena itu jika ingin membangunkan, tamparan adalah cara terbaik.

      Pernyataan Dahlan Iskan tentang DPR yang kerap memeras BUMN, mungkin memang telah menampar wajah DPR yang tertidur. Terasa menyengat, panas dan pedas. Dan kemarahan adalah reaksi alami dari orang yang tertampar, meski sang penampar beritikad baik, berangkat dari ikatan emosional nasional sebagai sesama anggota keluarga besar bangsa, hendak membangunkan kesadaran dari kemunafikan. Bahwa banyak urusan negara-bangsa yang harus diselesaikan, dan semua berharap agar dimudahkan, ahlan wa sahlan.

    Dan bagi Dahlan Iskan, kembali kami ucapkan salam penghormatan untuk sebuah tamparan kejujur-polosan atas DPR yang tertidur lelap dalam kemunafikan. Selamat datang di dunia zaman edan gedung Senayan. Kami di sini masih merindukan tamparan-tamparan lanjutan yang lebih menyengat, lebih panas dan lebih pedas, sampai para wakil kami yang tertidur di Senayan benar-benar terbangun, bangkit dalam kesadaran. Sebagai ahlun-keluarga besar bangsa-negara, agar sahlun-urusan dimudahkan dengan semudah-mudahnya, ahlan wa sahlan ya Dahlan Iskan.

Salam...
El Jeffry