Tuesday, October 16, 2012

“Kuburan Massal” Parpol Islam: Hantu, atau Déjà Vu?



13504089021190625503
sumber photo: http://foto.detik.com/readfoto/2012/06/26/

      Pemilu 2014 masih satu setengah tahun lagi. Namun suhu perpolitikan negeri ini semakin meningkat dari hari ke hari. Gesekan, gosokan dan gasakan aktor-aktor politik semakin intensif. Dari elit politisi-selebriti hingga alit-figuran-amatiran, berbaur antara figur-figur otentik maupun imitatik, bertali-temali mendesain ornamen politik-kekuasaan. Panggung drama tata negara senantiasa menyuguhkan “pertarungan klasik manusia, ” lewat cara-cara elegan hingga cara-cara bar-bar. Wajah aktual pergulatan dan pergelutan khas nusantara.

    Pertengahan Oktober pekan ini, beberapa lembaga survei telah melontarkan bola api. Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Lembaga Survei Nasional (LSN) merilis dan mewartakan hasil jajak pendapat mengenai popularitas dan elektabilitas partai-partai politik. Wajah parpol besar terbelah dua, nasionalis dan Islam. Data menyuguhkan partai nasionalis mengungguli partai Islam. Golkar menjadi kampiun partai ber-elektabilitas tertinggi, diikuti PDI-P, Demokrat, Nasdem dan Gerindra. Mereka tergabung dalam “The Big Five.”

     Sementara partai-partai Islam terbesar terpaksa terlempar ke ‘kasta’ bawah, terjangkit wabah kemerosotan elektabilitas ke titik terendah, bahkan tak sanggup melewati ambang batas parlemen (PT) 3,5%. Alhasil, PKS, PKB, PPP dan PAN diprediksi bakal ‘berjama’ah’ memasuki “kuburan massal” pada Pemilu 2014! Mengejutkan? Bisa jadi, karena parpol Islam jumlahnya kian terbatas, seharusnya suaranya meningkat, jika dilihat dari fenomena meningkatnya kedekatan kepada Islam di kalangan kaum muslimin Indonesia.

     Di sisi lain, bisa pula dikatakan tidak terlalu mengejutkan, karena selain menimpa parpol Islam, kemerosotan ini menimpa pula parpol nasionalis, bahkan partai yang sedang berkuasa lagi. Mana lagi kalau bukan Demokrat? Di samping itu, hasil survei ini bukan berita baru. Di akhir Juli dan awal Agustus sinyalemen “kuburan massal” parpol Islam ini sebenarnya sudah dihembuskan oleh setidaknya dua lembaga survei. CSIS dan Litbang Kompas menyuguhkan data dengan komposisi yang kurang lebih sama. Dominasi parpol nasionalis masih mengalahkan elektabilitas parpol Islam. (boleh baca:Pilihan PKS dan Pertaruhan Parpol Islam)

Seperti biasa, ragam reaksi bersahutan menyikapi hasil survei ini. Ungkapan syukur dan terima kasih bagi ‘yang diuntungkan’ dan luapan protes ‘kegusaran’ bagi ‘yang dirugikan.’ Golkar, PDI-P adem-ayem saja ‘menikmati’ berita gembira ini. Lain halnya dengan Demokrat dan parpol-parpol Islam yang merasa ‘dirugikan’ dengan berita buruk ini. Kepanikan, kekesalan dan kegalauan elit politik PKS, PAN, PKB dan PPP tak pelak dilontarkan.

     Kubu PKS merespon keras dan ‘emosional’ hasil survei tentang merosotnya elektabilitas partai Islam ini. Ketua FPKS DPR Hidayat Nur Wahid berkata menuding adanya kepentingan politik yang menunggangi survei untuk menyudutkan partai Islam. Menurut Hidayat, pemilih tidak memandang apakah parpol berlandas Islam atau nasionalis sekuler namun kepada program-program partai. Dia yakin PKS masih mampu berbuat banyak di Pemilu 2014. Hidayat berharap lembaga survei tidak menggiring opini publik. Menurutnya sudah tidak zamannya lagi dikotomi partai Islam dan partai nasionalis. Untuk itu, partainya kata Hidayat tetap yakin akan memiliki jumlah pemilih yang banyak dan tidak menurun pada Pemilu nanti. PKS juga menyatakan tidak takut akan hasil survei yang ada. Survei bukan hantu yang harus ditakuti, bukan pula Tuhan. 

     Sementara itu PAN, lewat Ketua DPP Bima Arya, menilai hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) tentang elektabilitas partai islam belum tentu mencerminkan apa yang akan terjadi di pemilu 2014. Kesimpulan kalau parpol Islam sebagai pelengkap dirasa tidak tepat. Namun Bima menegaskan partainya tetap akan melakukan evaluasi dalam menyikapi hasil survei tersebut. Hal ini agar elektabilitas PAN bisa ditingkatkan lagi. PAN, meskipun ada hubungan sejarah dengan Muhammadiyyah, namun PAN sebenarnya partai nasionalis terbuka dan bukan partai Islam.

    Sedang Ketua DPP PKB, Marwan Ja'far menilai survei (LSI) tentang kemerosotan suara parpol Islam tidak objektif dan patut dipertanyakan, karena survei tersebut tidak melihat langsung kondisi sesungguhnya parpol-parpol Islam. Basis massa PKB, jelas Marwan, ada di daerah-daerah pedalaman yang tidak terjangkau. Mereka adalah basis massa ideologis yang setia dengan PKB. Menurutnya tidak benar bila dikatakan suara parpol Islam semakin menurun.

    Masih senada dengan PKS, PSN dan PKB, Ketua Umum PPP Suryadharma Ali juga membantah ‘mentah-mentah’ kemerosotan parpol Islam dari hasil survei. Saat ini, PPP bahkan tengah menyiapkan kaderisasi dengan rekrutmen 12 juta kader pemberdayaan desa di seluruh Indonesia, sebagai bagian untuk menghadapi pemilu 2014.

    Penyikapan yang agak berbeda dengan kubu Demokrat yang dari hasil survei ini juga diposisikan tidak menguntungkan dengan kemerosotan tajam elektabilitas di bawah oleh Golkar dan PDI-P. Nampaknya Demokrat lebih cerdas politik dengan menyadari bahwa sumber pemicu utamanya adalah jeratan kasus korupsi kader-kadernya dan kekecewaan publik atas komitmen SBY dalam agenda pemberantasan korupsi. Ketua Fraksi PD, Nurhayati Ali Assegaf mengatakan hasil survei akan dijadikan bahan masukan dan evaluasi bagi PD. Namun yang lebih penting, kader PD harus menyikapi hasil survei itu dengan kerja nyata bagi masyarakat.

    Terlepas dari sebagian kalangan, khususnya elit politik parpol-parpol Islam yang  meragukan kredibilitas lembaga survei, bagaimanapun prediksi itu setidaknya indikatif. Karena itu, hasil-hasil survei tersebut tidak bisa dikesampingkan begitu saja, apalagi jika hampir seragam mengisyaratkan kecenderungan yang sama.

    Seharusnya elit politik menyikapinya dengan “kepala dingin” dengan evaluasi dan introspeksi, bukan dengan “hati panas” membela diri penuh emosi. Pertarungan panjang dan melelahkan di pilkada DKI yang baru saja berakhir mestinya memberi pelajaran berharga. Kekalahan koalisi parpol pengusung Foke-Nara yang melibatkan Demokrat dan parpol-parpol Islam bisa saja dilihat sebagai ‘bukti awal’ pertanda zaman. Bahwa ada saatnya evaluasi dan introspeksi dapat menyelamatkan keadaan sebelum semuanya terlambat dan menjadi runyam.

     Seperti dikatakan oleh Direktur eksekutif LSN Umar S Bakry, salah satu penyebab keterpurukan parpol Islam adalah karena over confidence, terlalu percaya diri. Padahal itu tak bisa berlaku dalam politik modern yang dinamis dengan kecerdasan rakyat yang semakin meningkat. Selain itu parpol Islam juga tak memiliki tokoh yang bisa dijual ke publik. Tak berlebihan jika secara ekstrem ia mengatakan, “tak ada solusi untuk memperbaiki elektabilitas partai Islam.” Seluruh partai Islam bersatu pun,  adalah sesuatu yang mustahil, karena ego mereka gede-gede, enggak mungkin mereka menjadi satu.

     “Kuburan massal” parpol Islam di Pemilu 2014 seharusnya bisa dihindari, jika mereka menemukan sumber blunder internal, ‘tumor politik’ yang telah menggerogoti tanpa di sadari. Sebagaimana diungkapkan oleh cendekiawan muslim yang juga rektor UIN Syarif Hidayatullah, setidaknya ada tiga faktor utama kemerosotan elektabilitas parpol Islam. Pertama, para pemilih umumnya tidak melihat distingsi yang khas dari parpol-parpol Islam dari berbagai segi, khususnya dalam perilaku politik.

    Kedua, parpol-parpol Islam tidak menampilkan integritas dan karakter yang kuat. Sebaliknya, mereka masuk ke dalam persekutuan politik lewat berbagai koalisi untuk mengamankan status quo kekuasaan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat.Ketiga, parpol-parpol Islam dalam banyak kasus lebih menempuh politik pragmatis dan bahkan oportunistis daripada politik idealistis untuk tidak mengatakan politik ideologis.

    Alhasil, bagi parpol-arpol Islam, jangan pernah meremehkan lembaga survei, apalagi jika beberapa diantaranya menyiratkan hasil yang cenderung sama. Suka tidak suka, percaya tidak percaya, hasil survei yang mewartakan berita buruk adalah ‘pertanda alam.’ Semua tergantung bagaimana menyikapinya, apakah dilihat sebagai ancaman untuk menghancurkan, atau peringatan untuk perbaikan. Ia akan benar-benar bisa menjadi “hantu gentayangan” yang menteror ketenangan kekuasaan. Dan bila diabaikan, ia juga bisa menjadi karma yang akan mengantarkan ke liang “kuburan massal.”

    Akhirnya waktu juga yang akan membuktikan. Dan bila ternyata pada pemilu 2014, parpol-parpol Islam tidak cerdas menangkap ‘pertanda alam’ ini, “kuburan massal” akan benar-benar terjadi. Dan kita semua baru percaya, ketika opini, prediksi, analisis dan ramalan metodologis telah mengilustrasikannya jauh-jauh hari sebelum semuanya terjadi.   Lalu kita melihatnya seakan-akan pernah mengalaminya, antara mimpi buruk di kejar hantu, pengulangan sejarah, atau fenomena aneh pengalaman masa lalu, yang sebagian dari kita menyebutnya sebagai déjà vu.

Salam...
El Jeffry