Saturday, September 8, 2012

Di Gubuk Derita, Seribu Berita Dalam Cerita




1347109709881158041
dokumentasi pribadi

       Di gubuk ini kutemukan seribu cerita, kadang tersusun dari seribu derita manusia yang terhimpun dari seribu berita. Duduk merenung, ditemani secangkir kopi hitam kental, di kala senja, sehabis maghrib, kadang tengah malam hingga pagi buta. Sebaris judul, sederet pemikiran liar, segumpal masalah, beberapa hikmah, lalu kutuang setelah matang ke dalam sebuah tulisan.

      Di gubuk ini kutemukan ribuan kosa kata, sebanyak jalinan anyaman bambu yang menjadi dindingnya. Saling-silang dan saling menguatkan hingga cerita tertulis berlembar-lembar jumlahnya, kadang tumpang tindih dan bertumpuk-tumpuk, yang penting sebuah cerita telah terbentuk. 

     Di gubuk ini aku sering menyendiri, berkontemplasi, kadang introspeksi, kadang sengaja membiarkan tumbuh kecambah imajinasi. Hidup semakin pelik dan ngulik. Ada saatnya akal dan logika yang telah ada gagal menjawab seribu tanya. Maka di gubuk ini kerap kutemukan jawabannya. Dalam seribu cerita, seribu derita dan seribu berita. Kadang tanpa tema, tanpa tanda baca dan tanpa tahu apa maknanya, namun yang kutahu, pasti bila saatnya tiba semua akan jelas terbuka.

    Di gubuk ini aku berdiskusi dengan satu atau dua orang. Tentang masa depan orang kecil di desa yang selalu terbelakang, tentang permasalahan tetangga, sesekali memperbincangkan carut-marut bangsa dan negara yang tiada habisnya. Sambil minum kopi hitam kental, sepiring singkong rebus, atau beberapa mangkok mie instan hingga larut malam. 

1347110022353690762
dokumentasi pribadi

  Di gubuk, di samping rumah, sambil menghadapi ikan-ikan lele kecil yang terhampar di beberapa kolam terpal,telah tergelar seribu cerita orang desa, dengan seribu berita, lebih didominasi problema dan derita. Di gubuk ini tersimpan seribu keluhan orang-orang terbuang dan terpinggirkan. Juga rencana dan harapan yang lebih sering gagal diwujudkan. Lalu terkumpul dalam benak dan pikiran, dan tinggal kutuangkan dalam sebuah tulisan. 

    Di gubuk ini kutemukan seribu kegelisahan, kecemasan dan ketakutan melihat keadaan yang semakin memprihatinkan. Beratnya kehidupan, sulitnya untuk bertahan, lelahnya menghadapi gempuran perkembangan zaman. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali harus tetap menghadapi sepahit apapun kenyataan.

      Hingga hari ini kekeringan lumayan panjang. Sumber air berkurang, kolam-kolam mulai kerontang, sebagian lapuk dan nyaris ambruk dimakan rayap dan panas. Kecipak ikan yang berebutan saat siberi pakan mulai tak terdengar, tinggal kolam tanah yang kering hingga induk lele pun harus diselamatkan. Menunggu hujan tak segera turun, menunggu malam dalam tertegun, menunggu peluang jatuhnya bintang sambil termenung.

    Sudah lima bulan ini gubukku sepi. Tak ada diskusi, tak ada segelas kopi atau sepiring singkong rebus. Sunyi. Sendiri. Sebagaimana ikan-ikan, semua manusia bertarung mempertahankan hidup, mencoba menghindar dari ancaman kematian. Tak ada waktu untuk bercerita, bercengkerama dan sesekali tertawa gembira. Siang bekerja, malam kelelahan, tak ada waktu untuk membuat perencanaan.

     Namun gubuk ini tetap akan selalu melahirkan inspirasi, seribu hikmah peristiwa, seribu cerita dalam berita derita, seribu harapan bagi hilangnya duka nestapa, seribu jalinan tikar dan bilah bambu. Biasanya aku masih tetap meluangkan waktu untuk duduk barang sejenak, di bawah lampu lima watt di sudut atap rumbia, merangkum tanya dan tanya, menunggu saatnya jawaban tiba. Hujan dari langit, atau bintang jatuh di salah satu kolam, sementara waktu terus berputar hingga batas yang tak bisa di tentukan. 

Comal, 08 September 2012

Salam…
El Jeffry