Thursday, July 19, 2012

Jokowi Vs Foke: Personality Vs Strategi?


1342638795370677435
Jokowi Vs Foke. Personality Vs Strategi? (sumber photo: http://pontianak.tribunnews.com/2012/07/12/fenomena-jokowi-ahok)
     Pertarungan dua kandidat calon gubernur DKI masih menyisakan ‘partai final’ putaran ke-2 September nanti. Perang iklan tak terelakkan. “Jokowi siapa yang punya?” versus “Fokelah kalau begitu.” Siapa yang bakal tampil sebagai jawara, semua tergantung ‘pasar’ suara rakyat DKI Jakarta. Perang Jokowi versus Foke lebih dari sekadar pilkada. Dari berbagai pemberitaan di media, nampak jelas kedua ‘ksatria’ begitu jauh berbeda. Beberapa pengamat berpandangan, pertarungan Jokowi versus Foke adalah pertarunganpersonality versus strategi, kepribadian versus taktik pertempuran.

     Keunggulan Jokowi atas Foke pada putaran pertama pilkada DKI 11 Juli pekan silam adalah kemenangan personality, bahwa warga DKI (baca: rakyat) terkini lebih memilih figur pemimpin yang natural dan merakyat. Penampilan Jokowi yang ‘culun,’ ndeso,belepotan dan sederhana, justru menjadi kunci simpati, ‘nyeleneh’ dari citra pemimpin (penguasa) kebanyakan yang identik dengan pencitraan berwibawa, perlente, necis, intelek dan pintar beretorika.

      Sementara dari kubu Foke sendiri sepertinya masih keliru menangkap ‘massage’ rakyat. Terlihat dari kegagapan dan kegugupan dalam mengevaluasi faktor penyebab kekalahan. Padahal sebelumnya mereka begitu ‘pede’ banget, kalau tidak dikatakan over confidence dan arogan, terlihat dari jargon-jargon yang iklankan. “Pilkada satu putaran, itu lebih baik,” “Pilih pemimpin yang experience (pengalaman), bukan yang experiment(coba-coba).”

    Foke sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak merasa tertipu dengan hasil survei yang sebelumnya begitu ‘getol’-nya meyakinkan bahwa Foke-Nara bakal menang dalam satu putaran dengan suara lebih dari 50%. ”Gubernur DKI Jokowi? Ngimpi!” Ini semakin menunjukkan bahwa memang seperti itulah style khas pemimpin (pejabat) era orba yang penuh retorika, arogan dan menjaga banget pentingnya citra.

     Foke lupa, di satu sisi memang dia berusaha untuk sikap seorang pemimpin yang tegar dan dewasa, tidak berusaha mencari kambing hitam atas kekalahan. Namun di sisi lain publik justru semakin tidak bersimpati. Akan lebih menguntungkan bila ia berkata, ”Sejujurnya saya cukup kaget dan tidak menyangka hasil seperti ini. Tapi, mau gimanalagi? Inilah hasil demokrasi.” Kejujuran, ceplas-ceplos apa adanya, berani mengakui ‘ketololan’ diri, ini yang tak bisa didapati dari diri Foke.

     Lebih memperlihatkan kegagapan dan kegugupan lagi, dan ini justru berpotensi  menjadi bumerang, kubu Foke mengevaluasi bahwa mereka kekalahan kubunya adalah kekalahan strategi, bukan personality. Foke abai dengan personality. Masih style khas pemimpinbirokrat-feodal ala orba yang jumawa, kebiasaan orang-orang yang terlalu lama duduk di kursi kekuasaan dengan sederet atribut intelektualitas.

13426394291129293229
Foke. Necis, klimis dan perlente. Kalah strategi?(sumber Photo: http://www.pilkadadki.com/blog/2011/12)
    Personality Foke adalah kepribadian bentukan politikus ‘kelas atas’ yang penuh retorika, bukan “kepribadian” dengan kacamata ‘kelas bawah,’ wong cilik-rakyat kecil yang setiap saat bergumul dengan belitan problem, sementara penguasa tak sanggup menjawab dengan bukti nyata. 

     Foke hanyalah simbol dari penguasa. Sedang Jokowi adalah simbol dari rakyat jelata. Foke, sebagaimana juga penguasa, tak bisa disalahkan. Mana ada penguasa yang mau mengaku salah? Bahkan ketika rakyat sudah mencap mereka dengan label B-3: buta,budek (tuli), bindheng (bicara tak jelas) tetap saja tak mengubah apa-apa. Logis, bagaimana B-3 bisa melihat, jelas bicara dan mendengar?

  Dalam kegalauan psikologi karena akumulasi kekecewaan, terutama dengan gagalnya reformasi merombak tatanan bangsa-negara, terutama kegagalan memerangi KKN, rakyat bermimpi akan kehadiran seorang ‘dewa penyelamat.’ Entah itu bernama satrio piningitimam mahdi atau ratu adil, sah-sah saja rakyat mencari simbol pertahan dari keputusasaan untuk tidak ‘mati berdiri’ di negeri sendiri.

      Lalu kehadiran Jokowi dengan ‘ciri-ciri’ yang paling mendekati dengan ‘figur khayalan’ sang penyelamat menjadi fenomena. Momentum tiba. Ragam cerita, kabar angin, obrolan tukang becak di pinggir jalan dan dongengan gelandangan di kolong jembatan, berbaur dengan publisitas media sosial menjadi ‘pembenaran.’ Plus analisis politik dan babatsejarah ‘keajaiban’ suksesnya kota Solo di bawah kepemimpinan seorang Jokowi selama menjabat sebagai walikota semenjak 2005, simpul jawaban pun tercipta.

     Sedikit belajar dari sejarah, krisis kepemimpinan bukanlah wacana baru. Kerinduan rakyat akan pemimpin yang bisa mengayomi, ngemong, memperjuangkan amanat proklamasi dan ‘sabda’ Pancasila sudah tak terbendung. Fenomena dan euforia yang tak jauh berbeda ketika Megawati dijadikan simbol perlawanan terhadap tiran orde baru, yang berlanjut hingga naik menjadi presiden RI menggantikan Gus Dur pada pada tahun 2000.

Fenomena yang sama ketika SBY, dengan kecerdasannya men-‘citra’-kan diri  sebagai ‘yang terzalimi’ untuk tampil menjadi presiden RI 2004. SBY tampil mempesona, momentum tercipta, meski akhirnya di penghujung periode ke-2 kepemimpinannya sekarang ini belum dirasakan oleh rakyat sebagai memuaskan, kalau tidak dikatakan kembali mengecewakan. Problem-problem rakyat yang terhampar di tanah-lumpur-akar-rumput dijawab dengan ‘bahasa awan’ di angkasa. Realitas problem dijawab dengan angka-angka, data-data, grafik dan statistik yang tidak menyentuh akar persoalan secara nyata.

     Rakyat mencari figur pemimpin. Pencarian yang tak mungkin bisa dipadamkan dalam setiap bangsa manapun di dunia, di zaman apapun, akan selalu ada. Rakyat bermimpi, DKI bermimpi, hadir Jokowi. Pilkada DKI hanyalah pucuk dari gelombang sejarah NKRI. Masih kebetulan pula dengan kesamaan sejarah PDIP dan PD, dua partai yang sama-sama bernuansa demokrasi meski dengan cita rasa berbeda.

    Jokowi dengan PDIP (meski dinilai masih ‘gagal’ memenuhi harapan rakyat), namun keduanya membawa ‘ruh’ kerakyatan, wong cilik-kaum sandal jepit, kaum marhaen, buruh-petani-nelayan. Kehadiran Prabowo dengan Gerindra (meskipun masih perlu membuktikan keberpihakannya pada rakyat kecil) di belakang layar setidaknya menambah kental ‘aroma kerakyatan.’ Jokowi-PDIP-Gerindra menjadi pertalian ‘kebetulan’ momentum.

    Sedang Foke dengan backing Partai Demokrat, partai yang sama-sama mengusung demokrasi namun bercita rasa birokrat-teknokrat ‘kelas atas’ adalah simbol penguasa,status quo, sekaligus ‘kegagalan’ pemerintah dalam menjawab problem bangsa. Tak heran jika Foke juga gagal membaca penyebab ‘kekalahan’ suara, itu memang sudah ‘dari sono-nya.’

      Perpolitikan partai berkuasa (atau mungkin mayoritas partai politik), masih tak banyak berbeda nuansa dengan masa orba. Penuh retorika dan ‘siasat-tipu daya.’ Berstrategi sebagai politik meraih kekuasaan, bukan berpolitik sebagai strategi meraih kepercayaan. Politik homo homini lupus banal abal-abal. Politik sebagai ‘perang’ berebut kemenangan dengan saling menjatuhkan. Tak ada kawan atau lawan, jika berseberangan, jadilah musuh yang harus dihancurkan!

      Politik seperti ini tak melihat personality dengan kaca mata publik (rakyat), yang nota bene dipandang sebagai ‘budak-sudra’ terlalu bodoh untuk mengerti baik buruknya negara. Sudra berkuasa, kiamatlah negara!. Hanya personality ksatria yang layak memimpin negara. Itu bahasa penguasa. Foke lupa, atau memang tak pernah belajar dari penderitaan rakyat (karena memang tak pernah hidup menderita), bahwa personalityadalah kepribadian yang tak bisa direkayasa.

    “Kekalahan ini bukan karena personality Foke, namun karena kurangnya sosialisasi ‘prestasi’ dan ‘kehebatan’ Foke selama menjabat sebagai gubernur DKI 5 tahun ini,” kilah tim sukses Foke dalam sebuah acara di televisi. Warga DKI dianggap tolol, kok bisa-bisanya tak tahu track record pemimpinnya? Jangan-jangan memang warga DKI kurang pintar bersyukur?

  Foke (dan kubunya) lupa, bahwa personality versinya, berbeda dengan versi rakyat.Personality pemimpin yang dicari rakyat adalah perwatakan dan perilaku ksatria-prawirayang lebih mengutamakan laku (aksi nyata) ketimbang lati (lidah-retorika). Personalityadalah peribadi dan peribudi-pekerti, sense of crisis, kepekaan hati untuk mengerti kemelut hidup orang terpinggirkan, tertindas dan tergilas oleh zaman.

     Ia muncul dari alam, bicara dengan bahasa alam, dan berkomunikasi dengan bahasa Tuhan. Satrio pinandhito sinisihan wahyu, kata Prabu Joyoboyo, pejuang ksatria berwatak bijak rohaniwan berjalan di bawah tuntunan ajaran agama. The Philosopher King, menurut Plato, penguasa atau raja filsuf, pemimpin cerdas, rasional, mengendalikan diri, cinta dengan kebijaksanaan dalam membuat keputusan bagi masyarakat.

13426401151253837570
Jokowi dan sepeda. Kalah personality? (sumber photo: http://sosok.kompasiana.com/2012/07/13)
     Dan itu tak bisa didapatkan kecuali dengan ‘turun ke bumi,’ menginjak tanah dan bergumul di ‘kawah candradimuka’ lumpur di kampung-kampung kumuh, ndheprok di lesehan, andhap asor ngobrol di warung kopi dan pedagang kaki lima, berkeringat mengayuh sepeda ontheluntuk mengajar keteladanan tentang arti sederhana dan hemat energi.

     Mampukah Foke mengubah personality dalam 2 bulan untuk menjadi seperti Jokowi? Jokowi is Jokowi. Foke is Foke. Masing-masing punya personality berbeda. Ini tak wajib berarti yang satu lebih baik dari yang lain, sebab baik-buruk bersifat relatif-subjektif, tergantung dari dimensi ruang dan waktu.  Jika Jokowi pada pilkada 11 Juli lalu lebih terlihat legitimated beberapa prosen dibanding Foke, itu lebih disebabkan oleh momentum. Waktu yang tepat di tempat yang tepat.

    Rakyat yang masih dianggap ‘dungu-tolol-bodoh’ memang bisa saja keblinger ‘membeli’ personality terbaik sesuai kebutuhan, bila ‘marketing politik’ terlalu pintar memainkan strategi pengelabuan, dengan jejalan iklan, segudang tawaran atau segunung slogan. Tapi ‘kepandiran’ rakyat, apalagi warga DKI rasanya sudah sedikit berkurang setelah setidaknya dua kali, sejak era reformasi, ‘tertipu’ dengan janji-janji. Namun dalam ‘ketololan, kebodohan dan kedunguannya’ rakyat masih tetap punya “hati nurani,” hal yang sudah tak dimiliki oleh mayoritas pemimpin di negeri ini di zaman ini.

      Dalam ‘kehausan’ mencari oase pemimpin yang kini memuncak, rakyat butuh bukti nyata, bukan sekedar suguhan data statistik dan angka-angka. Bagi rakyat yang sedang dalam kondisi kritis, blue print, visi atau misi mungkin sudah tak penting lagi. Semua itu menu usang membosankan sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Hanya angin surga, pepesan kosong, tetap saja perut kosong wajah melompong terbengong-bengong kayak bagong.

       Pada akhirnya, personality yang tetap akan bicara. Rekam jejak bisa dilihat nyata, rakyat percaya, nah itu dia pilihannya. Bukan strategi, bukan pula politisasi. Barang bagus, produk berkualitas, terbukti memuaskan, tak perlu ditawarkan pun pembeli akan rela mengantre. Jika personality memenuhi syarat untuk rakyat bermimpi, maka tanpa strategi pun sang pemimpin akan terpilih sendiri.

       Jokowi adalah Jokowi, Foke adalah Foke. Siapapun yang terpilih nanti, maka berarti dia adalah yang terbaik memimpin DKI. Setelah di putaran pertama Jokowi-Ahok telah menohok, akankah Foke-Nara sayonara di putaran kedua? Tak ada yang tahu jawabannya.Yang jelas, Jokowi-Ahok, Foke-Nara, pilkada DKI serta parpol-parpol pengusungnya, semua hanyalah simbol dari dua sisi kekinian perpolitikan bangsa. Nasib Indonesia akan ditentukan oleh sinergi-chemistry rakyat dan pemimpinnya. Sisi mana yang akan memenangi pertarungan, sisi itulah bangsa ini telah mengambil pilihan.

     Apakah masih tetap dalam status quo atau perubahan, hanya waktu yang akan memberi jawaban. Pilkada DKI putaran ke-2 September nanti akan menjadi momentum goro-goropemilu dan pilpres 2014. Fenomena Jokowi dan jokowisme mungkin bisa membuka gerbang siklus ke-2 sejarah ‘revolusi nasional’ 70 tahun Indonesia merdeka pada 2015. Atau jika itu terlewat,  atau mungkin masih ada momentum selanjutnya di siklus ke-3, 70 tahun lagi pada tahun 2085.

Salam…
El Jeffry