Friday, October 5, 2012

Mencari Tuhan Di Senayan


di mana Tuhan berada?
katanya dan katanya, Tuhan lebih sering bersemayan di Senayan
di pusat pemerintahan, di gedung yang dimuliakan
di dalam dada parlemen, tempat akumulasi suara rakyat diwakilkan
konsekuensi demokrasi konsensus anak negeri
dalam diktum klasik vox populi vox dei

bagaimana Tuhan bekerja, mengelola kepentingan dua ratus lima puluh juta manusia?
lewat rapat-rapat di ruang tertutup rapat
lewat debat-debat di gelap malam pekat
lewat pat gulipat di tiap momentum tepat
wakil rakyat, wakil Tuhan, wakil suara-suara hati kami
manusia pilihan pemimpin negeri

kini kami ingin menanyai
“Ke mana titipan suara kami
Berapa amanat yang telah engkau penuhi
Bagaimana menebus penderitaan kami...?”
kami bernyanyi di jalanan,
di tiap ruas kertas majalah dan koran,
di tiap jengkal tanah terabaikan
karena kegundahan tak kunjung hilang
dalam kepahitan tak tertahankan

tapi Tuhan bersembunyi
di balik kerah putih, jas hitam dan safari
gedung Senayan memang tak pernah sepi
lalu Tuhan bersabda lewat orasi
pidato kenegaraan, diplomasi, atas nama konstitusi basa-basi

kami lelah mencari, di mana Tuhan bersembunyi
masihkah Dia bersemayam di Senayan, tempat suara hati kami titipkan?
lalu di mana kebenaran bangsa yang telah menjadi kesepakatan?
kami kehilangan Tuhan, karena Tuhan telah disembunyikan di Senayan
atas nama hukum
atas nama moral
atas nama etika-norma-tata-krama-susila
atas nama, kebenaran, keyakinan dan agama
Tuhan telah dibungkus dengan legalitas angka, data, grafika dan statistika
tumbila-tumbila berintelegensi tinggi berkoloni di sudut-sudut istana

kami mencari Tuhan
kami mencari keadilan
kami mencari kemerdekaan
katanya dan katanya, semua terpusat di Senayan
kapi kami gagal menemui
tetap terjungkal, terganjal, terjegal dan terjagal
hingga sekarat meregang nyawa

tanah air, air mata, mata pencaharian terlunta-lunta
res-publica telah berubah menjadi neraka
quo vadis Indonesia?

Salam...
El Jeffry

Djoko Susilo Pun Lolos Dari “Jumat Keramat”


13494405561410517710
Irjen Djoko Susilo Usai Diperiksa KPK. (sumber photo: http://nasional.news.viva.co.id)

     Irjen Djoko Susilo lolos dari mitos "Jumat Keramat." Setelah diperiksa selama 9 jam di KPK hari ini, mantan Gubernur Akpol itu pulang dengan menumpang mobil Range Rover hitam. Istilah "Jumat Keramat" itu muncul sebab sejumlah tersangka kasus korupsi yang diperiksa pada hari Jumat, tak pulang lagi alias langsung masuk kamar tahanan. Namun sepertinya tuah “Jumat Keramat” hari ini tak mampu menandingi ‘kesaktian’ jenderal berbintang dua ini.

     Kabar bahwa tersangka kasus Simulator SIM ini tidak ditahan, sesungguhnya sudah berhembus semenjak siang tadi, meski Kamis kemarin, Ketua KPK Abraham Samad menegaskan bahwa akan menandatangani surat penahanan Djoko. Kabar soal tidak bakal ditahan itu beredar sebab sejumlah pimpinan KPK sedang tidak berada di tempat.
Abraham Samad  sendiri berada di Makasar karena kakak iparnya meninggal dunia. Sedang Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu sedang dinas keluar kota. Praktis hanya ada dua pimpinan yang ada di KPK, Busyro Muqoddas dan Zulkarnaen. 

     Meski untuk menandatangani penahanan seseorang hanya dibutuhkan satu tanda tangan pimpinan, tapi setidaknya pimpinan KPK lainnya ikut menyetujui sebagai  bagian dari prinsip kepemimpinan kolektif kolegial. Sumber VIVAnews di KPK mengatakan bahwa memang sebelumnya KPK  tidak  berencana menahan Djoko pada pemeriksaan perdananya sebagai tersangka hari ini. Ada beberapa alasan, salah satunya mengenai hasil audit yang belum rampung. 
Akhirnya, untuk sementara Irjen Djoko Susilo pun lolos dari “Jumat Keramat.”

     Apakah ini ‘pertanda buruk’ bahwa KPK akan benar-benar menjadi ‘macan ompong’ yang hanya ‘menggeram-geram’ dalam geram namun suaranya tak lagi seram, lalu karam oleh buasnya gelombang kekuasaan setan di lautan hitam hukum NKRI? Padahal, harapan rakyat sudah nyaris tiada lagi selain menggantungkannya pada satu-satunya lembaga yang dianggap paling “bergigi” dalam memberantas korupsi di negeri ini?

    Ataukah ada ‘hitung-hitungan’ lain yang “tak terjangkau awam” yang bakal menjadi misteri abadi dalam berbagai upaya “pihak tertentu” untuk menggembosi KPK hingga benar-benar gembos-bos tak berdaya? Atau mungkin kita, rakyat Indonesia harus mulai relaistis menyikapi eksistensi “gurita korupsi” di negeri ini sebagai “monster buto-raksasa” abadi yang nggak bakalan mati di bumi pertiwi. Atau mungkinkah benar kata Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, bahwa “Sampai Kiamat pun, (polisi) korupsi akan tetap ada,” karena polisi bukan malaikat, bukan pula Robocop?

     Aah... lagi-lagi kita mesti bersabar hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Meminjam bait lagu Iwan Fals dalam lagu Asyik Nggak Asyik, itulah dunia politik. Ibarat nyolong mangga, kalau nggak nyolong nggak asyik... buah mangga entah ke mana, tinggal biji tinggal kulitnya, rakyat kecil hanya menganga, tinggal mimpi ambil hikmahnya. Hikmah adalah kebaikan yang tak ada habisnya, khazanah berharga yang tak ada bandingannya. Sayangnya hanya rakyat kecil yang senantiasa jadi korban ketidakadilan yang lebih sering memetik dan panen raya hikmah itu, bukan penguasa, bukan pengusaha kaya, bukan polisi, bukan politisi, dan yang pasti, bukan koruptor.

Salam...
El Jeffry 

Sumber: Vivanews 06/10/2012

Jadikah DS “Dijerat” Di Jumat Keramat?


1349404865376328714
Djoko Susilo: sumber photo: www.luwuraya.net

        Pagi ini, nuansa Jumat Keramat kembali menyelimuti gedung KPK. Sesuai rencana, hari ini KPK telah menjadwalkan pemanggilan untuk kali kedua DS, alias Djoko Susilo, tersangka kasus simulator SIM Polri, setelah sang Jenderal aktif Polri ini mangkir pada pemanggilan perdana Jumat pekan silam. Alasannya, DS mesti meminta fatwa MA yang dianggap dapat memastikan apakah KPK atau Kepolisian yang berhak menangani perkaranya. Dan sayangnya, pihak MA menolak permintaan Djoko tersebut.

     Alasan DS bisa jadi hanya alasan, atau bisa saja lebih karena ‘ketakutan psikologis’ seorang manusia biasa, tak peduli ia jenderal berbintang tiga atau lima. Sudah menjadi mitos, bahwa Jumat keramat akhir-akhir ini menjadi ‘horor’ dan ‘teror’ bagi tersangka koruptor yang terpaksa berhadapan dengan KPK. Cukup banyak tersangka koruptor yang langsung ditahan ketika menjalani pemeriksaan perdana di hari Jumat.

    KPK sendiri, seperti dikatakan oleh sang Ketua Abraham Samad, rencananya siap langsung menahan tersangka DS, jika memang benar-benar datang hari ini memenuhi panggilan KPK untuk menjalani pemeriksaan. 

    "Besok saya tidak akan bergeser dari tempat duduk saya, dan ruangan saya. Saya hanya menunggu teman-teman penyidik di lantai tujuh dan delapan untuk menyodorkan surat penahanan, dan jika surat penahanan itu ada di meja saya, maka saya tidak akan menolak untuk menandatanganinya," kata Abraham.(kompas.com/05/10/2012)

     Demi kebaikan bersama dan komitmen pemberantasan korupsi yang "bukan hanya basa-basi," semua berharap, mantan Kakorlantas ini secara ksatria-prawira dan gentleman tidak mangkir untuk kedua kalinya, dengan alasan apapun. Tak hanya KPK yang berharap, namun juga kalangan DPR dan publik, terlebih Kapolri sendiri konon sudah ‘menginstruksikan’ agar Irjen DS ‘patuh’ pada KPK.

    Keteladanan sang Jenderal akan menjadi momentum awal bagi harapan rakyat akan terkuaknya kasus-kasus besar selanjutnya. Dan bahwa di mata hukum semua Warga Negara Indonesia memiliki kedudukan yang sama, tanpa kecuali. Bahwa hukum di negeri ini tidak tebang pilih dan tidak pandang bulu, tak peduli jenderal, kopral atau penjual sandal, jika berhadapan dengan penegak hukum, semua mesti ‘rukuk-sujud berjamaah.’ Supremasi hukum harus tegak di bumi pertiwi, implementasi sejati dari negara hukum (rechstaat), bukti nyata bahwa Indonesia bukan negara kekuasaan (maachstaat).

     Di Jumat keramat ini, yang kebetulan di hari ini bertepatan dengan hari jadi TNI. Meski secara institusi Polri telah terpisah dari TNI, namun bagaimanapun, filosofi kepolisian dan ketentaraan sejatinya tak terpisahkan. Membela negara, menjaga ketenteraman dan ketertiban masyarakat, untuk tegaknya kedaulatan negara dan kedaulatan rakyat di bawah hukum negara. Spirit perjuangan ketentaraan dan kepolisian sebagai ruh res-publica-daulat rakyat mesti terus terjaga lewat sikap ksatria-prawira gagah perkasa.

    Lalu, apakah “Sang Jenderal” akan benar-benar hadir ke gedung KPK memenuhi ‘panggilan suci’ mempertanggungjawabkan ‘dugaan kejahatan’ tanpa menghindari tuah dan karma Jumat Keramat? Kita ikuti saja berita selanjutnya, semoga hari ini ada berita gembira yang membuka harapan rakyat Indonesia untuk sedikit melihat “contoh keteladanan” seorang ‘pemuda bersusila’-Djoko Susilo memenuhi darma-baktinya sebagai seorang perwira-ksatria.

     Bila tidak, maka bersiaplah untuk menunda ragam harapan dan cita, menangis bersama dalam duka-cita, karena langit hukum nusantara bakal runtuh, semakin hari semakin luruh, padahal langit dunia masih selalu cerah dan tegak tak tergoyah. Semoga tidak...

Salam...
El Jeffry