Monday, August 20, 2012

RI1-7 2014: Megawati, Atau Prabowo?


     Meski pemilu 2014 masih terbilang cukup jauh, bursa capres terus beredar di media dan menarik untuk mengikuti perkembangannya. Belakangan, dua nama Mega-Pro kembali mencuat di beberapa lembaga survei. Ingat Megawati dan Prabowo, ingat pilpres 2009 pasangan Mega-Pro. Sayang, kedua pasangan yang mengusung misi “pro kerakyatan” ini kandas di tengah jalan. Pasangan SBY-Boediono terlalu tangguh sehingga akhirnya ‘menang mutlak’ dan menduduki tahta RI1 dan RI2 hingga hari ini.

     Dari survei terbaru yang dirilis CSIS menempatkan dua tokoh itu dalam sisi berbeda. Megawati menjadi tokoh terpopuler, dengan popularitas mencapai 94,4% mengalahkan Jusuf Kalla 90,3%, Wiranto 75,7% dan Prabowo 74,3%, Aburizal Bakrie 68,4%, Ani Yudhoyono 66,7%, Hatta Rajasa 52,9%, Anas Urbaningrum 53%, Hidayat Nur Wahid 43,7%, Mahfud MD 29,3% dan Dahlan Iskan 22,1 persen. Uniknya, untuk calon presiden, justru Prabowo yang paling difavoritkan dengan dukungan 14,5% dari total 1.480 responden mengalahkan Megawati 14,4%, Jusuf Kalla 11,1% dan Aburizal Bakrie 8,9%. (news.viva/19/08/2012)

     Bila dilihat dari perkembangan akhir-akhir ini, nampaknya Prabowo dan Megawati bakalan menjadi dua calon kuat dalam pertarungan perebutan tahta presiden RI ke-7 periode 2014-2019. Tidak mustahil kedua tokoh itu mengulang sejarah pilpres 2009 dengan berduet kembali. Hanya saja siapa yang menjadi capres dan cawapres tergantung dari perkembangan politik dalam sekitar 20 bulan ke depan.

     Bisa tampil sebagai Mega-Pro, bisa juga dengan format Pro-Mega, bisa pula Mega dan Pro mencari pasangan masing-masing. Tapi bila melihat dari ‘kemesraan dan kekompakan’ dua partai yang ditampilkan dalam pilkada DKI dengan berkoalisi-bergotong-royong membopong Jokowi-Ahok, mungkin akan lebih menguntungkan jika Megawati dan Prabowo tampil sebagai pasangan capres-cawapres.

     Duet Mega-Pro atau Pro-Mega rasanya masih layak untuk dipertimbangkan dibandingkan jika terpisah. Perekat kuat kedua tokoh ini adalah kedekatan platform partai bernuansa kerakyatan, wong cilik, kaum sandal jepit-marhaen-proletar, petani-buruh-nelayan. Terlepas dari hasil pilkada DKI September mendatang, mungkin nuansa pertarungan pilpres 2014 tak jauh dari “duel pilkada putaran dua” sebagai pertarungan “koalisi partai vs koalisi rakyat” atau “pro status quo vs pro perubahan.”

      Jika ini yang terjadi, tanpa mengecilkan partai-partai lain yang juga siap bertarung mati-matian, peluang PDI-P Dan Gerindra sangatlah besar. Sebagaimana kejenuhan DKI pada kepemimpinan lawas yang gitu-gitu aja, koalisi partai yang sekarang berkuasa sudah mulai menunjukkan ‘tanda-tanda zaman’ kehilangan kepercayaan.

    Parpol-parpol Islam yang masih menempel dalam ‘gendongan’ Demokrat sendiri dalam beberapa survei semakin memperlihatkan ‘terancam masuk kuburan. Sedang Demokrat dengan sederet kader elitnya yang terseret kasus korupsi juga menjadi ancaman tersendiri untuk bisa berharap banyak kepercayaan rakyat, ditambah lagi dua periode kepemimpinan SBY yang ‘gagal fungsi’ dalam memberesi berbagai problem besar bangsa dalam penegakan hukum dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

    PDI-P dan Gerindra seharusnya bisa menjadi ‘saudara kandung’ yang membela “amanat penderitaan rakyat” yang selama ini gagal ditunaikan, terutama sejak bergulirnya reformasi 1998. Fenomena Jokowi yang berhasil ‘memikat rakyat’ menjadi keuntungan tersendiri bagi PDI-P untuk menemukan kembali jati diri karakteristik partai pejuang demokrasi bernafas kerakyatan dengan ‘ruh’ warisan PNI Bung Karno. Pun demikian pula dengan Gerindra yang ikut holopis kuntul baris memperjuangkan Jokowi-Ahok dalam pilkada DKI.

    Meskipun usia kedua tokoh ini sudah tidak muda lagi, namun tak ada pilihan karena krisis kepemimpinan tak terelakkan sehingga sulit menemukan calon alternatif dari keduanya. Di usia Megawati yang pada 2014 melangkah 67 dan Prabowo 64 tahun, di sisi lain bisa menjadi nilai plus untuk kematangan dan kearifan dibandingkan pemimpin muda.

    Jika melihat dari rekam jejak keduanya, format terbaik pasangan ini adalah Pro-Mega. Prabowo sebagai capres dan Mega sebagai wakilnya. Hambatan mental Mega untuk tampil sebagai capres adalah sejarah ‘kegagalan pertama’ saat PDI-P memenangi pemilu 1999 dan kesempatan yang kurang dioptimalkan saat Megawati naik ke kursi presiden menggantikan GusDur 2001-2004. ‘Hukuman rakyat’ dengan turunnya suara di pemilu selanjutnya harus ditebus dengan ‘kembali ke fitrah’ sebagai partai sandal jepit-wong cilik yang sempat terlupakan.

     Maka, meskipun ini tidak gampang, karena tergantung dari perolehan suara pada Pemilu legislatif, Prabowo yang relatif belum ternoda dalam sejarah kepemimpinan rasanya lebih layak diberi kesempatan untuk tampil di depan sebagai capres. Dengan ketegasan satrio-prawiro gemblengan keprajuritan, Prabowo bisa diharapkan bisa menampilkan kepemimpinan tegas dan berwibawa.

   Sedang Megawati melengkapi dengan ‘sentuhan lembut keibuan’ dan mengerahkan pengalaman kepemimpinan di masa lalu, untuk tidak mengulang kegagalan serupa. Mega juga bisa menghembuskan ‘ruh’ srikandi, perjuangan wanita dengan kepolos-jujuran membela kebenaran. Masalahnya, tinggal bagaimana Prabowo mengatasi ‘ganjalan’ rekam jejak masa lalu selama kariernya di militer, terutama kontroversi dalam beberapa kasus pelanggaran HAM.

    Memang sulit sekali mencari pemimpin ideal di negeri ini. Krisis kepemimpinan yang telah melanda negeri selama berpuluh-puluh tahun memaksa kita untuk tidak bisa berharap terlalu tinggi untuk mendapatkan pemimpin dari elit politik ‘generasi muda’ yang murni otentik, relatif bersih sekaligus bersukma kerakyatan. Pilihan kita hanya menciut kepada “Pilih yang terbaik di antara yang buruk.”

     Bila Pro-Mega bisa mendaki tahta RI1-2 di 2014, mungkin NKRI baru bisa berharap membuka lembaran baru dengan generasi baru berwajah baru. Satrio piningit generasi ke-7, jika mengacu pada ramalan Jayabaya adalah Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu adalah seorang ksatria (pemimpin-pejuang) berkarakter pendeta (religius), senantiasa bertindak atas dasar hukum Tuhan. Dia yang akan membawa nusantara menuju kejayaa, gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kertoraharjo, melimpah sumber daya alam dan subur-makmur, aman, tentram, dan sejahtera. 

      Siapapun dia tentu kita harapkan akan membuka babak baru sejarah bangsa ini, tepat di siklus kedua 70 tahun Indonesia merdeka 2015. Apakah Prabowo memenuhi kriteria tersebut, waktu jualah yang akan menentukannya, dan tentu saja rakyat. Sebab satrio piningit dalam konteks perpolitikan demokrasi republik lebih aktual dimaknai sebagai satrio pinilih, ksatria-pejuang-pemimpin terpilih. Terpilih oleh seleksi alam nusantara, terpilih oleh tarik ulur kepentingan partai politik, dan terpilih oleh rakyat lewat suara.
Salam..

El Jeffry