Tuesday, September 11, 2012

Jika Pilkada Bernafas Cinta



      Dan Foke-Jokowi pun telah bersalaman. Di bawah hikmah kebijaksanaan, payung demokrasi musyawarah berkeadaban, berikrar janji ‘sehidup semati’ siap menjalani proses bersejarah DKI, pemilukada damai. Pemilihan umum kepala daerah mesti berjalan dengan damai, tanpa kekerasan, tanpa gontok-gontokan, tanpa kekisruhan.

     Pemilukada damai, harapan seluruh warga Jakarta, seluruh rakyat Indonesia, bahkan seluruh manusia di dunia. Siapa yang suka segala hal berjalan lancar dalam kedamaian? Pilkada, pemilukada, sebagaimana pemilu-pemilu lainnya, pileg, pilpres, pilkades, hanyalah suatu cara mencapai tujuan bersama, memilih wakil atau pemimpin, di bawah aturan yang telah disepakati bersama dalam tata kehidupan bernegara.

     Pemilukada damai, bersalaman jangan berhenti pada simbol-simbol ritual semata, namun mesti mengejawantah dalam tiap tapak langkah berikutnya. Seperti ikrar sepasang manusia yang hendak membangun mahligai rumah tangga dalam ritual pernikahan, pemilukada pun butuh cinta.

     DKI jakarta adalah rumah bersama membangun keluarga. Tak ada keluarga bahagia tanpa keharmonisan antar anggota, dan tiada keharmonisan antar anggota tanpa dilandasi rasa cinta. Jika pilkada bernafas cinta, maka jangan pernah ada dusta di antara kita. Di dalam keluarga, kedamaian adalah dambaan setiap jiwa, lintas batas, lintas usia, lintas ras dan lintas agama, semua manusia berhak dan bertanggungjawab menciptakan kedamaian.

    Jika pilkada bernafas cinta, apapun yang terjadi selalu indah akhirnya. Jika hendak diartikan sebagai pertarungan atau laga, namun selama tetap bernafas cinta, maka siapapun yang kalah atau menang tetap berbuah cinta, damai selalu alam dunia. Ksatria bertugas memperjuangkan apa yang telah diamanatkan, pertarungan memang kadang tak terelakkan. Namun pertarungan para ksatria adalah pertarungan bernafas cinta, bukan karena dendam kebencian ingin menghancurkan.

    Semua hanya menjalani peran, wayang-wayang dengan lakon masing-masing, tunduk pada kehendak sang dalang, selesai urusan, masuk kotak penyimpanan. Semua senang, semua menang, semua tenang. Hidup dan menang dengan damai, kalah dan terbunuh dengan damai. Hidup mati, kalah menang, nyaris tak ada bedanya, jika merupakan akhir dari nafas cinta.

    Jika pilkada bernafas cinta, hendak dimaknai sebagai kompetisi menjadi yang terbaik, semua bisa berlomba mengerahkan kemampuan terbaiknya. Bermula di atas balok tumpu kebaikan, berlari di lintasan trek kebaikan, berakhir di garis finish kebaikan, menjadi yang pertama atau yang terakhir, tak lantas membuat hidup dan karier berakhir. Cinta dan kebaikan saling membutuhkan. Bila yang satu menjadi akibat, yang lain menjadi alasan, jika yang lain menjadi akibat, maka yang satu menjadi alasan.

    Jika pilkada bernafas cinta, tujuan apapun tak menjadi problema. Cinta membawa damai, damai membawa cinta. Romantisme penuh dinamika. Politik hanya sebuah cara. Kekerasan hanya membawa luka-luka. Pengkhianatan hanya membuat rasa kecewa. Rekayasa hanya mencipta sesak dada. Nafas cinta menghembuskan kesejukan, kedamaian menyebarkan kebahagiaan, kekeluargaan di atas segala perbedaan kepentingan.

    Jika pilkada bernafas cinta, pengorbanan akan indah terasa. Fitrah manusia saling memberi untuk menerima, keserakahan hanyalah bisikan setan yang merusak kedamaian manusia. Memang selalu ada bakteri-bakteri demokrasi, jangkrik-jangkrik politik yang gemar menebar konflik, penumpang gelap perusak suasana. Dajjal penyebar fitnah dan pengadu domba, penggunting dalam lipatan, pemancing ikan di air keruh, politikus bulus homo homini lupus.

    Namun cinta menjadi penawarnya, hanya ruh cinta yang menyelamatkan manusia, dalam pilkada DKI Jakarta. Nafas cinta dalam pilkada, telah disimbolkan dengan salaman damai Foke-Jokowi, aktor utama dua ksatria yang siap berlaga di putaran dua. Semua mesti menyelam ke dalam lautan makna bersama, bergerak serentak bagai simfoni paduan suara, kolaborasi sempurna elit-publik, pemimpin-rakyat, tanpa kecuali.

     Jika pilkada bernafas cinta, harta, tahta dan wanita bukanlah masalah. Semua manusia butuh harta-kekayaan, tahta-kekuasaan dan wanita-pasangan. Namun cinta menjadi pagar yang menjaga jiwa untuk tetap menghidupkan ruh kedamaian, rahmat, kasih sayang, inti sari ajaran nilai-nilai luhur manusia. Cintalah yang menghidupkan kesadaran untuk saling menjaga martabat dan harkat sebagai makhluk berkeadaban mulia.

      Pilkada bernafas cinta, spirit nilai-nilai Pancasila, bukti rahmat Tuhan, humanisme-kemanusiaan, persaudaraan persatuan keluarga bangsa, kerakyatan hikmah kebijaksanaan, hingga akhirnya berbuah pada keadilan sosial berpemerataan. Nafas cinta berhembus dalam ruh demokrasi sejati nusantara, res-publica, ruh absolut negara, agama publik universal, daulat rakyat, cita-cita bersama Indonesia merdeka.

     Pilkada bernafas cinta, bersalaman dalam kedamaian, demi keluarga besar warga ibukota DKI Jakarta. Jika diawali dengan cinta, seharusnya berakhir dengan cinta, semua bernilai kebaikan. Meski kadang perlu pengorbanan yang menyakitkan, kadang penuh tetesan darah, keringat dan air mata duka lara, namun nafas cinta mengubahnya menjadi makna yang membawa manusia tetap berharga.

Salam...
El Jeffry

sumber photo: http://www.solopos.com/2012/pilkada/pilgub-jakarta-jokowi-foke-akur-di-mapolda-327223

Anas: Antara Arogansi, Konfidensi Dan Halusinasi


13473571902013960615
ANAS  URBANINGRUM: (sumber photo: http://www.kontralisanfm.com)

      Anas semakin menunjukkan dirinya sebagai politikus ‘berkelas.’ Tak goyah digoyang sana-sini setelah namanya kerap disebut-sebut dalam kasus Wisma Atlet dan Hambalang oleh mantan koleganya M. Nazaruddin. Setelah kicauan di twitter dengan sesumbar siap digantung di Monas jika terbukti terlibat dalam korupsi di di dua projek pemerintah itu, beberapa hari lalu Ketua Umum DPP partai Demokrat itu kembali mengeluarkan pernyataan panas menyikapi partai-partai baru yang telah selesai menadaftar sebagai pesertaPemilu 2012.

       Anas kembali sesumbar, bahwa Demokrat lebih suka berkompetisi dengan partai-partai kuat, meskipun di sisi lain dia juga menegaskan bahwa dia tak bermaksud underestimate, meremehkan partai-partai lain, termasuk partai-partai baru, dan bahwa semua partai tetap mempunyai peluang yang sama untuk meraih kemenangan.

       ‘Tantangan’ Anas bisa saja membuat kuping sebagian ‘kompetitor’ panas. Mungkinkah Anas mulai arogan? Atau mungkin Anas punya filosofi tersendiri, sebagaimana dihembuskan oleh sebagian motivator, bahwa untuk meraih kemenangan, kadang perlu sedikit arogan. Arogansi, sikap jumawa merasa hebat sendiri memang kadang menjadi salah satu terapi praktis psikologis untuk mendongkrak moril yang jatuh, kepercayaan diri, konfidensi.

        Setegar-tegar karang di lautan, ada batas kekuatan untuk bisa hancur berantakan. Bisa jadi, Anas, di balik sepak terjangnya yang kalem namun trengginas dan kicauannya yang bernas, cerdas dan terkadang panas, akhir-akhir ini mungkin memang butuh terapi psikologis untuk mendongkrak kembali konfidensi yang mulai hilang diterpa hantaman gelombang pemberitaan yang menyudutkan. Maka tips praktis motivasi pun menjadi solusi, dongkrak konfidensi dengan arogansi.

       Arogansi atau konfidensi Anas, tentu tak lepas dengan arogansi dan konfidensi Demokrat. Sebagai Ketua Umum, tentu Anas juga bertanggung jawab sebagai motivator partai. Artinya, Demokrat sendiri mungkin memang sedang dalam keadaan yang kurnag lebih sama dan sebangun dengan Sang Ketua Umum. Setidaknya ini terlihat dari ‘kepanikan terselubung’ pasca mencuatnya berita mundurnya 250 kader Demokrat  Yogyakarta, yang secara simbolis dilakukan dengan penyerahan kartu tanda anggota (KTA) pada Kamis 6 September 2012.

        Suatu hal yang lumrah sebagia dinamika politik, setidaknya itu yang dikatakan Skretaris PD Andi Malarangeng. Tapi tak bisa ditutupi-tutupi, bagaimanapun Demokrat merasa kecolongan. Apalagi diberitakan pula jika penyebab mundurnya ratusan kader Demokrat Yogya akibat semakin buruknya citra partai yang tercoreng akibat berbagai kasus korupsi dan dipengaruhi oleh tekanan sosial masyarakat yang mengecam partai Demokrat karena sempat kontra terhadap Penetapan Sri Sultan HB X dan Sri Paduka Pakualam IX menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Demikian dijelaskan oleh  Sinarbiyat Nujanat, Mantan Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Yogyakarta, Kamis 6 September 2012.

        Bukan politikus cerdas kalau tidak bisa mengubah ‘berita duka’ menjadi ‘berita gembira.’ Di hari yang sama, Anas pintar mengemasnya dengan mengatakan, “Kadang berita lebih besar dari fakta.” Anas meyakini, bahwa  yang datang ke Demokrat lebih banyak daripada yang pergi, maka harus disyukuri. Anas juga meyakini bahwa mundurnya ratusan kader Demokrat di Yogyakarta tidak akan mempengaruhi perolehan suara Demokrat di 2014. “Di Yogya 2009 itu Partai Demokrat dapat medali perak. Di 2014 kader-kader Demokrat di Yogya punya optimisme dan keyakinan kuat dari medali perak ke emas," kata Anas.

      Konfidensi Anas, kadang lebih terkesan arogansi, medali perak terancam, eh malah optomis medali emas. Keyakinan yang cerdas, bernas dan terkesan nggragas dan bablas.  Oalah, Anas tengah memainkan trisula psikologi politik dalam arogansi, konfidensi dan halusinasi. Yang terakhir ini kadang membuat orang tertawa geli, orang Yogya bilang, ngimpi! Besarnya partai karena suara rakyat. Sama saja selebriti tenar berhutang kepada para penggemar.

      Bila rakyat ‘alergi’ atau penggemar membubarkan diri, di mana kekuatan partai dan selebriti? Mestinya akan lebih logis bagi partai dan selebriti yang kehilangan suara dan penggemar untuk berintrospeksi, bukan malah mengumbar arogansi dan konfidensi, akhirnya terjangkit wabah halusinasi. Toh akhirnya, tepat di HUT Demokrat 9 September 2012, Anas menunjukkan wajah asli ‘kecemasan politiknya’ dengan menginstruksikan kader-kader senior dan petinggi-demokrat turun gunung, merapatkan barisan untuk tim yang tangguh.

      Yah, itulah politik. Anas dan Demokrat, atau elit manapun dan partai politik apapun, entah tengah dalam arogansi, konfidensi ataupun halusinasi, hasilnya akan terlihat dua tahun lagi, pada pemilu 2014. Yang pasti, setiap suara adalah sangat berharga. Tiada selembar pun suara rakyat yang sia-sia, baik bagi partai maupun bagi pemimpin, presiden, gubernur, bupati, walikota atau kepala desa. Kita, sebagai bangsa sudah terlanjur bersepakat bertata negara lewat sistem demokrasi berfalsafah Pancasila. Vox populi, vox dei. Suara rakyat, suara Tuhan. Mengabaikan rakyat, sama saja mengabaikan Tuhan. Amanat rakyat, sama dengan amanat Tuhan. Bukankah rakyat Indonesia masih percaya pada Tuhan?

Salam...
El Jeffry