Friday, September 28, 2012

Quo VadiSolo, Joko Widodo Dan Joko Tripitono



       Solo, atau Sala, yang dalam konteks formal dikenal dengan nama Surakarta, adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang kental dengan sejarah sepanjang masa. Surakarta, yang memiliki kaitan sejarah erat dengan Kartasura, sebagai nama dari dua kata sura dan karta. Sura yang berarti keberanian, filosofi agung karakteristik para ksatria-prawira-pejuang, dan karta yang berarti karya, pencapaian pekerjaan, dan setelah mengalami pergeseran semantik dalam bahasa Jawa Kuno berarti makmur, maju, sedang berkembang, ulung, sempurna.

     Surakarta, sebagai sebuah nama do’a bagi kota “yang maju dan makmur di atas perjuangan keberanian” penghuninya. Sedang eksistensi Solo sendiri muncul dari sebuah nama desa Sala di tepi Bengawan Solo, yang sejarahnya dimulai sejak kepindahan kedudukan raja Kesultanan Mataram dari Kartasura ke wilayah itu pada 17 Februari 1745. Secara de facto tanggal 16 Juni 1946 terbentuk Pemerintah Daerah Kota Surakarta yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sekaligus menghapus kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran.

      Solo menjadi setitik tuah di antara garis sejarah nusantara, saksi politik dari masa ke masa, sejak homo erectus era purbakala hingga homo homini lupus era modern. Homo soloensis 50.000 tahun yang lalu, subspesies yang juga kerap disebut Javanthropus atau Phitecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak). Dan di ranah kekinian Solo masih menjadi saksi pertarungan kekuasaan pergulatan perjalanan kebangsaan manusia yang konon elah berperadaban. Adagium politik homo homini lupus menjerat negeri ini, manusia kera ‘bermutasi’ menjadi manusia serigala yang saling memangsa di rimba politik-kekuasaan nusantara.

      Solo masih menjadi legenda, kota bersejarah sebagai Vorstenlanden atau swapraja di masa kolonial Belanda, sebagai Kochi atau daerah istimewa pada masa pendudukan Jepang, sebagai daerah istimewa bersifat kerajaan di NKRI pasca kemerdekaan, hingga akhirnya menjadi karesidenan sebagai bagian wilayah provinsi Jawa Tengah, dan kini sebagai kota madya di bawah pimpinan seorang walikota. Solo, atau Surakarta, tetaplah menjadi kota perjuangan yang penuh kobaran api ruh keberanian.

     Solo selalu menjadi legenda dan pusat budaya, sumber inspirasi sang maestro Gesang yang mencipta lagu legendaries Bengawan Solo pada 1940-an, pusat khazanah budaya klasik dalam karya batik Solo, termasuk simbol kesempurnaan wanita idaman nan lemah-lembut Putri Solo. Tarian tradisional Bedhaya dan Srimpi yang cantik, artisistik dan penuh etstetik, pusat keanggunan bahasa tata-krama Jawa dan sumbangsihnya dalam perjalanan bahasa Indonesia.

      Solo adalah produk pahlawan bangsa. Sederet nama menghiasi pustaka sejarah Indonesia, Albertus Soegijopranoto (Uskup Agung Semarang), Dr.Muwardi, Kiai Haji Samanhudi ( pendiri Sarekat Dagang Islam), R. Maladi (Menteri Penerangan, Menteri Pemuda dan Olahraga dan Ketua PSSI), Jenderal GPH Djatikusumo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949), Muljadi Djojomartono ( Menteri Sosial dan tokoh Muhamaddiyah), Achmad Baiquni (ahli atom indonesia), Dr. Suharso (ahli ortopedi), Dr. Supomo (Menteri Hukum dan HAM, dan salah satu arsitek UUD 1945), Ir.Sedyatmo (pencipta struktur cakar ayam), Ir. Sutami (Menteri Pekerjaan Umum dan insinyur gedung DPR/MRP), dan Slamet Riyadi.

     Dari bidang politik terdapat antara lain mantan ketua MPR Amien Rais dan Wiranto, sedangkan dari bidang seni dan sastra ada sederet tokoh, antara lain Basuki Abdullah, Luluk Purwanto, Radjiman Wedyodiningrat, Rangga Warsita, Rendra, Teguh Srimulat, Waljinah,Wahjoe Sardono,Nunung,Yasadipura I, dan Yasadipura II. Dari bidang olahraga terdapat petenis Wynne Prakusya, pelari tercepat di Asia Tenggara Suryo Agung, pembalap Rio Haryanto, grandmaster Edhi Handoko, serta pebulutangkis Icuk Sugiarto,Rudy Gunawan, dan Bambang Suprianto.

    Solo 2012, dalam beberapa pekan terakhir menyuguhkan berita yang cukup fenomena dan melegenda. Adalah dia Ir. H. Joko Widodo, yang lebih familiar dengan nama Jokowi, yang secara fenomenal mengubah kota Solo semenjak menjabat sebagai walikota berpasangan dengan F.X. Hadi Rudyatmo dalam dua masa kali periode 2005-2015. Dan hari ini el-phenomenon itu tengah memasuki detik-detik bersejarah bersiap memikul amanat terberat memimpin ibukota DKI Jakarta 2012-2017, setelah bersama pasangan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) melewati perjalanan panjang dan melelahkan dalam pertarungan bersejarah yang konon paling demokratis dan ekstra kritis sepanjang gelaran pilkada Indonesia.

     Di bawah kepemimpinan Jokowi dan Rudy, Solo mengalami perubahan yang pesat. Para pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dapat direlokasi hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka. Investor diberi syarat untuk mau memikirkan kepentingan publik. Komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) diadakan secara rutin dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman.

    Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008.”

     Jokowi, sebagai seorang yang berbasic pedagang-pengusaha telah mampu ‘menyihir’ kebobrokan mental feodal-borokrat, mendobrak ‘zona nyaman’ kekuasaan dan melabrak dogma-dogma kepemimpinan dan hegemoni kekuasaan dari dominasi elit partai-partai politik, menghembuskan nafas pembaharuan bagi bangkitnya kesadaran berpolitik bernurani-berkeadaban yang mengedepankan prioritas rakyat-publik-wong cilik. Energi perjuangan seorang Jokowi tak hanya mampu mengaktualisasikan kota Solo, sebagai “The Spirit of Java,” namun juga ber-resonansi di langit nusantara sebagai “The Spirit of Indonesia.”

     Secara kebetulan, di garis waktu yang berhimpitan, seakan ‘memeriahkan’ momentum Jokowi dan Solo, serangkai peristiwa kekerasan bernama terorisme menyeruak membuat mata terbelalak. Terakhir, mencuat nama Joko Tripitono, alias Joko Parkit, seorang peternak burung parkit yang melengkapi deretan panjang penangkapan wong Solo yang diduga sebagai teroris. Joko Parkit hanyalah salah satu dari simbol seorang joko (jajaka-pemuda) yang oleh penguasa dianggap sebagai teroris yang mengancam kehidupan bersama bangsa dan negara. Joko Parkit, dalam satu sisi menjadi anomali dari karakterisitik wong Solo-Jawa yang dikenal sebagai barometer kelemah-lembut-santunan, kehalusan budi pekerti dan pradigma klasik manusia Jawa yang berpegang teguh pada norma tata-krama, nrimo ing pandum (ikhlas menerima bagian), tepo seliro (tenggang rasa) dengan kemengalahan yang jarang ditemui pada kultur lain di luar Jawa.

     Namun, di sisi lain, Joko Parkit adalah seorang manusia, bukan hanya wong Solo, juga manusia Indonesia, yang jika kita ingin mengenalnya, tentu akan kembali menyuguhkan berlembar-lembar cerita di balik berita, apa sebenarnya yang ia lakukan. Terorisme, memang salah satu dari tiga kejahatan luar biasa selain korupsi dan narkoba, yang menjadi agenda utama musuh negara, mesti diperangi dan dicabut hingga ke akar-akarnya.

      Meskipun nampak berseberangan dan bertolak belakang, namun antara Joko Widodo dan Joko Parkit, apalagi sebagai sesama wong Solo, tetap saja memiliki kesamaan, perjuangan. Perjuangan dan pemberontakan, pembelaan dan pemberontakan, pahlawan dan teroris, ibarat dua sisi mata uang. Kita akan melihatnya sebagai kebenaran tergantung dari sisi mana kita berdiri dan berpihak. Pahlawan atau teroris hanyalah produk sejarah antara kekuasaan yang absah atau tidak sah, pengakuan dan kesepakatan, kepentingan, motif dan tujuan.

     Bagi Joko Widodo dan Joko Tripitono, keduanya pasti yakin dengan pilihan hidupnya, bahwa apa yang dilakukan mereka hakikatnya adalah mutlak perjuangan, hanya saja mereka menempuh dengan cara yang berbeda. Cerita yang hampir sama ketika kita dihadapkan pada ‘pertarungan’ antara Bung Karno dengan SM Karto Soewirjo, dua ksatria ‘seguru seilmu’ murid HOS Tjokroaminoto. Keduanya sama-sama memperjuangkan keyakinan demi tujuan mulia, kehidupan kebangsaan Indonesia, dengan jalur berbeda. Bung Karno berdiri di jalur NKRI, Karto Soewirjo berdiri di jalur NII, lalu keduanya ‘terpaksa’ memenuhi karma dengan lakon masing-masing, bertarung hidup-mati untuk ideologi.

      Kisah Solo dan babad Surakarta, sebuah kota dari kota-kota di seluruh nusantara mungkin tak akan pernah berhenti menjadi sejarah dan legenda,. Kisah Joko Widodo dan Joko Tripitono hanyalah sepenggal kisah dari dua orang anak manusia yang berdiri di sisi berbeda, dengan prinsip berbeda, dengan cara berjuang berbeda. Maka meski tidak terlalu nyambung dengan judul di atas, kita hanya bisa melontarkan sebuah istilah, quo vadis, yang dalam frasa Latin berarti “Ke mana engkau akan pergi?” Atau dalam konteks ini, Quo VadiSolo, adalah simbol pertanyaan, “Akan engkau bawa ke mana Solo?”

     Dan lebih luas akan menjadi pertanyaan besar jika melihat fragmen kekinian NKRI yang masih bergelut dengan carut-marut problem tak kunjung sirna, rusaknya tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, Quo Vadis Indonesia? Akan engkau bawa ke mana Indonesia? Sekadar komparasi, gurita korupsi yang masih mencengkeram negeri ini dan disinyalir tak akan punah dalam 1-2 generasi, memiliki daya rusak ribuan kali lipat dibanding dengan terorisme, meski keduanya sama-sama sebagai Extra Ordinary Crime.

     Jika seorang teroris memakan korban hanya puluhan orang tak berdosa, namun dia berani menjemput kematian demi sebuah tujuan dengan penuh keyakinan, maka seorang koruptor (kelas kakap dengan nilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah) memakan korban ribuan bahkan jutaan orang tak berdosa,  dan dia tak akan sanggup menghadapi kematian karena tak punya tujuan demi keyakinan dan memang koruptor mengejar kesenangan dan kemewahan harta-tahta materi-keduniaan.

     “Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia akan dikalahkan oleh kebijaksanaan, kasih sayang, dan kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri. Joko Tripitono dan Joko Widodo, biarlah menjadi percontohan duo lakon perjuangan sebagai kacabenggala bersama. Solo, The Spirit Of Java, semoga membakar The Spirit Of Indonesia. Untuk refleksi bersama lewat frasa Quo VadiSolo, Quo Vadis Indonesia, hendak si bawa ke mana Solo, hendak di bawa ke mana Indonesia...???



Salam Pembaharuan...
El Jeffry
Referensi:

-http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surakarta

-http://www.tribunnews.com/2012/09/23