Tuesday, August 21, 2012

Nasdem Dukung Jokowi: Pemanasan Demokrasi?



13454888981003971161
Patrice Rio Capella: Ketua Umum Partai Nasdem
(sumber photo: http://jakarta.tribunnews.com/2012/08/16/nasdem-kepincut-dukung-jokowi)

     Rumor politik tentang dukungan Nasdem terhadap Pasangan Jokowi-Ahok di pilkada putaran dua kembali berhembus. Beberapa waktu lalu, sempat berkembang kabar  tentang bergabungnya Nasdem dengan koalisi rakyat yang digalang PDI-P dan Gerindra untuk mengususng Jokowi-Ahok. Seperti diberitakan, sehari menjelang pilkada DKI putaran pertama Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella sempat melakukan komunikasi politik dengan Jokowi.
    Kini giliran Ketua Umum Ormas Nasdem Surya Paloh mengungkapkan pernyataan tersirat mengenai dukungan itu. Surya Paloh menegaskan bahwa Nasdem akan mendukung siapa saja yang dinilai mampu membawa perubahan bagi Jakarta ke depan. (Kompas.com/20/08/2012).

    Memang dia tidak menyebut salah satu nama calon yang bakal didukung. Tapi bila melihat rumor dan kepentingan pasar sebagai partai baru, bukan tidak mustahil Partai Nasdem akan lebih memilih merapat ke kubu Jokowi-Ahok daripada Foke-Nara.

     Perubahan, sebagaimana diungkapkan Surya Paloh dan menjadi slogan Nasdem akan ‘diuji’ di pilkada DKI putaran dua September nanti, baik secara resmi blak-blakan maupun sekadar dukungan moral. “Perubahan”ala Nasdem akan ditentukan ke kubu mana berlabuh.

     Rakyat membaca dengan bahasa sederhana. Untuk pilkada DKI, bahasa sederhana rakyat dalam membaca perubahan adalah mana yang berpihak pada Jokowi-Ahok. Jika Nasdem mendukung Jokowi-Ahok, maka, kalah atau memang, Nasdem bisa mendapat keuntungan psikologis dan simpati rakyat.

        Namun jika Nasdem lebih memilih untuk mendukung Foke-Nara, maka rakyat akan membaca Nasdem sebagai partai pro status quo. Meskipun sama-sama ‘mengklaim’ sebagai perubahan, namun “faktor bahasa” dan “kaca mata baca” ini tak bisa dianggap remeh, khususnya bagi partai politik yang jelas punya kepentingan untuk ‘mendulang’ suara rakyat sebanyak mungkin.

      Hidayat Nur Wahid sebagai wakil dari PKS yang mendukung Foke-Nara, dalam suatu kesempatan pernah menjabarkan arti perubahan ini. Bahwa perubahan buka berarti ganti personel, tapi bisa juga dengan ganti program dan kebijakan. Bahasa perubahan versi PKS ini menjadi ciri khusus para elit partai yang bergabung dalam koalisi pendukung incumbent

         Makna perubahan memang relatif, kebenarannya tergantung dari sisi mana kita melihat. “Bahasa” dan “kaca mata” berbeda, dan dua-duanya sama-sama benar baik dari sisi elit parpol maupun dari sisi rakyat. Politik adalah keberpihakan. Jika Nasdem lebih membutuhkan rakyat, maka bisa mendukung Jokowi. Namun jika Nasdem lebih membutuhkan elit, maka harus mendukung Foke.

       Pilihan politik adalah sah-sah saja. Dinamika demokrasi Pancasila. Namun, mau tak mau Pilkada DKI putaran dua menjadi ujian nyata bagi Nasdem untuk mulai menterjemahkan citra dari jati dirinya. Becik ketitik, olo ketoro. Baik buruk semua akan terlihat nyata. Sebagai partai yang baru melangkah, pilihan akan sangat-sangat menentukan nasib Nasdem di masa depan, khususnya di pemilu 2014.

       Seperti slogan sebuah iklan, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya, terserah Anda...” Sikap dan keberpihakan Nasdem dalam membaca “perubahan” pada pilkada DKI, akan menggoda siapa saja. Bila yang digoda telah jatuh cinta, maka mungkin dukungan, simpati dan kepercayaan akan mengalir deras dan memudahkan langkah selanjutnya. Tapi bila godaan pertama gagal dilancarkan, maka hampir dipastikan bakal tertatih-tatih di langkah selanjutnya. Siapa yang tergoda, waktu yang akan menjawabnya.

       Semuanya terserah shahibul-hajat, partai Nasdem. Ia bisa menjadi partai yang di mata rakyat benar-benar beritikad kuat mengusung perubahan, atau hanya numpang lewat meminjam slogan perubahan. “Duel putaran dua” Jokowi-Ahok vs Foke-Nara, bisa membawa Nasdem sebagai partai nasionalis-demokratis sejati dan layak mendapat simpati. Sebaliknya, bisa juga menjadikan Nasdem sebagai partai nasionalis-demokratis simbolik yang meriang paNas-Demam di panggung politik, atau partai perubahan ‘musiman,’ cepat panas sekaligus cepat dingin, alias panas-paNas aDem.

Salam...
El Jeffry