Tuesday, October 9, 2012

“Nyanyian Si Burung Nazar”: Anas Makin Panas, Saan Makin Blingsatan


13497785971755582986
NAZARUDDIN: (sumber photo: http://nasional.kompas.com)

    Bukan Nazaruddin namanya kalau tak henti ‘bernyanyi’.  Itulah ‘lagu khas’ politisi  era republik terkini, diktum klasik kekumuhan politik homo homini lupus ala ‘pertarungan para tikus’ politikus. Kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan. Kolega menjadi seteru, seteru  menjadi kolega. Kepalang terbakar, politik bumi hangus dikobarkan, satu mati, semua harus mati. Sudah terlanjur terseret ke pintu penjara, mosok kawan-kawan lama dibiarkan melenggang begitu saja.

     Setelah menyebut banyak nama kolega dari Partai  Demokrat agar turut diseret, namun nampaknya ‘si burung nazar’ tak akan puas sebelum menyeret satu nama paling penting mantan koleganya, sang Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.  Pada nyanyian pertama awal Maret silam, Nazar telah ‘bernyanyi’ lantang tentang keterlibatan Anas dalam proyek senilai Rp. 1,2 triliun Hambalang . Tak kalah garang, Anas membalas dengan ‘nyanyian’ yang lebih panas dan menantang balik dengan taruhan “gantung Anas di Monas!”

    Hari ini, Selasa 09 September 2012, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu kembali ‘bernyanyi’ merdu saat kembali diperiksa KPK terkait penyidikan kasus dugaan korupsi proyek PLTS di Kemenakertrans pada 2008. ‘Si burung Nazar’ bersiap memakan ‘korban’ yang tak kunjung rela diterkam, kali ini dia menegaskan akan memperjelas peran sekaligus dua mantan koleganya, Anas dan Saan Mustopa.

     Nazaruddin kali ini diperiksa sebagai saksi untuk istrinya yang menjadi tersangka kasus PLTS, Neneng Sri Wahyuni. Seusai diperiksa sebagai saksi Neneng, 3 Oktober lalu, Nazaruddin mengungkapkan kalau Saan memberikan uang 50 ribu dollar AS Menakertrans Erman Suparno.
 Menurutnya, ada pertemuan antara Anas, Erman, dan Saan yang membahas soal proyek PLTS di kediaman Erman, dan Anas yang mengaturnya.

    Ihwal pertemuan ini Erman dan Saan. Keduanya mengaku tidak saling kenal dan mengatakan kalau pertemuan itu tidak pernah ada. Saan sendiri pada 26 September 2012 silam juga telah diperiksa terkait penyidikan kasus PLTS ini, dan menegaskan bahwa ia tak terlibat. Saat itu, katanya, Anas menjadi bos PT Anugerah Nusantara. Sebagian keuntungan proyek tersebut, menurut Nazaruddin, dibelikan Toyota Alphard untuk Anas. Keterangan Nazaruddin soal proyek PLTS ini pun dibantah Anas beberapa waktu lalu. 

    Dalam kasus dugaan korupsi PLTS, KPK menetapkan istri Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni, sebagai tersangka pada Agustus 2011. Neneng selaku Direktur Keuangan PT Anugerah Nusantara diduga melakukan tindak pidana korupsi sesuai dengan Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Neneng dianggap melakukan perbuatan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan dan perekonomian negara. Hukuman maksimalnya 20 tahun penjara. Adapun kerugian negara yang diduga timbul dalam proyek Rp 8,9 miliar ini mencapai Rp 3,8 miliar.

    Akankah ‘nyanyian’ terbaru ‘si burung nazar’ ini mampu mengancam ketenangan Anas dan Saan? Bisa ya, bisa tidak. Namanya juga ‘perang tingkat tinggi’ antar politisi, tentu yang paling bertaji dan paling sakti yang akan selamat untuk tidak menjadi ‘bangkai korban’ keganasan ‘si burung nazar’ yang terus mengancam dari balik terali besi? Kita ikuti kelanjutan ceritanya, apakah politik bumi hangus homo homini lupus mampu menyeret para tikus dan bulus yang buas, tak kenal puas dan nggragas menggasak uang rakyat.

    Yang pasti, sebagai manusia yang masih ‘waras,’ nyanyian burung nazar ini mestinya membuat Saan blingsatan dan Anas semakin panas. Secara kebetulan, hari ini ada sebuah kabar dari wakil ketua umum PD Max Sopacua tentang ketidakhadiran sang Ketua Umum  dalam pertemuan penting Majelis Tinggi Partai yang berlangsung tanggal 5 Oktober 2012 yang telah menetapkan mantan aktor Dede Yusuf sebagai cagub Jawa Barat dari partai itu. Konon kabarnya,  Anas sedang sakit.

    Apakkah sakitnya Anas adalah bagian dari ‘pertanda alam’ yang berkaitan dengan efek resonansi nyanyian tajam ‘siburung nazar’ hari ini? Entahlah, mungkin seperti pesan lagu Ebiet G. Ade, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Kalau masih belum mendapat jawaban, maka sebaiknya kita bersama-sama menggoyang-goyangkan kepala, atau geleng-geleng saja. Ternyata memang begitu sulitnya memberantas korupsi dari negeri kita, apalagi jika hanya mengandalkan KPK yang semakin dinista-cidera dengan segunung problema.

Salam...
El Jeffry

Sumber: kompas.com dan tempo.co