Friday, August 17, 2012

Baju Kejujuran Demokrat, Hebat!



13451389121980224165
BAJU KEJUJURAN DEMOKRAT BALI (sumber photo: http://bali-bisnis.com)

     Makin pintar saja partai politik di republik ini. Selalu ada cara bikin sensasi. Entah demi strategi meraih simpati, kreativitas tiada henti, atau terimbas energi resonansi pasar sosial Jokowi, DPP Partai Demokrat Rabu, 5/08 lalu meluncurkan secorak baju. Baju anti kejujuran. Demokrat, lagi-lagi memang hebat!

    Baju kejujuran, dengan motif kotak-kotak, sekilas mirip dengan kotak-kotaknya brand image Jokowi-Ahok dalam duel pilkada DKI Jakarta. Hanya saja baju ini berbeda warna, hitam putih bersilang, seakan menggambarkan korupsi sebagai pertarungan antara hitam kegelapan-kejahatan dengan putih cahaya-kebaikan.

    Hitam dan putih, ribuan garis saling bertemu, seperti desain fraktal Benoit Mendelbrot, sekilas acak namun teratur. Memang seperti itulah korupsi di negeri ini. Kelihatannya acak, namun seebenarnya teratur dengan pola tertentu, alias terorganisir. Namanya juga wabah endemik-sistemik, semua berperan dalam kadar masing-masing.

    Bertahap, bertingkat, berencana, bersambung antar lini dan antar generasi. Seperti kain baju yang tersusun dari ribuan benang, korupsi negeri pun terjalin dari ratusan juta jiwa manusia Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Semua benang jiwa terpintal dalam mesin tenun tanah nusantara, motif Indonesia, putih-hitam, keadilan-ketidakadilan, kebenaran-kesesatan, kebaikan-kejahatan.

    Kreasi demokrat memang 'hebat'. Baju kejujuran menjadi simbol yang tepat. Di Warung Tresni, Denpasar, Bali, I Made Mudarta mengikrarkan deklarasi. "Hari ini, bila ada tujuh miliar manusia di planet bumi ini, maka baju kejujuran dengan saku menghadap ke bawah baru pertama kali terjadi di dunia."

     Baju ini memang dirancang dengan kantong terbalik, menghadap ke bawah. "Saku ke bawah merupakan simbol bagi aparatur negara, anggota legislatif, dan sebagainya agar lebih melihat ke bawah, melayani ke bawah, mendengar ke bawah, dan tidak menyangkut di kantong dan seterusnya," papar Mudarta. (VIVAnews/15/08/2012)
1345139103640440948
KANTUNG TERBALIK: simbol anti korupsi. (sumber photo: http://www.beritabali.com)

    Kain yang digunakan bermotif poleng khas Bali. Pada bagian ujung saku kiri hanya diberi peluang untuk menaruh pena, sebagai simbol pelayanan kepada masyarakat. Warna merah putih melambangkan simbol negara yang menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa.

    "Kepada DPP Partai Demokrat kami serahkan baju kejujuran agar bisa mengawasi anggaran atau APBN agar tidak bocor, kepada Ketua Fraksi DPRD Bali untuk mengawasi APBD agar tidak bocor," ucapnya.

    Konon, baju kejujuran ini akan dikirim ke Jakarta dan akan diserahkan kepada beberapa tokoh masyarakat dan tokoh pemerintahan, termasuk kepada Ketua Dewan Pembina Demokrat, SBY dan Gubernur Bali.

     I Made Mudarta memang jeli. Demokrat memang hebat. Saat kejujuran di negeri ini semakin menghilang, di saat korupsi makin mengunci harapan dan nurani, simbol baju ditemukan. Demokrat cermat membaca gelagat, Demokrat juga jujur mengakui negeri yang khianat. SBY juga hebat, tak segan-segan mengungkapkan, bahwa korupsi telah menjalar hingga ke akar-akar, partai-partai politik menjadi dealer produsen koruptor-koruptor kakap.

     Kenapa korupsi masih menjadi-jadi, padahal panglima tertinggi sudah meniren memberi instruksi, entah murni atau sekadar basa-basi? Kenapa akar tak jua terbongkar, sedang KPK telah ‘berdarah-darah’ hingga muntah, mabuk hilang akal bersusah payah? Kenapa korupsi semakin menggelombang, sedang kita setiap hari telah berteriak dengan lantang bak prajurit perang, merutuk dan mengutuk, menyumpah-serapah, mencaci-maki hingga nyaris mati berdiri.

    Baju kejujuran itu mungkin memang belum kita kenakan. Bangsa telanjang tanpa sehelai benang. Mahalnya sebuah kejujuran, hingga tak terbeli oleh sembarang orang. Kejujuran menghilang. Dusta membudaya. Kebohongan menjadi kebiasaan. Tuhan telah meninggalkan Indonesia. Jika tidak, tentu tak ada manusia berdusta dan berbohong di negeri ini. Agama tinggal wacana. Retorika hiburan menutupi dosa-dosa.

     Agama kejujuran. Baju kejujuran. Agama, agem-ageman utama, pakaian terbaik manusia. Tanpa agama, manusia telanjang, jiwa telanjang, masyarakat, bangsa dan negara telanjang. Baju terkelupas, agama kandasbablas. Tinggal simbol-simbol wadag kasar material dalam sorban, peci putih, jubah dan biji tasbih, suara azan, nyanyian do’a di gereja, pura dan wihara, sesaji kepala kerbau di upacara sedekah laut.

      Baju kejujuran. Agama kedodoran. Perang anti dusta-bohong hanya menjadi slogan pepesan kosong. Moralitas kopong, mentalitas melompong, spiritualitas terkurung bagai kepompong. Wisma Atlet macet, Hambalang mengambang, BLBI tersembunyi, Century masih tetap misteri. Kisruh simulator hanya obralan celana kolor. Testimoni Antasari hanya dogeng politisi. Semua akan menghilang seiring hari, lenyap ditelan sunyi senyap. 

     Kejujuran membumbung ke langit tinggi, menguap. Demokrat memang hebat, negeri ini memenag hebat. Padahal, kampanye dan slogan kejujuran bukan bukan hal baru berkumandang. Empat tahun silam, Kejaksaan Agung di bawah komando Hendarman Supanji sudah meluncurkan program kantin kejujuran di 1.000 sekolah di seluruh Indonesia.

    Topi kejujuran dan lencana kejujuran telah dibagikan. Tapi dusta dan bohong disekolah sama sekali tiada perubahan. Korupsi dana BOS, tradisi mencontek, skandal bocoran ujian nasional, tawuran antar pelajar, kejujuran tak terjual di pasar generasi muda dan kalangan jaksa. 

     Rekening gendut 12 jaksa hasil analisis PPATK menghilang tak lagi terdengar suaranya. Apa daya Jaksa Agung Basrief Arief menhadapi ini semua? Hal sama dengan warung kejujuran di gedung KPK. Program kejujuran gagal, warung merugi total, sang ketua Antasari akhirnya terjungkal. Apa daya KPK?

       Baju kejujuran telah diluncurkan. Perang anti korupsi telah dicanangkan. Tapi hanya sebatas simbol dan slogan. Sama saja seperti baju tahanan KPK. Baju dipakai, tapi sang tahanan tetap saja senyum riang dan santai melambai. Tanpa rasa berdosa saat menghadapi persidangan. Tanpa rasa bersalah, apalagi menyesal, soalnya sangat yakin hukum ini bisa dipermainkan.

     Koruptor terjerat, koruptor minggat, koruptor-koruptor kembali bebas melenggang. Konon kabarnya, tak terbukti bersalah. Kejujuran tak ada dipersidangan. Maka sidang hanya pertarungan teks hukum, antara hitam dan putih, keadilan dan ketidakadilan, namun berakhir dengan warna hitam. Bukan seperti baju kejujuran, hitam-putih dalam proporsi seimbang, mana pula bisa harapkan putih akan mengalahkan hitam?

     Koruptor memang pintar, sekaligus benar. Tak ada penjahat yang merasa bersalah, apalagi mengakui kesalahan. Sama saja dengan Hitler di Jerman, Fir’aun di Mesir atau Mahapati Halayuda di Majapahit. Semua merasa benar, hingga pun nyawa di kerongkongan. Karena kejujuran itu barang yang mahal, tak cukup hanya sepotong baju, warung atau topi.

      Namun bagaimanapun, entah demi brand image, strategi politik maupun hanya bisnis pakaian, langkah Demokrat seharusnya membuat kita ingat. Bahwa kejujuran telah semakin hilang dari negeri ini, tergerus globalisasi, modernisasi, industrialisasi, dan  teknologi informasi. Hingga kejujuran tinggal ada dalam simbol dan slogan, sepotong baju kreativitas Demokrat, baju kejujuran. Demokrat hebat, Indonesia hebat, masih berjuang mencari kejujuran sebelum dunia kiamat.

Salam...
El Jeffry