Monday, October 22, 2012

Ical, Satrio Piningit, Catur Dosa dan Bangsa Amnesia


13508919681917624285
ABURIZAL BAKRIE (ICAL). Sumber photo: http://nasional.kompas.com

   Genderang perang pertarungan perebutan kekuasaan negeri ini kian lantang berkumandang. Langit perpolitikan nusantara kian membara, aroma laga kian menyengat syahwat hidung dengan grafik meningkat berlipat-lipat. Nuansa panas, keras dan pedas mengipas-ngipas peta pertarungan politik banal berkendaraan partai abal-abal. Parade kental parodi pertempuran ala bar-bar  berpola kanibal dengan nilai-nilai kasar-vulgar nir moral. Tahta di pusaran belantara noto nagoro demi pemenuhan insting dasar makhluk melata manusia Indonesia, dalam satu kursi nomor satu NKRI, RI1 2014.

     Adalah Aburizal Bakrie, yang lebih dikenal dengan Ical, The richest man Indonesia 2007” ala Forbes, seorang petualang yang malang-melintang di panggung bisnis dan kekuasaan. Bukti kepiawaian anak negeri yang brilian mengkolaborasi “dwi kasta” waisya-ksatria dalam satu cawan frasa. Peleburan paksa penuh rekayasa unsur pengusaha-penguasa lewat reaksi kimia anti logika dan anti etika, maka oligarki menjadi senyawa buto-raksasa, kerusakan fitrah tata-negara-kota yang sejatinya mulia pun semakin terancam.  

      Membaca gerak perjalanan Ical, seperti membaca goresan-goresan warna cat lukisan Von Gogh. Kadang nampak begitu indah dan mempesona. Namun bagi mata telanjang rakyat yang masih tertutup hijab kedangkalan visi dan kemiskinan cita rasa, lukisan tak berguna apa-apa, kecuali hanya kebingungan dan kehampaan makna. Bahkan kadang bisa membawa alam kesadaran-pikir tersihir hingga amnesia. Sebagaimana bangsa ini dengan mata telanjang dangkal cita rasa gagal menyimpan memori rekam jejak sejarah. Sehingga bangsa ini mungkin memang nyaris terjangkiti tahap kronis amnesia.

      Terlalu banyak menghadapi kegelisahan dan memikul beban berat “dosa warisan” dengan milyaran piksel himpitan penderitaan. Skeptis, permisif, pesimis dan apatis, lalu bermuara pada penyakit alam kaum lansia, pikun, pandir dan pelupa. Hingga kita lupa pada rekam jejak perjalanan “saudara-saudara sebangsa dan setanah air,” termasuk lupa pada spirit liberatif reformasi. Mungkin roda buldozer waktu telah sukses menggilas dengan buas spiritualitas dan moralitas, sehingga 14 tahun kita tak sadar telah menyia-nyiakan altruisme pejuang pembaharuan 1998 yang telah mengucurkan bergalon-galon darah untuk sebuah pembebasan dari tiran Orde Baru.

         Membaca Ical, tentu tak lepas dari ikatan Orde Baru. Dan membaca Orde Baru tentu tak bisa telepas dari Golongan Karya-sekarang Partai Golkar-yang bersama dwifungsi ABRI-sekarang TNI-menjadi dua kaki-tangan Pak Harto dalam menghegemoni kekuasaan NKRI selama 3 dekade.  Keamnesiaan kita, suka tak suka terbukti hari ini, ketika beberapa lembaga survei menyuguhkan berita hasil jajak pendapat rakyat tentang tingkat keterpilihan (elektabilitas), tingkat keterkenalan (popularitas) dan tingkat penerimaan (akseptabilitas) partai politik dan tokoh politik yang berpeluang menjadi calon Presiden RI 2014.

      Setidaknya, LSI (Lingkaran Survei Indonesia) dan Political Weather Station (PWS) menunjukkan, Golkar menempati ranking pertama diikuti PDI-P dan Partai Demokrat. Meskipun hasil suvei ini belum merepresentasikan suara rakyat Indonesia yang sesungguhnya, namun darinya kita bisa sedikit membaca-atau sekadar waspada- bahwa kita terancam amnesia sebagai bangsa. Dan bagi seorang Ical yang tengah memacu langkah untuk memuluskan ambisi dan obsesi mencetak sejarah tahta tertinggi di republik ini, “berita gembira” ini semakin memacu adrenalin politik untuk menyihir kesadaran (suara) rakyat.

       Tak salah jika Ical akhirnya meyakini-kalau tidak dikatakan terlalu dini-bahwa ini adalah bukti shahih-otentik rakyat ingin kembali dipimpin partai berlambang beringin tersebut. Rakyat rindu atas kejayaan Golkar yang membawa kemakmuran di masa Orde Baru, yang di bawah pimpinan “Jenderal Senyum” Presiden Soeharto selama 34 tahun memperlihatkan hidup yang lebih baik. Achivement luar biasa, bukti nyata rakyat ingin ”rakyat ingin Golkar memimpin  Indonesia. Golkar masih dicintai rakyat, dan dengan “cinta buta” ini maka Pemilu 2014 mendatang dipastikan Golkar akan menang!

      Keyakinan Ical-atau bisa ditafsir sebagai kejumawaan-sah-sah saja, apalagi hidup di rimba perpolitikan banal di antara partai abal-abal republik aktual. Dengan kejeniusan bisnis dan ketajaman insting kanibal di dunia kapital Ical tentu jeli melihat celah lebar dari kepandiran rakyat bangsa amnesia. Dan sah-sah pula jika ia bermimpi sebagai “Satrio Piningit” Jilid 7 untuk menduduki kursi RI1 pada 2014Pertanyaannya, layakkah Ical menyandang tuah “satrio piningit” itu?

      Bila bertolak dari paradigma Ronggowarsito, pemimpin bangsa yang mestinya duduk di atas singgasana RI1-7 haruslah seorang satrio pinandhito sinisihan wahyu. Dia haruslah seorang ksatria berkeagamaan kuat (religius) layaknya karakter para pendhito (pendeta, ulama, biksu-rohaniwan) sehingga perilakunya senantiasa bertindak atas dasar kebenaran hukum Tuhan (wahyu-kitab suci).  Sedikit meminjam filosofi catur warna dalam ajaran Hindu, hidup seseorang adalah “rangkaian perjalanan spiritual” pendakian kasta (kelas), dari sudra (budak-pekerja), waisya (pedagang-pengusaha), ksatriya (pemimpin lembaga) dan brahmana (rohaniwan). (boleh baca: Sudra Berkuasa, Kiamat Negara!)

      Untuk membaca Ical sebagai kaum ber”kasta” waisya, tentu kita tak memungkirinya dengan bukti kedigdayaan kerajaan bisnisnya, yang diwarisi dari sang ayahanda Achmad Bakrie dan telah digelutinya selama 4 dekade. Sedang di “kasta” ksatria, Ical telah berpengalan mengecap kekuasaan sebagai Menteri Perekonomian dan Menko Kesra di kabinet SBY pada 2005-2009.  Namun untuk membaca seorang Aburizal Bakrie sebagai presiden RI, sepertinya kita butuh kaca mata baru yang lebih bening, atau bila perlu, mikroskop etika-nurani berdaya pandang tinggi. Karena justru di sinilah kunci utama untuk kita merdeka dari gagal baca dan penyakit amnesia. 

     Golkar sendiri, sebagai “kendaraan politik” yang melahirkan eksistensi Ical di panggung eksklusif ekonomi dan politik di negeri ini, secara historis memiliki beban dosa sejarah-bersama rezim orde baru Pak Harto-yang oleh Wimanjaya babarkan dengan “prima-dosa” dan Prima-Dusta.” Dan Ical adalah produk turunannya yang tak bisa berlepas total dari tanggung jawab etika dan moral terhadap kegagalan sejarah nasional, termasuk kegagalan reformasi 1998. Justru di sinilah pusaran kesalahan Ical layak dikuliti hingga jelas, gamblang dan tuntas sampai terurai benang merah kesucian sejarah.

     Maka kita perlu sedikit membabar lembar-lembar yang terlipat dari mata rakyat, berkaca dari terma makna “Catur Warna.” Bahwa “dosa terbesar” Ical adalah ketika merusak tatanan nilai-nilai spiritual waisya dan ksatria, yang dengan syahwat buto-raksasa. Ical telah memaksakan “pencampuran ilegal” bisnis dan politis, kepengusahaan dan kepenguasaan yang turut membentuk carut-marut bangsa lewat lingkar oligarki kekuasaan nir-keadaban dan nir-keadilan sosial.

       Rekam jejak terburamnya adalah 4 kesalahan besar Ical pada bangsa yang terangkum dalam ”Catur Dosa.”“Dosa Pertama,” bencara Lumpur Lapindo-Porong, Sidoarjo (2006) akibat kelalaian PT Lapindo Brantas dalam usaha pengeboran minyak. Karena pemilik usaha Lapindo Brantas berada dalam jajaran kabinet SBY, maka pada tahun 2007 SBY-JK mengeluarkan PP Nomor 14/2007 yang berisi negara (melalui APBN) membiayai dana sosial kemasyarakatan yang timbul di luar peta area dan biaya-biaya penanganan masalah infrastruktur lumpur Lapindo. Negara dirugikan hingga 2 triliun rupiah dan Lapindo Brantas (Ical) “untung besar” berkat kebijakan “kliennya” Pak SBY-JK.

        “Dosa Ke-2” Ical adalah Kasus Tender Jaringan SLI oleh Bakrie Telecom (2007)
Departemen Komunikasi dan Informatika 2007 yang hanya memilih Bakrie Telecom dalam seleksi tender Sambungan Langsung Internasional (SLI). Dalam hal ini, pihak XL dirugikan (jaringan lebih luas dan bagus dibanding Bakrie Telecom), karena pemerintah tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai seleksi tender ini.. Tentunya Bakrie Telecom mendapat informasi yang lebih rinci dari Kabinetnya SBY, sehingga memudahkan untuk lolos tender.

     “Dosa Ke-3” Ical adalah kasus tunggakan royalti batubara 2008 di mana Menkeu menguak kasus tunggakan yang mencapai Rp 7 triliun atau Rp 16 triliun (ICW). Dan terkuak bahwa sebagian besar perusahaan penunggak (Adaro, Kaltim Prima Coal, Arutmin, Berau Coal, Kideco) dimiliki oleh Keluarga Bakrie.

        Dan “Dosa Ke-4” adalah Kemelut Suspensi Saham Bakrie, ketika krisis finansial global yang diikuti anjloknya harga bursa saham regional termasuk BEI, turut menyumbang kebijakan pemerintah yang kontroversial. Untuk melindungi saham-saham Bakrie agar tidak anjlok di bursa saham, pemerintah secara tidak langsung mengintervensi untuk mensuspen saham-saham utama Bakrie (PT Bakrie & Brothers, PT Bumi Resources dan PT Energi Mega Persada).

        Akhir kata, seorang satrio pinandhito sinisihan wahyu sebagai sebuah mitos dan filosofi agung warisan nusantara tetaplah tak bisa diabaikan begitu saja. Ia adalah nilai-nilai luhur yang-seharusnya-menjadi landasan berpijak dan melangkah para ksatria otentik berkeadaban-kemanusiaan-keadilan. Kita merindukan sosok negarawan sejati, pemimpin bersukma kerakyatan dengan rekam jejak “berdarah-darah” memperjuangkan kemaslahatan rakyat banyak sebagai hukum tertinggi. Manifestasi hakiki salus populi suprema lex, dan bukan sosok kontroversi wajah-wajah lama Orde Baru yang sukses bermutasi di era reformasi dengan kamuflase kelas tinggi, atas nama partai politik dan demokrasi. Jika kita, rakyat Indonesia gagal membaca sejarah bangsa, maka hari ini dan selamanya kita akan selalu menjadi bangsa pelupa, bangsa amnesia.

Salam...
El Jeffry