Sunday, September 16, 2012

Foke, Kampanye, Al Qur’an Dan Kepemimpinan


13477791441098672536
KEPEMIMPINAN MANA LEBIH ISLAMI DAN QUR'ANI? (sumber photo: http://jakarta.tribunnews.com)

    Memasuki H-5 putaran kedua pemilukada damai DKI Jakarta, sekaligus hari terakhir kampanye dari tiga hari yang dijadwalkan, kita bisa belajar banyak dengan menyimak sepak terjang para calon pemimpin bangsa, khususnya ibukota. Kalaupun tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan DKI Jakarta, sekurang-kurangnya pelajaran berharga bisa dijadikan bekal untuk kebutuhan di masa mendatang, terlebih pemilu 2014 diam-diam semakin mendekat.

     Kali ini kita bisa belajar menelaah salah satu kandidat, dari sebuah pernyataan, pada suatu saat di suatu tempat. Syahdan, ada beberapa kalimat terucap dari sang gubernur incumbent Fauzi Bowo alias Bang Foke, berkata: "Bagi umat yang beriman dan bertakwa, seorang muslim harus punya pedoman berupa kitabullah. Jadi apa yang saya kerjakan selalu merujuk kitab Allah, yakni Alquran... Kalau memimpin tidak bisa baca Al Qur’an, bagaimana memerintah sesuai pedoman agama? Pilihlah kumis yang amanah, ini nggak bakalan kabur dari Jakarta."     Pernyataan Foke, di satu sisi adalah kebenaran. Bahwa umat beriman dan bertakwa, kitab suci adalah pedoman utama. Namun di sisi lain, kebenaran yang disampaikan di kalimat pertama, menjadi pertanyaan di kalimat berikutnya, ketika sipenyampai kebenaran mengklaim diri sebagai telah berpedoman kitab suci, Al Qur’an dalam pekerjaannya. Dengan kata lain, perilaku Foke adalah perilaku Qur’ani.

     Dalam ranah agama dan kebenaran, khususnya dalam keislaman, ada satu hal paling mendasar yang menjadi barometer imtak (iman-takwa). Iman dan takwa, dua kata pendek, tapi terlalu panjang untuk diuraikan. Ringan di lidah, tapi sangat-sangat berat di perbuatan. Iman, dengan bahasa pendek yang mudah dicerna awam, cukup hanya berkutat di tiga perkara utama sebagimana pesan Nabi tentang kemunafikan.

    Iman, secara sederhana adalah terbebasnya diri dari tiga ciri kemunafikan: dusta bicara, ingkar janji dan khianati amanat. Sedang takwa adalah buah dari konsistensi iman di dalam dada. Pertanyaannya, adakah manusia yang terbebas dari tiga ciri kemunafikan? Peranyaan yang sulit dijawab, terlebih dizaman ini, di negeri ini, yang konon tengah memasuki era zaman edan, fitnatuzzaman dan laknatuzzaman.

    Banyakkah sekarang orang berpegang pada tiga hal, jujur berbicara, tepati janji dan tunaikan amanat? Rasanya seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Keruntuhan umat-bangsa ini, sebenarnya hanya bersumber dari runtuhnya tiga fondasi iman ini. Ini pula yang menjadi intisari dari ajaran Islam, mutiara kristal dari kitab suci Al Qur’an. Jika seseorang sudah memenuhi tiga kriteria iman ini, tak perlu sempurna, hanya mendekati saja, sudah barang tentu ia telah bertakwa, Islami, sekalgus Qur’ani.

     Lalu siapakah yang berhak menilai apakah seseorang telah Islami atau Qur’ani? Tentu orang lain, bukan klaim diri sendiri. Konon, seorang yang dikenal begitu dekat dengan Nabi saw, yang keimanan dan ketakwaannya jadi rujukan orang Islam, sahabat sekaligus pemimpin umat, khalifah Umar Ibnu Khattab sering bertanya kepada sahabat yang lain, “Adakah engkau temukan kemunafikan pada diriku?”

    Klaim Foke bahwa perilakunya telah berpedoman pada Al Quran pada satu sisi bisa dimaklumi, karena itulah ciri khas dari kampanye. Kampanye adalah promosi diri, sosialisasi potensi untuk meyakinkan orang agar simpati dan ‘membeli.’ Permasalahannya, jika hendak meletakkan koridor agama, bagaimanakah formula keselarasan politik kekinian dengan nilai-nilai Islam? Atau dengan kata lain, bagaimana cara berkampanye yang Islami (atau Qur’ani)?

      Lagi-lagi tidak mudah untuk menjawab, apalagi mengimplementasikannya dalam praktek nyata. Telaah akan semakin panjang dan melelahkan, karena akan ada ribuan problema dan dilema yang tidak mudah dicerna, mengingat keislaman (lebih luas, keberagamaan) umat-bangsa kita juga masih layak dipertanyakan. Realita yang ada, ironis dan paradoks antara nilai-nilai ideal (ideal values) dengan nilai-nilai aktual (actual values). Kesalehan ritual-seremonial tak selaras dengan kesalehan sosial-nasional.

       Pilkada DKI yang hingar-bingar dengan pembauran wacana agama dengan istilah SARA menjadi contoh nyata bagaimana dilema agama ketika bersetuhan dengan politik praktis nuansa demokrasi Pancasila. Tak hanya awam yang masih kebingungan dan tertarik-ulur terombang-ambing dalam gelombang ketidak jelasan, namun para tokoh, termasuk di dalamnya ulama juga mayoritas masih gagal menangkap pesan ajaran Islam (Qur’an) untuk diselaraskan dengan politik kekinian republik ini.

    Salah satu kegagalan penyelerasan nilai-nilai Islam adalah dalam memaknai kepemimpinan (baca: pemerintahan). Akibatnya, ideal values yang terkandung dalam Al Qur’an nggak nyambung dengan actual values dalam praktek keseharian. Di wilayah politik dan  kekuasaan hal ini terlihat lebih-lebih kentara. Salah satunya adalah pernyataan Foke “Kalau memimpin tidak bisa baca Al Quran, bagaimana memerintah sesuai pedoman agama?

      Kita tak perlu membahas secara detil, cukup lontarkan saja ke lapangan realita. Di negeri ini mayoritas muslim, dan kita percaya, mayoritas dari muslim itu pasti bisa membaca Al Qur’an. Bahkan di kalangan pemimpin, terutama mereka yang berada di bawah departemen agama, keilmuan Al Qur’an bukan lagi sekedar bisa membaca, karena sebagian besarnya bisa dikelompokkan dalam tingkatan ulama. Ironisnya, disinyalir Depag merupakan salah satu lembaga terkorup di Indonesia.

     Contoh terkini, KPK menemukan dugaan adanya dugaan korupsi proyek pengadaan Al Quran di Kemenag. Dan kini kasusnya sedang ditangani oleh KPK. Kitab suci pun dikorupsi. Apa jawabannya ketika seorang Menteri Agama di penjara akibat korupsi dari Dana Abadi Umat dan penyelenggaraan haji senilai Rp. 100 miliar? Bukankah seorang Menteri Agama sejajar dengan ulama, yang tentunya bukan hanya bisa membaca Al Qur’an, melainkan juga mungkin hafal ayat-ayatnya, teks dan tafsirnya, paling kurang berilmu jauh lebih tinggi dari orang awam, atau barangkali lebih tinggi pula ilmunya dari Foke?

    Jangan bilang pengecualian, karena terlalau banyak untuk disebutkan, bahwa mereka yang telah mahir menguasai ilmu Al Qur’an, lebih dari sekadar baca, memenuhi deretan panjang kejahatan luar biasa, koruspsi. Tidakkah Al Qur’an mereka jadikan sebagai pedoman agama? Sedikit meluas, negeri kita dihuni oleh penduduk dengan ragam agama, selain Islam. Secara resmi setidaknya enam agama diakui dan dijamin oleh negara. Islam, Hindu, Budha, Kristen, Protestan dan Konghucu. Selain itu, ratusan, bahkan mungkin ribuan kepercayaan yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.

      Jika bertolak dari pandangan kepemimpinan Foke, artinya, mereka yang bukan muslim, yang pasti tidak bisa baca Al Qur’an, dianggap tak mampu menjadi pemimpin yang baik (memerintah), dan tak layak menjadi pemimpin (pemerintah) di NKRI. Lagi-lagi, suka tidak suka, sebuah pernyataan yang ‘berdekat-dekat’ dengan SARA. Akhirnya kita memaklumi, bahwa Foke mungkin bermaksud memberitahu warga ibukota, jangan pilih pemimpin yang tak bisa baca Qur’an, yang bukan muslim, kandidat lawan, yang tak lain dan tak bukan, sosok Ahok.

      Itulah kampanye, kadang emosi dan logika bercampur baur dan saling bertabrakan hanya untuk menarik simpati warga. Sudah menjadi hal lumrah di negeri ini, khususnya para elit dan politisi, mengumbar janji, obral budi pekerti, sebar fitnah dan caci maki berbungkus diplomasi ‘bahasa tinggi.’ Namun kadang lain di bibir, lain di hati, lain di tangan dan kaki. Ucapan, pikiran dan perbuatan, sering saling tabrakan tanpa ada keselarasan. Republik, demokrasi, UUD 45, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika semakin lama semakin usang dan diabaika begitu saja.

     Kita hanya bisa belajar dari ucapan seorang calon pemimpin bangsa. Dan kita memang harus terus mencermati, menilai, mengkritisi, karena negeri ini sudah bukan ‘bayi merah’ lagi. Dekade ke-7 Indonesia merdeka, kita tak kunjung menjadi bangsa dewasa. Krisis kepemimpinan masih menjadi penjara jiwa manusia nusantara, kebodohan dan kebebalan bernegara-bangsa, akibat kegagalan menangkap hikmah-hikmah sejarah dan peristiwa. Dengan istilah yang sedikit mbalelo, negeri ini terjangkit wabah “autismekepemimpinan,” keterbelakangan mental para pemimpin. Raga-badannya saja yang nampak dewasa dan tua, tapi jiwa-bathinnya masih bocah, childish-kekanak-kanakan bak bocah TK.

     Bukan hanya terlambat dewasa arif dan bijaksana dalam usia bangsa, namun usia pemimpin yang tampil di negeri ini juga di dominasi oleh generasi tua. Regenarasi terhambat kuat, senior enggan memberi ruang percobaan kepada yunior karena kerakusan kekuasaan dan syahwat keserakahan. Padahal, mereka yang muda berpotensi dan bertalenta tak kurang jumlahnya, lebih bertenaga, lebih kreatif dan lebih energik untuk bisa berkompetisi di dunia yang semakin dinamis.

     Sekadar perbandingan, kepemimpinan terbaik telah dicontohkan Nabi Muhammad sebagai ‘Al Qur’an yang berjalan.’ Sepanjang dua dekade kepemimpinan beliau, separoh pertama dihabiskan untuk  perjuangan meletakkan fondasi ketatanegaraan berkeadaban di Madinah, dalam usia 40-50-an. Di era inilah lahir “Piagam Madinah” yang konon menginspirasi fondasi filosofi bangunan “ramah keselamatan NKRI” dalam Piagam Jakarta. Dan diparuh kedua untuk penyempurnaan kepemimpinan, di Mekkah, di usia 50-60-an. Usia 60 adalah usia penurunan, bersiap mengakhiri tugas urusan dunia dan kenabian untuk menghadap Tuhannya, tepat di usia 63.

     Sekadar informasi, Foke kini memasuki usia ke-64, sedang seterunya Jokowi 51. Di lapis kedua, Nara memasuki usia ke-51, sedang usia Ahok 46. Perbandingan mencolok hanya pada figur utama, jika Foke sudah melewati ‘jatah usia’ standar Nabi, sedang Jokowi seangkatan dengan usia Nabi waktu menaklukkan kota Mekkah di paruh kedua kepemimpinan. Sedang berkaitan dengan Al Qur’an, pasangan Foke-Nara jelas bisa baca Al Qur’an, sementara pasangan Jokowi, Ahok memang tak bisa baca Al Qur’an, karena memang dia bukan orang Islam.

     Penilaian terbaik kepemimpinan adalah dari orang lain, bukan klaim diri sendiri. Rekam jejak dalam catatan tak bisa direkayasa. Benarkah muslim yang mahir baca Qur’an benar-benar amanah atau justru khianat, ataukah yang buta huruf Al Qur’an dan non muslim justru lebih amanah, Qur’ani dan Islami ketimbang yang punya Al Qur’an dan Islam sendiri? Kita lihat saja bersama nanti, 20 Sepetember 4 hari lagi, ketika warga ibukota menentukan pilihannya. Yang pasti, dari Foke dan kampanye, kita bisa sedikit belajar tentang arti kepemimpinan, dalam kaitannya dengan Islam dan kitab suci Al Qur’an.

Salam...
El Jeffry