Wednesday, October 10, 2012

Pidato Bersayap Dan Republik MoU: Mau?

134988478318110821
SBY BERPIDATO: (sumber photo: http://static.republika.co.id)

    Gunung es problematika korupsi akut nusantara telah menyembul di permukaan lautan opini publik, lewat kisruh KPK-Polri yang memuncak sepekan terakhir ini. Meskipun agak terlambat, sudah seperti biasanya berlambat-lambat, akhirnya Pemimpin Tertinggi negeri ini yang juga ‘Panglima Terdepan’ laskar antikorupsi buka mulut. Sang Presiden SBY pun berpidato, dengan materi yang terprediksi, konon katanya bakal menjadi sebaik-baik solusi atas sejumlah kasus dan silang opini yang makin memanaskan cuaca politik dalam negeri.

    Lima poin utama, dengan bahasa yang dirangkai ciamik dan memikat antara pandangan, pendapat dan instruksi, sebagian membuat kita bernafas lega, dan sebagian lagi masih menyisakan sesak di dada. Meminjam kalimat syair Kahlil Gibran, sayap-sayap patah, pidato sang presiden pun seperti kepakan sayap dengan gerak patah-patah. Kiri-kanan, menguncup-mengembang, menukik-melayang, akrobatik terbang penuh artistik dan estetik. Maklum, sebagai seorang “Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik 2003,” tentu pidato kenegaraan bisa menjadi ‘sihir kata-kata’ yang sanggup meruntuhkan daya tentang rakyat pendengarnya. Terpesona, terkesima, terpana, selanjutnya mau lupa, terlena atau terpedaya, terserah Anda.

    Bukan kita bermaksud untuk pesimis, skeptis atau apatis dengan solusi, apalagi jika yang menyodorkan adalah ‘raja diraja’ pemimpin negara, yang telah mahir pula mengemas politik citra dengan lautan kosa kata indah di telinga. Tapi “lumut kebosanan” yang terlalu tebal menyumbat lubang pendengaran kita dalam pengalaman buruk bertahun-tahun memaksa ‘saraf sensorik batin kita’ untuk menyisakan sebagian rasa tak percaya, kalau tidak terlalu ekstrem untuk dikatakan curiga.

    Maka tak terlarang bagi sebagian diantara kita untuk realistis, analitis dan sedikit kritis, bahwa harapan rakyat sedang dipermainkan oleh tiga hal: kelambanan, pencitraan dan ketidaktegasan. Kita tak perlu mengulas empat poin ‘solusi ala SBY’ sebagai reaksi gerak siput atas kisruh KPK-Polri, karena isinya hanya tentang duo instruksi dan duo opini. Duo instruksi penyerahan kasus simulator dengan tersangka Djoko Susilo dan PP yang akan mengatur penyidik Polri di KPK.  Dan duo opini (pandangan dan pendapat) tentang ketidaktepatan timing dan cara penanganan kasus Novel Baswedan, serta ke-belum tepat-an revisi UU KPK.

    Tinggal satu hal yang menarik untuk dicermati adalah satu poin terakhir yang berisi ‘instruksi’ kepada KPK-Polri untuk memperbaharui MoU sehingga peristiwa ‘seperti ini’ tidak terulang lagi. MoU, Memorandum of Understanding atau Nota Kesepahaman, inilah yang sebenarnya menjadi salah satu sumber permasalahan utama pecahnya ‘perang saudara’ dua lembaga penegakan hukum ini.

    Seperti kita ketahui, api sengketa KPK dan Polri yang tak kunjung reda dipantik oleh kebersikukuhan kedua pihak pada alasan kebenaran masing-masing. Sekadar menyegarkan ingatan, KPK berpegang pada landasan hukum Pasal 50 UU No 30/2002 tentang KPK (tentang penyidikan kepolisian atau kejaksaan segera dihentikan jika KPK telah mulai melakukan penyidikan yang sama). Sedang Polri berpegang pada MoUKesepakatan Bersama Antara Kejaksaan, Polri dan KPK Nomor: KEP-049/A/J.A/03/2012, nomor: B/23/III/2012, dan nomor: SP3-39/01/03/2012 Tentang Optimalisasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (selengkapnya silahkan baca: MoU KPK-Polri).

    Polri dianggap ‘berkhianat’ terhadap hukum, KPK dianggap ‘berkhianat’ terhadap etika. Dilematis, ‘berkhianat’ adalah dua hal yang sama buruknya. Opini terbelah dua, semakin lama semakin membelah lalu bergesekan hingga panas, sampai pada suatu titik krusial menakutkan dalam sejarah penegakan hukum di negeri ini. Indonesia terbelah antara kubu “anti korupsi” dengan rakyat di belakang KPK yang meyakini supremasi hukum UU sebagai landasan mencari solusi dengan kubu “pro korupsi” dengan para korupstor dan “kekuatan tersembunyi” yang meyakini pula ‘supervisi etika’ MoU sebagai landasan bekerja sama.

    Polri tarik 20 penyidik KPK, mangkirnya Djoko Susilo dari pemanggilan pertama dengan dalih meminta fatwa MA, insiden ‘penyerbuan’ dini hari pada penyidik KPK Novel Baswedan atas kasus 8 tahun silam,  menjadi serial drama saling berkaitan. Bahkan tidak mustahil lolosnya Djoko Susilo pun lolos dari jerat “Jumat keramat” dan rencana revisi UU KPK oleh DPR tak lepas dari ‘pertalian nasab’ dengan satu simpul besar gesekan hukum dan etika, UU dan MoU. 

     Dan kini, sang ‘raja diraja’ NKRI telah ‘bersabda’ lewat ‘panca solusi.’ Sebuah pesan singkat ‘bersayap’ memperbaharui MoU antara KPK dan Polri agar tidak terjadi miss komunikasi, mala-aksi dan kompetisi ‘bunuh diri.’ Permasalahannya, akankah MoU menjadi pemutus rantai kisruh KPK-Polri? Tentu masih mengundang banyak keraguan, dan layaklah untuk meragukan, karena kita telah terikat oleh sejarah secara bulat dan absah sesuai konstitusi, bahwa NKRI adalah negara hukum (rechstaat), bukan negara kekuasaan (machstaat), bukan pula negara etika, kesepakatan atau kesepahaman.

      Apa jadinya kalau sesuatu yang jelas, gamblang dan terang-benderang tertera dalam teks hukum legal-formal masih bisa dikalahkan oleh ikatan etika, kesepakatan dan kesepahaman dalam secarik kertas nota atau catatan? Apalagi, di republik terkini, nilai-nilai dan norma-norma telah pergi dan terbang tinggi dari hampir mayoritas jiwa anak negeri, di hampir seluruh lini, di hampir seluruh dimensi, jajaran pemimpin, institusi, instansi dan birokrasi.

     Tak terkecuali insan hukum (kepolisian-kejaksaan-kepengacaraan), telah lepas bablas dari ikatan etika-norma-kesantunan dan kedangkalan pemahaman nilai-nilai kemasyarakat-bangsa-negaraan. MoU bisa jadi hanya akan menjadi sindroma dan catatan buruk di almari besi hukum negeri dengan celah spasi menganga lebar di sana-sini, dan hanya berpotensi menjadi tameng pembenaran untuk menjaga eksistensi korupsi agar tetap abadi.

     Revisi MoU pertama bakal memicu revisi kedua  ketika insiden terulang. Lalu revisi kedua memicu revisi selanjutnya, ketika benturan dengan hukum tak terelakkan. Dan seterusnya, dan seterusnya, hingga sampai tanpa disadari energi bangsa ini terkuras habis dan nyaris mati karena dehidrasi. KPK, Polri, Kejaksaan, lalu menjalar ke lembaga lain, dan rakyat akan hancur terbakar oleh api korupsi karena penegakan hukum menderita “disfungsi ereksi.” Kalah jadi abu, menang jadi arang. Penegak hukum saling beradu, semuanya hancur, koruptor bertepuk tangan, tertawa gembira bukan kepalang.

    Semestinya makhluk bernama MoU memberi kita pelajaran berharga untuk tidak mengulang kepandiran hukum karena gagal baca teks peraturan dan perundang-undangan. Ongkos yang terlalu mahal untuk membayar blunder berulang dalam memerangi musuh besar bersama bernama korupsi. Dan kita juga semestinya memiliki satu kesepakatan dan kesepahaman tanpa nota di dalam bathin terdalam, bahwa akar tunggang filosofi korupsi adalah ”kesepakatan setan.” Kesepakatan, atau kesepahaman  terjadi karena ada pihak-pihak yang bersepakat atau bersepaham, dan ia bisa tercegah jika “salah satunya” menolak untuk bersepakat atau bersepaham.

    Jika supremasi kesepakatan dan kesepahaman dengan nama MoU ini mengalahkan supremasi hukum dan perundang-undangan, maka bukan hanya Polri yang terancam untuk tergoda mengkhianati hukum, namun juga berbahaya bagi spirit ‘perjuangan suci’ KPK, apalagi rakyat jelata. Maka di balik pidato bersayap SBY, masihkah kita terlena, terpesona dan terkesima lega dengan mulut menganga tanpa menyisakan stok waspada dan berjaga-jaga? Jika negara ini menjadi Republik MoU, masihkah kita mau...??? 

Salam...
El Jeffry

Undang-Undang Kemaluan


ketika moral tinggal tersisa di batas oral
ketika etika hanya menjadi komoditas retorika
ketika budaya toto kromo tergerus hantam kromo
ketika norma-norma terpenjara dogma-dogma
ketika agama hanya kumpulan mushaf dan wacana
maka manusia terpenjara teks, angka, konsep, simbol-simbol aksara dan tanda baca

ketika manusia kehilangan kemanusiannya
ketika bangsa tak punya pangsa pasarnya
ketika negara gagal menjaga falsafahnya
maka konstitusi tak punya daya paksa

negeri seribu peraturan, sejuta perundang-undangan, semilyar penjelasan
pasal-pasal dan ayat-ayat hanya melahirkan tafsir-tafsir janggal dan sesat

negara terbungkus dalam kemasan kitab
sebagai dalih kekuasaan tiran
atas nama hukum, keadilan dan kebenaran
tapi yang berkuasa justru ahli menghukum, pengadilan dan pembenaran

negeri seribu peraturan, sejuta perundang-undangan, semilyar penjelasan
hukum suci tergantung di awan tinggi
hanya simbol tanpa esensi
hanya kulit tanpa isi

negeri ini telah kehilangan rasa malu
takluk di bawah penjajahan angka-angka, nomor-nomor, abjad dan aksara
mengurung rapat bagai bola raksasa

ambillah kembali rasa malu itu
sebab manusia membutuhkan kemaluan
untuk jalan keselamatan
harga diri, etos perjuangan, cita-cita dan kelanjutan keturunan

dan negara harus diselamatkan
dengan membentuk Undang-Undang Kemaluan

Salam…
El Jeffry

Putus Asa Yang Menyelamatkan Jiwa




“Menulis adalah hasil meditasi atas pengamatan di sekeliling, memaknainya, selanjutnya mengikat makna dan mengabadikan dalam tulisan hingga menginspirasi banyak orang.”

(Iqbal Jawad- Atase Pendidikan KBRI Tokyo: cuplikan artikel Pepih Nugraha dalam Tokyo : Untung di Jepang Tak Ada Front Pembela Shinto)


    Mencoba sedikit menangkap arti  meditasi ini, ada sebuah peristiwa kecil dari sekelompok ikan lele kecil di kolam samping rumah. Tanpa bermaksud berbagi inspirasi, karena justru saya yang menjadi ‘korban’ inspirasi, ada satu ‘pesan singkat’ dalam pengamatan yang cukup singkat.

   Alkisah, suatu malam sekitar seribu ekor benih lele sedang mengalami stress lingkungan karena perubahan air yang terlalu ekstrem. Sebagian dari lele-lele kecil ini berjuang mencari suasana baru dengan meloncat-loncat di bibir kolam. Karena memang permukaan air dari bibir kolam hanya berjarak sekitar sejengkal, maka sebagian dari mereka berhasil keluar, setelah berkali-kali mencoba tanpa pernah putus asa.

    Apa yang terjadi? Dari separoh ikan yang stress, yang pantang mundur meloncat-loncat sepanjang malam, separoh di antaranya berhasil keluar (sekitar 250 ekor). Ketika pagi tiba, sebagian dari mereka menjadi santapan tikus dan kucing yang ternyata siap menghadang menunggu hujan ikan dari bibir kolam. Sebagian lagi mati dikerumuni semut-semut api. Sebagian lagi yang berhasil ‘melarikan diri’ ke tempat aman pun mati karena gagal bernafas di udara, mati lemas di atas tanah. Lalu sisa-sisa bangkai ikan dipatoki ayam ketika pagi telah tiba.

     Sementara separoh lagi yang juga stress, namun mengambil jalan lain dengan berputus asa, sebagian memang gagal meloncat karena kurang daya hingga memilih untuk putus asa tak mengikuti jejak perjuangan rekan-rekan mereka. Diam di kolam dalam kelelahan dan keputusasaan.

      Seiring waktu berjalan dan menahan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang tak nyaman, lama-lama ikan-ikan yang putus asa ini menemukan kembali kenyamanannya. Setelah tiga hari berlalu, seluruh ikan yang tersisa di dalam kolam nampak bergembira, berenang ke sana-ke mari dengan sehat dan lincah seakan tak pernah terjadi sesuatu sama sekali.

    Ternyata putus asa kadang menjadi “penyelamat jiwa” tanpa pernah disengaja. Mungkinkah ini bisa menjadi inspirasi bagi manusia? Terserah Anda bagaimana menangkap makna dan menafsirkannya. Tapi kadang dalam hidup ada misteri yang tak pernah manusia memahami kecuali harus mengalaminya sendiri. Anda tak akan pernah mengerti makna sejati “lidah api” sebelum merasakan ujung jari Anda panas dan melepuh dengan menyentuh lidah api.

     Ada sebuah perhitungan pasti “matematika alam” yang telah menjadi ketetapan. Ketika telah ditetapkan bahwa telur ayam menetas dalam tempo 21 hari, kita tak dapat mempercepatnya dengan memecahkan cangkang sebelum waktunya, tidak pula mengundurkannya sedikitpun. Rekayasa “pemaksaan penetasan” pada bukan waktunya kadang bisa berakibat fatal dan berujung kematian.  

    Kita kadang dihadapkan pada satu hal yang sangat-sangat buruk dan ingin bersegera memerdekakan diri dari siksaan keadaan. Namun keadaan tak memungkinkan untuk mengambil pilihan, maju salah, mundur salah, bergerak ke manapun salah. Hampir seluruh nasehat berkata, “Jangan pernah berputus asa!” Namun kadang ketika kita memilih untuk diam dan berputus asa, memutus segala keinginan dengan menyerah total pada keadaan, di saat itulah kadang jalan keluar terbaik baru terbuka.

     Kadang kita perlu merenung sejenak untuk bermeditasi, samadi, tafakkur atau berkontemplasi, melepaskan semua ego-keinginan dan obsesi gerakan, seperti yang dikatakan orang sebagai “pelepasan energi” dalam diam. Karena ketika kita tahu bahwa yang menghalangi jalan adalah tembok baja, maka memukulinya dengan kepalan tangan hanya akan membuat luka-luka dan berdarah.

       Sampai ketika kita putus asa dan berhenti ‘berjuang’ memukulinya, lalu diam, duduk dan berbaring menghela nafas panjang, kemudian seiring waktu berlalu baru kita menyadari ketika “kekuatan dahsyat” tahu-tahu mengangkat atau meruntuhkan tembok itu. Maka, entah hendak dikatakan sebagai kesabaran atau keberserahan, yang pasti, bagi sekelompok ikan lele kecil ini, kadang putus asa bisa menyelamatkan jiwa. Bagaimana dengan pengamatan Anda?  

Salam...
El Jeffry