Thursday, October 11, 2012

Misteri Di Balik Air Mata Angie


13499709161235923918
ANEGELINA SONDAKH: (sumber photo: http://202.158.52.213/read/beritafoto/3719)

      Hari ini, terdakwa kasus suap pembahasan anggaran di Kemendiknas dan Kemenpora tahun 2010, Angelina Patricia Pingkan Sondakh alias Angie kembali menjalani sidang lanjutan. Politisi selebriti Demokrat ini tak terlihat lagi dengan wajah pede, sumringah dan seksi, seperti sebelum-sebelumnya ketika ia berurusan dengan pengadilan namun baru berkapasitas sebagai saksi. Kursi pesakitan mungkin benar-benar membuat Angie sakit tak tertahankan.

     Beberapa kali Angie tak sanggup menahan air mata. Drama seka air mata ini tiga kali disuguhkan saat hakim memberikan kesempatan bertanya kepada saksi Mindo Rosalina Manulang. Ada apa dengan Angie? Apa arti di balik tangisan ini? Pertanyaan klasik yang tak bisa dijawab secara matematik. Apalagi berurusan dengan masalah pelik kasus korupsi di negeri ini yang sudah sedemikian sistemik dan endemik.

    Drama air mata tersangka atau terdakwa, khususnya kasus korupsi bukan hal pertama terjadi, apalagi jika berurusan dengan wanita. Bukankah ada yang mengatakan kalau wanita identik dengan air mata? Jujur atau pura-pura, alami atau rekayasa, spontanitas atau terencana, air mata tetaplah air mata. Belum lama, di awal September bulan silam, Hartati Murdaya juga menyuguhkan drama yang sama, isak-tangis air mata. Tersangka kasus suap Bupati Buol ini pun menangis ketika menjalani pemeriksaan perdana.  (Di Balik Air Mata Hartati Murdaya).

     Bagaimana bisa terjadi, dua dari 8 batari durga ternama Indonesia melakukan ‘gaya’ dan ‘pola’ yang sama ketika berhadapan dengan kasus kejahatan? Entahlah, mungkin jawabannya sama, Angie maupun Hartati, tak hanya sebagai manusia, tetapi juga sebagai wanita. Air mata adalah jawaban nyata, mana kala jawaban kata-kata terlalu sulit menjelaskan kebenaran sebuah peristiwa. Air mata adalah kode rahasia, rangkaian aksara dan tanda baca yang seringkali terlihat berbeda, tergantung dari sisi mana manusia melihatnya.

    Bila bagi Hartati, mungkin ia masih merasa bahwa dirinya adalah korban ‘kezaliman,’ sebagaiman berulang kali dikatakan, bahwa ia adalah korban pemerasan, bukan pelaku kejahatan suap. Sedang bagi Angie, air mata ini adalah ekspresi kekecewaan dengan kesaksian Rosa, rasa sakit hati yang tak tertahankan atas keterangan yang menyudutkan dirinya. Angie menangis karena tidak merasa melakukan apa yang telah dituduhkan, dan ia membantah mentah-mentah, termasuk  pertemuan itu membahas soal hitung-hitungan fee. 

    Mungkin juga Angie dalam kebingungan tingkat tinggi untuk mengungkapkan segala peristiwa dan kejadian yang melibatkan sejumlah nama-nama penting koleganya. Apalagi beredar kabar Angie hendak mengikuti cara ‘si burung Nazar’ dengan ‘bernyanyi lebih lantang’ menebar ancaman ‘tsunami’ di Senayan. Konon kabarnya, ancaman ‘tsunami’ itu muncul saat Angie curhat ketika datang menjenguk Rosa di Rutan Pondok Bambu pada Desember 2011. Angie mengemukakan kalau dirinya nggak mau dikorbankan sendiri. (selengkapnya bisa baca: Angie ancam buat tsunami lebih dahsyat di DPR).

     Angie sendiri memang mengakui pertemuan dengan Rosa di Rutan Pondok Bambu, Tetapi tidak benar dirinya meminta saksi untuk menyebut namanya, apalagi menyebut nama Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, apalagi soal istilah ancaman akan membuat ‘tsunami’ di Senayan. 

     Seakan tak peduli dengan air mata Angie, Rosa yang juga mantan terpidana kasus suap Wisma Atlet sebelum di bebaskan Agustus silam karena permohonannya sebagai Justice Collaborator dikabulkan Kemenkum HAM, dalam persidangan ini membeberkan membeberkan keterlibatan Angie dalam menggiring proyek 16 Universitas di Kemendiknas untuk tahun anggaran 2010 sebesar Rp 610 miliar.

      Kembali ke persidangan Angie, Rosa menuturkan, setelah menerima penjelasan Angie lalu melaporkan ke bosnya, M Nazaruddin. Nazar, kata dia, memerintahkan untuk mengkroscek daftar nama universitas yang telah mengirimkan usulan ke Diknas. Kemudian, dari hasil kroscek universitas yang telah mengajukan ke Dikti, Rosa menyerahkan catatan daftar usulan universitas ke Angie.

    Namun karena tidak sempat bertemu, Rosa berkomunikasi dengan Angie melalui Blackberry dan Angie meminta Rosa untuk diantar ke Butik Nebu di Jakarta Selatan. Akhirnya Angie menyanggupi permintaan Rosa, dan meminta fee untuk “menggiring anggaran” sesuai dengan yang disepakati oleh Nazaruddin sebesar Rp 5 persen dari anggaran yang turun untuk proyek Kemendiknas.

     Yang menarik dari sela-sela drama air mata ini, adalah ketika Majelis Hakim Tipikor meminta saksi Mindo Rosalina Manulang mengungkapkan siapa saja oknum anggota DPR yang menjadi calo anggaran. Tapi, Rosa enggan menjawabnya, Rosa tak berani menyebutnya, tapi calo anggaran itu memang ada. Menurutnya, hampir semua fraksi di DPR ada oknum yang menggiring proyek. Dia hanya mengemukakan pengakuan telah memberi total uang sejumlah Rp15 miliar kepada Angie, sebagai imbalan dalam penggiringan pembahasan anggaran proyek di Kemendiknas.

      Ah, lagi-lagi silang-sengketa yang tak mudah mengurainya, hingga menunggu sang hakim Sudjamiko menentukan keputusannya. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, yang pasti air mata Angie masih menyisakan lautan dalam misteri. Semisteri teka-teki pelaku korupsi yang selalu punya cara untuk meloloskan diri dari jerat hukum di negeri ini. Tangan-tangan jahat super kuat masih tersembunyi di balik lemari besi, tertutup rapat dan terkunci sangat-sangat rapi.

     Di tengah upaya pelemahan dan pengebirian KPK oleh tangan-tangan jahat super kuat itu, kita di sini, menjaga pilar hidupnya terakhir demokrasi, di barisan insan pers dan media. Karena seperti dikatakan oleh Mahfud MD, tiga pilar demokrasi di negeri ini telah membusuk, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Hanya pilar ke-4 yang bisa menyelamatkan negeri ini dari kehancuran, dengan tetap menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan meski hanya lewat tulisan. Jika hanya diam, maka drama air mata ‘batari durga’ yang disuguhkan oleh Angie atau Hartati, akan benar-benar menjadi lautan air mata nusantara, penderitaan dalam kutukan batara kala karena gagal memerangi korupsi di Indonesia.  
  
Salam...
El Jeffry