Thursday, August 9, 2012

Sensasi Jokowi, Menang Tipis 54:46


     Bukan Jokowi namanya kalau tidak bisa menciptakan sensasi. Dan sensasi inilah yang bakal dia ciptakan lagi bersama Ahok pada putaran kedua pilkada DKI 20 September mendatang. Jokowi-Ahok akan memenangi ‘kwartuel’ (baca: duel 4 ksatria) atas Foke-Nara dengan angka tipis 54:46.

     Ini analisis memang hanya sembarang analisis, tapi inilah analisis cara praktis, ekonomis dan higienis. Tanpa perlu banyak pertimbangan kotak-katik angka matematis dan uji klinis. Bolehlah kalau dibilang rada mistis, yang penting optimis dan sedikit realistis. Pasalnya, yang sudah-sudah, banyak analisis para ahli secara metodologis, tetap saja keblinger dan terjungkir balik habis.

   Dasarnya sederhana saja. Pertarungan mendatang adalah pertarungan seru yang susah diprediksi. Kedua kubu punya karakter sama-sama kuat dan punya pasar masing-masing, sementara selera pasar juga masih ambyar, susah ditebak. Tinggal isu-isu terakhir yang akan  menentukan hasil akhir. Siapa yang konsisten, tulen dan otentik, dialah yang bakal menang. Siapa yang tidak konsisten, ambivalen dan imitatik, dialah yang bakal bikin blunder dan jadi pecundang.

   Modal suara 42% di putaran pertama Jokowi-Ahok yang masih terlihat adem ayem, diperkirakan ajeg, tak berkurang tak bertambah. Demikian pula Foke-Nara, modal 34% nya juga masih tetap. Meskipun ada ‘2 jurus maut’ isu SARA dan gerakan partai koalisi partai-partai, itu tak akan berpengaruh secara signifikan pada pilihan warga ibukota. PPP dan PAN memang telah merapat ke kubu incumbent, tapi itu tidak serta merta bisa menggiring ‘domba-domba ibukota’ untuk sami’na wa atho’na.

   Termasuk jikapun PKS, yang kini sedang sibuk menawarkan transaksi, diterima tawarannya atau tidak, tak akan banyak berpengaruh bagi suara Jokowi, tak juga bagi Foke. Demikian pula dengan apa yang telah dilakukan Golkar, tak akan banyak pengaruhnya. Sebagian besar warga DKI rasanya sudah mulai dewasa, mandiri dan rasional dalam menentukan pilihan, seruan partai tak terlalu mempengaruhi warga dalam menentukan pilihan.

    So, jika suara tambahan dari DPT baru diabaikan dan golput diasumsikan tak ada perubahan (tetap 37%), penentuan pemenang praktis tergantung dari sisa suara yang total sebesar 24%. Dari suara inilah nyaris terbelah dua. Separohnya, 12% lari ke Jokowi dengan pertimbangan melihat figur Jokowi sebagai tokoh yang diharapkan membawa pembaharuan. Apapun yang terjadi esok, yang penting berlepas dari kebosanan, hitung-hitung experiment alias tos-tosan nasib.

    Sedang yang separoh lagi, 12% juga sebagian besarnya secara rasional melihat figur Foke sebagai tokoh intelek experience dan paling tahu seluk beluk ibukota, sebagian kecilnya masih memilih berdasarkan sentimen SARA, muslim-betawi.

    Alhasil, Jokowi akan mendapatkan suara 12% menjadi 54%, dan Foke akan mendapatkan suara tambahan 12% menjadi 46%. Jika tak ada perubahan situasi, maka pasangan Jokowi-Ahok akan membuat sensasi dengan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

   Namanya juga analisis. Ini hanya perhitungan di atas kertas. Bisa tepat, bisa nyerempet-nyerempet, bisa juga jauh meleset. Tapi berdasarkan naluri pribadi (bukan wangsit), kalaupun meleset, lebih ke kubu Jokowi-Ahok. Ini bisa terjadi jika kubu Foke membuat blunder karena ketakutan berlebihan akan kekalahan. Jika tak waspada  suaranya bakal menyeberang dalam kisaran 10-15%, sehingga Jokowi akan menang mutlak 64%-74%.

    Demikian pula untuk Jokowi-Ahok, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Kecuali ada isu besar yang sangat fenomenal, kalaupun kubu Jokowi-Ahok membuat blunder dengan terlalu mengekspos isu SARA untuk merebut simpati, suara mungkin bisa berkurang, tapi tidak terlalu banyak, masih dalam angka 51%. Jadi, Jokowi masih tetap menang. Jika ini yang terjadi, sekali lagi Jokowi akan membuat sensasi yang kadang sulit dimengerti, bagaimana ini bisa terjadi?

    Fenomena Jokowi maupun Ahok bagaimanapun akan tetap kerap memberi warna pada pilkada, seperti yang telah dibuat pada pilkada-pilkada sebelumnya. Bisa ‘cash’ terjadi pada pilkada DKI Jakarta kali ini, atau pada pilkada-pilkada setelahnya, atau pada pilpres 2014. Tentu agak mengherankan dan tak akan mudah dipercaya. Tapi percayalah, semua itu sebenarnya tak pernah mengherankan bagi orang yang masih percaya, bahwa di dunia selalu ada hal-hal mengejutkan dan tak terduga.

Salam...
El Jeffry