Saturday, September 22, 2012

Jokowi (Harus) Tetap Menjadi Jokowi!



   Pilkada DKI telah usai. Sambil menunggu ‘peresmian’ hasil penghitungan KPU DKI 28 September mendatang, sudahi euforia dan pesta gembira atas kemenangan Jokowi hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei. Kita, tak hanya warga ibukota, telah melewati satu fase terberat dari proses demokrasi ibukota. ‘Duel final’ dari rangkaian pertarungan panjang dan melelahkan, nyaris menyita seluruh tenaga, ‘berdarah-darah’ hingga sebagian besar ‘muntah darah’ hanya untuk mempertaruhkan masa depan bersama. 

    Pembelajaran seleksi kepemimpinan yang bergelut dan bergulat di rimba politik-kekuasaan, mencari bentuk ideal tatanan kemasyarakat-negara-bangsaan. Ribuan aral dan godaan, tarik ulur kepentingan dan kebutuhan, gelar-gulung pemikiran dan pandangan, gali-timbun formasi dan formula kesepakatan, hanya untuk satu tujuan, menempatkan salah satu pemimpin terbaik republik di salah satu pilot projek politik paling pelik dan unik, DKI Jakarta, prototip terkini negara-bangsa Indonesia.

     Kita baru saja lulus dan ‘jihad kecil’ pilkada damai dan bernurani etika, meski masih menggunung catatan kaki dan luput sana-sini. Dan selamat datang kepada perang sesungguhnya, ‘jihad besar’ ketika Ir. H. Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (jika tak ada perubahan hitungan antara hasil hitung cepat dengan hasil resmi), bakal memikul amanat terberat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI periode 2012-2017.

     Sensasi Jokowi telah membabar pelajaran sejarah kepemimpinan bangsa, lengkap dengan segala pernak-pernik peristiwa rekam jejak semenjak 2005. Kita berharap agar itu tidak menjadi antiklimaks ‘perjalanan spiritual’ bocah kecil dari sebuah desa di Solo. Jokowi telah ‘didaulat rakyat’ sebagai contoh kecil pejuang-pemimpin otentik khas anak negeri, yang telah berhasil secara fenomenal mengubah ornamen perpolitikan pusat kota dan Indonesia pada umumnya. Babad sejarah dalam pertarungan ‘berdarah-darah’ paling bersejarah telah dicontohkan dengan gamblang oleh dua sosok sentral ksatria yang berlaga. 

     Dan kini, Dr. Ing. H. Fauzi Bowo telah secara ksatria dan legowo menerima akhir kekuasaan dan kepemimpinan. Hari-hari menanti sang pengganti, Jokowi untuk bersiap menduduki ‘kursi panas’ DKI1, dalam 5 tahun ke depan. ‘Perang kecil’ koalisi rakyat vs koalisi partai, pedagang vs birokrat, pembaharuan vs kemapanan, wong ndeso vs orang kota, kini usia sudah. Jokowi, dengan kawalan Ahok, sudah terlanjur memenuhi takdir demokrasi, kini tinggal memenuhi karma perjuangan yang diayunkan di hari-hari silam dalam kampanye, orasi hingga berdebat-diplomasi, rakyat ibukota telah membeli janji.

     Maka Jokowi harus bersama kita kawal, lindungi, sekaligus kritisi, agar tetap memikul janji atas nama vox populi vox dei. Dan untuk itu, kita meminta, Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, hari kemarin, hari ini, hari esok dan paling kurang 5 tahun ke depan, di mana perjanjian rakyat-pemimpin telah dipikul di pundak lewat pilkada. Selama ini kita mengenal Jokowi sebagai seorang pemimpin bersukma kerakyatan yang selalu nguwongke wong (memanusiakan manusia) dengan berdekat-dekat dengan rakyat. Maka di hari esok kita tidak rela jika Jokowi melanggar karma sejarah dirinya, jangan sampai meninggalkan rakyat atau menjaga jarak, lalu malah berdekat-dekat dengan bangsawan-birokrat.

    Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, pemimpin yang kita kenal sebagai pemimpin sederhana dan jujur apa adanya, tak terjebak dalam retorika gaya mayoritas pemimpin kita. Kederhanaan tanpa mengumbar kesempatan dan jabatan, menghindari fasilitas ekstra nyaman dan kemewahan, menjauhi pola perintah-perintah ala pemerintah adigang-adigung-adiguna (jumawa). Kesederhanaan kita harapkan menginspirasi para pemimpin di negeri ini untuk melakukan hal sama, ketika keterpurukan bangsa menuntut kita untuk menghemat dan bersahaja.

      Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, pribadi berprinsip luhur dan berintegritas, merdeka dari belenggu kepentingan partai politik pengusungnya, lengkap dengan segala atribut politik yang penuh kebohongan dan dusta. Tak mudah, namun tak mustahil, terlebih sang wakil Ahok juga kita kenal sebagai pribadi merdeka dengan loyalitas lebih kepada rakyat daripada kepada partai. PDIP dan Gerindra sendiri telah menegaskan, bahwa ketika telah terpilih sebagai pemimpin ibukota, mereka berdua bukan lagi milik partai, tapi milik warga DKI Jakarta. Jokowi harus siap menanggalkan ‘baju kotak-kotak’ dan menggantinya dengan ‘baju aneka motif-warna’ ibukota yang bhinneka.

     Memang tak sedikit yang melontarkan prediksi miring dan meragukan kemampuannya mempertahankan kemerdekaan kepribadian, bahwa Jokowi akan dikelilingi dan dikepung oleh para pengusaha hitam, politisi oportunis, makelar proyek, birokrat pelacur dan segunung manusia sampah lainnya. Namun dengan melihat rekam jejak selama 7 tahun catatan sejarah kepemimpinan di daerah, kita tetap percaya, sekaligus juga tetap mengawalnya, agar Jokowi tidak terjebak dalam ‘pusaran beliung kekumuhan politik’ di ibukota, tetap kukuh untuk tak terpenjara dalam pragmatisme jeruji kepentingan politik dan ekonomi mereka.

     Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, meski kelak mesti terperangkap dalam sarang macan, mengingat mayoritas suara, 72%  DPRD DKI Jakarta merupakan partai pendukung pasangan Foke. Jokowi harus tetap menjadi Jokowi yang berprinsip teguh, meski perampasan hak dan aksi goyang menggoyang sudah dan sedang berlangsung dan ditetapkan sebagai nilai dan ‘kode etik menggelitik’ di negeri ini.

     Jokowi harus tetap menjadi Jokowi, menjadi diri sendiri dan sebaiknya tak melibatkan mantan gubernur kelak, Fauzi Bowo sebagai penasehat. Jokowi adalah figur pembaharu, bukan figur penerus. Maka ‘putuskan rantai’ pemikiran dan gagasan para mantan gubernur DKI dan sepenuhnya menangani DKI dengan sentuhan khas Jokowi yang baru, berbeda dan lebih artistik-kreatif-produktif, bukan plagiat dan pengekor nilai-nilai lama yang terbukti gagal fungsi memperbaiki segalanya.

      Jokowi hanya diberi amanat selama 5 tahun saja. Dan kita ingin melihat model dan gaya kepemimpinan yang sedikit ‘edan’ dan nyeleneh dari pakem tradisi kebiasaan yang salah kaprah, menjemukan dan membosankan. Mari kita dukung sepenuhnya, agar Jokowi mengerahkan kemampuan guna memperjuangkan tegaknya daulat hak-hak asasiah kewargaan-res publica kepentingan umum rakyat Jakarta. Selamat datang pemimpin baru, selamat datang spirit pembaharuan. Dan semua itu hanya bisa tercapai selama Jokowi sendiri tidak berubah. Apapun yang terjadi, Jokowi harus tetap menjadi Jokowi.

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://foto.okezone.com