Thursday, September 6, 2012

Kearifan Universal ‘Ki Ageng Suryomentaram’:


(Pararelisme Ajaran-ajaran Jalan Tengah “Mengenal Diri dan Hidup Bahagia”)

       Tak bisa dipungkiri, ‘Nyawa’ kekeluargaan Rumah ‘Res publica’ Republik Indonesia dan Kebangsaan Indonesia kita adalah "gotong-royong", yang merupakan sari dari ajaran universal adiluhung Filosofi-Ideologi-Paradigma Pandangan Dunia “Pancasila”, warisan dari leluhur dan para Bapak Pendiri Bangsa yang bijaksana, penuh rahmat cinta kasih, yang welas asih dan ikhlas-berhati bersih. 

    Landasan idealitas dan realitas ‘Gotong Royong’, aktual hidup dalam kebudayaan nusantara dengan aneka ramuan kemasan ekspresi-manifestasi yang khas pada berbagai warna-warni manifesto kehidupan suku bangsa, agama, ras dan antar golongan. Pondasi filosofi Kemanunggalan Esoteris “Kesadaran Ego Universal Ilahi” ini, yang lalu mengejawantah dalam kredo jalan kehidupan–pandangan dunia Nusantara Indonesia “Semua Satu, Satu Semua–Bhinneka Tunggal Ika”, tak terbantahkan merupakan roh-spirit republik keindonesiaan kita sekaligus menjadi payung kehidupan yang memeluk seluruh anasir kebangsaan dalam kebersamaan yang satu. 

     Dengan indahnya, ramuan adonan Kemanunggalan Esoteris di atas Sang Ilahi jelmakan pada anak manusia yang ditetesi Pengetahuan Cahaya Kasih-Nya, sosok Putra Indonesia sejati, Ki Ageng Suryomentaram dengan Ajaran Mengenal Diri (Kawruh Jiwa) dan ajaran Jalan Hidup Bahagia (Kawruh Begja)-nya. Abdullah Wong, editor buku “Puncak Ma’rifat Jawa” karya Muhadji Fikriono menulis, Pengetahuan atau ilmu merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia sebagaimana makanan dan minuman atau udara dalam melangsungkan hidup dan kehidupan. Secara substansial, pengetahuan manusia sesungguhnya tidak terbatas. Karena sifatnya yang tak terbatas itu, maka pengetahuan sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh apa dan siapa pun. Dalam hal ini pengetahuan tidak bisa dibatasi oleh ideologi, filsafat, moralitas, bahkan agama sekalipun.

    Pengetahuan ‘Esoteris-Suryomentaran’ ini, sama sekali bukan pengetahuan agama, mistisisme, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan bukan pula budi pekerti atau etika yang menganjurkan dan melarang tingkah laku tertentu. Pengetahuan yang dibedah Ki Ageng lebih merupakan hasil dari memahami dan mengalami sesuatu yang benar-benar telah diketahui. 

        Menurut Wong, di sinilah sosok Ki Ageng Suryomentaram memberikan satu pencerahan. Bahkan untuk mengalami dan demi mendapatkan pengetahuan yang utuh itu, ia menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan selama kurang lebih 40 tahun. Ki Ageng Suryomentaram yang dilahirkan pada 20 Mei 1892 adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ki Ageng meninggal pada 18 Maret 1962, di Yogyakarta. Seperti halnya tokoh sufi Ibrahim Ibnu Adham dan Sidharta Gautama, Ki Ageng Suryomentaram juga mengalami kegelisahan batin yang mendalam meskipun ia hidup di dalam keraton. Ia pun kabur dan menyamar sebagai rakyat jelata dan mengganti namanya, Natadangsa. Selama pengembaraan dan tirakatnya itulah berbagai temuan dan pencerahan ia dapatkan. 

      Bagi Ki Ageng Suryomentaram, obyek pengetahuan yang benar-benar dapat kita ketahui ada dua macam. Pertama, obyek pengetahuan yang hanya bisa diketahui secara menyeluruh atau utuh (Barang Asal). Sesuatu yang utuh (mutlak) tentu saja tak cukup dipahami hanya dengan indera, tak cukup dihitung secara matematis, tak cukup dibagi secara parsial, terlebih di kotak dalam imaji ruang-waktu. Bukankah kemutlakan itu “mengatasi” semua dualitas bahkan keragaman yang selama ini hadir dalam pikiran manusia? 
     
       Kedua, adalah obyek pengetahuan yang bisa diperinci atau dapat dihitung dan dibagi-bagi. Tentu saja obyek ini merupakan derivasi dari Barang Asal. Obyek pengetahuan yang kedua ini oleh Ki Ageng disebut sebagai Barang Jadi atau sesuatu yang diadakan (dumadi atau maujud). Sifat dasar dari Barang Jadi adalah kebalikan dari Barang Asal, yakni dapat dihitung, selalu terikat ruang-waktu, dan bisa diindera.

Karena Barang Jadi dapat mengada sebab adanya Barang Asal, maka Barang Asal boleh dibilang sebagai Yang Mewujudkan Barang Jadi. Pengetahuan yang berkaitan dengan Barang Asal inilah yang kemudian disebut sebagai pokok ilmu pengetahuan. Menurut Ki Ageng, cara mendapatkan ilmu Barang Asal, sangat berbeda bahkan berlawanan dengan cara memikirkan ilmu Barang Jadi. Mendapatkan ilmu Barang Asal tidak memerlukan pertanyaan berapa, bagaimana, kenapa, kapan, dan di mana. 

Membumikan Ajaran Mengenal Diri

Ki Ageng Suryomentaram adalah peletak dasar ilmu kejawen ”Kawruh Begja,” yang berhasil menyederhanakan realitas kehidupan dengan kondisi yang dihadapi sosok manusia sehari-hari. Dia adalah B.R.M. Kudiarmadji, sebagai putra ke-55 dari 79 putra-putri Sultan Hamengku Buwono VII. Konsepnya adalah ”saiki, ngene, neng kene” (sekarang, seperti ini, di sini). Menurut Ki Ageng Suryomentaram, tak perlulah otak manusia dijejali dengan pemikiran atau kawruh yang berada di luar pengetahuan atau pengalaman manusia sehari-hari. Konsep ini lebih berifat personal, refleksi ke dalam diri setiap manusia, papar Hartono Rakiman, Pengasuh Rumah Baca.

     Jalan pikiran Ki Ageng Suryomentaram mirip dengan Krisnamurti (self knowledge: pengetahuan tentang diri sendiri), Zarathustra (Tat Tvam Asi: itulah engkau), atau Sokrates (Gnothi Seauton: kenalilah dirimu). Dalam khasanah Islam juga ada, seperti disampaikan oleh Ali bin Abu Thalib (Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu: orang yang memahami dirinya otomatis makrifat kepada Tuhannya).

     Menjelaskan sesuatu di luar akal manusia, menurut Ki Ageng adalah cara berfikir manusia yang sok tahu, padahal tidak tahu. Seperti yang telah ada selama ini, dengan lahirnya ilmu-ilmu filsafat yang mencoba mengupas fenomena di luar akal, metafisika, asal dan akhir dunia. Padahal mengakui atau menyadari bahwa tidak tahu itu sebenarnya adalah inti dari ilmu “Kawruh Bagja” itu, tulis Hartono.

Tahu itu ada batasnya. Di luar itu adalah tidak tahu. Maka yang paling penting adalah menyadari keberadaan diri sendiri, menyelami apa yang terjadi dalam diri. Ada proses refleksi diri. Maka yang perlu dipahami adalah tiga hal tadi (‘saiki, ngene, neng kene’). Sama halnya dengan ungkapan yang mengatakan “yesterday is a memory, tomorrow is a mystery, today is a gift.” Bagi Ki Ageng Suryomentaram, today atau hari ini adalah sesuatu yang harus dilalui dan dinikmati sebagai sebuah karunia Illahi. Ilmu bahagia itu akan ketemu kalau meletakkan sesuatu apa adanya. Terlalu tinggi menaruh keinginan atau harapan-harapan akan membuat hati tidak bahagia dan kosong.

Manakah yang Namanya Manusia?

        Seperti juga Plato yang memerintahkan muridnya berteriak pada siang hari bolong yang terik, di tengah pasar dengan membawa obor: “Tuan-tuan sekalian tunjukkan kepadaku di mana manusia? Tuan-tuan sekalian tunjukkan kepadaku di mana manusia? …..”. Menyaksikan kepalsuan hidup dari ‘dunia sebagai kesenangan yang menipu’, Pangeran Suryomentaram mengalami gejolak diri saat ia duduk sebagai pejabat publik. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang kurang dalam hatinya. Ia merasa setiap saat hanya bertemu dengan yang disembah, yang diperintah, yang dimarahi, dan yang dimintai. 
    
    Dia tidak puas dengan semua itu karena merasa tidak pernah bertemu "orang" (manusia sejati). Di lingkungan keraton, dia hanya menemukan sembah, perintah, marah, minta, dan tidak pernah bertemu dengan "orang". Inilah titik tolak pengembaraan spiritual Sang Matahari Jawa yang kemudian berujung pada penemuan diri yang hilang setelah kurang lebih 40 tahun, Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan, tulis Syeikh Muhammad Alcaff, Pengasuh Meditasi Suluk Sunan. 

Pembahasan tentang jiwa, misalnya, yang sedemikian rumit dalam literatur tasawuf maupun mistisme jawa, atau bahkan dalam psikologi umum, oleh Ki Ageng disederhanakan hanya sebatas rasa.

     ‘Pangawikan Pribadi’ atau mempelajari tentang rasa dalam diri sendiri, menurut Ki Ageng, bisa disamakan dengan mempelajari manusia dan kemanusiaan. Karena kita semua adalah bagian dari makhluk bernama manusia, maka ketika kita mempelajari rasa diri sendiri dan berhasil memahaminya dengan tepat, otomatis kita akan memahami manusia pada umumnya. Maka, Pangawikan Pribadi itu, mesti dimulai dari sekarang, di sini, dan dengan penuh keberanian menghadapi segala yang ada di hadapan kita secara apa adanya (saiki, ing kene, lan ngene).

      Malam setiap diri manusia terdapat pencatat atau perekam yang merekam pelbagai keadaan dan peristiwa. Rekaman-rekaman itu awalnya tersusun secara acak tapi kemudian terorganisasi sesuai corak dan jenisnya. Pelbagai rekaman yang masih acak itulah yang kemudian melahirkan rasa kramadangsa, yaitu rasa keakuan atau ego, yang kemudian tumbuh sebagai pemikir yang mendominasi ruang rasa kita. Sepanjang waktu, aktifitas kramadangsa adalah memperhatikan, memikirkan, menyeleksi, mengorganisasi, dan kemudian dengan senang hati menjadikan rekaman favoritnya sebagai tuan atau majikan yang dihambanya dengan penuh kerelaan, papar Syeikh Alcaff.

     Bila beragam rasa yang muncul dari dalam diri kita bisa kita teliti dengan tuntas, penghalang yang berupa anggapan benar itu pun akan runtuh. Setelah hijab itu runtuh, kita pun leluasa menyaksikan kekeliruan rekaman-rekaman kita tentang segala sesuatu. Dengan demikian, keakuan si Kramadangsa yang sebelumnya selalu dominan pun tak lagi bertaji. Bersamaan dengan tak lagi berdayanya rasa kramadangsa, lahirlah rasa manusia tanpa ciri.

      Manusia tanpa ciri, atau manusia yang tak lagi memerlukan ciri-ciri (atribut), adalah manusia yang penglihatan mata hatinya tak lagi terpengaruh atau terhalangi oleh pelbagai rekaman dan catatan-catatan yang memenuhi ruang rasanya. Saat itu semua rekaman dan catatannya sudah tidak lagi memerlukan perhatian pikirannya. Sebagai hasil dari pangawikan pribadi ini, seharusnya jiwa kita menjadi sehat. Beliau sengaja membuat bagan yang provokatif bahwa manusia tanpa ciri akan memiliki jiwa sehat 100%. Ki Ageng lebih mendahulukan "pengalaman" daripada "keyakinan". Ia senantiasa berupaya mengalami terlebih dahulu, baru kemudian percaya dan yakin. 

       Ki Ageng babarkan, “Manusia dapat mempelajari atau mengetahui segala sesuatu melalui tiga macam perangkat dalam diri. Pertama, melalui panca indera yakni, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Kedua, melalui rasa hati, rasa yang merasa aku, merasa ada, senang, dan susah. Ketiga, melalui pengertian atau pemahaman yang berguna untuk menentukan suatu hal yang berasal dari pancaindera dan perasaan. Dengan menjadikan diri sebagai “pengawilan pribadi”objek, kita dapat mempelajari manusia secara keseluruhan.” 

       Menurut Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta, ajaran tasawuf Ki Ageng Suryomentaram ini, dapat menjadi resep mujarab bagi kita dalam kehidupan yang universal dan mendorong diri kita untuk menghadapi apa yang saat ini terjadi dengan mengedepankan keluhuran kemanusiaan. Ajaran Ki Ageng membantu kita memahami ajaran kearifan lokal yang sudah pernah membumi di tanah air, selain itu menjadi alat bontrol bagi kita untuk menyingkirkan sikap egoisme, keserakahan, dan keasyikan pada dunia

       Muhadji Fikriono memberikan tips kepada kita untuk menempa diri (yang di ambil dari ajaran Ki Ageng). Pertama, mengamati dan meneliti rasa bathin kita yang muncul serta bertanya dan menjawabnya dengan jujur. Kedua, membangkitkan kesadaran sejati”aku sejati” supaya senatiasa menjadi subjek dalam menghayati kehidupan dengan penuh kesabaran dan memiliki keberanian menghadapi kenyataan hidup. Ketiga, mengambil keputusan atau menentukan sikap atau tindakan berdasarkan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dengan meng kritik nilai-nilai yang kita yakini. 

      Muhadji babarkan, dengan perantara pancaindera, kita mencatat segala rupa penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya, yang jumlahnya tak terhingga. Dan rekaman-rekaman itu—seberapa pun banyaknya—akan tetap tertampung ke dalam ruang rasa kita. Maka, ruang rasa penampung seluruh rekaman kita itu, sesungguhnya memang lebih luas dibandingkan dengan alam semesta seisinya. Sayangnya, rekaman tentang apa-apa yang pernah kita rasakan ketika masih berada di rahim ibu dahulu, juga beberapa saat setelah terlahir menjadi bayi, rekaman-rekaman itu tak ada yang dapat kita putar kembali karena files-nya tidak kita temukan dalam folder lemari ingatan kita sekarang ini.

        Karena itu, berkaitan erat dengan aktivitas kita dalam hal catat mencatat atau rekam merekam itu, kita tidak bisa menyandarkannya pada keberadaan ingatan semata. Artinya, ketika kita bermaksud melakukan verifikasi untuk menentukan ada dan tiada, kita tidak mungkin hanya bergantung kepada ingatan belaka. Terutama yang menyangkut kedalaman rasa dan luasnya pemahaman kita. Sebab segala sesuatu yang telah kita rasakan dan lihat, meskipun semuanya telah terekam dan tercatat, ternyata tidak semuanya dapat kita ingat. Jika kita mencampuradukkan lupa dengan tidak merasakan apa-apa dianggap sebagai ketiadaan atau tidak pernah ada, berarti kita percaya bahwa kita semua ini tak pernah mengalami menjadi bayi, atau serta merta terlahir sebagai manusia dewasa. Dan hal itu adalah mustahil.

       Selagi dalam hidup kita hanya berperan sebagai pencatat atau perekam maka kita disebut sebagai Manusia Ukuran ke-I. Artinya masing-masing dari kita secara naluriah adalah pencatat atau perekam atas pengalaman-pengalaman kita sendiri. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, catatan dan rekaman itu senantiasa terus bertambah hingga seluruh waktu kita hanya tersita untuk memikirkan dan mengelola catatan dan rekaman itu. Beragam rekaman yang kita senangi akan tumbuh subur dan terus berkembang memenuhi ruang rasa kita, sementara rekaman yang tidak pernah mendapat perhatikan akan layu bahkan mati. Aktivitas rasa yang hanya berkutat untuk memikirkan aneka ragam rekaman ini oleh Ki Ageng Suryomentaram disebut Manusia Ukuran ke-II.

     Selanjutnya, seiring bergulirnya perjalanan hidup kita, ditambah rasa keakuan (subjektivitas) yang menggelayuti kita, menjadikan diri kita ini sebagai buruh dari ragam catatan atau rekaman itu. Artinya, rekaman-rekaman atau catatan-catatan yang telah kita susun dan kita senangi itu, lambat laun menjadi majikan atau tuan bagi kita sendiri. Dengan kata lain, manusia yang selalu memuja dan mengelu-elukan segala jenis rekaman tertentu adalah budak atas rekaman yang disusunnya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Manusia Ukuran ke-III. Dalam bahasa J. Krishnamurti, kita terkondisi dan hanya menjadi budak dari identifikasi pikiran kita.

      Menurut Ki Ageng, hal-hal yang kita catat sepanjang perjalanan hidup ini, bisa dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu: 1.Barang-barang dan gerakan yang timbul dari panca indera; 2. Pengharapan, rencana, dan imajinasi pikiran yang terdorong oleh keinginan; 3.Ilmu dan pengetahuan yang dilahirkan oleh rasa aku subjektif.

       Dalam keadaan terjaga, si subjektif dalam diri kita akan terus-menerus mencatat apa saja yang berhubungan dengan ketiga hal di atas. Tetapi dalam keadaan tertidur, si subjektif hanya akan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan keinginan dan rasa aku atau subjektivitasnya. Artinya, dalam keadaan tidur si subjektif tidak mencatat atau merekam apa-apa yang tecerap atau dirasakan oleh panca indera. 

     Demikian pula saat kita mati. Seluruh aktivitas mencatat dan merekam terhenti sepenuhnya, dan si subjektif juga telah rusak atau lenyap keberadaannya. Jadi, pada saat kita mati, si aku subjektif dalam diri kita sudah tidak ada lagi, dan catatan-catatan atau berbagai rekaman pun akan rusak dan hilang. Namun segala objek yang pernah direkam atau dicatat itu tidak ikut rusak atau pun hilang. Kalaupun apa-apa yang pernah dicatat atau direkam itu rusak dan hilang, bukan akibat dari matinya si aku subjektif. Karena yang mencatat atau merekam (aku subjektif) bukanlah yang dicatat atau direkam (objek). Begitu juga sebaliknya.

      Misalnya, pada saat kita masih hidup pernah mencatat atau menyimpan data tentang matahari, maka ketika kita mati, tidak membuat matahari itu lenyap meskipun catatan kita tentang matahari itu musnah. Karena, begitu kita mati, secara otomatis aktivitas si aku subjektif dalam diri kita juga ikut terhenti dan seluruh catatan atau rekaman sepanjang perjalanan hidup menjadi rusak dan lenyap.”

      “Pada saat kita mati nanti, catatan kita tentang gambaran surga neraka, dan berbagai hal yang kita imani berdasarkan informasi dari siapa dan apa saja termasuk kitab suci akan rusak dan lenyap, begitu pun segala sesuatu yang kita kait-kaitkan dengannya. Namun segala sesuatu yang telah ada akan tetap meskipun kita tak mengimani atau bahkan mendustakannya selama hidup.” Dan belakangan saya baru memahami bahwa apa yang dimaksudkan Babe tersebut adalah sebuah syarah dari ucapan Ali Ibn Abi Thalib, “Law kusyifa al-ghitha’ ma izdadtu yaqiyna!” (Kalau saja di dunia ini misteri yang menutupi akhirat dibukakan, tetap saja keyakinanku terhadapnya sekarang ini takkan bertambah sedikit pun!).

     “Pada kenyataannya dalam kematian, si aku subjektif menjadi rusak bersama pengharapan, rencana, dan imajinasi pikirannya. Keadaan tersebut dapat kita saksikan sendiri, kita rasakan sendiri, dan kita pahami sendiri, bahkan sebelum hidup dan kehidupan ini berakhir kita jalani (mati sajeroning urip). Begitu pula dengan semua barang jadi (maujud), satu persatu apabila telah rusak, bentuknya akan berubah menjadi bentuk yang lain. Yang kekal adalah zat asalnya, serta gerak yang mendorong (“energi”) adanya kehidupan bagi semua barang jadi yang hidup yang karakteristiknya akan menyesuaikan dengan hasrat lain (“Energi”) di luar dirinya (Wujud). 

     Kenyataan kematian yang semacam itu memang hanya bisa dipahami dengan menggunakan pikiran yang objektif. Pikiran objektif adalah pikiran yang selalu memikirkan segala sesuatu secara apa adanya. Netral, tidak terpengaruh oleh rasa suka dan rasa tidak suka, penilaian baik dan buruk, untung dan rugi, termasuk juga rasa yang telah dipengaruhi oleh berbagai catatan dan rekaman seperti catatan keagamaan sekalipun. Dalam pandangan Ki Ageng Suryomentaram manusia yang demikian adalah Manusia Ukuran ke-IV.” 

Ki Ageng, Mulla Shadra dan Ibnu Sina

   Ki Ageng Suryomentaram sangat jenius. Kegeniusan Ki Ageng tercermin dari pengejewantahannya tentang jiwa. Jiwa yang dalam literatur tasawuf dan psikologi umum terlihat begitu rumit serta njlimet, oleh Ki Ageng disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua makhluk untuk beraktivitas. 

     Kecerdasan beliau akan lebih nampak jika disandingkan dengan Mulla Shadra, yang mendefinisikan jiwa sebagai substansi yang zatnya non materi tetapi sangat terikat dengan materi dalam aktivitasnya. Begitu juga dengan pengklarifikasian jiwa. Jika Mulla Shadra dan Ibnu Sina menyebut gradasi jiwa dengan jiwa tumbuhan, jiwa hewan baru jiwa manusia, Ki Ageng menyederhanakannya dengan rasa dangkal, rasa dalam serta rasa sangat dalam, tulis Eko Sulistiyo ZA, Presiden pada Association of Saber Unfold Fak. Ushuluddin UIN Suka.

       Ketiga level rasa diatas menurut Ki Ageng dapat dipelajari lewat tiga perangkat inheren dalam diri setiap manusia. Pertama adalah panca indera. Kedua melalui rasa hati, yakni rasa yang dapat merasa aku, merasa senang, merasa ada dan sebagainya. Sedang yang ketiga dapat dipelajari lewat pengertian atau pemahaman. Perangkat terakhir ini berfungsi untuk menentukan suatu hal yang berasal dari panca indera dan perasaan.

       Oleh Ki Ageng, mempelajari rasa dalam diri sendiri atau pangawikan pribadi sama halnya dengan mempelajari manusia dengan kemanusiaan. Karena bagaimanapun yang mempelajari adalah bagian dari makhluk yang bernama manusia. Maka jika berhasil mempelajari diri sendiri dengan tepat, secara otomatis juga berhasil mempelajari manusia pada umumnya. Dengan demikian, alangkah eloknya jika pembelajaran pangawikan pribadi dipelajari dari sekarang, disini serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.

       Keberadaan kondisi yang bercorak hitam-putih terkadang memang masih membelenggu jiwa manusia. Hal itu disebabkan manusia kurang menyadari keberadaan alam, yang oleh Ki Ageng dibedakan menjadi empat gradasi. Pertama dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini sebagai analogi untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai rangsangan dari luar dengan panca inderanya. Oleh Mulla Shadra, tingkatan pertama ini disebut dengan jiwa tumbuhan.

     Seseorang dapat dikatakan memasuki gradasi kedua jika telah mampu mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari berbagai jenis rekaman di dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada tingkatan kedua ini mulai sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsangan-rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak tersebut tidak berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam menghadapi rangsangan sering melenceng. Tingkatan kedua ini disebut sebagai benda dua dimensi atau jiwa bianatang.

      Ketiga, manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia sudah mampu memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami hukum-hukum alam. Namun tidak dengan hatinya. Dengan demikian, manusia yang bertempat pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang oleh Ki Ageng diistilahkan dengan kramadangsa.

    Kramadangsa merupakan abdi dari berbagai tipologi rekaman yang minta diistimewakan. Karena masing-masing rekaman yang tersimpan sejak lahir mulai saling menyikut agar dapat posisi tertinggi di antara rekaman yang lain. Artinya, hidup pada ukuran ketiga adalah ketika hidup hanya diabdikan pada semua rekaman dan berbagai kebijakan pikiran yang mengorganisasikannya dalam ruang rasa.

     Keempat, manusia empat dimensi. Yakni manusia yang tidak hanya memiliki ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu. Namun manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi ruang dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada hukum alam, manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari rasa. Rasa inilah yang oleh Ki Ageng disebut sebagai rasa yang dapat berkembang, yakni rasa yang tidak mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi tumbuhan.

    Dijelaskan, krenteg (gerak hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman ruang rasa memiliki dua potensi. Pertama, manusia akan kembali pada level ketiga, yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam keadaan marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka kembalilah manusia pada posisi ketiga.

     Namun sebaliknya, jika dalam keadaan marah yang terpikir adalah apa itu marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya, maka manusia menuju ke tingkatan tertinggi. Gradasi tertinggi ini adalah manusia yang telah terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran terakhir ini oleh Ki Ageng disebut sebagai instrumen dalam diri, yang berfungsi khusus untuk memotret diri orang lain.

     Keberhasilan seseorang dalam meraih puncak rasa merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan dengan realitas (masyarakat), manusia tanpa ciri akan selalu merasa damai sebab tidak harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu membumi.


Achmad Badawi
  

Teror, Tipikor Dan Politik Kotor


     Alkisah, di negeri antah berantah tindak kekerasan semakin mewabah. Toleransi terancam punah, radikalisme tak tercegah, tata krama bangsa ramah tamah terkubur di makam sejarah. Sopan-santun budi pekerti, lemah-lembut penghuni bumi pertiwi, di hari-hari terakhir ini semakin menjauh pergi.

     Salah siapa, dosa siapa, lingkaran pertanyaan dan jawaban dalam satu rangkaian. Telur dan ayam, tanya dan jawab, akibat dan sebab, keduanya bisa berbolak-balik sesuka kata. Salah dan dosa bangsa bisa menjadi sebab, salah dan dosa bisa menjadi akibat.

     Teror, tipikor dan politik kotor, salah dan dosa sebagai hulu, sekaligus pula bisa sebagai muara. Setali tiga uang, satu paket tiga alasan, saling berkait, saling bersilang, saling menghubungkan. Teror menggedor. Polisi menjadi sasaran. Solo menjadi awalan. Mungkinkah ini kebetulan? Jakarta lautan api. Kebakaran menjadi-jadi. 1.000 nyawa melayang di jalan saat lebaran. Mungkinkah ini kebetulan?

      Hutan terbakar. Status Gunung Tangkuban Parahu dan Anak Krakatau meningkat waspada. Kekeringan melanda. Mungkinkah ini kebetulan? Koruptor makin menggila. Penegak hukum kehilangan tongkatnya. Duel pilkada DKI putaran dua mendekati masanya. Partai-partai politik berebut mendaftar. Pemilu 2014 akan menjadi pesta.

       Teroris marah. Rakyat marah. Alam Indonesia marah. Hutan, gunung, sungai dan waduk marah. Air, angin, api dan kayu-kayu kehilangan harmonisasi, enggan bersahabat dengan anak-anak negeri, di mana arti gemah ripah loh jinawi? Indonesia kotor, KPK terlalu berat bersih-bersih negara. Korupsi semakin menggurita. Menjerat hampir 250 juta manusia Indonesia.

    Keadilan dipermainkan penegak keadilan. Di koran-koran, televisi, radio dan jejaring sosial, kejahatan menjadi komoditi dagangan. Orang kecil terkucil, wong cilik tercekik, marjinal terjungkal, proletar terlempar. Para pejuang pembebasan satu persatu menghilang. Sabagian mati dimakan usia, sebagian mati ditikam peristiwa, sebagian mati terbunuh pemikirannya.

    Brahmana-pendeta-ulama semakin langka. Suara keadilan tergadaikan, suara Tuhan diperjual-belikan, suara ayat suci dikorupsi, suara rakyat dimanipulasi. Orang tak berdaya tetap tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya marah dalam sabar tanpa batas. Teror menggedor. Negara tergedor. Seperti biasa kita lebih suka aksi-reaksi ketimbang introspeksi-retrospeksi. Kita lebih suka menganalisis "bagaimana" ketimbang "mengapa."

      Teror, tipikor dan politik kotor, setali tiga uang, tiga sinergi dalam ruang. Tindak pidana korupsi masih terus mentradisi. Politisasi menjadi-jadi. Polisi dan politisi bersindikasi, hukum tinggal dongeng basa-basi. Koruptor membuat politik kotor. Korupsi dan polisi seperti suami isteri. Korupsi dan politisi ‘nikah siri’ silih berganti. Tak ada agama di istana, tak ada Tuhan di Senayan, tak ada hukum di jalanan. Negara hilang bentuk, remuk.

     Di mana etika nurani dan budi pekerti? Bangsa ramah telah menjadi bangsa pemarah. Rakyat dan pemimpin gemar bertarung bagai serigala rimba, homo homini lupus, dengan cara dan karakter masing-masing. Tanpa rasa bersalah, tanpa rasa berdosa. Maka alam yang semula ramah pun kini marah. Api membakar hutan dan ibukota. Tanah kering, lebih sering basah oleh keringat, darah dan air mata. Tapi manusia telah kehilangan cita rasa.

     Teror, koruptor dan politik kotor, sebab atau akibat, awal atau akhir, hulu atau muara, sebuah lingkaran setan blunder keblinger. Bangsa besar kehilangan kebesarannya, terpuruk tanpa daya, dehidrasi nasional, kepandiran massal, kegagalan sejarah fundamental. Di sini, saat ini, aku tertawa terpingkal-pingkal hingga perutku mual, tanpa pernah tahu mana ujung mana pangkal.

Salam...

El Jeffry